
"Semar siapa? Kalian semua beneran manusia, kan?" tanya lelaki itu kembali. Dia terus memperhatikan Darto dan juga Jaka secara bergantian, tatapan matanya menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala milik dua pemuda di depannya.
"Iya, Pak. Bapak pemilik gubuk di depan?" sahut Darto sembari memasang wajah heran kepada lelaki di depannya.
"Iya, itu gubuk saya. Semalam saya dengar langkah kaki kalian, tapi saya pikir cuma suara binatang, soalnya sudah lama saya tidak bertemu dengan manusia," jawab lelaki itu.
"Berarti Bapak itu Kanjeng Semar?" timpal Jaka.
"Semar?" jawab lelaki tua dengan nada bertanya. Dia tampak sedikit bingung dengan nama yang baru saja dirinya dengar, "Memang siapa semar?" Sambungnya lagi sembari menatap heran pada Darto dan Jaka.
"Bapak tidak tahu?" Tanya Darto kembali.
Lelaki itu hanya menggeleng, kemudian dia berkata, "Mari kita mampir dulu ke gubuk saya."
Mendengar ajakan orang itu, Darto dan Jaka langsung saling bertatap sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah kaki pria di depannya.
Sesaat mereka mengikuti jalan setapak, namun setelah maju beberapa meter orang tua itu berbelok melewati pematang sawah.
Darto dan Jaka sedikit heran karena orang itu berbelok menuju arah yang berlawanan dengan arah ke gubuk, tapi mereka tetap mengikuti langkah orang itu dan tidak lama setelahnya orang itu sudah berada di belakang tubuh mereka tanpa Darto sadari.
"Maju terus, Nak," pinta lelaki itu dari belakang Darto dan Jaka.
Darto dan Jaka terus maju seperti apa yang orang itu perintahkan, dan sejurus kemudian mereka berdua merasakan rasa yang sama. Perasaan aneh yang menyapa sekujur tubuhnya, seperti tengah menembus tembok tipis yang terbuat dari air yang begitu dingin. Namun tembok itu tidak berbentuk dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Setelah menembus tembok itu, Darto dan Jaka tiba di tempat kebalikannya, mereka benar-benar melompat jauh, hingga sampai di depan gubuk yang semula menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya kalian berhalusinasi, Nak. Apa kalian sebelumnya melihat gubuk ini ada di belakang?" Tanya lelaki itu sembari tersenyum.
"Iya, Pak. Kami dari kemarin berjalan menuju ke tempat ini, tapi kami seperti jalan di tempat," jawab Jaka.
"Pantas saja, semalam saya dengar langkah kaki yang mondar-mandir. Kalian mungkin sudah beberapa kali melewati gubuk ini, tapi kalian tidak sadar kalau kalian hanya berputar-putar di tengah padi," ucap lelaki itu menjelaskan.
"Pak, kami datang dari hutan di belakang, dua malam sudah terlewat semenjak kami memasuki hutan.Apa Bapak benar-benar tidak tahu tentang Kanjeng Semar? Saya benar-benar butuh bantuan Bapak," tukas Darto panjang lebar.
Lelaki itu hanya mengangguk, kemudian dia berdiri dan masuk ke dalam gubuknya. Tidak lama kemudian dia kembali sembari menenteng kendi, dan langsung menawarkan pada dua pemuda di depannya.
"Minum dulu, Nak. Mungkin air ini bisa memberikan jawaban untuk keinginan kalian," pinta lelaki itu kembali.
Darto dan Jaka yang memang sudah haus langsung menenggak air di dalam kendi itu, mereka langsung meminum dari kendi tanpa gelas sebagai perantara. Airnya begitu segar, dan tidak memiliki rasa seperti air yang ada di pematang sawah.
Darto dan Jaka yang kini tengah memegang kepala mencoba melihat lelaki tua di depannya. Anehnya, lelaki itu malah justru tersenyum dan terlihat puas, ketika menyaksikan dua pemuda di depannya tengah dihujam rasa kesakitan.
"Apa ini Pak!" Sergah Darto sembari terus memegangi kepala, semua yang tampak di depan matanya kini mulai menjadi ganda.
"Kalian akan mati, Nak," ucap lelaki itu dengan wajah santainya. Dia merasa biasa saja melihat dua pemuda di depannya mengerang bahkan sampai berguling di atas tanah.
Darto dan Jaka bisa mendengar ucapan lelaki itu dengan jelas, tapi mereka benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Mereka terus berguling menahan denyutan yang kini mulai merambat dari kepala mereka. Dari leher, dada, perut hingga tubuh bagian bawah Darto dan Jaka kini hampir seutuhnya merasakan hal yang sama.
Sekecil apapun gerakan yang dilakukan Darto dan Jaka, benar-benar terasa seperti sayatan besar di tubuh mereka. Mereka mencoba diam tapi sia-sia, karena meski hanya bernafas, itu sudah bisa membuat mereka merasakan sakit yang luar biasa di dada mereka.
__ADS_1
Wajah Darto dan Jaka mulai membiru, mereka terus mencoba menahan nafas selama mungkin dalam posisi meringkuk. Cairan bening mulai mengucur dari sudut mata, hidung, mulut bahkan telinga mereka. Mereka benar-benar kesakitan dan terlihat sangat mengenaskan.
Lelaki itu tetap tidak bergeming, dia terus memperhatikan Darto dan Jaka secara bergantian, dengan tampang tidak bersalah yang bersarang pada wajahnya.
Lima menit berlalu, Darto dan Jaka masih meringkuk, pandangan mereka sudah kosong dengan bibir menganga. Mereka sudah tidak bisa menampilkan ekspresi kesakitan lagi, meski tubuh mereka masih sangat sakit jika di gerakkan.
Kali ini lelaki itu berjalan mendekat menuju dua pemuda yang sudah tidak berkutik di depannya itu. Dia meletakkan dua jari tangannya di depan hidung Darto dan Jaka secara bergantian.
Lelaki itu tersenyum simpul ketika mengetahui masih ada nafas pada dua lelaki di depannya. Entah mengapa senyumannya begitu lebar, berbanding terbalik dengan perbuatannya.
Tidak lama kemudian lelaki itu membawa Darto dan Jaka yang tengah pingsan dengan mata terbuka, menuju kedalam gubuk miliknya.
Dia membaringkan tubuh Darto dan Jaka dengan posisi telentang, kemudian kembali masuk ke dalam ruang sebelahnya untuk meraih sesuatu.
Lelaki itu kali ini kembali dengan sebilah belati di tangannya. Dia mendekatkan belati itu kearah Jaka dan tidak lama kemudian belati itu berhasil memotong bagian tubuh Jaka.
Setelah selesai mengambil sesuatu milik Jaka, dia berangsur menggeser tubuhnya dan langsung melakukan hal yang sama kepada Darto. Ketika dia sudah mendapat semuanya, dia kembali masuk kedalam ruang sampingnya dengan senyum bahagia yang terpampang pada wajahnya.
Sudah cukup lama Dia tidak kembali menuju tempat Darto dan Jaka yang sedang terbaring. Entah apa yang sedang di lakukan lelaki itu di ruang sebelah, dengan sesuatu yang dia raih pada Darto dan Jaka. Sedangkan Darto dan Jaka, mereka masih bernafas, dengan kondisi pingsan, serta mata yang terbelalak.
Cairan bening yang mengalir dari mata, mulut, hidung dan telinga juga sudah mulai berhenti, meski mereka masih belum tersadarkan juga.
Setelah hampir satu jam lamanya, lelaki itu akhirnya kembali. Dia duduk di dekat kepala Darto dan jaka sembari berkata, "Mari kita mulai."
Bersambung ....
__ADS_1