
Setelah mendapat salam perkenalan dari musuh yang sesungguhnya, Darto dan Jaka benar-benar terkapar lemas di atas tanah kala itu. Mereka bahkan sampai bisa memejamkan mata, meski hujan tengah mengguyur seluruh badan mereka.
Melihat hal tersebut, Maung dan Komang langsung paham, mereka mengerti seberapa lelah dua pemuda di depannya, mengingat pertarungan panjang sudah mereka lakukan tanpa istirahat. Dari sejak mereka memasuki mulut goa, kemudian melawan Ki Gandar, hingga baru saja mereka mendapat kejutan dari lawan barunya.
Melihat dua pemuda itu tertidur pulas, Maung dan Komang langsung meringkuk di samping tubuh Darto dan Jaka, mereka membagikan kehangatan yang di miliki tubuh mereka, agar dua sahabat manusianya tidak menggigil kedinginan dalam lelapnya.
Untuk cukup lama empat sahabat itu tertidur pulas di tempat tersebut, mereka tidak memperdulikan kejanggalan yang ada di sekitar mereka, karena mereka merasa jika sudah tidak ada bahaya yang bisa mengancam mereka lagi.
Benar saja, bahkan sampai Darto sudah terbangun dari tidurnya, mereka sama sekali tidak menjumpai satu mahluk pun yang berani menganggu mereka. Semua mahluk yang tinggal di alas ireng, sudah tahu jika pemimpin mereka sudah kalah dengan dua manusia yang datang menghampirinya.
Tidak ada satu pun mahluk yang berani menunjukkan hidung mereka pada Darto dan Jaka, mereka menganggap Darto dan Jaka sebagai manusia sakti mandra guna, hingga secara instan mereka memiliki rasa takut kepada siapapun yang sudah berhasil meringkus pemimpinnya.
Ketika kesadaran Darto sudah pulih seutuhnya, dia bergegas membangunkan Jaka dan dua temannya. Mereka bergegas melanjutkan perjalanan tanpa memakan apa pun, karena bekal yang Darto dan Jaka bawa benar-benar sudah habis dimakan tanpa sisa.
"Nanti kalau kita sudah keluar dari alas ireng, akan aku carikan buah yang bisa dimakan manusia, Dar," ucap Maung ketika tengah membiarkan Darto duduk pada punggung miliknya.
"Apa buah di sini enak?" sahut Darto singkat.
"Hampir sama seperti buah yang ada di dunia manusia, cuma bentuknya saja kadang yang berbeda," jawab Maung.
"Baiklah ... nanti tolong carikan yang banyak," pinta Darto tanpa malu-malu, "Maung ... kamu tahu di mana letak alas getih?" sambung Darto kembali.
"Bisa dibilang tahu, bisa juga tidak, Dar," jawab Maung dengan wajah serius.
"Maksud kamu?" tanya Darto kembali.
"Tempat itu bagaikan mitos bahkan bagi mahluk sebangsaku, Dar. Tempat yang letaknya jelas, tapi tidak pernah ada satu orang pun yang berhasil sampai di sana, kecuali orang itu sudah diizinkan untuk masuk oleh pemilik tempat tersebut," Maung mencoba menjelaskan.
"Jadi aku harus mendapat izin dari dia dulu?" tanya Darto kembali.
__ADS_1
"Mungkin iya, mungkin juga tidak, Dar. Tapi jika dilihat dari seberapa besar kemarahan yang dia miliki tadi, mungkin kamu bisa bertemu tanpa meminta izin dulu," sahut Maung tanpa basa-basi.
"Yasudah ... sekarang kita pergi dulu ke kampung milik Ki Gandar. Kalau bisa kita cepat," pinta Darto setelah dirinya merasa paham dengan ucapan Maung yang membahas letak rumah lawan terakhirnya.
Mendengar itu, Maung langsung berlari untuk mensejajarkan langkah kaki miliknya dengan langkah Maung yang sudah berjalan terlebih dahulu bersama Jaka. Ketika dia sampai di dekat Maung, dia langsung mengajak temannya itu berlari menuju desa.
Komang dan Maung langsung berlari sekuat tenaga, hingga hanya butuh beberapa menit saja mereka sampai di depan kampung tempat dimana mereka pernah bertemu Arya.
Namun ketika mereka berempat sampai, suasana kampung benar-benar tertekan sepi, tidak ada suara hewan maupun mahluk hidup di dalamnya. Semuanya terpampang sunyi dengan aura mencekam yang terpancar begitu jelas.
"Arya ...." teriak Darto sembari mengetuk pintu rumah Arya.
Sesaat setelah Darto mengetuk pintu, Arya membuka sedikit sekali pintu rumahnya, kemudian dia mengintip melalui celah tipis sembari berbisik pelan, "Kamu siapa?"
Mendengar pertanyaan itu, Darto langsung memasang wajah heran sembari berkata, "Ada apa? Kenapa kalian terlihat ketakutan seperti itu, Arya?"
"Kamu siapa?" tanya Arya untuk kedua kalinya, dia tidak menggubris pertanyaan dari lawan bicaranya, karena dia juga belum mendapatkan jawaban dari orang di depannya.
"Silahkan masuk," jawab Arya sembari membuka pintu rumahnya cukup lebar.
Melihat pintu rumah sudah terbuka, Darto dan tiga temannya langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Setelah semuanya masuk, Arya melongok kondisi sekitar dengan mengeluarkan kepalanya saja. Dia menyapu pandangannya ke segala penjuru, kemudian beringsut masuk dan menutup pintu rapat-rapat setelah merasa suasana aman terkendali.
"Ada apa? Kenapa tingkah kamu seperti itu?" tanya Darto sedikit khawatir. dia merasa sedikit cemas setelah melihat gerak-gerik yang baru saja Arya tunjukkan.
"Dia mengamuk, Dar," jawab Arya dengan bibir bergetar.
"Dia siapa? Iblis merah itu?" tanya Darto langsung pada intinya.
"Ssstttt" Arya mendesis dengan jari telunjuk yang menempel pada bibirnya, dia merasa takut karena Darto menyebut nama itu begitu lantang, "Jangan keras-keras, Dar, nanti kita ketahuan" sambungnya lagi.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, kami ke sini untuk membantu kalian agar bisa menyusul Ki Gandar. Kalian mau tetap di sini atau mengikuti beliau?" sahut Darto dengan wajah serius.
"Sudah pasti kami akan mengikuti beliau kemanapun beliau pergi, Dar," jawab Arya sembari merubah ekspresinya. Dia berangsur terlihat lega setelah mendengar tawaran dari lawan bicaranya.
Mendengar Arya setuju, Darto langsung meminta arya agar mengumpulkan semua penduduk kampung di depan rumah miliknya. Awalnya Arya menolak mentah-mentah permintaan Darto, karena dia takut jika iblis itu akan datang dan memakan mereka karena pemimpin yang menjamin keselamatan mereka mereka sudah tidak ada, namun Darto dan Jaka akhirnya berhasil membujuknya, setelah mereka memberikan sebuah janji akan melakukan yang terbaik jika iblis itu datang ke tempat ini secara tiba-tiba.
Tidak lama setelah mendapat bujukan dari Darto dan Jaka, Arya pergi berlari mengelilingi desa dan kembali ke rumahnya bersama ratusan warga. Mereka benar-benar memiliki jumlah yang sama, dengan jumlah yang pernah Darto dan Jaka lihat pada saat melakukan ujian dulu.
Ketika semua orang sudah berkumpul, satu persatu orang mendekat ke arah Jaka. Mereka mengantri giliran untuk dilepaskan dari belenggu yang mengikat kakinya. Kaki mereka terikat oleh satu belenggu berwarna merah, dan belenggu tersebut tersambung dari satu orang dan orang yang lainnya.
Benar-benar berbeda dengan belenggu yang mengikat Ki Gandar. Belenggu yang mengikat Ki Gandar terlihat selayaknya rantai yang mengikat binatang buas maupun anjing penjaga di lehernya, namun rantai yang mengikat penduduk benar-benar terlihat seperti rantai sambung yang mengikat ratusan budak secara sekaligus.
Jaka benar-benar telaten mengurus mereka satu persatu dalam bungkam, hingga akhirnya hanya tersisa satu orang yang memiliki pengikat paling ujung, saat itu baru Jaka membuka suara sembari memutus rantai terakhir tersebut, "Sekarang kalian bisa pulang. Maaf jika kami datang terlambat."
Mendengar penuturan Jaka, ratusan penduduk langsung saling menatap. Mereka saling berbisik dan bergumam satu sama lain, karena mereka kebingungan dengan maksud dari perkataan Jaka.
Ketika semuanya tengah dirundung kebingungan. Salah satu penduduk yang mendapat jatah paling pertama terlepas dari belenggu, mulai menampakkan perubahan pada tubuhnya. Penampilannya mulai menipis dan terus menipis hingga menjadi transparan, kemudian dia menghilang secara sempurna tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Ketika orang pertama sudah hilang secara sempurna, satu persatu warga yang lain merasakan hal yang sama. Tubuh mereka menjadi tembus pandang hampir secara bersamaan kemudian menghilang bagai tidak pernah ada di dunia.
Melihat semua jiwa warga sudah pergi menuju tempat seharusnya, Darto, Jaka, Maung dan Komang langsung tersenyum sembari menatap udara hampa.
Hati mereka merasa sangat lega dan juga sangat gembira, karena mereka sudah kembali menuntaskan satu perkara yang sudah berkecamuk selama ribuan tahun lamanya.
Setelah cukup lama berbangga hati, mereka berempat akhirnya melanjutkan perjalanan kembali untuk segera keluar dari alas ireng. Mereka harus bergegas, mengingat setiap detik yang terbuang akan sangat berharga jika dibandingkan dengan waktu yang berjalan pada dunia manusia.
Hari ini, kampung di tengah alas ireng yang semula berisi ratusan jiwa terbelenggu, berubah menjadi satu kampung mati yang sama sekali tidak memiliki kehidupan. Yang berdiri di sana hanyalah bangunan yang tampak persis dengan bangunan yang mereka miliki semasa hidupnya, dan juga kenangan bagi siapapun yang pernah singgah di dalamnya.
Bersambung ....
__ADS_1
...hari senin bre, pokoknya jangan sampai lupa buat tinggalin vote 😆...