ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KELAHIRAN DARTO


__ADS_3

...MOHON MAAF, MULAI DARI BAB INI AUTHOR AKAN MENGGUNAKAN POV AUTHOR BUKAN POV DARTO LAGI, BIAR BISA LEBIH JELAS MERINCIKAN KEJADIAN....


...πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ...


"Assalamu'alaikum" ucap Darto sembari membuka pintu dan kemudian melesat masuk ke dalam rumah Kakung.


"Wa'alaikimsalam" Jawab Kakung yang tengah duduk di ruang tengah dengan tasbih yang tidak pernah luput dia bawa.


"Kung.. Mari kita makan" ucap Darto mengangkat sekantong plastik hitam yang dia bawa, bermaksud menunjukan kepada Kakungnya itu.


"Bawa apa kamu Dar?"


"Darto beli dua bungkus nasi goreng di depan mesjid barusan Kung, sehabis solat magrib" Darto meraih 2 bungkus nasi goreng yang di bungkus dengan daun pisang di dalam kantong plastiknya itu.


Kemudian mereka melakukan ibadah berbuka puasa bersama di meja bulat dari kayu, di ruang makan di dalam kediaman Kakung. Untuk menyemangati darto Kakung juga ikut berpuasa, dan tidak terasa sudah satu bulan berjalan, sejak Darto datang ke pesantren ini.


"Kung, apa pocong merah masih nunggu Darto ya Kung, meski sudah satu bulan" tanya Darto dengan nasi yang masih penuh di mulutnya.


Tidak menjawab dengan suara, Kakung hanya menggelengkan kepala yang berbalut sorban miliknya itu.


"Beneran Kung?"


"Iya Dar, sudah makan dulu nanti kita bahas sehabis makan"


Mendengar ucapan kakung mereka melanjutkan melahap sisa nasi goreng yang tinggal sedikit di atas mejanya itu. Setelah tandas nasi goreng di atas meja itu mereka gilas, kembali mereka berbicara perihal Lastri yang masih terus mengelilingi pesantren dengan wujud pocong merahnya itu.

__ADS_1


"Kakung sudah pernah bilang, kan, Dar? kalau selama kamu di sini kamu aman" ucapnya sembari menyalakan rokok cerutu besar di mulutnya.


"Tapi kenapa Harti masih sering lihat ya Kung, sedangkan Darto sama sekali belum pernah jumpa" kembali Darto bertanya dengan kepulan asap yang sudah bersarang di dalam mulutnya.


"Sudah kamu tidak perlu pikir panjang Dar, toh kalau dia kesini juga nanti di tendang sama santri-santri Kakung, dan yang jelas dia kesini mungkin dendam sama Kakung, yang masang pagar di desamu Dar"


"Oh iya juga ya Kung... Kung, boleh Darto tanya lagi Kung? bagaimana Satya bisa meninggal?"


tatapan Darto terbanting seketika, pandangannya menoleh ke arah tanah di bawah kakinya.


"Dia di hasut Dar, mungkin dia lihat orang terdekatnya menderita, padahal aslinya nggak ada apa-apa yang terjadi sama mereka.yang namanya Jin, mereka cuma bisa nakut-nakutin Dar, tapi beda kalau Iblis, mereka pintar sekali menghasut Dar. Semakin orang itu terhasut, semakin gampang juga dia ngambil alih tubuhnya" Kakung menjelaskan kemudian kembali menghisap cerutu di tangannya.


"Bagaimana kabar Anto ya Kung, Darto jadi khawatir"


"Kan ada Tumin di sana Dar, sudah kamu tenang saja, banyak yang harus kamu pelajari disini selama tuju tahun"


Setelah rokok mereka habis, bergegas mereka berdua berjalan beriringan menuju masjid utama di pesantren itu. Setelah selesai beribadah, kembali mereka berjalan pulang. Namun kali ini suasananya ricuh di depan masjid, terlihat badan Darto di sanggah oleh Kakeknya itu, jalannya sempoyongan, sepertinya Darto tidak sehat selepas shalat isya.


"Kung kepala Darto sakit!" ucap Darto dengan hidung mimisan ketika masih di papah oleh Kakung.


"Sabar Dar kita hampir sampai!" ucap Kakung yang terlihat panik melihat cucunya begitu.


Sesampainya di kamar, tiba-tiba Darto menangis, tangisnya tak kunjung reda, karena sesuatu tiba-tiba berbondong masuk ke dalam kepalanya.


"Kung, Darto ingat semuanya, Darto juga ingat kenapa Bapak meninggal, dan Darto juga ingat wajah Ibu, juga mahluk yang menunggu di hari kelahiranku," ucap Darto yang tengah meringkuk di atas dipan di dalam kamarnya itu.

__ADS_1


Mendengar kata tersebut, Kakung bergegas menghampiri Darto, dan memeluk tubuh yang tengah meringkuk itu.


"Iya Dar, Kamu yang Sabar Dar, sekarang kamu tau kan? seberapa cinta mereka, dan seberapa biadabnya mahluk itu!"


"Andai saja Darto tidak lahir Kung,"


"Kamu tidak boleh bilang begitu Dar, setiap kelahiran, kematian, itu sudah ketetapan Gusti Allah!"


"Njih Kung.. Tapi Bapak mungkin masih hidup, jika tidak menolong Darto dulu ketika buto ireng mau mencelakai Darto," kekeuh Darto.


"Sudah Dar, Bapakmu pasti lebih memilih melihat anaknya sehat dari sana, daripada harus kehilangan anak berharganya di depan wajahnya sendiri," tangan kakung terus mengelus pundak milik Darto, bermaksud menenangkan Cucunya yang tengah mendapatkan ingatannya kembali.


Di jelaskan bahwa ketika Darto berusia 4 tahun, buto ireng datang ke rumah Bapaknya hendak membalas dendam karena pengikutnya di bunuh oleh Simbah Turahmin dan juga Bapaknya Darto. Tapi naas, Darto yang tidak tau apa-apa malah jadi sasaran kemarahan mahluk tersebut, dan alhasil Bapaknya mengorbankan tubuhnya, demi menepis serangan mahluk itu, untuk kelangsungan hidup anaknya.


"Eh tapi Dar? apa kamu ingat Ibumu?, bukanya dia meninggal ketika kamu lahir?" Kakung mengernyitkan Dahi keriputnya itu.


"Darto lihat kung, wajah pucat ibu yang penuh keringat setelah melahirkan Darto. Darto masih ingat, wajahnya mirip sekali dengan wanita yang duduk di samping Kakung di dalam lukisan itu," Darto menunjuk sebuah lukisan besar yang berisi gambar Kakung dan Istrinya duduk bersebelahan sehabis acara pernikahan.


"Itu almarhum Nenek kamu Dar, Dia memang mirip sekali dengan ibumu, Bahkan bisa dikata kembar kalau seumuran. Kakung ingat, Tumin pernah cerita, kalau kamu lahir sungsang, di tambah mata kamu langsung melek begitu keluar dari rahim ibu kamu, bahkan dukun bayi panik, gara-gara bingung bagaimana caranya membersihkan mata kamu yang mandi darah ketika kamu lahir. Tapi, Dar, apa mungkin kamu ingat semua?"


"Njih Kung, Darto juga ingat, Siapa yang mencelakai Ibu, dulu Simbah Turahmin sering cerita sama Bapak, pas Darto kecil dan belum tau apa-apa, katanya bahkan ketika Darto masih di dalam kandungan, banyak sekali yang hendak mencelakai Darto, sebab itu Ibu Darto jadi lemah, badannya lesu selama mengandung, dan kehabisan tenaga ketika melahirkan Darto, di tambah Darto lahir sungsang, pasti jelas lebih menyiksa untuk Ibu.. sebenarnya Apa yang mereka incar dari Darto" isak Darto kembali pecah, melupakan penyesalan yang sudah tertumpuk bahkan terlupakan untuk waktu yang lama di dalam hatinya.


Sepanjang malam Kakung menjaga Darto yang terus menangis, hingga dia terlelap dengan mata lebamnya itu.


"Kamu Akan tau semuanya kelak Dar, semuanya akan jelas jika waktunya sudah tiba, maafkan Kakung ya Dar, Tidak bisa selalu ada ketika kamu butuhkan dulu," ucap Simbah kakung sembari mengusap dahi Cucunya yang sudah terlelap itu, kemudian bergegas pergi, meninggalkan Darto sendiri di kamar itu.

__ADS_1


Bersambung,-


Kalian bisa bayangin nggak? kalo ada bayi lahir sungsang, pas keluar kepalanya.. ehh matanya udah melek padahal baru lahir..πŸ˜‚ serem ya kalau di bayangin πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2