
"Nginggggggg!" telinga Darto tiba-tiba mendenging, matanya seketika menggelap, seluruh tubuhnya kebas, kelima indera di tubuhnya tidak berfungsi sama sekali, ketika kakinya melangkah melewati dua batu besar di sampingnya.
"Dar... Dar.." ucap Si Mbah sembari menepuk pundak Darto di sampingnya, Si Mbah sangat paham dengan perasaan kaget yang di alami tubuh Darto. Dulu dia juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali di bawa masuk ke tempat tersebut.
Melihat cucunya yang terus tertegun, Si Mbah terus menggoyang tubuh Darto yang tengah berdiri di depannya, tubuhnya benar-benar membujur kaku, tidak bergeming dengan pandangan kosong di matanya.
Si Mbah Turahmin sedikit terkejut, ketika Darto melirik tajam ke arahnya, meski mulut Darto bungkam, namun tatapannya sangat mengancam. Si Mbah Turahmin sedikit melompat menjauhi Darto, tatkala cincin dan Kalung yang Darto kenakan menyala begitu terang. Si Mbah turahmin langsung mengangguk, ketika dua sosok yang sudah pernah ditemui saat mengusir buto ireng keluar dari perhiasan yang Darto kenakan. Sekejap mereka saling bertatap mata , kemudian duduk bersimpuh di depan Darto.
"Assalamu'alaikum, Bah," ucap tiga lelaki tua itu serentak, dia mengucap salam untuk sosok yang tengah merasuki tubuh Darto.
"Wa'alaikumsalam, ini cucu kamu, Le?" ucap Darto, namun suaranya sungguh berbeda. Suara Darto saat ini menjadi berat dan juga bergetar, ucapannya menggema dan juga memekakkan telinga.
"Njih, Bah. Dia anak si Darmin," jawab Mbah Turahmin singkat sembari menatap mata Darto dengan pandangan Sendu.
"Aku sempat kaget, Le. Energi di tubuh anak ini benar-benar mirip dengan tubuh asli milikku, pantas saja Sastro sama Wajana langsung mau ikut dia, ha ha ha," Sosok itu tertawa setelah melihat dengan seksama tubuh Darto yang tengah dia rasuki.
Mendengar ucapan itu, Kakek Sastro dan kakek Wajana mengulum senyum di wajah mereka, mereka menundukkan kepala untuk upaya menyembunyikan senyum di bibirnya.
"Jadi? apa cucu saya yang selama ini Abah tunggu?" ucap Mbah Turahmin kembali.
"Mungkin iya, mungkin juga bukan, Le. Anak ini yang harus menentukan, bukan aku yang memberi keputusan. Mulai sekarang ajarkan apapun yang sudah Aku turunkan, kita lihat bersama seperti apa hasilnya. Semoga memang anak ini yang bisa menghapuskan penyesalan yang dimiliki tubuh milikku dulu," ucap sosok di dalam tubuh Darto kemudian pergi meninggalkan raga Darto begitu saja.
__ADS_1
"Semoga kebaikan selalu menyertai kalian sahabat dan keturunanku, Aku doakan agar semuanya berjalan selancar harapan kalian. Sampai jumpa lagi di lain waktu, Assalamu'alaikum!" suara Mahluk tanpa wujud menggema di setiap sudut hutan gelap.
Mendengar ucapan itu, Mbah Turahmin langsung memampangkan senyum yang mengambang di bibirnya. Sedangkan Kakek Sastro serta Kakek Wajana hanya bisa sedikit tersenyum, dengan bulir air mata yang seketika menggenang di kantung mata mereka. Mereka benar-benar sangat rindu dengan tubuh asli pemilik suara mahluk yang merasuki Darto, mereka sangat terharu ketika kembali mendengar suara yang sudah sangat lama tidak mereka dengar.
"Mbah?" ucap Darto yang kini sedang duduk kebingungan, dia mengerjap mata untuk sesaat sebelum akhirnya menyapu pandangan ke segala penjuru. Darto langsung kebingungan menyaksikan Mbah turahmin di temani kedua kakek penghuni kalung dan cincinnya tengah duduk mengelilingi api yang sudah berkobar di hadapan mereka.
"Alhamdulillah akhirnya bangun juga kamu,Dar," ucap Mbah Turahmin dibarengi senyum dari Kakek Wajana juga Kakek Sastro.
"Kapan Simbah nyalain api?" Darto mengernyitkan dahi di wajahnya, dia benar-benar tidak sadar ketika tengah dirasuki.
"Kamu pingsan Dar, sesudah dirasuki, keh keh keh," Mbah Turahmin Terkekeh, setelah melihat wajah cucunya yang tengah kebingungan.
"Kerasukan? kerasukan jin?" tanya Darto semakin penasaran, sembari menggaruk-garuk kepala miliknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Mendengar itu, Darto kembali dirundung rasa penasaran, tentang sosok yang merasuki tubuhnya, dan juga alasan mengapa Si Mbah tidak membicarakan apapun yang ingin dia katakan, sedangkan Darto merasa di sana maupun di tempat ini sama saja hasilnya.
"Saya doakan untuk keberhasilan Darto,"
"Semoga cucumu benar-benar orang yang dia tunggu,"
Ucap Kakek Wajana Dan Kakek Sastro bergantian, sebelum akhirnya mereka mengucap salam dan pergi kembali kedalam cincin dan kalung yang sudah lama mereka tempati sebagai rumahnya.
__ADS_1
Setelah hanya tinggal berdua, Si Mbah Turahmin kembali mengajak cucunya itu berjalan. Mereka berdua kembali beriringan menyibak kerumunan pohon bambu yang membentang sepanjang mata memandang. Kesunyian, Kegelapan sudah tidak menjadi halangan lagi untuk mereka berdua. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah air terjun yang cukup tinggi, dengan batu besar yang tertanam di tengah arus air di bawahnya.
"Tinggalkan semua barang milikmu di sini, Dar. Kamu hanya boleh mengenakan apa yang di sediakan kotak tadi. Jangan lupa juga cincin di jari dan kalung di lehermu lepaskan dulu, kita harus ke atas batu itu," ucap Si Mbah sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Batu yang sangat besar di tengah kali.
"Njih Mbah," jawab Darto singkat, kemudian melepas cincin dan kalung yang selalu ia kenakan.
Setelah selesai menaruh barangnya, Darto mengikuti langkah Si Mbah yang mulai masuk ke dalam arus sungai. Mereka berdua berjalan di dalam arus sungai yang cukup deras, untungnya kedalaman sungai hanya setengah lutut. Selangkah demi selangkah mereka terus mendekat ke arah batu. Sesekali tubuh Darto dan Simbah terhuyung, tak hanya sekali kaki mereka memijak pada batu licin di dalam air. Untungnya, hingga batu besar berhasil mereka panjat, mereka benar-benar tidak terjatuh sama sekali, sehingga baju yang mereka kenakan masih tetap dalam keadaan kering.
"Dar, sebelum kamu mulai, ada sesuatu yang pengen Si Mbah ucapkan," ucap Si Mbah sembari menepuk pundak Darto di depannya.
"Njih Mbah, apa soal yang tadi?" jawab Darto sembari menoleh ke arah Si Mbah Turahmin.
"Iya, Dar. Si Mbah tidak mau cerita karena masih ada dua mahluk itu," ucap simbah sedikit berbisik di depan telinga Darto.
"Maksud Si Mbah? bukannya mereka selalu menolong kita Mbah?" ucap Darto sedikit kebingungan.
"Iya, Dar. Mereka memang baik, tapi apa yang akan Si Mbah ucap bisa melukai perasaan mereka," jawab Si Mbah masih sedikit berbisik tepat di depan telinga Darto.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto hanya bisa mengangguk. Dia memasang telinga rapat-rapat, dan mendekatkan telinga sedekat mungkin dengan bibir Si Mbah. Saat itu suara Si Mbah benar-benar pelan, ditambah suara gaduh dari air terjun yang tidak jauh dari mereka duduk membuat suara Si Mbah semakin tersamar.
Kebenaran apa yang akan Si Mbah ucapkan?
__ADS_1
Bersabarlah, dan tunggu episode selanjutnya :V
Bersambung,-