
Di kediaman milik Eyang Darto dan Jaka tidak boleh langsung pulang. Mereka berdua justru diberi padi yang masih berkerak dan diminta untuk memisahkan kerak tersebut agar berasnya bisa dimasak.
Darto dan Jaka yang tidak bisa menolak, mereka langsung mengangguk dan dibawa menuju halaman belakang rumah Eyang Semar.
Di halaman belakang rumah Eyang, tergeletak satu buah lesung yang ukurannya dua kali lipat dari lesung biasa. Benda itu terbuat dari batu berrongga, dengan sebilah kayu berbentuk bulat dan berujung tumpul yang tergeletak di sebelahnya.
Darto dan Jaka langsung meletakkan padi di tangan mereka menuju lesung secara sekaligus, kemudian secara bergantian mereka menumbuk padi itu hingga terpisah dari keraknya.
"Padi apa ini, Kang?" tanya Jaka keheranan ketika baru mulai menumbuk padi, dia tampak kebingungan setelah melihat beras yang keluar dari kerak berwarna ungu.
"Loh ... kok ungu ya, Jak?!" sahut Darto yang sudah mendekat dan melihat isi padi di depannya. Sudah pasti, Darto juga kebingungan dengan apa yang tengah matanya saksikan.
Mereka berdua kemudian meraih beras di dalam Lesung tersebut, kemudian mendekatkan beras berwarna ungu itu ke depan lubang hidung mereka.
Mereka berdua seketika langsung menjadi seperti orang mabuk, dalam sekejap pikiran mereka melayang entah kemana, setelah mencoba mencium wangi beras itu dalam satu kali hirup saja.
Eyang yang melihat dua pemuda duduk teler di belakang rumah seketika terbahak, kemudian menepuk pundak dua pemuda itu secara bergantian setelahnya.
Darto dan Jaka seketika terperanjat, mereka tersentak dan langsung bangun dari halusinasi dengan wajah yang menyimpan sejuta tanya.
"Sebenarnya beras apa ini, Eyang?" tanya Jaka sesaat setelah sadar.
"Ya beras biasa, cepat tumbuk saja, nanti kita makan sama-sama. Kucing yang mengantar kalian sampai di kali sudah lagi cari ikan sama Maung," jawab Eyang tidak mau menjelaskan.
Mendengar ucapan Eyang, Darto dan Jaka hanya bisa mengangguk dalam rasa penasaran. Mereka pun akhirnya melanjutkan kegiatan menumbuk, hingga semua padi di dalam lesung sudah sepenuhnya berubah menjadi beras berwarna ungu.
__ADS_1
Setelah meraih semua padi dari dalam lesung, Darto dan Jaka langsung meletakkan semua beras pada kantong kulit yang disediakan oleh Eyang, kemudian mereka masuk ke dalam rumah dengan sekantong penuh padi yang kisaran beratnya mencapai satu kilogram di tangannya.
Melihat Darto dan Jaka sudah menyelesaikan tugasnya, Eyang kembali mengajak dua pemuda itu keluar dari rumahnya. Kali ini mereka keluar dari pintu samping, dan ketika pintu dibuka yang tampak di depan mata mereka adalah danau yang berwarna biru toska.
Warna dari danau itu sungguh menyala, bagai lampu neon yang memiliki warna terang namun terkesan langka.
Tanpa basa-basi Eyang meminta Darto dan Jaka untuk mencuci beras itu di tepi danau. Mereka langsung menyanggupi dan pergi membasuh beras tanpa bertanya.
Setelah beras itu dicelupkan ke danau, warna ungu yang menempel pada beras seakan luntur. Beras itu berangsur menjadi seputih kertas, dan tidak lama setelahnya berasnya berubah warna kembali menjadi sebening kristal alias tembus pandang.
Darto dan Jaka sungguh merasa heran dengan apa yang tengah mereka saksikan, sedangkan Eyang semar justru keheranan melihat dua pemuda yang terus terheran, padahal mereka berdua sedang berada di dunia yang benar-benar terpisah dengan dunia aslinya.
"Kalian ini sudah lama tinggal di dunia kami, tapi masih saja terus menerus kaget dengan hal-hal baru," ejek Eyang sembari melambaikan tangan. Dia meminta agar Darto dan Jaka bergegas mendekat.
"Tapi kan ... kami baru lihat pertama kali," elak Darto dibarengi anggukan kepala Jaka.
Darto dan Eyang Semar langsung saling bertatap, mereka menahan gelak tawa di tenggorokan, kemudian berbalik badan dan melangkah pergi menuju rumah Eyang, tanpa memberikan sedikitpun jawaban untuk Jaka.
Jaka yang merasa dicueki langsung menggerutu sepanjang jalan, dia terus bergumam dan memaki dua lelaki di depannya, sembari memasang wajah bodoh yang begitu kentara.
Setelah sampai, Eyang langsung membakar kayu di dalam tungku yang tergeletak di samping rumahnya. Kemudian Eyang meletakkan sebuah dandang yang cukup besar, dilanjut memasukkan semua beras yang sudah dicuci ke dalam dandang tersebut.
Sembari menunggu matang, Darto dan Jaka terus menceritakan latihan yang sudah mereka lakukan kepada Eyang. Eyang mendengarnya dengan telinga terbuka, dia merasa senang ketika melihat dua pemuda di depannya masih mempertahankan sifat asli miliknya.
Eyang benar-benar merasa lega. Karena tidak semua manusia akan ingat dengan asal usulnya, setelah mendapat sesuatu yang menurutnya luar biasa.
__ADS_1
Namun bagi Eyang, Darto dan Jaka sama seperti padi yang selalu dirinya tanam. Mereka terus tumbuh meninggi, dan semakin menunduk ketika berisi. Hal itu yang membuat Eyang sangat senang, hingga dia tanpa sadar menatap Darto dan Jaka dengan tatapan tidak rela.
Eyang Semar benar-benar merasa berat untuk melepas dua pemuda di depannya, dia merasa Darto dan Jaka sudah seperti cucu sesungguhnya. Dia merasa takjub dengan dua pemuda yang masih terus memancarkan aura positif, setelah rentetan ujian mengerikan yang sudah mereka lalui.
"Darto ... Jaka ... kalian harus terus maju. Setinggi apapun tembok yang menghalangi kalian, panjat saja dengan saling menopang badan. Jangan pernah termakan hasutan musuh kalian, kalian kuat jika bersama," ucap Eyang pelan. Dia menatap sendu ke arah Darto dan Jaka secara bergantian.
"Baik, Eyang," jawab Jaka dengan sendu, setelah Jaka merasakan rasa tidak rela yang tergambar dari suara Eyang Semar.
"Eyang, maaf kalau kami tidak bisa memberi apa pun untuk balasan budi kami," ucap Darto sembari menunduk. Darto juga merasakan perasaan yang sama ketika akan terpisah dengan sosok di depannya. Sosok yang sudah memberinya begitu banyak bantuan, entah itu pengetahuan maupun benda yang dibutuhkan.
"Kamu ini bicara apa? Aku sudah sangat senang karena masih bisa menjalankan takdir yang aku kira sudah tidak berguna," sahut Eyang sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Takdir apa Eyang?" timpal Jaka singkat. Dia tampak penasaran, sedangkan Darto malah langsung menunduk, karena kembali terpikirkan sebuah kalimat yang pernah Eyang bisikkan di dalam ujian.
"Takdir untuk bertemu dengan bibit unggul seperti kalian berdua. Dulu banyak sekali manusia yang meminta saran untuk dijadikan Raja yang bijaksana. Tapi sekarang semuanya tinggal kenangan, Jak. Mungkin kalian tamu manusia terakhir yang bisa merasakan beras yang aku tanam," ucap Eyang dengan mata berbinar.
Mendengar kata itu, Darto dan Jaka hanya bisa tertegun. Mereka masih tidak bisa menelaah setiap kalimat yang Eyang berikan, namun meski begitu Jaka dan Darto setidaknya tahu garis besarnya. Jaka dan Darto merasa jika Eyang merupakan pembimbing yang sangat handal, untuk setiap urusan yang sukar diselesaikan
Setelah cukup lama berbincang, Komang dan Maung datang dalam wujud manusia kembar. Maung meniru wujud Komang, ketika Komang memakai wujud manusianya.
Mereka berdua datang dengan ikan yang tergantung di tangan masing-masing. Ikan sejenis nila yang masih bergerak, meski sudah terangkat dari dalam air dan tertusuk rumput dari mulut hingga insang nya.
Eyang langsung menyuruh mereka berdua untuk membakar ikan tersebut. Setelah semua masak, lima pria yang berbeda usia itu pun langsung makan dengan begitu lahapnya. Mereka memakan semuanya hingga habis tanpa sisa, sebelum akhirnya semua orang tertidur dalam kondisi perut yang sepenuhnya terisi, di atas lantai di ruang yang sama.
Hari terakhir singgah di kediaman Eyang, benar-benar terasa sedikit menyenangkan bagi Komang, Darto dan Jaka. Mereka sejenak melupakan segala urusan yang selalu menghantui kehidupannya, untuk sekedar istirahat dari takdir panjang yang ada didepannya.
__ADS_1
Bersambung ....