
Sosok itu terus menyeringai, menampilkan dua taring yang panjang dari bibirnya. Dia merasa girang setelah ratusan tahun lamanya tidak mendapat lawan yang sepadan, hingga tanpa sadar dia langsung mengeluarkan energi hitam begitu besar hingga membuat tempat gelap terus melebar.
Darto terkejut karena tempat gelap di depan matanya tiba-tiba bertambah, kegelapan benar-benar terasa merambat, dari tempat yang semula hanya berkisar meteran, kini menjadi puluhan meter lebarnya. Semua tempat di depan Darto dan Jaka perlahan menjadi gelap, tertutup oleh energi yang terpancar dari sosok yang akan Darto dan Jaka hadapi.
Karena merasa terancam, dengan sedikit ragu Darto melepaskan anak panah yang sedari tadi siap dilepaskan. Anak panah itu melesat menembus kegelapan, namun anak panahnya seperti tertelan oleh kegelapan tersebut.
Tidak ada suara dentuman, jeritan maupun suara berisik ketika anak panahnya terlepas. Yang ada malah kegelapan yang kini merambat di atas tanah, dan terus mendekat ke arah Darto dengan kecepatan yang sangat gila.
Melihat bahaya mendekat, Darto langsung meraih lengan Jaka, dia membawa Jaka untuk berpindah ke atas dahan pohon, sepersekian detik sebelum kegelapan berhasil menyentuh kakinya.
Jaka benar-benar terkejut karena sedari tadi dia mengawasi punggung Darto, namun ketika dia berhasil dibawa pindah oleh Darto dia baru sadar jika kegelapan itu bergerak dan juga terus mendekat ke arah mereka.
Jaka dan Darto terus menghindar dari kegelapan yang terus mengejar mereka, sesekali tembakan energi dilontarkan oleh Darto dan Jaka yang sudah terpencar. Mereka terus berpindah sembari terus menyerang ke arah yang sama.
Sesaat kemudian, cahaya hitam yang menyebar berkumpul di satu tempat. Layaknya asap yang merambat menuju titik yang sama dan menjadi semakin padat dan padat lagi setelahnya.
Asap hitam itu terus tersedot ke satu titik, hingga akhirnya dia memiliki bentuk padat, menyerupai komang tapi tubuhnya benar-benar hitam legam. Matanya menyala dengan warna kuning, dan barisan gigi bertaring juga tersaji di wajah garang miliknya.
"Bukan Komang itu, Kang?" tanya Jaka sesaat setelah berpindah di sisi Darto.
"Bukan, Jak. Mungkin dia yang membuat Komang tidak berani masuk ke hutan ini, dia kuat, Jak," jawab Darto kemudian mencoba berpindah mendekat.
"Maaf ... saya sudah tidak sopan, tapi saya tidak memiliki waktu banyak, saya harus segera bertemu dengan Prabu Semar," ucap Darto sembari mencoba berkomunikasi dengan sosok macan hitam di depannya.
__ADS_1
Macan itu tidak menyerang Darto dan Jaka. Dia mencoba mendengarkan terlebih dahulu sembari terus memutari Darto dan Jaka yang tengah saling memunggungi di depannya.
"Untuk apa kalian ke sini? Kekayaan? Asmara? Atau jabatan? Sejak dulu manusia memang istimewa, mereka datang ke tempat yang bisa membuat mereka mati dengan senyum di wajah mereka, mereka mau mempertaruhkan hidup bahkan keturunan mereka, hanya untuk sesuatu yang tidak abadi," sahut sosok itu.
"Tidak ... aku hanya ingin meminta saran," jawab Darto sembari mengendurkan posisi siaga miliknya.
Sesaat kemudian Darto menepuk pundak Jaka, dan berkata, "Simpan saja senjata itu, dia bisa membunuh kita kalau dia mau. Bukannya menyerang, dia malah menjawab pertanyaan dariku, itu sudah cukup menjelaskan jika dia tidak memiliki wewenang untuk membunuh, karena mereka tidak mendapat perintah dari junjungan mereka."
Mendengar ucapan Darto, Jaka langsung mengangguk, kemudian menghilangkan tombak di tangannya. Sedangkan macan itu terbahak sembari berkata, "Cerdas kau pemuda, tapi siapa yang bilang jika aku harus meminta ijin dulu untuk mengurus tikus seperti kalian?"
Mendengar ucapan mengancam itu Jaka langsung memendarkan cahaya merah lagi di tangannya, namun tangan Darto menepuk pundak Jaka sembari menggeleng padanya, Darto meminta Jaka untuk tidak melakukan apa-apa, karena Darto benar-benar percaya dengan firasatnya.
"Kau sudah menyerah manusia? Jadi jangan salahkan aku jika kalian mati hanya dalam satu serangan!" tanya macan kemudian melompat ke arah Darto dan Jaka.
Macan hitam yang melihat tatapan mantap dari kedua pemuda di depannya kemudian meleburkan tubuh miliknya. Dia berubah menjadi asap hitam, sedetik sebelum serangannya mencapai tubuh Darto. Dia mengurungkan niatnya sembari berkata, "Prabu sudah menunggu kalian, ikuti saja jalan ini."
Sesaat setelah suara itu terdengar, sebagian rumput dan semak yang menghalangi jalan tiba-tiba ambruk, menciptakan jalan setapak yang akan Darto dan Jaka lewati.
Melihat itu, Darto dan Jaka langsung saling bertatap, dan langsung mengangguk bersamaan. Mereka akhirnya terus mengikuti rumput yang terus ambruk ketika menciptakan jalan, memasuki hutan gelap yang sangat minim pencahayaan.
"Sebenarnya apa yang akan kalian minta kepada Prabu?" tanya sosok harimau hitam yang merubah wujudnya menjadi manusia. Dia meniru tubuh Jaka.
Darto benar-benar terkejut setelah melihat Jaka menjadi dua, sedangkan Jaka malah tersenyum lebar melihat sosok itu merubah menjadi dirinya.
__ADS_1
"Kami cuma mau minta saran untuk mengalahkan Banaspati," sahut Darto yang menatap Jaka asli, Darto benar-benar tidak bisa membedakan Jaka Asli maupun palsu.
Melihat Darto berbicara padanya, Jaka asli tiba-tiba tertawa, dia terbahak dengan puas sembari berkata, "Aku yang asli, Kang."
Darto hanya mendesis, sedangkan sosok macan itu merubah wujudnya menyerupai Darto. Dia memampangkan ekspresi heran ketika Darto mengucapkan kata banaspati.
"Kamu akan melawan dia?" tanya sosok macan dengan wujud Darto.
"Ya! Kalau tidak disingkirkan keluarga saya dalam bahaya," sahut Darto dengan tatapan lurus menatap mata Darto palsu.
Melihat tatapan tajam Darto, sosok macan seketika bergidik, dia merasakan keyakinan yang begitu matang dari pemuda di depannya, hingga tanpa sadar dia mengucap sebuah kata yang mungkin bukan wewenangnya untuk menyampaikan, "Tapi jika kalian mengalahkan Banaspati, siapa yang akan ...."
"Maung!" suara teriakan lelaki tiba-tiba menggelegar memenuhi seluruh isi hutan. Suara itu benar-benar memiliki wibawa yang tidak bisa dijelaskan.
Mendengar teriakan itu, sosok hitam yang ternyata memiliki nama maung itu langsung berubah menjadi macan kembali, dia meringkuk dengan tubuh menggigil dan menghentikan perkataannya.
Tidak berbeda dengan Darto dan Jaka, mereka juga terperanjat dengan suara yang tiba-tiba memecah obrolan mereka. Mereka sampai menutup telinga, karena gendang telinga mereka seakan siap pecah hanya karena satu teriakan mahluk yang sama sekali tidak terlihat.
Untuk sesaat mereka berhenti, untuk memulihkan telinga yang sedang berdenging. Dan sejurus kemudian mereka melanjutkan perjalanan, dengan mulut yang terkunci. Tidak ada pembahasan apa pun lagi, bahkan tidak ada suara lagi yang keluar dari bibir Maung.
Dia tampak diam seribu bahasa dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Dia terus menunduk mengiringi langkah Darto dan Jaka, yang tengah mendekat ke tempat tujuan yang masih jauh di depan sana.
Bersambung ....
__ADS_1