
"Ayo min! kita cepat, kasihan Darto kalau sampai Buto ireng yang dia lawan, hah hah hah!" teriak Kakung kepada Turahmin sembari terus berlari. Keringat sudah mengucur di pelipis mereka berdua, nafasnya tersenggal seakan sudah sampai di ujung tenggorokan.
Meski begitu, mereka tetap melanjutkan langkah cepat mereka menuju tempat Darto berada. Tanpa istirahat, mereka memaksakan tubuh yang sudah tidak muda lagi untuk terus berlari.
...***...
"Din! bangun Din!" teriak Surip yang terbangun, dikagetkan benda jatuh tepat di atas tubuhnya.
"Din!" kembali Surip berteriak.
Meski Surip masih dalam posisi tidur karena ada sesuatu yang menahan di atas tubuhnya. Surip terus berusaha sebisa mungkin menggoyang tubuh Bidin yang tengah tidur sangat pulas di sampingnya, bahkan saking pulsanya Bidin sampai terlihat seperti orang mati.
"Ada apa si, Sur!" teriak Bidin sedikit kesal, sembari membuka mata perlahan, dibarengi tangan mengusap liur yang sudah merambat di pipinya.
Belum sampai Surip menjawab, mata Bidin seperti di paksa untuk membulat, setelah melihat sosok perempuan berbalutkan kain kafan tengah duduk tepat di atas perut Surip yang sedang tidur telentang. Sosok itu tengah menatap wajah Surip dengan rambut yang keluar dari sela kain kafan yang menutup kepalanya.
"Allahuakbar!" Teriak Bidin kembali sembari mendorong sosok itu, sayangnya tangannya menembus tubuh pocong yang kini mulai menatap ke arahnya.
"Tarik aku Din!" teriak Surip sembari mengulurkan tangannya.
Meski panik, Bidin masih bisa mendengar ucapan Surip. Kemudian bergegas menarik kencang tangan Surip hingga akhirnya Surip bisa berdiri.
"Ayat Kursi Din! Ayat Kursi!" teriak Surip yang baru terbangun itu. Untungnya Bidin masih bisa di ajak bekerja sama.
Saat itu, Bidin dan Surip pun langsung melantunkan ayat tersebut dengan suara lantang. Sosok perempuan itu berangsur menjauh, berdiri dan meluncur menembus tembok di ruangan tersebut.
...***...
"Hati-hati Nak, Dia kuat," Ucap Kakek Wajana yang kini ikut memasang posisi siap untuk bertarung dengan Buto ireng yang tengah mendekat ke arah Darto.
__ADS_1
Darto dan Kakek Wajana berdiri saling memunggungi, mereka memutar dengan posisi tersebut, menyisir pandangan mereka ke segala penjuru setelah Buto ireng tiba-tiba hilang di telan kegelapan.
"Mau apa kau Bocah!" teriak Kakek Sastro yang tengah menjaga Harti.
Tanpa di ketahui Darto dan Kakek Wajana, Buto ireng malah justru mendekat ke arah Harti. Untung Saja ada Kakek Sastro yang menjaganya di sana.
"Dasar tua bangka! sepertinya pelajaran yang di beri Nyai Gending belum cukup membuatmu jera!" ucap Buto ireng setelah sedikit terkejut melihat Kakek Sastro di depannya.
"Hah? kamu kira saya takut dengan majikan kamu? cuih! saya lebih takut sama yang di atas!" teriak Kakek Sastro, meludah, kemudian kembali menatap sosok botak hitam di depannya.
"Allahuakbar!" teriak Darto yang kini sudah sampai di belakang tubuh Buto ireng, dia mencoba menusuk Buto ireng dari belakang, sayangnya gerakan Buto ireng amat sangat gesit.
"Kamu masih terlalu lemah, anak muda," bisik Buto ireng yang tiba-tiba sudah berada tepat di samping kanan Darto.
Mendengar ucapan Buto ireng, Darto langsung menyerang ke arah suara itu berasal, sayangnya masih sama saja, tangan Darto tidak berhasil mengimbangi gerakan cepat yang Buto ireng lakukan. Dia terus berpindah secepat kedipan mata, dan kini sudah berada di sisi kiri Darto.
"Kena kau biadab!" teriak Kakek Wajana yang tiba-tiba sudah berada di depan Darto, dan berhasil melayangkan serangan kepalan tangan di perut Buto ireng.
Buto ireng terus melancarkan serangan menggunakan Cakar di tangannya, Kakek Wajana bahkan Terluka di bagian pundaknya. Lukanya menganga, bahkan Darto sempat terkejut setelah mengetahui jika mahluk halus juga bisa menerima luka selayaknya manusia.
Dalam kegelapan Darto dan Kakek Wajana benar-benar di rugikan, karena tubuh hitam Buto ireng menjadi masalah besar untuk pandangan mereka. Namun setitik asa perlahan Tiba, ketika Simbah dan Kakung mulai tertangkap mata Darto dari kejauhan.
"Alhamdulillah Kek, masih ada peluang," ucap Darto tersenyum setelah melihat kedua Simbahnya tengah berlari di atas tanggul menuju ke arahnya.
Mendengar ucapan Darto, Kakek Wajana sontak langsung mengambil posisi duduk bersila, di samping tubuh Harti yang masih belum bangun juga. Dia duduk tepat di samping Kakek Sastro.
"Kamu ndak papa kan, Dar? hah hah hah!" ucap Simbah Turahmin sembari mengusap keringat di pelipisnya.
"Alhamdulillah kung, Darto masih di lindungi sama Allah," ucap Darto lega. Meski matanya masih terus menyapu sekeliling untuk memastikan posisi Buto ireng berada.
__ADS_1
"Mari, Dar," Ajak kakung yang tiba-tiba menarik tangan Darto menuju tempat Harti pingsan.
Dengan sigap. Darto, Mbah Turahmin, Kakung, Kakek Wajana dan Kakek Sastro duduk bersila. Mereka duduk melingkar mengitari tubuh Harti, kemudian melantunkan Surat yang sama dengan suara lantang dari bibir mereka.
"Geledyar! Cetiar! Wus!"
Angin, Hujan, Petir dan Guntur bersahut-sahutan malam itu. Tiga manusia di bantu dua mahluk astral bersatu hanya untuk melawan satu sosok yang sudah memakan begitu banyak jiwa semasa hidupnya.
Suasana semakin mencekam, ketika Istri Buto ireng saling berdatangan satu persatu. Jika mata orang biasa yang melihat, Hanya akan ada empat manusia yang tengah bermandikan hujan di tengah sawah. Namun bagi mereka yang bisa melihat, puluhan mahluk halus tengah bersatu mencoba merobohkan kelima laki-laki yang tengah duduk bersila di samping tubuh wanita pingsan itu.
"la haula wala quwwata illa billah!" teriak Kakung sembari mengkhatamkan kepalan tangan ke tanah.
Puluhan pocong terpental seketika, bahkan Buto ireng berhasil di dorong mudur hingga berteriak kesakitan.
"Allahuakbar!" Mbah Turahmin mengikuti gerakan Kakung, dan berhasil membuat seluruh mahluk di sampingnya lenyap seketika. Meninggalkan Buto ireng yang tersungkur dengan luka menganga di perutnya.
"Kalian akan Aku bunuh dengan tanganku sendiri," ucap Buto ireng sembari merintih, tangannya memegang perutnya yang robek, kemudian menghilang bagai kepulan asap dan tidak menunjukkan wajah busuknya kembali.
"Alhamdulillah," ucap ke lima lelaki yang kini merenggangkan kaki mereka yang sempat kebas karena terus bersila.
"Mari kita bawa Harti, Min," ucap Kakung kemudian di bantu Mbah Turahmin mengangkat tubuh Harti.
"Makasih banyak sudah menjaga cucuku," ucap Mbah turahmin kepada Kakek Sastro dan Kakek Wajana yang berada di depannya itu.
"Saya sangat bersyukur kalian menjadi bagian hidup Darto," ucap Kakung sendu sembari menggendong Harti di pundaknya.
Mendengar ucapan itu, Kakek Wajana dan Kakek Sastro hanya mengangguk dengan senyum di wajah mereka.
"Tidak usah berterimakasih, karena Darto itu Cucu kami juga," Ucap Kakek Wajana dan Kakek Sastro bersama, kemudian melangkah pergi dan menghilang di dalam kegelapan.
__ADS_1
Bersambung,-