ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
ENAM BELAS


__ADS_3

Malam hari sudah berhasil dilalui, Baik Darto, Harti, Jaka maupun Magisna benar-benar terjaga hingga dini hari. Mereka hanyut dalam rasa yang begitu menyayat hati, namun mereka tidak bisa memungkiri.


Meski berat di dalam hati maupun di langkah kaki, pagi ini Darto dan Jaka harus pergi. Darto sempat menemui Dava seusai shalat subuh, dia memberi banyak sekali pesan hingga fajar menyingsing.


Darto tidak banyak berbicara dengan istrinya, karena dia tahu jika ucapan ataupun janji manis sebelum perpisahan merupakan sebuah racun yang akan menggerogoti dada jika terlalu lama tidak terwujudkan.


Setelah selesai mengemas semua barang bawaan, Darto dan Jaka hanya bisa mengecup kening istri mereka dalam rasa bersalah, sebelum akhirnya kembali melangkah, menuju halaman belakang pesantren miliknya.


"Komang! Maung!" Teriak Darto sembari mendongakkan wajahnya.


Setelah berteriak, Komang dan Maung datang hampir secara bersamaan. Mereka tiba bagai kepulan asap kemudian membiarkan Darto dan Jaka untuk naik ke atas pundak mereka.


Setelah naik ke atas punggung Maung, Darto kembali memanggil Sastro dan Wajana. Dia berpesan untuk bertemu di tempat mereka keluar dari ruang Brahmana, dan segera berangkat jika sudah berkumpul kembali.


Enam pria tersebut kembali menapaki jalan berat yang penuh pengorbanan dengan kaki mereka. Takdir yang dipikul oleh dua manusia dan empat mahluk sebelah tersebut benar-benar cukup berat.


Namun meski begitu mereka rela melakukan apapun demi kelangsungan hidup penerus mereka. Tidak akan pernah ada kata menyesal bagi mereka berenam, meski sebenarnya mereka bisa mengambil pilihan egois untuk diam dan hidup damai bersama keluarganya.


Darto, Jaka, Komang dan Maung sampai terlebih dahulu di tempat yang dijanjikan. Mereka menunggu cukup lama, sebelum akhirnya Sastro dan Wajana menampakkan tubuh mereka. Setelah semua orang berkumpul, Darto langsung berteriak memanggil Brahmana.


Pintu yang terlihat gelap kembali muncul di tempat semula, enam pria itu langsung masuk, untuk menuntaskan tugas terakhir mereka.


"Assalamu'alaikum ... maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Darto sembari menatap Abirama, Kanti, dan Brahmana.


"Tidak, Dar ... Aku yang harusnya minta maaf, padahal di sini belum genap satu hari dari saat kamu pergi, tapi mereka sepertinya menyadari kejanggalan yang sedang terjadi," jawab Brahmana.


"Mereka siapa?" tanya Darto dibarengi anggukan kepala lima temannya.

__ADS_1


"Penghuni kamar 16, Dar. Dia sudah tahu jika kalian akan datang, dia juga sudah bersiap, jangan anggap dia enteng, Dar. Mungkin dia sudah menyiapkan jebakan," sambung Abirama.


"Iya, Dar. Sudah berapa kali dia menyuruh bawahannya untuk kesini, untung saja mereka mati sebelum mencapai goa ini," timpal Abirama.


"Tapi yang terakhir datang benar-benar sudah sampai di mulut goa, Dar. Dia terus mengirim mahluk yang lebih kuat, jika mahluk yang sebelumnya gagal," Kanti menjelaskan.


"Baiklah, setidaknya sekarang aku sudah tahu sedikit garis besarnya," Darto mengangguk kemudian kembali berbicara, "Lalu bagaimana dengan kalian bertiga? Apa kalian juga akan membantu kami?"


"Kami tidak bisa melukai sesama pemilik kamar, Dar. Itu syarat yang diberikan oleh si iblis agar kita tidak bisa berontak sesuka hati. Jika kami melanggar, jiwa kami langsung menjadi makanan iblis itu," Kanti tertunduk.


"Tapi kami janji akan bantu, jika kalian semua sudah menghabisi semua pemilik kamar. Karena janji kami hanya tidak mengganggu pemilik kamar, tapi dia tidak berkata jika kita tidak boleh bertarung dengan dirinya," timpal Brahmana.


"Bawa kami bertiga di dalam cincinmu, Dar. Tidak akan ada yang sadar jika kami belum mati, cincin itu benar-benar tidak bisa dilihat isinya oleh siapapun, bahkan mungkin iblis itu juga tidak bisa," Abirama membuka suara.


"Baiklah ... tapi sebelum itu, tolong beri kami informasi dari setiap penghuni kamar," Darto meminta.


Setelah mendengarkan permintaan Darto, baik itu Brahmana, Kanti maupun Abirama memberikan setiap detail lawan yang akan dihadapi Darto dan temannya.


Setelah selesai berbagi informasi, Darto langsung menyalakan cincin miliknya sembari berkata, "Terimakasih ... Kalian benar-benar bantuan yang tidak terduga."


Kanti, Abirama dan Bahkan Brahmana langsung tersenyum setelah mendengar kata tersebut. Mereka juga merasa bahagia, karena tujuan awal mereka akan segera terlaksana.


Setelah Kanti dan Abirama masuk ke dalam cincin, Brahmana yang masuk di urutan terakhir mengucapkan kalimat sebelum masuk. Dia mengatakan sebuah barisan kata yang sungguh melegakan telinga Darto dan lima temannya.


Saat itu Brahmana berkata, "Jika itu kalian. Mungkin pemilik kamar nomor satu pun akan ketakutan."


Sudut bibir Darto, Jaka, Sastro, Wajana, Komang dan Maung langsung mengambang setelah mendengar perkataan tersebut. Perasaan gundah yang semula bersarang rapi di dalam hati pun seakan mencair dan sirna dalam sekejap mata.

__ADS_1


Setelah Brahmana masuk ke dalam cincin, enam pria itu langsung kembali menuju pintu masuk kamar tujuh belas, mereka melesat dengan keyakinan bahwa mereka akan bisa menghadapi setiap musuh yang akan hadir di depan mereka.


Setelah keluar dari kamar tujuh belas, enam pria itu langsung membuka kamar nomor enam belas. Mereka langsung melesat ke arah yang dijelaskan Brahmana, yaitu tempat persembunyian yang dimiliki oleh pemilik kamar tersebut.


Di dalam kamar nomor enam belas berisi sebuah kubangan yang begitu besar. Di dalamnya hanya berisi hamparan lumpur yang tersaji sejauh mata memandang, untungnya Brahmana menjelaskan apa isi mahluk di dalam ruangan tersebut secara rinci.


Setelah masuk, Darto melesat bersama Maung mengitari kubangan seperti arahan Brahmana. Sedangkan empat teman lainnya melawan mahluk manusia berlumur cairan hitam yang terus muncul dari dalam kubangan di depan mereka.


Butuh waktu cukup lama untuk Darto menemukan sarang pemilik kamar, karena Brahmana hanya memberikan petunjuk berupa kata "jika ada gundukan yang menyembul di pinggiran kubangan, di dalam situ pemimpin mereka tinggal."


Setelah hampir memutari separuh kubangan, Darto dan Maung akhirnya menemukan gundukan lumpur yang dimaksud oleh Brahmana.


Tanpa berfikir panjang, Darto dan Maung langsung melompat ke arah gundukan. Darto menciptakan panah ketika melayang di udara, kemudian melepaskan anak panah chandrabha tepat ke arah gundukan di bawahnya.


Dentuman seketika tercipta, suara ledakan bahkan sampai terdengar dari tempat dimana Jaka dan tiga lainnya tengah bertarung.


"Sepertinya Darto sudah menemukan pemilik kamar, Jak," ucap Sastro sembari menatap Jaka yang tengah menebas setiap musuh yang datang ke arahnya.


"Benar ... coba saja kalau kita tidak diberi informasi, mungkin kita akan menghabiskan waktu banyak untuk mengurus semuanya cecunguk ini," Jaka menjawab dengan senyum mengambang di wajahnya.


Sedangkan di tempat Darto, Maung mendarat dimana ledakan baru saja terjadi. Gundukan yang sudah Darto tembak benar-benar meledak, dan membuka jalan berbentuk terowongan yang seharusnya tidak terlihat dari atas kubangan.


Maung dan Darto masuk ke dalam terowongan bawah tanah, kemudian melesat berlari sekencang yang Maung bisa.


Mereka masuk ke dalam tempat yang begitu gelap, dengan jumlah musuh yang terus bertambah di setiap langkah kaki Maung.


Untungnya kecepatan Maung benar-benar gila, semua musuh yang mengejar mereka tidak bisa menggapai sasarannya, hingga Darto dan Maung berhasil sampai di dalam sarang pemilik kamar tersebut.

__ADS_1


"Maung .. terimakasih, sekarang biar aku urus mahluk menjijikkan itu," ucap Darto sembari menatap musuhnya. Sorot matanya begitu tajam, menatap Musuh yang tengah terkejut, karena baru saja menyadari kehadiran Dua lawan di dekatnya.


Bersambung ...


__ADS_2