
Sekitar pukul delapan pagi, Abah Ramli, Jaka beserta Magisna datang ke rumah sakit. Mereka bertiga datang menggunakan ojek hampir bersamaan dengan kedua orang tua Harti yang datang sebelum mereka.
Petugas satpam yang melihat ruang persalinan begitu ramai, langsung menggelengkan kepala dan menyuruh rombongan tersebut untuk bergantian menunggu.
Mau bagaimanapun, rumah sakit bukanlah tempat tamasya, sedangkan mereka semua malah bercanda gurau dengan suara keras di atas tikar pandan yang mereka gelar di depan kamar Harti. Semua orang yang melihatnya terheran, bahkan sampai ada yang memanggil satpam untuk mengurusnya karena merasa terganggu dengan suara mereka.
Untung saja, hari itu Harti dan anaknya benar-benar sehat. Jadi besok mereka bisa membawa pulang setelah Dokter yang memiliki jam tugas siang sudah selesai memeriksa keadaan Harti dan Anaknya.
Mendengar penuturan Dokter, Darto langsung meminta semua orang untuk pulang, sedangkan dia tetap berada di rumah sakit bersama Jaka. Semua orang langsung setuju, mereka semua pulang menuju pesantren, dengan mobil yang Kakung kendarai.
"Kang ... tadi Komang nyari Kang Darto," ucap Jaka tiba-tiba. Dia sengaja tidak ikut pulang ke pesantren karena sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan kepada Darto, namun dia tidak berani mengucapkannya di depan semua orang.
"Ada apa, Jak?" sahut Darto dengan dahi mengkerut, dia merasa aneh karena Komang sudah cukup lama tidak menunjukkan hidungnya, setelah dia diterima oleh Kakung dan menjadi salah satu murid pesantren di hari lampau.
"Dia bilang bahaya sudah mendekat. Dulu semua antek banaspati mencari Kang Darto setelah Komang hilang, tapi mereka tidak bisa menemukan kalian, karena Kang Darto dan Komang tidak pernah keluar pesantren selama Mbak Harti hamil," jawab Jaka sembari memasang wajah sedikit gusar.
"Terus?" tanya Darto singkat.
"Mereka sekarang sudah di area pesantren, Kang. Mereka tahu kalau Kang Darto berada di pesantren, setelah Kang Darto keluar untuk menjemput saya kemarin," jawab Jaka dengan wajah yang berangsur memasang ekspresi bersalah.
Tidak berbeda jauh dengan Jaka, ekspresi gelisah juga mulai bersarang di wajah Darto, dia merasa gelisah setelah mendengar penjelasan Jaka. Namun meski begitu dia mencoba menenangkan hatinya mengingat belum terjadi apa-apa sejak semalam dia meninggalkan pesantren.
__ADS_1
"Jak ... semalam ini kita jangan harus bergantian jaga, kamu mau, 'kan?" tanya Darto setelah berpikir sejenak.
"Iya, Kang. Makanya Jaka tidak ikut pulang, saya mau bantu Kang Darto sampai Mbak Harti kembali ke pesantren," jawab Jaka sembari tersenyum, tidak lama kemudian dia meninggalkan Darto dan datang dengan kantong kresek di tangannya, "Ini, Kang dimakan dulu," sambungnya sembari meletakkan satu kantong gorengan di depan Darto.
Mereka berdua langsung memakan gorengan tersebut, dan tak lama kemudian Darto tertidur dengan posisi duduk bersandar pada tembok, dia terlelap di samping Jaka yang masih memperhatikannya, mengingat semalam dia tidak memejamkan mata sama sekali.
Jaka hanya bisa tersenyum ketika melihat Darto terlelap, dia tidak membuka suara sedikitpun, dan hanya ikut menyandarkan tubuhnya di tembok yang sama.
Setelah adzan ashar menggema, Darto bangun dan melihat Jaka yang juga terlelap di sampingnya, Darto langsung menepuk pundak pemuda itu sembari berkata, "Yuk kita solat jamaah ashar sekalian cari makan."
Setelah Jaka mengangguk, Darto bergegas menjenguk istrinya terlebih dahulu, dia meminta izin untuk pergi sebentar, dan Harti pun langsung menyetujuinya.
Darto dan Jaka langsung pergi ke masjid di depan rumah sakit, dan memakan nasi rames di warung sebelahnya. Ketika selesai Darto membeli beberapa roti untuk Harti, dia juga membelikan teh tawar panas untuk Istrinya.
Waktu berjalan begitu saja, hari sudah mulai larut, bersamaan dengan itu kegundahan di hati Darto dan Jaka seketika langsung kembali menyapa. Mereka takut jika ada salah satu musuh mereka yang datang, dan menyerang ketika mereka lengah.
"Jak, kalau kamu ngantuk tidur dulu saja, sudah jam sepuluh. Nanti aku bangunkan kalau aku ngantuk, biar kita gantian," ucap Darto setelah melihat mata Jaka yang sudah merah dan berair.
"Nggak apa-apa kalau aku tidur, Kang?" tanya Jaka dengan raut segan.
"Justru kalau kamu tidak tidur nanti malah bahaya, bisa-bisa kita ketiduran barengan, dan nggak ada yang jaga Harti sama anakku," jawab Darto.
__ADS_1
Mendengar ucapan Darto, Jaka langsung mengangguk, dia merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama untuk Jaka terlelap dan berpindah ke dunia mimpinya.
Darto terus memandangi Harti dan Jaka secara bergantian, dia merasa kasihan dengan nasib dua orang di depannya, karena harus menanggung akibat dari semua beban yang dirinya pikul. Dalam tatapan sendunya Darto berkata, "Lebih baik aku akhiri petaka ini secepat mungkin, supaya kalian bisa hidup dengan tenang."
Setelah mengucap kata itu, Darto mengecup kening Harti yang tengah terlelap, kemudian mengacak kasar rambut Jaka yang juga tengah tertidur. Darto kemudian duduk bersila, dan terus berdzikir sembari mempertahankan kesadarannya. Dia melakukan itu sampai berjam-jam lamanya, hingga tiba rasa kantuknya sudah tidak bisa lagu dibendung. Darto langsung membangunkan Jaka, yang masih terlelap di sampingnya.
"Jak ... bangun, Jak," ucap Darto pelan karena takut membangunkan Harti, dia menggoyang-goyang pundak Jaka dilanjut menampar pelan pipi Jaka.
Jaka terkesiap setelah pipinya di tampar oleh Darto, dia bangun dengan wajah bingung sembari mengamati setiap sudut ruangan. Wajar saja, siapapun akan merasa bingung jika terbangun di kamar yang berbeda dengan kamar yang selalu dirinya kenakan setiap harinya.
"Sudah jam dua, Jak. Aku mau tidur bentar, kamu bisa, nggak? Melek sampai subuh?" ucap Darto ketika Jaka masih mengerjap mata sembari mengumpulkan kesadarannya.
"Oh ... rumah sakit ya," ucap Jaka setelah sadar, "Iya, Kang. Tidur saja, biar Jaka yang jaga," sambungnya lagi.
"Jangan ketiduran, Jak. Sekarang cuci muka dulu sana," pinta Darto.
"Iya, Kang. Jaka ke WC dulu ya sebentar," ucap Jaka sembari melangkah menjauh menuju toilet yang berada di sudut ruangan.
Ketika Jaka masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu, sesuatu hal aneh terjadi. Darto yang mulai terlelap langsung kehilangan rasa kantuknya, setelah mendengar puluhan suara bayi yang menangis secara serentak. Jaka yang juga mendengar tangisan itu langsung keluar dari kamar mandi, dia bergegas menghampiri Darto, dan mereka langsung berlari menuju ruang bayi secara tergesa.
Dalam rasa gundahnya Darto berlari sekuat tenaga, dengan terus berharap agar tidak ada hal buruk yang terjadi, dengan anak semata wayangnya.
__ADS_1
Bersambung ....