ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
RAMAI


__ADS_3

"Lalu, Nek?" sambung Darto meminta agar Nek Ijah meneruskan ceritanya.


"Setelah Putriku mati, entah darimana Gending datang mengetuk pintu rumah kami. Dia menawarkan untuk menolong putriku, dan berjanji akan menghidupkan dirinya saat itu juga. Sebagai seorang Ibu aku langsung menyanggupi tawarannya tanpa berfikir panjang. Aku langsung percaya karena sudah melihat Gending menunjukkan kehebatannya dengan mata kepalaku sendiri. Hari itu aku melakukan sesuatu yang masih aku sesali sampai sekarang," sambung Nek Ijah.


"Maksud kamu?" sahut Si Mbah, dia sedikit bingung dengan ucapan Nek Ijah, karena terhenti di tengah jalan.


"Anakku memang hidup, tapi dia bukan dirinya lagi. Dia sering tersenyum sendiri, berbicara sendiri, bahkan tidak mengenaliku. Dia hanya mau makan setiap malam jum'at Kliwon, itupun jika kami memberikan gadis sebagai santapannya. Maaf, aku sempat berfikir untuk menjadikan perempuan yang datang bersama kalian untuk menjadi makanan putriku," sambung Nek Ijah sembari menunduk.


"Dia masih hidup?" tanya Ki Karta.


Mendengar pertanyaan Ki Karta, Nek Ijah langsung menggeleng, kemudian berkata "sudah dua malam dia tertidur pulas, bahkan baunya menyengat, apa itu karena kalian sudah mengalahkan gending?"


Mendengar pertanyaan itu, Darto, Si Mbah serta Ki Karta langsung saling bertukar tatapan. Mereka saling mencari jawaban dari lawan tatapnya, namun tidak menemukan satupun orang yang paham dengan keadaan yang tengah Nek Ijah alami.


"Saya cuma bermaksud ingin memberinya makan, siapa tahu dia bangun ketika aku suguhkan makanan," ucap Nek Ijah.


"Maaf, Nek. Lebih baik Nek Ijah mengikhlaskan putri Nenek. Dia mungkin sudah tenang di alam sana, yang jelas dia sudah tidak lumpuh lagi. Yang Nenek rawat selama ini mungkin cuma mahluk pesuruh Gending, lebih baik Nenek menghentikan memberikan dia makan, dan mintalah pengampunan dari keluarga korban yang sudah menjadi tumbal untuk anak Nenek," ucap Darto sembari menatap wajah Nek Ijah dengan tatapan iba.

__ADS_1


Mendengar penuturan Darto, Nek Ijah kembali menangis, dia merasa tangannya sudah begitu kotor, karena sudah berlumuran Darah sejak melakukan perjanjian. Saat ini dia tengah menangis sejadi-jadinya di depan ketiga lelaki, sembari terus mengucap kata maaf.


Malam itu berlalu begitu saja. Karena badan mereka lelah, mereka langsung terlelap ketika Nek Ijah sudah pergi menuju kamarnya. Semua orang setuju akan melakukan prosesi pemakaman putrinya setelah pagi menyapa, dan akhirnya semua bisa tidur tanpa apapun yang mengganjal di dalam pikiran mereka.


Ketika pagi tiba, Darto bergegas menunaikan shalat subuh bersama Si Mbah, Ki Karta dan juga Gayatri yang sudah sehat kembali. Nek Ijah belum tampak sedari tadi, semua orang mengira dia masih pulas dan tidak ingin menganggu istirahatnya.


Ketika matahari sudah terlihat jelas di ufuk timur. Darto memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar milik Nek Ijah. Dia menunggu sahutan dari dalam cukup lama, hingga akhirnya Darto memberanikan diri untuk membuka pintu karena tidak mendapat jawaban sama sekali dari dalam.


"Mbah! Si Mbah!" teriak Darto sesaat setelah pintu kamar Nek Ijah terbuka.


Mendengar teriakan Darto. Si Mbah, Ki Karta dan Gayatri bergegas menuju tempat Darto memanggil. Dan ketika mereka sampai di kamar milik Nek Ijah, ke empat orang itu seketika mematung, setelah melihat tubuh nek ijah yang yang menggantung bergelayut dengan kelambu yang melilit lehernya.


Mereka tampak tidak senang membantu proses pemakaman Nek Ijah dan juga Putrinya. Bahkan banyak yang mencemooh dua jenazah itu dengan berkata "Akhirnya mati juga si dukun biadab ini."


Mendengar itu, Darto, Ki Karta, Si Mbah dan juga Gayatri seketika merasa bagai dipukuli dadanya. Mereka bahkan tidak bisa mencegah rasa benci warga atas apa yang sudah Nek Ijah lakukan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membantu untuk setiap akomodasi yang di perlukan, untuk melangsungkan prosesi pemakaman.


Semua orang yang sedari awal tidak mau untuk mengubur jasad dua wanita itu. Kini mereka melakukan semuanya dengan senyum yang begitu lebar, setelah Darto dan Si Mbah memberikan mereka upah dua kali lipat dari semua yang seharusnya diperlukan.

__ADS_1


Setelah prosesi pemakaman selesai. Darto berbicara pada kerabat Nek Ijah yang juga tinggal di kampung tersebut. Hingga akhirnya semua urusan selesai, Darto dan yang lainnya kembali berpamitan untuk meneruskan perjalanan kembali.


Siang itu, Darto tersadar. Meski akar sudah di cabut, sebuah pohon besar yang berbuah masih bisa menumbuhkan pohon kecil. Pohon kecil yang tumbuh, dari buah yang sudah jatuh dan membusuk di samping batangnya. Sama halnya dengan Gending, meski dia sudah membunuhnya, tapi semua yang pernah ia lakukan tidak mungkin bisa Darto rubah. Karena itu semua sudah berlalu, dan mulai memiliki akar sendiri setelah di rawat oleh waktu.


Meski berujung dengan kejadian tragis, Darto dan tiga lainnya tetap melanjutkan perjalanan mereka. Berjam-jam sudah terlewat, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka selepas maghrib. Darto langsung mempersilahkan Ki Karta dan Gayatri untuk masuk ke dalam rumah Kakung yang tampak sepi. Mereka membersihkan diri saat itu juga, dilanjut pergi ke masjid untuk melakukan shalat maghrib yang dijamak sekaligus, karena mereka tidak sempat menunaikan shalat maghrib sebelumnya.


Setelah shalat usai dilakukan, Kakung yang sedari maghrib berdiam diri di masjid terkejut dengan kedatangan Ki Karta dan putrinya. Dia langsung mengajaknya masuk ke rumahnya dengan wajah yang terus tersenyum. Kakung benar-benar senang, bisa melihat kawan lama yang sudah tidak pernah dia dengar kabarnya.


"Kamu sombong, Kar. Enggak pernah mau singgah ke sini," ucap Kakung meledek Ki Karta.


"Kamu juga sombong, Mat. Nggak pernah mau jenguk teman kamu, ha ha ha ha!" jawab Ki Karta sembari terbahak.


Simbah hanya bisa tertawa melihat itu semua, sedangkan Darto tengah pergi menemui Harti dan kedua temannya. Dia ingin memberikan oleh-oleh yang sempat dirinya beli di dalam perjalanan pulang. Dan tidak lupa untuk mengajaknya mampir ke rumah Kakung malam itu juga.


Setelah semua orang berkumpul, Anto dan Sri juga langsung ikut menuju kerumunan tersebut. Rumah kakung begitu ramai malam ini, Darto terus tersenyum mengingat dulu Darto hanya singgah berdua saja dengan Kakung di dalam rumah tersebut.


Saat itu, semua orang mendengarkan sebuah cerita, dari apa yang sudah Darto alami di kampung ijuk, dia bercerita tanpa sedikitpun hal yang terlewat. Dari kejadian ular, pertarungan, hingga perlakuan warga yang begitu antusias menyambut serta memberi hadiah atas kedatangannya. Mereka sangat lega mendengar rentetan cerita yang Darto utarakan, mereka berfikir akhirnya satu masalah besar dan menjadi momok selama ratusan tahun akhirnya bisa juga diatasi. Semua orang terharu, namun berangsur bungkam setelah Darto mengucap kalimat, "Jadi? Kapan Si Mbah dan Kakung akan menikahkan cucu kesayangannya ini?"

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2