
Setelah Si Mbah pergi, Darto kembali menutup kedua indera penglihatannya, bibirnya kembali mengucap Asmaul Husna, dengan posisi duduk bersila dan bertelanjang dada.
Berangsur dari ufuk timur matahari mulai menampakkan kegagahannya. Sinar jingga memancar sangat terang di sebagian langit pagi itu, kepakan sayap burung yang semula bertengger di dahan pohon mulai memecah kesunyian tempat itu. Namun meski begitu, Darto sama sekali tetap bungkam dan tidak bergeming dari posisinya.
"Semoga berhasil, Dar," ucap Si Mbah Turahmin sembari mendongak, matanya sendu, setelah melihat cucunya yang semula duduk bersila di atas batu, kini tidak ada lagi di tempatnya.
Melihat cucunya yang sudah hilang, Si Mbah beranjak membaringkan badan tua renta miliknya, dia memejamkan mata dan tertidur di seberang sungai sembari menunggu kepulangan cucu tercintanya.
...*****...
"Bangun, Le," ucap seseorang dengan suara besar dan bergetar, sembari menepuk pundak Darto yang tengah duduk bersila.
Mendengar suara itu, Darto spontan langsung membuka kedua matanya. Dilanjut mengerjap-ngerjap mata sembabnya kemudian menyapu pandangan ke segala arah penjuru. Darto benar-benar kebingungan dengan apa yang dia lihat saat ini, dia tidak lagi duduk d atas batu, melainkan duduk di atas dipan di dalam ruangan yang memiliki tembok anyaman bambu, ditemani sosok lain yang berada di sampingnya.
"Alhamdulillah! akhirnya kamu bangun, Le!" ucap seorang wanita di samping Darto, dia langsung memeluk kencang tubuh Darto, hingga Darto benar-benar tersentak dibuatnya.
"Maaf, Bu....." ucapan Darto terhenti, Darto kebingungan dengan nada suara yang keluar dari bibirnya. Suaranya sungguh sangat berbeda dengan suara yang Darto miliki.
Untuk sejenak Darto mencoba menenangkan pikirannya, namun dia kembali merasakan kebingungan setelah melih tubuh Darto mengecil, menjadi tubuh seorang yang mungkin belum genap berusia 10 tahun.
__ADS_1
"Si Mbok sudah sangat khawatir sekali, Le. dua hari kamu tidak bangun hu hu hu hu," ucap wanita itu sembari memeluk badan serta mengusap kepala Darto. Dia terus menangis haru melihat Darto yang tersadar.
"Bu, Darto haus," ucap Darto sembari berusaha melepas pelukan wanita itu.
Mendengar Darto meminta air. Wanita itu lekas berlari menuju ruang sebelahnya, dia meraih gelas yang terbuat dari tanah liat, kemudian mengisi gelas itu hingga penuh dengan air yang dia tuang dari dalam kendi.
"Ini, Le, nanti kamu harus ceritakan sama Si Mbok, ya Le. Tentang siapa yang namanya Darto," ucap wanita itu sembari menempatkan gelas di bibir kering milik Darto. Badan Darto benar-benar lemas, dia tidak punya tenaga sama sekali untuk bergerak.
"Maksud Si Mbok?" tanya Darto keheranan, dia memberanikan diri memanggil wanita itu dengan sebutan Si Mbok.
"Kamu pasti habis ketemu sama mahluk halus yang punya nama Darto, kan? sebelum kamu pingsan, kamu cerita baru ketemu sama Wajana dan siapa ya itu satunya lagi, em kalau tidak salah Sarto," ucap wanita itu sembari mendongak mengingat nama yang pernah dia dengar.
"Iya, Le. Si Mbok juga sebenarnya ingat, cuma Si Mbok mau usil saja sama kamu hi hi," ucap wanita itu sedikit tersenyum, sembari menyentil hidung Darto.
Darto benar-benar bingung, dia tidak berani lagi berkata-kata banyak, takut salah dan juga takut jika wanita itu curiga.
"Sebentar ya, Le. Si Mbok punya ikan buat kamu," Setelah mengucap kata itu, wanita itu langsung berlari kembali, dan tak lama setelah itu dia datang membawa ikan yang tersaji di atas piring anyaman bambu dengan daun pisang sebagai alasnya.
Dengan Lahap Darto memakan semua sajian itu, dia benar-benar merasakan lapar hingga perutnya terasa perih, seakan sudah tidak makan dalam beberapa hari. Darto sempat bimbang sebelumnya, mengingat dirinya tengah berpuasa, namun tempat dimana sekarang darto berbaring, langit sudah menggelap, sehingga dia menganggapnya sudah lewat waktu untuk berbuka.
__ADS_1
Setelah memakan ikan yang di bawa wanita itu, Perlahan tubuh Darto kembali memiliki tenaga, dia sudah bisa berjalan meski tertatih, namun rasa penasaran di dalam dadanya mengharuskan dia untuk cepat berdiri, kemudian meninggalkan ruangan yang tengah dia singgahi.
Selangkah demi selangkah Darto terus berusaha berjalan, hingga akhirnya dia sampai di depan pintu yang juga terbuat dari anyaman bambu. Darto bergegas mengangkat pintu tersebut, kemudian menggesernya. Kembali mata Darto terbelalak menyaksikan perkampungan di depan matanya. Sungguh perkampungan yang sangat tertinggal, jarak satu rumah dengan rumah yang lainnya sangatlah jauh, ditambah pepohonan rindang masih memenuhi seluruh perkampungan. Kampung yang berdiri di tengah-tengah hutan belantara dengan kobaran api unggun sebagai sumber cahaya.
Beruntung malam ini cahaya bulan yang tengah membulat sempurna bersinar dengan seterang-terangnya, tanpa bantuan apapun Darto bisa melihat sekeliling dengan jelas. Mata Darto terus tertuju pada sebuah tempayan atau tong besar dari tanah liat yang letaknya tidak jauh dari tempat dia berdiri, dia bergegas mendekati tempayan tersebut, dan benar saja itu berisi air persis seperti yang Darto pikirkan.
Meski samar, dari pantulan air di dalam tempayan, Darto bisa melihat wajahnya, wajah bocah kecil mengenakan pakaian yang sama dengan apa yang Darto kenakan saat ia masih duduk di atas Batu. Dalam hatinya dia mulai bisa menangkap apa yang tengah dirinya alami, hanya saja dia belum tau apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
'Jika benar ini tubuh leluhurku, lalu apa yang harus aku lakukan?' gumam Darto sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Le!" teriak wanita tadi dari dalam rumah, kemudian mengintip keluar pintu, dan melambaikan tangannya setelah melihat Darto yang sedang melamun di depan tempayan.
"Njih Mbok! saya kesitu," teriak Darto kemudian berjalan menuju arah wanita itu berdiri, dalam hatinya dia sudah tau jika dia harus berpura-pura menjadi siapapun yang tengah Darto kendalikan tubuhnya. Dan dia juga tau jika ini hanyalah ujian untuknya.
"Jangan keluar malam-malam! meski kamu bisa melihat mereka, tetap saja Si Mbok tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu Le!" ucap wanita itu sembari menjewer telinga kanan milik Darto, lalu dia menarik telinga Darto hingga Darto terseret masuk kedalam rumah miliknya.
Menanggapi tindakan wanita itu, Bulir air mulai terkumpul di kantung mata Darto, Dadanya terasa sesak seketika, tatapan matanya terbanting ke tanah, hingga akhirnya Darto benar-benar menangis kala itu.
Darto menangis bukan karena sakit, bukan juga karena malu. Darto menangis karena bisa merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasa seumur hidupnya. Dia di hadapkan dengan seorang wanita yang tidak pernah kekurangan rasa cintanya, seorang wanita yang menghawatirkan dirinya, seorang wanita yang biasa dipanggil 'IBU'
__ADS_1
Bersambung,-