
Tidak lama setelah Darto dan Jaka meninggalkan kediaman milik Pak Dakir, mereka berdua sampai pada bangunan yang tampak biasa saja, dindingnya sama mengenakan bilik bambu, namun ukurannya lebih besar dibanding dengan rumah-rumah lainnya.
Sepanjang perjalanan menuju tempat tersebut, banyak sekali pasang mata yang menatap ke arah mereka. Semua penduduk benar-benar sangat terkejut, setelah menyaksikan dua pria asing yang datang entah dari mana.
Tidak sedikit dari penduduk yang datang dan bertanya di dalam perjalanan tersebut, mereka bahkan sampai mengenalkan namanya terlebih dahulu sebelum mempertanyakan siapa nama dari Jaka maupun Darto.
Jelas sekali yang terlihat pada raut wajah mereka, semuanya tidak pernah menyangka jika ada manusia lain yang tinggal di luar desa mereka.
Darto dan Jaka sedikit merasa waspada, mereka merasa sedikit ragu untuk tetap diam tanpa mengenakan senjata, ketika Pak Dakir mulai mengetuk pintu yang terbuat dari papan kayu di depan wajahnya.
Untuk berjaga-jaga Darto menciptakan bola energi di salah satu tangannya, begitu juga Jaka, mereka berdua membawa bola energi yang akan mereka pindahkan, jika suasana yang tidak diinginkan datang beberapa saat lagi.
Namun ketika sang pemilik membuka pintu rumahnya, dia tampak tidak begitu mempermasalahkan dua pemuda yang sedang memasang posisi siaga di depan rumahnya.
Dia bisa melihat bola energi yang Darto dan Jaka genggam, namun dia hanya melirik ke arah bola kemudian menggelengkan kepala untuk memberikan isyarat bahwa dia tidak ingin melakukan pertempuran.
Darto dan Jaka bergegas menghilangkan energi pada tangan mereka. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah milik pemimpin setelah dipersilahkan.
"Pak Dakir... Maaf, saya ingin berbicara dengan mereka. Bapak tunggu di luar bisa?" tanya lelaki dengan baju serba hitam.
"Bisa... Kalau begitu saya permisi dulu," jawabnya dengan wajah sumringah.
Pak Dakir langsung pergi kala itu, dia meninggalkan tiga pria yang kini saling berhadapan dengan tatapan saling menyelidik diantara mereka semua.
"Aku sudah tahu semuanya, teman kalian sudah bercerita banyak," ucap lelaki serba hitam.
"Jadi benar? Teman kami ada di sini, kan?" Darto sedikit memasang wajah yang tidak sedap dipandang.
"Kalian benar-benar ceroboh. Jika kalian melangkah lebih jauh dari kamar ini, kematian akan jadi satu-satunya pilihan yang kalian miliki," lelaki itu kembali berbicara, kemudian dia berdiri dan melambaikan tangan.
Melihat lambaian tersebut, Darto dan Jaka ikut berdiri, mereka bergegas mengikuti langkah pria serba hitam, untuk memasuki pintu yang memisahkan ruangan tersebut dengan ruang lainnya.
Setelah melewati pintu, Darto dan Jaka benar-benar berpindah, mereka kembali masuk ke dalam ruangan yang begitu gelap, sama seperti ketika mereka pertama kali masuk ke dalam kamar nomor dua.
"Lakukan lagi serangan yang terakhir kamu gunakan untuk membunuh hewan peliharaan milikku," pinta lelaki serba hitam, "Arahkan padaku," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Darto terheran.
"Lakukan saja apa yang aku bilang. Kalau kau tidak menurut, aku pastikan temanmu tidak akan selamat," jawabnya dengan wajah mengancam.
Emosi Darto sedikit tersulut kala itu, dia langsung menyerang pria di depannya, namun dengan serangan biasa.
"Bukan serangan itu yang aku minta!" Lelaki itu meninggikan suara kemudian memberikan serangan kejutan berbentuk kabut hitam yang melilit leher Jaka.
Jaka benar-benar tercekik kala itu, dia sampai mengambang, karena energi lelaki itu menarik tubuhnya ke atas.
Melihat Jaka tidak bisa bernafas, emosi Darto semakin tersulut, dia mengumpulkan hampir separuh energi miliknya, pada pergelangan tangannya, kemudian mengibas lengannya ke arah pria serba hitam.
Ruang gelap kembali menjadi putih secara keseluruhan. Energi Darto benar-benar menyebar dengan begitu cepat, hingga memenuhi setiap sudut ruangan yang pria itu buat.
Setelah satu serangan tersebut, Jaka berhasil lepas dari energi yang tengah mencengkeram lehernya, dia langsung jatuh ke atas tanah dan menyapu pandangannya ke segala penjuru.
Tidak lama setelah semua energi tersebut menyebar, perlahan energi Darto mulai memudar. Warna putih yang mendominasi seluruh tempat berangsur menipis, hingga akhirnya ruangan tersebut kembali menjadi gelap sepenuhnya.
Melihat musuhnya tidak menampakkan wujudnya lagi, Darto mengajak Jaka untuk kembali ke ruang sebelumnya, mereka melangkah dengan pelan, karena tubuh Darto sudah cukup lemas seusai melakukan serangan.
"Apa mau kamu?!" Jaka sedikit meninggikan suara, sembari memapah Darto menggunakan lengannya.
"Anak jaman sekarang memang tidak ada sopan santunnya," ucapnya sembari mengangkat satu lengan tinggi-tinggi.
Lelaki itu benar-benar hendak menampar Jaka, namun usahanya bisa di gagalkan, karena Jaka berhasil menangkap lengannya.
Pria serba hitam sangat terkejut ketika lengannya tengah digenggam oleh Jaka, dia menarik lengannya secara tergesa, karena dirinya merasa seluruh energinya bisa terkuras hanya karena bersentuhan dengan Jaka.
"Hah.... Mungkin aku harus sedikit lembut kepada kalian... Sekarang bawa temanmu ke ruang tamu yang tadi, biar aku carikan sesuatu untuk kalian terlebih dahulu," lelaki itu mendengus, kemudian berbalik dan menghilang bagaikan kepulan asap.
Jaka memapah Darto yang cukup lemas kala itu, kemudian membiarkan Darto merebahkan dirinya di atas tikar pandan di ruang tamu pria serba hitam.
Tidak lama setelah itu, pria serba hitam kembali, dia memberikan buah yang cukup aneh di tangannya, kemudian meminta agar Darto bergegas memakannya.
"Buah apa ini? Kenapa aku bisa langsung pulih?" Darto terkejut, dia merasa tubuhnya sudah kembali dipenuhi energi, bahkan sebelum Darto menelan buah yang tengah dirinya kunyah.
__ADS_1
"Buah ini hanya tumbuh setahun sekali, kalian tahu sendiri berapa lama satu tahun di sini, dan sekarang cuma ada enam, jika yang baru kamu makan ikut dihitung," ucap lelaki tersebut.
"Lalu kenapa kamu berikan untuk kami?" tanya Darto sedikit kebingungan.
"Aku berubah pikiran. Bagaimana kalau kalian melanjutkan perjalanan kalian, sisa lima buah itu juga bisa kalian bawa kalau kalian setuju dengan syaratnya," lelaki itu berbicara sembari mendongak.
"Apa syaratnya?" tanya Darto dan Jaka bersamaan.
"Tinggalkan semua teman kalian di kamar ini," ucap lelaki itu kembali.
"Maaf, kami harus pergi bersama-sama. Aku tidak bisa meninggalkan mereka," ucap Darto dengan tatapan sangat tegas.
"Aku janji tidak akan membunuh atau menyakiti mereka. Sebelumnya aku hanya tertarik dengan satu kucing hitam itu, tapi sepertinya semua teman yang kamu punya sangat menarik. Aku akan mengembalikan mereka ketika kalian berhasil mengurus kamar nomor satu," lelaki itu sedikit memasang wajah senang.
"Kenapa... Kenapa kamu membantu kami? Padahal sebelumnya kamu mau membunuh kami," Jaka bertanya dengan sedikit ketakutan.
"Siapa yang mau bunuh kalian?! Aku cuma mau menghajar orang yang membunuh binatang-binatang milikku. Kalian tidak tahu?! Kamar ini memiliki banyak nyawa! Dan kalian seenaknya saja memusnahkan semua mahluk yang aku suruh untuk berjaga di depan sana!" Lelaki itu sangat marah.
"Jadi... Kamu minta kami untuk diam saja ketika mereka menyerang kami?" Darto mengelak amarah pria tersebut.
"Yah... Itu juga yang disampaikan oleh teman kalian. Jadi sekarang aku sudah bisa untuk sedikit memaafkan kalian," jawabnya dengan nada yang tidak lagi ketus.
"Tidak... Aku sekali lagi mengucapkan maaf karena sudah menyerang kalian," lelaki itu kembali mengutarakan isi hatinya.
Melihat wajah di depan mereka begitu tulus, Darto dan Jaka mengangguk secara serentak, kemudian menanyakan keberadaan satu temannya.
Tidak lama setelah Darto bertanya, Wajana yang semula tengah mereka cari masuk dari pintu depan.
Bukan hanya dia saja yang datang kala itu, Wajana baru saja memasuki hutan dan membawa serta Maung, Komang dan Sastro yang masih bersemayam di dalam goa.
Enam sahabat itu kembali berkumpul di satu tempat, dengan satu pria misterius yang kini menjadi bagian dari mereka.
Setelah semua temannya berkumpul, lelaki serba hitam itu menjelaskan apapun yang dirinya tahu. Sekali lagi Darto dan Jaka mendapat sebuah bantuan, dari pria yang bahkan belum memperkenalkan namanya.
Bersambung....
__ADS_1