
"Jadi, KI Gandar cuma ingin berpamitan?" tanya Darto penasaran.
"Tidak ... mari saya ajak kamu lagi," sahut Arya sembari menjulurkan lengannya.
Darto langsung meraih tangan Arya, dan seketika berpindah menuju tempat di mana Utami sudah tampak lebih tua, dengan dua anak yang salah satunya sudah memasuki usia kisaran sepuluh tahun.
Tampak Ki Gandar masih terus memperhatikan keluarga kecil mereka, dari sudut yang tidak bisa dilihat oleh mata kepala manusia. Dia terus menatap sendu setiap keluarga kecil yang mati-matian bertahan hidup, yang tampak jauh dari kata kecukupan yang tertera.
Utami dan dua anaknya hidup begitu miskin. Mereka tinggal di dalam gubuk yang hampir ambruk, di tengah hutan yang sangat jauh dari keramaian. Utami bahkan sampai menjadi seorang abdi untuk warga biasa, dia menjadi babu yang diperlakukan semena-mena oleh majikannya, hanya untuk mendapatkan sepiring nasi setiap harinya.
Dari pagi hingga petang Utami mengurus setiap keperluan keluarga itu, dan pulang membawa sepiring nasi, yang dimakan oleh dirinya dan kedua anaknya setiap hari.
Dari situ, Ki Gandar terlihat sedikit menyesal karena sudah meninggalkan keluarganya bahkan tanpa berpamitan. Dia merasa ingin kembali mengulang waktu, dan akan memperbaiki semua yang sudah terjadi padanya.
Ki Gandar bahkan sampai bertemu dengan pemilik perjanjian yang sudah mengikat jiwanya. Dia mencoba bertanya apa sosok itu bisa memutar waktu, namun sudah pasti jawabannya adalah tidak bisa. Gandar benar-benar terus murung setelah bertemu sosok itu, dia ingin menyudahi segala rasa sedihnya, namun dia juga tidak bisa mati meski dia begitu menginginkannya.
Ketika pulang dari pertemuannya dengan sosok pemilik perjanjian. Ki Gandar yang ingin melihat istrinya bekerja justru melihat satu hal yang seketika membuatnya marah. Dia melihat Utami yang dipukuli hingga memar, hanya karena kain yang dia jemur tidak kunjung mengering karena mendung.
Ki Gandar benar-benar marah, dia termakan emosi hingga melebihi batas wajarnya. Api kembali berkobar hingga berhasil membakar sudut pembatas dunia manusia dan dunianya.
Energi panas Ki Gandar benar-benar langsung ******* rumah di mana istrinya bekerja, hingga rumah itu langsung hangus menjadi abu dalam hitungan detik saja.
Semua penghuni rumah hangus tanpa sisa, bahkan tulang mereka pun menyatu dengan puing yang sudah terbakar menjadi abu. Tidak ada saru orang pun yang selamat kala itu, tidak terkecuali istri tercinta yang masih berada di dalam rumah itu.
Ki Gandar seketika meraung, dia menangis dengan tubuh yang berkobar begitu besar, setelah mengetahui amarahnya bisa mencelakai istrinya. Meski begitu, Ki Gandar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dia hanya bisa bersimpuh di atas tubuh istrinya yang sudah menjadi debu di depan matanya.
Dia terus meringkuk hingga berhari-hari lamanya, hingga satu ketika dia beranjak bangun dengan tatapan yang sepenuhnya berbeda. Dia kembali menemui pemilik perjanjian dan bertanya dengan wajah sangarnya, "Apa yang harus aku lakukan jika aku ingin menjadi manusia?"
__ADS_1
"Kamu mau masuk ke dunia itu lagi? Seperti dulu?" tanya sosok itu.
"Ya! Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan!" sahut Ki Gandar dengan tatapan yakin.
"Berikan aku jiwa sebagai syaratnya. Akan aku kirim kamu ke sana," jawab sosok itu.
"Berapa banyak?" tanya Ki Gandar kembali.
"Jangan kurang dari seratus," ucap sosok itu sembari menyeringai. Dia merasa senang karena bisa mendapat jiwa meski dirinya tidak melakukan apa-apa.
"Tapi aku juga punya syarat. Bisakah kau buat tubuhku bisa dilihat oleh mata manusia?" sahut Ki Gandar kembali.
"Itu urusan mudah, ada dua cara. Pertama kamu harus memasuki tubuh manusia, dan kedua kamu bisa menemui seseorang yang memang memiliki kelebihan pada matanya. Jika kamu sudah berada di dunia mereka, sudah wajar jika ada yang bisa melihatmu dengan jelas," jawabnya.
Mendengar jawaban itu, Ki Gandar langsung setuju untuk memberikan jiwa kepada sesembahannya. Dia kemudian meraih sebuah kalung yang bisa digunakan oleh mahluk alam sebelah untuk berpindah ke dunia sebelahnya.
Ki Gandar tidak membuang waktunya sama sekali, tanpa pikir panjang dia masuk ke dalam lubang tersebut, dan tubuhnya benar-benar berpindah tempat menuju tengah hutan belantara.
Dia terbang begitu tinggi untuk melihat kondisi sekitar, dan kemudian melaju dengan kecepatan yang begitu hebat menuju arah perkampungan yang tertangkap oleh matanya.
Dengan tubuh melayang Ki Gandar mencoba mencari seseorang yang bisa melihatnya, namun dalam sehari penuh dia sama sekali tidak menemukan satu pasang mata pun yang sanggup menyadari kehadirannya.
Setelah hari berganti, Ki Gandar memutuskan untuk merasuki tubuh manusia yang asal dirinya pilih. Ketika dia hendak memilih targetnya di dalam kerumunan pasar, dua pemuda yang tengah mengemis di depannya tiba-tiba menyapa dengan berkata, "Bagaimana cara anda terbang?"
Mendengar pertanyaan itu Ki Gandar langsung menoleh ke arah sumber suara, dia membulatkan mata karena melihat dua lelaki muda yang ada di depannya adalah dua anaknya. Mulutnya seakan kelu, dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Kalian bisa lihat aku, Nak?" tanya Ki Gandar dengan bercucuran air mata. Dia mencoba memeluk Brahmana dan Amerta namun lengannya benar-benar menembus dua tubuh anaknya itu.
__ADS_1
Melihat tubuh lelaki tua di depannya menembus tubuh Amerta, Brahmana yang masih muda langsung beringsut mendekap lengan Amerta dengan wajah ketakutan. Namun Amerta yang sudah pernah melihat kejanggalan dari penghuni sebelah, tidak terlalu terkejut dengan apa yang tengah dirinya lihat.
"Kamu hantu?" tanya Amerta.
Mendengar ucapan itu, Ki Gandar langsung mengangguk kemudian menatap Brahmana dengan tatapan sendu sembari berkata, "Aku hantu yang tidak jahat, Nak. Aku akan kasih kalian berdua sesuatu yang mungkin akan merubah hidup kalian."
Setelah mengucap kata itu, Ki Gandar memberikan sebongkah batu emas yang masih belum berbentuk, dia menyerahkan benda itu kepada Amerta agar bisa membuat kehidupan dua anaknya berubah kedepannya.
Dengan perasaan sedikit takut Amerta menerima batu tersebut. Namun ketika tangannya meraih bongkahan itu, semua pasang mata tiba-tiba menoleh ke arah yang sama dengan tatapan yang sangat tidak bisa dijelaskan.
Mereka sangat heran ketika melihat sebuah benda besar yang terhitung langka, tengah dipegang oleh pemuda yang mengenakan pakaian yang jauh dari kata layak di tubuhnya. Perlahan satu pria dewasa mendekat mereka sembari berkata, "Nak?! Kalian mencuri di mana?!"
Sebelum mendapat penjelasan dari Amerta, lelaki itu sudah kembali membuka bibir dengan suara lantangnya. Dia mendongak ke atas sembari berkata, "Maling! Ada maling!"
Semua warga yang ada di situ langsung berhamburan untuk melihat lelaki yang berteriak mereka memperhatikan dua bocah yang mulai mendapat pukulan, kemudian pria yang berteriak meraih bongkahan emas di tangannya sembari berteriak, "Dia mencuri emas milikku!"
Mendapat penjelasan itu, semakin banyak warga yang berhamburan mendekat dan memberikan kepalan bertenaga pada tubuh dua bocah yang tidak bersalah itu. Ki Gandar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti itu, dia bahkan sampai menangis melihat Amerta dan Brahmana yang bahkan masih mendapat amukan warga, meski mereka sudah meringkuk di atas tanah dengan keadaan pingsan.
Ki Gandar benar-benar kembali tersulut emosi, semua warga yang bersalah maupun tidak langsung dilumat oleh dirinya. Wujudnya kembali menjadi sebuah kobaran api, kemudian membakar setiap manusia yang ada.
Hari itu di dalam pasar yang begitu ramai, hanya ada dua pemuda yang masih bernafas, setelah api membakar secara merata. Amerta dan Brahmana benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi, mereka bangun dari pingsan dengan sebongkah emas yang sudah ada di tangannya, di tengah semua bangunan kayu yang sudah menjadi arang di sekelilingnya.
Hari itu, dua kehidupan benar-benar berubah. Kehidupan milik Amerta dan Brahmana benar-benar berubah. Mereka menjadi serba kecukupan, dan juga bisa membeli semua yang mereka inginkan setelah kejadian itu. Dan di satu sisinya lagi, sebuah kehidupan yang mengerikan tercipta. Ki Gandar untuk waktu yang cukup lama berkeliling dan membakar setiap manusia yang menurutnya tidak pantas hidup, dan selalu membantu manusia yang memiliki niat balas dendam tanpa berfikir panjang.
Dari situ nama banaspati mulai terdengar di kehidupan nyata, dia menjadi sosok yang selalu dikaitkan dengan sebuah ilmu hitam, karena setiap target yang bertemu dengannya akan menjadi sebuah arang, dan jiwanya akan di bawa olehnya untuk dijadikan bahan bakar dari kobaran api miliknya.
Bersambung ....
__ADS_1