ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
DUGAAN DARTO


__ADS_3

Setalah tersenyum simpul sembari menatap Harti dari kejauhan, Darto melanjutkan langkah kakinya.


Setelah sampai di halaman belakang pesantren, Komang langsung berubah wujud menjadi harimau. Kakung benar-benar tampak terkejut kala itu, dia tidak menyangka jika Komang merupakan binatang yang dulu sering dirinya dengar dari rumor ketika masih dirinya kecil.


Terbesit sedikit senyum lega yang tampak dari wajah Kakung ketika mengetahui cucunya pergi bersama Komang. Dia tampak begitu percaya, dengan kemampuan binatang buas yang tengah coba dinaiki oleh dua bocah di depannya.


Setelah Darto dan Jaka naik secara sempurna, dua lelaki cilik itu hanya menoleh untuk waktu yang singkat ke arah Kakung, sebelum akhirnya tiga lelaki yang tengah saling bertatap itu sama-sama mengangguk.


Melihat Kakung yang mengangguk, Komang langsung berlari begitu kencang, lalu melompat dalam pelariannya, kemudian menghilang bagai menguap di udara.


Darto dan Jaka benar-benar melesat dengan kecepatan tinggi, dalam hitungan kedipan mata mereka sudah sampai di dunia yang sepenuhnya berbeda.


"Dar ... mungkin tidak akan secepat dulu, kalian pasti tidak akan bisa bernafas jika aku berlari kencang," ucap Komang sembari menoleh ke arah pundak miliknya sendiri.


Darto dan Jaka langsung beradu tatap ketika mendengar ucapan Komang. Mereka mengingat saat-saat pertama mereka menaiki Komang, dulu Darto dan Jaka benar-benar tidak bisa bernafas karena kecepatan yang begitu tinggi membuat udara di depan wajah mereka seakan hampa.


"Lari saja sekuat mungkin, tapi setiap dua puluh detik berhenti, biar aku dan Jaka menghirup nafas dalam hitungan itu," jawab Darto setelah sedikit berfikir.


Jaka langsung menganggukkan kepala setelah mendengar rencana Darto. Komang juga langsung tersenyum ringan, kemudian melakukan posisi siaga untuk berlari, "Sekarang hitung sampai tiga, Dar. Biar aku berlari tepat ketika hitungan ke tiga," ucap maung dalam posisi siaga.


"Satu ... Dua ... Ti ..." teriak Darto dan Jaka bersamaan.


Belum selesai kata 'tiga' diucapkan oleh dua bocah tersebut, komang sudah melangkah dengan kecepatan yang begitu gila.


Darto dan Jaka benar-benar memejamkan mata dan menahan nafas mereka, sembari terus menghitung detik demi detik yang akan menentukan waktu untuk mereka mengambil nafas.


Komang benar-benar melesat begitu pesat, garis cahaya kuning seakan tergambar di setiap lintasan yang sudah Komang lalui, dia terus menyibak pepohonan rimbun dan juga semak yang menghadang di depan mata, dan selalu berhenti sejenak setiap dua puluh detik berlalu.


Darto dan Jaka terlihat seakan berpindah tempat dalam hitungan detik. Setiap dua puluh detik puluhan kilo meter benar-benar terlewati, sungguh kejadian yang tidak mungkin bisa disaksikan oleh mata telanjang.


Setelah beberapa menit, mereka akhirnya tiba di suatu tempat yang pernah mereka datangi. Sebuah pepohonan hangus yang membentang di depan wajah mereka, dan terlihat gelap meski itu siang hari.

__ADS_1


"Komang ... Sebaiknya kita masuk ke alas ireng dulu, ada sesuatu yang ingin aku pastikan," pinta Darto.


"Ke mana kau akan pergi?" tanya Komang memastikan.


"Tempat Banaspati, kamu masih ingat, Kan?" sahut Darto.


"Apa yang akan kita lakukan? apa kita juga akan menghadapi semua anteknya?" tanya Jaka.


"Tidak ... aku minta kamu untuk terus berlari, sebisa mungkin kita tidak terlihat, dan langsung menuju tempat tujuan," pinta Darto kepada Komang.


"Sekarang, kalian harus lebih menahan nafas, jika ada bahaya yang mengejar, aku akan terus berlari, dan tidak memberikan kalian waktu untuk bernafas seperti tadi," jawab Komang.


Jaka langsung menelan ludah kala itu, dia berfikir yang tidak-tidak, setelah mendengar pernyataan Komang. Menahan nafas dua puluh detik saja sudah terasa begitu lama untuk Jaka, 'bagaimana jika nanti ada bahaya? Apa aku akan kuat menghadapinya'


Kalimat tersebut yang terus bergumam di dalam hati Jaka, namun dia tetap tidak bisa berkata-kata, dan hanya bisa bungkam sembari mulai menghirup udara sekencang dan sebanyak kapasitas paru-paru miliknya.


Kala itu Komang kembali melesat, dia melewati setiap jalan yang pernah dirinya lalui dulu, dengan kecepatan yang lebih kencang dibandingkan ketika dirinya menuju alas ireng.


Sedikit kejanggalan terjadi kala itu, Komang sempat berhenti berlari kemudian berjalan dengan mengendap-endap sembari melihat lokasi sarang ngengat dari balik pohon besar.


Tidak ada ngengat seperti yang dulu dirinya saksikan. Bahkan perjalanan sampai sarang ini juga begitu mulus, tanpa sedikitpun halangan.


Namun meski begitu, Komang, Darto dan Jaka justru merasa bersyukur. Mereka merasa sedikit lega, karena tidak harus menghadapi mahluk yang merepotkan karena jumlahnya.


Setelah merasa aman, Komang kembali meminta Darto dan Jaka untuk kembali menghirup udara. Dia kembali berlari sekuat tenaga, hingga sampai tepat di mulut goa.


Sama halnya dengan penghuni sarang ngengat, raksasa yang membawa gada pun tidak ada di tempatnya.


Melihat keanehan itu, Komang kembali berlari dan langsung melesat menuju tempat Banaspati, Namun di sana juga sama saja.


Tidak ada bekas sama sekali, tempat itu kosong, bahkan tidak ada mahluk lain selain mereka bertiga.

__ADS_1


"Hah ..." Darto menghela nafas panjang, "Sepertinya dugaanku benar, Mang," sambungnya lagi.


"Dugaan apa?" tanya Komang dan Jaka secara bersamaan.


"Kita harus pastikan dulu tempat tujuan kita yang sebenarnya. Ayo kita cepat, mungkin Sastro dan Wajana sidah sampai di tepi jurang," Darto tidak mau menjelaskan.


Tampak raut wajah kecewa tergambar jelas di wajah Darto, namun meski begitu Jaka dan Komang benar-benar tidak bisa menuntut penjelasan kala itu.


Komang kembali berlari, dan setiap dua puluh detik dia berhenti seperti semula, hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat yang menjadi tujuan utama.


Sastro dan Wajana datang hampir bersamaan dengan Komang, Jaka dan Darto. Hanya berselang beberapa menit saja mereka tiba sebelum tiga pria tersebut.


"Lihat, Kan? Aku tidak selambat itu, Komang ..." ucap Sastro sedikit terkekeh.


"Aku bahkan sudah terlebih dahulu memasuki alas ireng, kalau tidak, kalian akan kalah satu jam lamanya,, ha ha ha ha," elak Komang.


Mendengar pertikaian lidah mereka berdua, Darto hanya bungkam dalam raut masamnya. Dia tidak menanggapi candaan dua temannya, dan hanya tampak sedang berpikir begitu keras.


"Ayo kita berangkat," ucap Darto tiba-tiba.


Mendengar itu, semua orang langsung diam dan melihat ke arah Darto, kemudian mereka mengangguk serentak, dan langsung melompat masuk ke dalam jurang yang tidak terlihat dasarnya.


Lima pria itu terjun dari ketinggian yang begitu tinggi, sebelum akhirnya mendarat di tempat yang sangat minim cahaya.


Setelah itu mereka berjalan dengan langkah pelan, menuju pintu yang seharusnya ada di tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Ketika sampai di mulut goa yang menjadi satu-satunya pintu masuk wilayah iblis tanpa nama, mereka kembali saling bertatap untuk sejenak.


Setelah hati mereka yakin, lima pria itu kembali terjun dari mulut goa yang terletak di tengah tebing.


Mereka mendarat telak tanpa sedikitpun cidera, di atas tanah yang sepenuhnya basah dibanjiri darah.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2