
"Cukup manusia! Aku mengaku kalah!" ucap harimau sembari terus memutarkan tubuhnya.
Jaka dan Darto langsung beradu tatap, mereka saling mencari tahu tentang kelanjutan gerakan, dan spontan berhenti dalam waktu bersamaan.
"Apa tujuan kamu datang ke sini?" sergah Darto sembari terus mengitari harimau yang kini sudah meringkuk.
"Aku hanya datang untuk memastikan energi besar yang tiba-tiba datang di wilayah milikku," sahut harimau kemudian mencoba berdiri.
Setelah harimau berdiri tegap cahaya hitam tiba-tiba memendar dari seluruh tubuhnya. Darto dan Jaka seketika memasang posisi waspada, sebelum akhirnya kembali menurunkan senjatanya ketika melihat harimau di depan mereka berubah menjadi wujud manusia.
"Lalu? Kamu berniat memusnahkan kami, kan? Aku tahu kamu salah satu anak Banaspati," sambung Darto.
Manusia harimau itu terus meringis, dia terus memegangi luka di lengan dan kaki miliknya sembari berkata, "Justru itu, aku datang karena aku kira pemimpinku datang."
"Maksud kamu?" sahut Jaka.
"Energi di tubuhmu, itu pemberian dia, Kan?" jawab harimau sembari menatap tubuh Jaka.
"Bukan! Aku tidak pernah merasa diberi energi oleh mahluk biadab itu!" sergah Jaka. Dia tampak emosi setelah lawannya mengira bahwa Jaka merupakan sekutunya.
"Hei ... kamu tau Darma dan Surya?" timpal Darto setelah melihat harimau bingung dan juga wajah Jaka yang begitu marah.
__ADS_1
"Oh ... jangan bilang kalau pemuda itu penerus Ki Surya?" sahut harimau sembari menunjuk arah Jaka.
"Ya, dia berhasil memanfaatkan kutukan banaspati yang mengekang seluruh garis darah--keturunan Ki Surya," jawab Darto sembari menghilangkan senjata di tangannya. Dia mendekat kepada manusia jadi-jadian itu sembari bertanya, "Kamu pernah bertemu dengan sesepuh Jaka?"
"Maaf ... saya sudah lancang. Jika saya tahu kalau pemuda itu adalah keturunan Ki Surya, maka saya mungkin akan menemuinya dengan membawa hadiah, bukan malah menyerangnya," ucap lelaki paruh baya itu sembari sedikit membungkuk.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Jaka penasaran, dia juga menghilangkan tombak merah di tangannya dan langsung duduk di samping sosok itu.
"Saya teman Kanjeng Darma. Saya juga mengenal baik Ki Surya, sebelum mereka berdua menghilang, aku selalu menghantar mereka berdua untuk pergi ke tujuan mereka. Tapi setelah Ki Surya terserang banas pati, dan Kanjeng Darma membawa dia pergi, aku langsung menjadi tawanan banaspati," ucap lelaki itu sembari mendongak, pandangannya menerawang ingatannya, dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah bercerita, tiba-tiba lelaki itu mengendus, dia menciumi aroma keringat Darto kemudian berkata, "Kenapa bau tubuhmu mengingatkanku dengan Kanjeng Darma?"
"Dia keturunannya," sahut Jaka singkat. Dia langsung menjawab tanpa berfikir panjang.
"Sudah, ada yang perlu saya tanyakan. Jika kamu mau berada di pihak kami, Jaka bisa melepaskan energi banaspati yang mengikat lehermu. Sekarang jawab dengan sungguh-sungguh, apa kau mau melawan banaspati bersama kami?" ucap Darto membuyarkan ratapan harimau di depannya.
"Tidak ada satu pun alasan yang bisa kutemukan untuk menolak. Aku hanya takut sama dia, tapi aku sama sekali tidak menaruh sedikit pun rasa hormat pada sosok yang melukai dua orang terdekatku," jawab harimau dengan tatapan lurus, dia berbicara dengan wajah yang sangat serius, hingga Darto dan Jaka langsung mengangguk dan menerima harimau itu sebagai salah satu bantuan tak terduga.
Setelah Jaka dan Darto mengangguk, Jaka langsung memutus energi merah yang melilit leher harimau itu, dia langsung menyerap semua energi banaspati yang bersarang pada harimau untuk waktu yang cukup lama. Berbeda dengan semuanya, energi banaspati yang singgah di dalam tubuh harimau tidak bisa dibandingkan dengan para penduduk kampung. Energi nya begitu melimpah, mengingat sudah begitu lama harimau itu terkekang.
Setelah Jaka selesai melepas belenggu, Darto langsung memegangi setiap luka di tubuh harimau. Dia menyalurkan energi dari tubuhnya, untuk mempercepat penyembuhan luka. Lubang pada kaki dan tangan harimau perlahan menutup, berangsur mengecil hingga menyisakan kulit kering yang mirip seperti kulit yang hampir sembuh dari luka gores.
__ADS_1
"Terimakasih anak muda, sekarang aku yakin setelah merasakan energi kalian berdua. Dulu Kanjeng Darma yang selalu merawat diriku ketika terluka, energinya sangat mirip dengan yang keluar dari tubuhmu," ucap harimau setelah Darto menarik tangannya dari lengan dan kaki miliknya.
"Sudah, lagian aku sudah punya rencana untuk membawa kamu untuk jadi teman kami. Tapi aku tidak mengira jika kamu dulu merupakan teman leluhur kami," sahut Darto kemudian berdiri dan melangkah menuju kampung.
"Kamu mau ikut ke kampung? Atau mau pulang ke hutan?" Ucap Darto sembari berjalan, dia sengaja bertanya setelah melihat sosok lelaki itu memasang wajah kebingungan.
"Jika boleh, mulai sekarang aku ikut kalian ... ," ucap harimau tercekat, dia bingung karena tidak tahu nama panggilan untuk dua pemuda di depannya.
"Saya Jaka, ini Kang Darto kamu bisa panggil kita dengan nama saja, lebih enak didengar daripada pemuda," sambung Jaka.
"Baik Jaka, Darto. Mulai sekarang saya akan mengikuti kalian, kalian bisa panggil saya Komang, itu nama yang Kanjeng Darma berikan," sahutnya sembari tersenyum lebar, dia bergegas menyusul Jaka dan Darto, kemudian ikut berjalan menuju rumah Jaka yang sedang di gunakan untuk bersembunyi oleh semua penduduk.
Setelah sampai, Jaka memberitahukan kepada Abah Ramli jika situasi desa sudah aman. Mendengar itu Abah Ramli langsung meminta semua penduduk untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Malam itu Komang ikut singgah di rumah Jaka, hanya saja dia tidur dalam bentuk harimau, dan meringkuk di teras halaman rumah Jaka. Dia menjaga keamanan teman barunya, dengan terus terlelap sembari melindungi Darto dan Jaka.
Setelah pagi buta menyapa, Abah Ramli kembali mengumpulkan semua warga. Mereka dihimbau untuk segera membawa semua benda berharga, karena Abah Ramli akan membawa mereka keluar dari kampung halamannya. Tidak terbendung air mata yang pecah dari semua mata, mereka berlari menuju rumah dengan penuh suka cita, mengingat seluruh hidupnya sudah mereka habiskan di tempat yang mengurung mereka.
Tidak butuh waktu lama semua orang sudah kembali berkumpul dengan buntalan jarik di punggung mereka. Tidak ada yang membawa barang banyak, karena memang mereka sama sekali tidak memiliki barang berharga selain pakaian dan alat bertani yang selalu mereka gunakan setiap hati.
Setelah semua orang berkumpul, Abah Ramli memimpin jalan untuk menuju pesantren, semua orang benar-benar memasang wajah bahagia, tidak terkecuali Jaka. Dia terus menggandeng tangan Si Mbok, dengan wajah yang sumringah di setiap langkah kakinya.
Sedangkan Darto, dia berjalan bersama Komang di belakang, dia terus mengulum senyum di wajahnya, setelah melihat semua ekspresi penduduk yang begitu bahagia. Hari ini, kisah dari kampung terpencil dan tersembunyi akhirnya menemui titik akhir.
__ADS_1
Bersambung ....