
Malam itu Abirama terus tertegun melihat senjata tang tengah Darto pegang. Dia mendekat sembari mengucapkan sebuah kalimat sembari menunjuk sebuah batang pohon yang begitu besar. "Coba kamu tembak pohon itu, Dar."
Mendengar itu, Darto seketika memandang pohon yang cukup jauh dari tempatnya berdiri, kemudian perlahan Darto menarik senar cahaya yang ada pada busur panahnya. Ketika benang busur tertarik sempurna, anak panah yang sama-sama bercahaya dalam sekejap mata berhasil Darto buat hanya dengan energi yang dia padatkan. Lantas tanpa berfikir lama, Darto melepaskan anak panah tersebut hingga melesat begitu cepat menembus pohon besar sasarannya, juga puluhan pohon yang berbaris di belakangnya.
"Duar! Duar! Duar!" Dentuman demi dentuman besar seketika tercipta dari benturan anak panah yang Darto lepaskan. Puluhan pohon besar yang berjajar bahkan sampai berlubang setelah terkena senjata itu, juga puluhan pohon kecil di sebelahnya ikut tumbang hanya karena hembusan angin yang tercipta dari kecepatan laju anak panah tersebut.
"Ha ha ha! ini gila, Dar. Senjata itu bahkan bisa melubangi pohon jauh di sana! Memang kamu benar-benar pantas menyandang gelar penerus Kanjeng Darma," ucap Abirama sembari terbahak setelah melihat dampak dari satu anak panah yang Darto lepaskan tadi.
Darto sangat senang dengan ucapan yang Abirama katakan, dia bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaan senang miliknya, sehingga dia terus memampangkan barisan gigi miliknya. Meski sebenarnya Darto juga terkejut dengan senjata miliknya sendiri, dia sendiri tidak menyangka panah miliknya akan sekuat itu.
"Itu bagus buat serangan jarak jauh, Dar. Sedangkan untuk jarak dekat kamu bisa langsung memindah energi ke tempat yang kamu tuju," Sambung Abirama sembari kembali mempraktekan hal yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya. Dia hanya menciptakan satu titik energi di depan telunjuk, kemudian energi itu menghilang begitu saja. Saat itu terjadi, ranting pohon yang jadi sasaran Abirama terbakar seketika.
"Bagaimana caranya?" tanya Darto dengan wajah begitu penasaran.
"Kamu tinggal pindah, Dar. Seperti kamu memindah tubuhmu," jawab Abirama singkat.
"Lempit?" tanya Darto memastikan.
"Iya, Dar. Lempit tidak hanya bisa memindah tubuhmu. Coba saja kalau tidak percaya." jawab Abirama.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Abirama, Darto langsung mempraktekkan apa tang di sarankan olehnya. Untuk sejenak Darto bungkam, dia mencoba menciptakan energi berbentuk bulat di atas telapak tangan miliknya, kemudian memindahkan energi tersebut dengan teknik lempit yang semula hanya ia gunakan untuk dirinya berpindah tempat dengan begitu cepat .
Hanya dalam satu kali coba, Darti berhasil mempraktekan apa yang Abirama ajarkan. Saat itu pohon kecil terdekat dari tempatnya berdiri langsung terbakar, sama persis dengan dampak dari apa yang Abirama lakukan.
"Seperti itu, kan?" tanya Darto singkat, dan hanya mendapat jawaban anggukan kepala dari Abirama. Kemudian kembali bertanya, "Apa lagi yang akan kita lakukan?"
"Sudah cukup, untuk sekarang mari kita pergi ke rumah Kanti. Mungkin Kamu tidak sadar, tapi proses pemindahan energi Kanjeng ke tubuhmu itu memakan waktu dua minggu, jika itu disamakan dengan waktu yang berjalan di dunia manusia," jawab Abirama sembari melangkah menuju pohon Beringin.
Darto langsung mengikuti Abirama, mereka berjalan cukup jauh untuk sampai ke rumah Kanti. Sesampainya di sana, di atas meja sudah tersaji berbagai buah yang akan mereka santap untuk makan malam. Mereka bertiga menghabiskan malam hanya dengan bercanda setelah selesai menyantap hidangan itu, hingga tidak terasa pagi sudah menyapa setelah Darto terlelap, hari yang ditunggu pun akhirnya tiba.
"Masih ada waktu dua minggu untukmu, Dar. Ketika aku membawamu dari balai desa, Sastro dan Wajana berpesan jika lima bulan dari hari itu, raga gending dan sosok ular akan terpisah untuk beberapa hari. Mereka berharap kamu mau berkunjung ke kaki gunung kecubung, Dar," ucap Kanti dengan tatapan serius.
"Aku juga tidak tau, Dar. Lebih baik kamu cari tahu sendiri, mereka juga berpesan untuk menyampaikan ucapan maaf kepada kamu. Mereka berjanji akan menceritakan kejadian sebenarnya, setelah kamu sampai di sana," Sambung kanti sembari mencoba menenangkan Darto yang tampak gusar.
"Baik, Mbok. Lebih baik aku selesaikan secepatnya. Karena sebentar lagi aku akan menikah, Mbok. Saya harap Si Mbok dan Abirama bisa hadir di hari bahagiaku," ucap Darto dengan wajah tersenyum. Mimik marah seketika menghilang, ketika dirinya mengingat hanya tinggal menghitung hari, untuk puasa 7 tahun yang ia jalani akhirnya bisa ia akhiri.
"Kapan, Dar?" jawab Kanti sembari membulatkan mata miliknya. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan yang Darti lontarkan.
"Mungkin satu atau dua bulan lagi. Semalam aku sudah memberi kabar kepada Kakung dan Si Mbah jika aku sebentar lagi pulang," Jawab Darto dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Baiklah, Dar. Sekarang lebih baik kamu pulang, kamu masih ingat, kan? Jalan dari sini ke rumah kamu?" tanya Kanti dengan wajah murung.
"Masih, Mbok. Terimakasih Mbok, sudah berkenan merawat saya. Maaf Darto tidak bisa memberikan apa-apa," ucap Darto sendu, setelah melihat Kanti begitu lesu. Saat ini Darto tengah menggenggam tangan Kanti, sembari menatap layu ke arah matanya.
"Tidak usah bicara begitu?! Kamu selamat saja sudah merupakan hadiah luar biasa buat aku Dar. Besok kalau aku ketemu Asih di surga, aku bisa pamer sama dia kalau aku pernah merawat kamu," ucap Kanti sembari mendongak, dengan air mata yang mulai mengalir dari kantung matanya. Kanti benar-benar merasa rindu dengan sosok Kedasih yang sempat menjadi teman di masa lalunya.
"Baik, Mbok, kalau begitu saya pamit," sambung Darto sembari mencium punggung tangan Kanti.
Setelah itu Darto keluar dari dalam rumah, dia sempat berhenti dan menyapu pandangannya ke segala penjuru halaman rumah Kanti. Ketika Darto melihat seorang lelaki yang tengah duduk bersila tidak jauh darinya, Darto mendekat kemudian berterimakasih dan juga berpamitan dengannya. Setelah itu Darto kembali melangkah meninggalkan lelaki tersebut.
"Apa boleh Darto panggil kamu Guru?" ucap Darto sembari menghentikan langkahnya. Dia tidak menoleh ke arah lelaki di belakangnya.
"Terserah kamu, Dar. Aku hanya menjalankan kewajiban, ditambah setidaknya aku bisa sedikit membalas budi, dari apa yang pernah Kanjeng Darma berikan," ucap Abirama sembari melihat punggung Darto di depannya.
Setelah mendengar ucapan Abirama, Darto tersenyum tanpa menoleh. Dia terus melangkahkan kakinya karena dia tidak ingin memperlihatkan mata merah di wajahnya kepada Abirama. Darto benar-benar merasa senang pernah bertemu dengan dua mahluk yang berperan besar pada kehidupannya, hingga rasanya dada Darto begitu sesak mengingat saat ini dirinya akan meninggalkan mereka.
"Tunggu kabarku, guru! Akan aku buat namaku menggema seperti nama Kanjeng Darma!" teriak Darto sembari mengacungkan tangan mengepal ke atas. Aksinya itu berhasil membuat senyum di wajah Abirama serta Kanti yang tengah melihat dirinya dari belakang, mengambang dengan sempurna, memancarkan perasaan bangga.
Bersambung,-
__ADS_1