
"Dar!" Si Mbah Turahmin memanggil sembari mengetuk pintu kamar Darto.
"Njih Mbah!" jawab Darto kemudian sedikit berlari menuju pintu kamarnya.
"Besok pagi ikut Si Mbah, ya, kita cari perlengkapan," ucap Mbah Turahmin setelah Darto membuka pintu kamarnya.
"Njih Mbah, tapi perlengkapan buat apa Mbah?" jawab Darto sedikit kebingungan.
"Buat dipakai kamu pas latihan, Besok ya jangan lupa, sebisa mungkin pas malam kita sudah berangkat," kembali Si Mbah mengingatkan.
"Baik Mbah," jawab Darto sembari mengangguk.
"Jangan lupa, pamit dulu sama teman-teman kamu, soalnya mungkin enggak sebentar kita pergi dari pesantren," tukas Si Mbah seraya berbalik badan, kemudian melangkah menuju kamar miliknya yang berada tepat di samping kamar Darto.
Mendengar perintah Si Mbah Turahmin, Darto hanya bisa menyanggupinya. Setelah Simbah Turahmin hilang dari pandangan matanya, Darto kembali menutup pintu kamarnya. Dia kembali merebahkan tubuh yang cukup lelah setelah perjalanan, hingga akhirnya dirinya terlelap dengan begitu pulas.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu begitu saja. Darto sudah terbangun dari tidurnya, dia benar-benar sudah terbiasa dengan bangun tepat jam tiga malam. Setelah menunaikan tahajud, dia bergegas membuka tudung saji yang selalu terisi ketika pagi menyapa. Tanpa menunggu lama, dia merauk nasi dan lauk sisa semalam untuk mengisi perut miliknya sebelum akhirnya melanjutkan berpuasa.
Tidak berselang lama, Adzan subuh terdengar begitu lantang dari dalam rumahnya. Darto sedikit tersenyum ketika mendengar suara Mbah Turahmin yang mengumandangkan Adzan di masjid depan rumahnya itu. Biasanya dia mendengar Kakung yang melantunkan Adzan subuh, namun kali ini membuatnya sedikit merasa seperti tengah berada di kampung halamannya.
Singkat cerita, dua rakaat sholat subuh sudah selesai di tunaikan. Setelah Mbah Min selesai sarapan, dia meminjam mobil kakung dan bergegas menuju pasar, tempat yang dulu pernah Darto kunjungi, untuk berbelanja bersama temannya.
Tidak butuh waktu lama, Darto dan Mbah Turahmin sudah membawa satu karung goni penuh barang belanjaan mereka. Kemudian mereka bergegas kembali menuju pesantren.
"Makasih banyak ya Mbah," ucap Darto sembari terus memandangi sebuah jam yang sudah terlilit di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kamu butuh itu, Dar. Jangan sampai hilang," ucap Mbah Turahmin tanpa menoleh, pandangannya fokus menatap jalan yang hendak dilewati mobilnya.
"Njih Mbah," jawab singkat Darto yang tengah mengulum senyum di bibirnya.
Roda mobil terus berputar. Setelah sampai di pesantren, Darto langsung berpamitan dengan Kakung dan semua temannya, tak lupa meminta doa dari mereka untuk keberhasilannya. Setelah mendapat persetujuan Kakung, Darto dan Mbah Turahmin bergegas pergi.
Lambaian tangan Kakung dan ketiga teman Darto mengiringi langkah kaki Darto dan Mbah Turahmin yang berangsur menjauh dari pesantren. Mereka berjalan beriringan dengan membawa bekal satu karung goni penuh di pundak mereka.
Satu jam, Tiga jam, Lima Jam, hingga langit mulai menggelap, Darto dan Mbah turahmin terus melangkahkan kaki mereka. Mereka hanya beristirahat untuk menunaikan shalat di tengah hutan, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembali. Kini, di tengah hutan yang hampir sempurna menggelap, mereka kembali beristirahat, karena Darto harus menunaikan ibadah buka puasa setelah waktu menunjukan pukul 18:00 pada jam tangan yang Darto kenakan.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mbah?" tanya Darto sembari menyalakan rokok di sela jarinya.
"Sebentar lagi kita sampai Dar," jawab Si Mbah singkat sembari membuang puntung rokok yang sudah pendek di tangannya.
"Kita lanjut lagi?" Darto kembali bertanya sembari mengernyitkan dahi.
Setelah itu, mereka kembali berjalan menyibak kegelapan hutan. Sesekali mereka harus menebas kerumunan semak belukar untuk membuat jalan setapak. Hanya berbekal cahaya obor dari bambu, mereka terus melesat menuju pusat hutan belantara.
"Nah! ini tempatnya Dar!" teriak Si Mbah setelah sampai di bawah pohon kapuk randu yang sangat sangat besar, dan juga tampak tua.
"Tunggu di sini sebentar, Dar," ucap Si Mbah kemudian mendekat ke arah pohon tersebut.
Setelah sampai tepat di bawah pohon, Si Mbah langsung jongkok, kemudian meraih sesuatu di dalam rongga yang terbentuk alami di bagian bawah pohon. Lubangnya cukup besar, ukurannya bahkan muat jika Darto hendak masuk ke dalamnya.
"Ini Dar, ini barang peninggalan keluarga kita," ucap Si Mbah sembari menyodorkan kotak kayu yang berhasil dia raih dari rongga pohon kapuk di depannya.
__ADS_1
"Buka saja Dar, lalu kenakan," paksa Si Mbah setelah melihat Darto terus mengamati keindahan ukiran yang tergurat di setiap sudut kotak kayu.
Mendengar perintah Si Mbah, Darto bergegas membuka kotak di tangannya. Tampak selembar kain putih terlipat rapi di dalamnya, aromanya sangat harum, semerbak wangi bunga melati bercampur kembang kantil tercium begitu menyengat.
Setelah kain tersebut Darto raih. Sebilah keris lengkap dengan sarung serta ikat kepala berwarna hitam tersimpan rapi di bawah lipatan kain tersebut. Bergegas Darto melilit kain putih dengan motif batik berwarna emas itu di pinggangnya, kemudian mengenakan ikat kepala hitam di kepala, serta menyelipkan keris di pinggang miliknya. Dia hanya mengenakan itu saja, dan membiarkan dirinya bertelanjang dada.
"Memang cocok sekali kamu pakai baju leluhur kita Dar," ucap Si Mbah sedikit tersenyum.
"Lalu? sekarang kita ngapain Mbah?" tanya Darto heran, tidak mungkin mereka berjalan jauh hanya untuk mengambil benda yang sudah Darto kenakan.
"Mari kita jalan lagi, di bawah situ ada pancuran," jawab simbah sembari mengacungkan jari telunjuknya.
Hanya butuh beberapa menit, Darto dan Simbah sudah sampai di depan pancuran. Darto sedikit heran karena Si Mbah benar-benar hafal dengan tempat yang jauh sekali dari permukiman.
"Si Mbah pernah kesini?" tanya Darto keheranan.
"Bukan cuma Si Mbah, Bapakmu juga pernah kesini, Dar. Sayangnya tidak ada yang diakui sama pusaka peninggalan keluarga kita. Meski sudah dibawa pulang, pusaka itu selalu balik sendiri ke lubang pohon kapas tadi," jawab Si Mbah sedikit mendongak, menerawang kejadian yang pernah dia alami.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto hanya bisa tertegun, bagaimanapun dia dipaksa untuk percaya, meski belum pernah mengalaminya sendiri.
"Sekarang kamu ambil wudhu di situ, Dar, lalu kita jalan ke sana sedikit lagi," ucap Si Mbah kemudian melewati Darto, Dia berwudhu terlebih dahulu dilanjut menunggu Cucunya yang tengah mengikuti langkahnya.
"Ayo, Dar, malam ini kita enggak ada jatah tidur," ucap Si Mbah kemudian berjalan menjauhi pancuran, mengikuti jalan setapak yang sudah begitu berlumut, hingga akhirnya sampai di depan dua bongkah batu besar yang berdiri tegap selayaknya gapura.
Di depan kedua batu besar, Si Mbah berhenti untuk menatap mata cucunya, setelah melihat keyakinan di mata Darto, Si Mbah mengangguk kemudian meraih tangan Darto, Mereka melangkah sejajar melewati celah diantara kedua batu, sembari mengucap kata yang sama. Yaitu,
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!"
Bersambung,-