
Dengan perasaan ragu-ragu, Darto memutar gagang pintu kala itu. Sedangkan lima temannya berdiri sembari memasang posisi siaga, untuk menghindari jika ada serangan tiba-tiba.
Wussss
Angin berhembus cukup kencang dari balik pintu.
Angin tersebut membawa bau melati yang tercium begitu kentara pada indera penciuman ke-enam pria tersebut.
"Bau sesaji, Dar," ucap Sastro sembari terus memasang posisi siaga.
Darto tidak menoleh maupun menjawab, dia terus mendorong pintu di depannya, hingga daun pintu terbuka cukup lebar.
Saat pintu sudah terbuka secara sempurna, di dalam ruangan tersebut terdapat sebatang pohon beringin yang begitu rimbun. Batang pohon yang begitu besar, dengan dedaunan yang begitu lebat di atasnya.
"Saat di dunia ilusi aku sudah curiga dengan kamar ini, dan sekarang waktunya aku memastikan sesuatu," ucap Darto keheranan setelah mengamati dengan seksama.
"Kamu tahu pohon ini, Dar?" tanya Maung penasaran.
"Kalau penghuninya sama dengan apa yang aku tahu, mungkin tidak akan jadi masalah," jawab Darto sembari melangkah masuk.
"Mbok! Mbok Kanti!" teriak Darto sesaat setelah dirinya berdiri di depan pohon beringin besar itu.
Lima teman Darto langsung menunggu reaksi dari penghuni pohon, dan mereka cukup waspada ketika satu perempuan muncul secara tiba-tiba di samping Darto.
Kanti menatap lima teman Darto secara seksama, kemudian menoleh pada Darto sembari berkata, "Sepertinya kalian memasuki rumahku dari sisi depan, dulu aku hanya bisa mengajakmu masuk dari pintu belakang. Kamu sudah sampai di tempat mahluk itu, Dar?"
Semua orang benar-benar terkejut ketika Kanti melontarkan pertanyaan tersebut. Mereka kini mulai kebingungan dengan apa yang tengah mereka alami.
"Sebenarnya siapa kamu, Mbok?" tanya Darto dengan wajah ragu. Dia tidak percaya jika salah satu pintu di bangunan kerangka mengarah pada rumah milik mahluk yang sangat dia percaya.
"Sekarang kalian masuk dulu, di sini banyak telinga yang mendengarkan," ucap Kanti sembari menyapu pandangan ke arah langit-langit. Dia memastikan jika tidak ada yang melihat sebelum akhirnya membawa enam pria yang tengah berdiri di depan pohon yang merupakan rumahnya.
Enam pria itu dibawa masuk oleh Kanti menuju gubuk tua yang pernah Darto gunakan ketika dirinya mengalami luka kritis. Darto benar-benar masih mengingat setiap sudut gubuk tersebut, dan Darto juga tidak menemukan perbedaan sama sekali dengan apa yang ada pada ingatannya.
"Sekarang sudah waktunya kamu tahu segalanya, Dar," ucap Kanti sembari membawa dua gelas air yang hanya ia suguhkan untuk Darto dan Jaka.
__ADS_1
"Jangan diminum, Dar!" ucap Maung sembari menatap tajam pada Kanti, juga menahan lengan Darto yang hendak meneguk minuman di tangannya, "Kita tidak tahu dia asli atau tidak," sambungnya lagi.
"Oh ... Saya benar-benar lega jika anakku memiliki teman yang cukup waspada. Setidaknya aku bisa membuang sedikit rasa khawatir untuk apa yang akan terjadi kedepannya," ucap Kanti sembari membalas tatapan Maung.
Kanti saat itu meraih gelas di tangan Darto, dia meneguk separuh air di dalam gelas tanpa ragu-ragu.
"Kalau ada racun, aku sudah mati di depan kalian. Anakku dan temannya memiliki tubuh kasar, tidak seperti kalian yang bisa hidup meski tidak minum setiap hari," sambung Kanti sembari berjalan ke belakang, dia kembali dengan gelas baru di tangannya kemudian langsung mengganti minuman milik Darto.
"Jadi ... Apa maksud semua ini, Mbok? Apa kamu merupakan salah satu dari mereka?" kali ini Darto yang membuka suara sembari meneguk segelas air segar yang diberikan oleh Kanti.
"Benar, Dar ... Itulah sebabnya aku tahu jika Gending mengincar ibumu, dan aku melatih dirimu satu gerakan yang mungkin bisa membantu," jawab Kanti.
"Apa kami juga harus melawanmu?" Darto menunduk.
"Tidak, Dar" Kanti tersenyum, "Aku tahu Kiyai Amat akan memberikan cincin itu untukmu," sambung Kanti sembari menunjuk cincin dengan batu bening, pemberian Kakung yang tengah Darto kenakan.
"Sebenarnya apa fungsi benda ini? Aku tahu jika ini tidak biasa, karena Kakung berkata jika ini satu-satunya harta berharga yang dia miliki," Darto mengangkat tangan miliknya kemudian melihat cincin yang tengah melilit jari miliknya dengan seksama.
"Itu berisi tempat yang sangat luas, Dar," ucap Kanti sembari tersenyum, "Kamu belum pernah masuk?"
"Tidak apa-apa, Dar. Sekarang biar aku panggil Abirama, kalian beristirahat saja dulu di sini," jawab Kanti sembari meninggalkan gubuk.
Setelah Kanti keluar, dia menghilang bagai kepulan asap meninggalkan enak pria yang tengah kebingungan di dalam gubuk.
"Kang ... Dia memanggil temannya, bagaimana jika itu tipuan?" Jaka membuka suara.
"Tidak, Jak ... jika dia memang musuh, aku sudah mati bahkan sebelum bertemu sama kamu. Dulu di atas dipan itu dia merawat luka milikku," ucap Darto sembari menunjuk dipan kayu yang tergeletak tepat di belakang Jaka.
"Tapi ... Dia anak buah iblis itu, Dar ... ditambah urutan pintunya tepat setelah ulat, dia pasti lebih hebat dari musuh yang pernah kita temui selama ini," timpal Komang.
"Setidaknya kita lihat dulu saja ... Kita berenam, dia hanya sendiri. Kalau ditambah satu tan lagi, enam lawan dua tidak begitu sulit, kan?" Wajana menyela.
"Dua orang itu guruku, semua gerakan cepat, dan cara menggunakan energi yang kumiliki adalah hasil pelatihan dari orang yang akan Mbok Kanti panggil. Mereka tidak akan mudah dihadapi kalau kalian tidak menggunakan kekuatan penuh," Darto membuka suara kembali.
Lima teman Darto seketika bergidik. Mengingat gerakan Darto yang begitu cepat, semua orang membayangkan akan secepat apa gerakan dari orang yang mengajarkannya.
__ADS_1
Saat semuanya bungkam, Darto kembali memecah kegundahan tersebut dengan berkata, "Kalian tenang saja, energi yang ada di dalam tubuhnya bukanlah energi asing, tubuhku merasakan keaslian mereka, karena di dalam tubuhku juga memiliki energi yang pernah mereka salurkan ketika aku diambang kematian."
Semua orang sedikit merasa lega kala itu, mereka menghembuskan nafas sembari melemaskan pikiran, dan bersandar pada bilik bambu yang menjadi tembok gubuk tersebut.
Tidak lama setelah mereka saling berbagi rasa bimbang, Kanti datang dengan satu mahluk yang sudah tidak asing bagi Darto, dia benar-benar datang bersama Abirama.
Abirama dan Kanti bergegas masuk ke dalam gubuk dengan begitu tergesa. Mereka tampak sangat buru-buru, selayaknya tengah dikejar oleh sesuatu.
"Dar ... senang melihat kamu selamat," ucap Abirama sembari memeluk Darto secara tiba-tiba.
Lima teman Darto sempat mengeluarkan energi di tangan mereka ketika Abirama mendekat ke arah Darto, namun mereka langsung memudarkan energi ketika mengetahui jika Abirama mendekat hanya untuk mendekap.
"Sekarang tolong izinkan kami masuk ke dalam cincin milikmu, Dar," ucap Kanti sembari terus memandang halaman gubuk.
"Bisakah kalian jelaskan dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Dar. Kita bisa ketahuan kalau salah satu tangan kanan iblis itu mengetahui kita sedang berunding," sambung Abirama.
"Bagaimana caraku memberi izin?" tanya Darto kebingungan.
"Tolong salurkan saja energi milikmu ke cincin itu, dan sentuh tubuhku dan juga Kanti saat cincin itu menyala. Kamu panggil saja kami, ketika kalian sudah mengalahkan penghuni kamar nomor tujuh belas," ucap ucap Abirama dengan tergesa.
"Bagaimana dengan penghuni kamar nomo 18?" tanya Darto.
"Itu rumahku ... Kalian bisa mengabaikan ruangan tersebut setelah membuka pintunya. Cepat, Dar ... dia sudah dekat," jawab Abirama memaksa.
Melihat ekspresi Kanti dan Abirama yang begitu tergesa, Darto langsung menyalurkan energi ke cincin di tangannya tanpa berfikir panjang. Ketika cincin di tangannya bersinar, Darto menyentuh Kanti dan juga Abirama secara bergantian.
Tepat ketika telapak Darto menyentuh badan Kanti dan Abirama, dua mahluk itu langsung menguap kemudian menjadi cahaya yang terbang pelan menuju ke arah cincin.
Cahaya itu masuk ke dalam batu bening, kemudian memudar bagai tidak terjadi apa-apa.
Sebenarnya apa yang terjadi di sana? Siapa Kanti dan Abirama sebenarnya? dan juga siapa yang mengejar mereka?
Bersambung ....
__ADS_1