ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MAHESWARI


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa langit sudah mulai menguning. Darto beserta Si Mbok saat ini sedang berdiri di depan pintu, mereka tengah menatap punggung lelaki tua yang terus berangsur menjauh. Lelaki itu kembali meninggalkan Darsa hidup berdua dengan Si Mboknya saja di rumah. Namun bagi Si Mbok itu bukan hal baru, dirinya sudah sering sekali di tinggal oleh suaminya bahkan kadang sangat lama.


"Mbok, besok Darsa juga mau pergi, ya? Darsa sudah dapat izin dari bapak juga," ucap Darto sedikit tidak tega, dia melihat Si Mbok yang terus menunduk di depannya.


"Iya, Le?! Semoga apa yang kamu cari cepat kamu dapatkan, ya, Nak," ucap Si Mbok sembari memeluk Darsa.


"Terimakasih, Mbok," jawab Darto singkat, Dalam hati Darto dia benar-benar tidak tega, namun mau bagaimanapun ini adalah ujian baginya.


Singkat cerita, hari sudah berganti, pagi ini Darto yang singgah di dalam tubuh Darsa sudah selesai mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka. Setelah mendapat izin dan Si Mbok, Darto bergegas meninggalkan rumahnya.


"Ini ke arah mana kita pergi, Sas?" tanya Darto kepada Sastro yang kini ikut menemani perjalanannya. Sastro juga Wajana terus mengikuti langkah Darto di belakang punggungnya.


"Terus saja ke arah barat, Dar. Kita ke rumah cewek itu dulu," jawab Sastro kemudian mendahului Darto. Kali ini dia yang memimpin jalan.


"Kanjeng Romo sudah pergi lagi, Kang?" tanya Wajana tanpa memandang Darto. Dia tampak bosan dengan perjalanan yang tengah kita lakukan, yah meski aslinya dia mengambang dan bukan berjalan.

__ADS_1


"Sudah, Jan. Kamu di kasih tau enggak dia mau kemana?" tanya Darto singkat, dia menatap wajah Wajana di sampingnya.


"Enggak tau juga, Kang. Tapi dia kemarin cerita kalau ada desa yang belum tau tentang islam, mungkin sekarang dia ke sana buat ngenalin agama kita," ucap Wajana singkat kemudian kembali bertanya. "Apa kang Darsa juga mau melanjutkan jalan dakwah yang kanjeng Romo lakukan?"


Untuk sejenak Darto tertegun, dia tidak tau sama sekali kemana ayah Darsa pergi. Dan pertanyaan Wajana sungguh memberi kejutan bagi Darto.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak, Jan. Saya belum kepikiran sampai situ," ucap Darto kemudian mendongak, dia merasa bangga di dalam hatinya, setelah mengetahui leluhurnya ternyata bukanlah orang biasa. Bisa di bilang leluhur Darto adalah salah satu pemuka agama yang ikut andil dalam penyebaran Islam di tanah jawa.


Setelah mendengar jawaban Darto, Wajana tidak lagi memberikan pertanyaan. Begitu juga Darto, dia memilih bungkam dan terus mengikuti langkah Sastro, hingga akhirnya mereka tiba di depan gubuk reyot yang berukuran sangat kecil di hadapan mereka. Mereka pun memutuskan berhenti dan menghampiri penghuninya.


Tanpa diduga, gadis itu bisa melihat Sastro dan juga Wajana. Darto benar-benar sempat terkejut meski tidak menunjukkan keterkejutannya. Alhasil Darto hanya bisa tertegun melihat Sastro dan Wajana menawarkan kesembuhan untuk gadis muda di depannya.


Setelah gadis itu mengangguk tanpa membuka suara, tiga lelaki bersama satu gadis berjalan beriringan, dengan Sastro yang memimpin jalan di depan. Langkah demi langkah hingga beberapa peristirahatan sudah berhasil mereka lewati, ketika langit sudah menggelap mereka kembali beristirahat karena Darsa alias Darto harus menunaikan shalat dan juga berbuka puasa. Mereka semua duduk dengan api unggun yang menyala di tengah mereka. Sembari menunggu waktu Isya, mereka hanya menghabiskan waktu dengan bercanda dan juga bergurau bersama.


Gadis yang selalu murung selama hidupnya itu benar-benar bisa memamerkan barisan gigi di bibirnya malam ini, matanya berbinar, dia seperti mendapatkan harapan di dalam perjalanan ini. Kali ini dia banyak membuka suara, meski ceritanya selalu sama, tentang kesialannya, dan tentang awal mula dia mendapat penyakit di tubuhnya. Dia sempat menangis ketika bercerita tentang Ibu kandungnya yang membuang dirinya, dia di buang ketika kulitnya mulai melepuh dan mengeluarkan cairan busuk berwarna hijau jika terpecah. Dia masih ingat dengan alasan Ibunya yang berkata hendak membawanya ke tengah pasar. Namun bukannya ke pasar, gadis itu malah di tinggal sendirian di tengah hutan. Setelah satu malam berjalan tanpa tau arah sedikitpun, dia bertemu Dengan Ayah Darsa. Dia dibawa pulang dan persilahkan untuk menempati rumah lama yang Darsa miliki. Ternyata rumah tempat Darto menjemput Gadis itu tidak lain adalah rumah miliknya yang sudah lama ditinggalkan, karena jaraknya memang cukup jauh dari pusat perkampungan.

__ADS_1


Untuk makan, sehari sekali gadis itu harus berjalan menuju rumah Darsa, dan setiap kali dia mengambil jatah makannya, dia selalu di jadikan bahan olokan sepanjang jalan. Dari usia muda hingga lanjut usia, semua orang sangat bersemangat untuk terus mencemooh keadaan tubuhnya, bahkan tidak hanya sekali dia mendapat ludah dari orang yang bertemu dengannya, namun tanpa dendam gadis itu terus menghiraukan mereka.


Sungguh sebuah kisah yang sangat mengiris, Darto benar-benar tidak bisa membayangkan jika dia berada pada posisi gadis itu. Setelah mendengar ceritanya, semua lelaki disitu membanting pandangan mereka ke arah tanah, mereka merasa mengangkat wajah adalah hal berat yang sukar di lakukan malam itu.


"Mari kita lanjut saja, tempatnya sudah dekat, Dar," ucap Sastro sembari berdiri dari posisi sila. Dia baru saja selesai berdoa setelah shalat isya.


Mendengar ajakan Sastro, semuanya mengikuti langkahnya kembali. Sayangnya jarak menuju air terjun itu tak sedekat perkiraan mereka. Sudah tiga jam lamanya mereka melanjutkan perjalanan, namun suara air sama sekali belum terdengar.


Setelah cukup lama, mata Darto kembali di paksa untuk membulat, ketika Darto melihat dua buah batu besar gang tidak asing lagi baginya. Sungguh itu adalah batu yang sama dengan batu besar yang pernah dia lihat ketika hendak pergi untuk mengambil ujian bersama Si Mbah Turahmin di kehidupan aslinya.


Setelah kembali berjalan,dan batu besar mulai tidak tampak lagi di belakang karena gelap, tiba-tiba jantung di dada Darsa berdegup begitu cepat. Darto benar-benar di buat kebingungan dengan tubuh yang tengah ia singgahi, Darto pun hanya bisa menerka jika Darsa memang sudah sangat lama mencari air terjun ini, hingga membuat tubuhnya mengingat keinginan pemiliknya, meski jiwanya tidak lagi di sini.


"Akhirnya! kita sampai juga di Curug Maheswari, Dar!" ucap Sastro kemudian berlari kencang menuju air yang tidak jauh darinya, di ikuti Wajana, Darsa alias Darto beserta si gadis muda di belakangnya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2