
Beralih kepada Jaka, dia terlempar menuju tempat yang sepenuhnya berbeda. Saat ini Jaka kecil hidup bersama Si Mboknya di rumah Si Mbah Akbar.
Tidak ada kampung tertutup seperti kehidupan sebelumnya, dan tidak ada juga banaspati seperti yang selalu di takuti hampir separuh usia hidupnya.
Ingatan Jaka juga sama seperti apa yang Darto miliki, dia memiliki kebimbangan yang sempurna, dengan apa yang tengah dirinya saksikan dan lalui.
"Mbok ... sudah seminggu Jaka bingung dengan keadaan ini. Sebenarnya kehidupan ini yang palsu, atau semua yang pernah Jaka lalui hanya mimpi?" tanya Jaka kepada Si Mboknya.
"Kamu itu Jak ... sudah seminggu merengek hal yang sama. Terserah kamu mau bilang ini mimpi atau nyata, tapi yang jelas kamu tetap anak Si Mbok satu-satunya," jawab Si Mbok mengalihkan pembicaraan.
"Mbok ... Jaka boleh minta izin?" tanya Jaka kembali.
"Izin apa? Jangan minta hal aneh maupun yang berbahaya!" jawab Si Mbok sedikit ketus.
"Jaka mau pergi dari kampung kesemek. Ada tempat yang ingin Jaka kunjungi, Mbok," Jaka menjelaskan dengan wajah tertunduk.
"Mau kemana?" Tanya Si Mbok.
"Jaka mau ke pesantren milik teman Jaka. Mungkin butuh waktu seharian penuh untuk sampai di sana jika berjalan kaki," jawab Jaka sembari mengangkat kepala, dia menatap wajah Si Mbok dengan tatapan yang sukar di jelaskan. Namun ketika Si Mbok melihat pancaran mata anaknya, dia tahu tatapan milik Jaka menggambarkan perasaan yang sangat kuat.
"Biar saya antar ...," Sahut Pak Akbar yang sedari tadi hanya menyimak.
"Yakin, Pak? Kamu mau biarkan cucumu pergi?" tanya Si Mbok Jaka.
"Kamu mau menolak permintaan anak yang memohon dengan tatapan setajam itu?" Tanya Pak Akbar kembali.
Mendengar pertanyaan itu, Si Mbok Jaka benar-benar bungkam. Dia hanya bisa tertunduk, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih, Mbah. Kalau begitu mari kita berangkat sekarang saja, mumpung masih pagi," sahut Jaka sembari berdiri dari posisi duduk. Dia terlihat bersemangat, dan juga sangat ingin cepat sampai pada tempat tujuan awalnya.
__ADS_1
Setelah melihat tingkah Jaka, Si Mboknya dan Si Mbahnya langsung saling bertatap, dan mengangguk serentak untuk mengiyakan permintaan pemuda kecil di depannya.
Tidak butuh waktu lama, mereka berangkat setelah selesai mengemas barang yang sekiranya dibutuhkan.
Hari itu, di hari yang sama, Darto dan Jaka benar-benar menuju tempat yang sama. Mereka melangkah dengan kaki telanjang, dengan perasaan mengganjal yang terus bersarang di dalam hati mereka.
****
Kembali kepada Darto, Dia terus berjalan mengikuti jalan setapak yang pernah dirinya lalui dulu. Dia menyusuri jalan yang pernah Kakung tunjukkan di kehidupan lalu.
Dia menyibak hutan rimbun yang begitu luas, untuk memperpendek jarak yang seharusnya di tempuh.
Sudah tujuh jam dia berjalan dari ketika dirinya meninggalkan rumah. Ini adalah kali ke tiga Darto beristirahat. Dia melakukan shalat dzuhur, di tempat dimana dulu dia pernah beristirahat bersama Kakungnya.
Setelah shalat, dia langsung mencoba memasuki alam gelap yang selalu dirinya masuki secara tidak sengaja di kehidupan dulu.
Darto benar-benar fokus, dia terus memejamkan mata dalam posisi duduk bersila. Sudah puluhan kali Darto mencoba melepas kesadarannya, namun semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Tanpa sadar Darto terlelap kala itu, dia tertidur dibawah pohon rindang, di tengah hutan belantara. Sifatnya benar-benar seperti Darto yang dulu, dia sama sekali tidak merasa takut lagi meski hanya sebatang kara di hutan tersebut.
Wajar saja untuk anak 12 tahun yang merasa lelah setelah tujuh jam lamanya berjalan kaki. Mungkin tidak banyak anak seusia itu yang sanggup menempuh perjalanan panjang seorang diri, sama seperti apa yang tengah Darto lakukan.
Ketika mata Darto terbuka, langit benar-benar sudah menguning. Darto langsung tergesa mengambil wudhu di tempat air mengalir yang tadi dirinya gunakan untuk berwudhu sebelum shalat Dzuhur, dan setelah usai melaksanakan kegiatan salat Ashar, Darto kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika langit sudah mulai menggelap, Darto menemui masalah. Dia benar-benar tidak mengingat kelanjutan jalan yang harus dirinya tempuh, karena dulu setelah Darto bertemu wajana, dia pingsan dan digendong oleh Kakung menuju pesantren miliknya.
Karena belum tahu arah jalan yang akan dirinya tempuh. Darto memutuskan untuk kembali beristirahat di tempat tersebut.
Setelah usah shalat Maghrib, Darto membuat api unggun, kemudian menyantap sisa nasi jagung yang sudah habis separuh dimakan olehnya siang tadi.
__ADS_1
Setelah perutnya kenyang, dia hanya bersandar pada pohon dan terus berdzikir di tempat tersebut. Dia menunggu waktu isya, dan berniat langsung tidur jika sudah menjalankan kewajibannya.
Ketika shalat isya sudah selesai Darto tunaikan, dia kembali bersandar pada pohon yang cukup besar. Dia membungkus dirinya dengan sarung, dan meringkuk sembari bersandar pada batang pohon tersebut.
'Jaka ... Sastro ... Wajana ... Maung ... Komang ... Dimana kalian? Apa kalian juga dikirim ke dunia ini sama seperti diriku?' gumam Darto pelan, sembari mencoba memejamkan mata dan mengingat semua perjuangan yang tengah dirinya lalui.
Mata Darto mulai sayup dan menyipit sepanjang detik yang terus berlalu. Dia benar-benar merasa jika hari ini cukup melelahkan, hingga tidak butuh waktu lama untuk dirinya terlelap di tempat tersebut.
"Dar?!" Suara seorang lelaki yang terdengar sangat jelas di sampingnya.
Darto langsung terkesiap, kemudian menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Dan betapa terkejutnya Darto setelah menyaksikan wujud dari seseorang yang baru saja memanggilnya.
"Wajana!" Teriak Darto sembari tergesa melepas sarung yang melilit sekujur tubuhnya.
"Sudah kuduga! Kita dilempar ke dunia ini entah oleh mahluk apa!" Teriak Wajana sembari berangsur mendekat pada Darto, setelah dia dekat dengan Darto, tanpa aba-aba dirinya langsung mendekap Darto dan berkata, "Untung saja kamu memanggilku, meski pelan aku benar-benar langsung tahu jika aku tidak sendirian di dunia ini."
"Aku sudah berusaha untuk kembali masuk ke dalam kerajaan milikmu, tapi aku sama sekali belum bisa menyebrang masuk ke dalam dunia milikmu," sahut Darto sembari mendekap Wajana yang tengah memeluknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Wajana.
"Aku berpamitan untuk menuju pesantren, tapi tujuan utamaku sebenarnya memang ingin bertemu denganmu. Aku tidak tahu cara menemui Sastro, karena kalung hijau yang mengurung Sastro belum aku miliki saat ini," jawab Darto.
"Pesantren sudah dekat, Dar. Tinggal dua jam lagi kalau berjalan pelan, lebih baik kita lanjutkan perjalanan malam ini saja," pinta Wajana.
"Kamu tahu jalannya, kan?" tanya Darto singkat.
"Jalan saja di belakangku," sahut Wajana dengan bibir mengambang di wajahnya.
Malam itu, ada setitik cahaya yang mulai menerangi kegelapan pikiran Darto. Dia semakin yakin jika kehidupan yang tengah dirinya jalani ini bukanlah kehidupan nyata, karena salah satu teman perjuangan yang dirinya miliki, juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua kembali melakukan perjalanan, menyibak kegelapan hutan rimba, dengan kaki telanjang, dan hanya bermodalkan cahaya kuning yang memancar dari senter alumunium tua yang Darto bawa.
Bersambung ....