
Suasana di dalam gubuk benar-benar riuh, suara gemericik langkah dari setiap lubang terdengar semakin dan semakin mengeras setiap detiknya. Mendengar hal tersebut, Sastro langsung membuat sebuah kubah yang berbentuk setengah lingkaran, kemudian mengamati apa yang akan datang dari seluruh lubang di sekitar mereka.
Tidak lama sedari awal suara itu mulai terdengar, puluhan--ratusan pasang antena mulai menyembul dari setiap lubang. Mereka semua sempat mengamati dua pendatang dari dalam lubang, dan mereka langsung berlari mendekat setelah mendapati posisi dari Sastro dan Wajana yang masih diam di tengah ruangan.
Hanya dalam beberapa detik saja ruangan luas yang sedang Sastro dan Maung tempati menjadi sebuah ruangan yang sepenuhnya berlantai hitam. Ribuan lipan mendekat dengan begitu cepat, seakan tengah melihat sebuah mangsa yang sudah sangat lama mereka nantikan.
"Sastro... Tahan sebanyak yang kamu bisa. Kalau mereka sudah keluar semua, biar aku makan mereka," ucap Maung sembari mendekat ke arah Sastro.
"Baik...," jawab Sastro singkat kemudian kembali melapisi kubah energi miliknya hingga menjadi kubah berlapis dan tampak cukup kuat untuk menahan setiap serbuan musuhnya.
Ribuan lipan itu benar-benar tidak bisa menggapai Sastro dan Maung yang sedang berdiri bersebelahan, mereka seakan tertahan sebuah tembok, yang membatasi langkah mereka ketika hampir menggapai dua musuhnya.
Sedangkan di tempat Darto dan tiga temannya, mereka berhasil mendarat dengan sempurna di atas sebuah dahan.
Mereka sempat mengamati bentuk pohon yang sedang mereka pijaki, kemudian saling berkumpul dan mencoba turun ke atas tanah.
"Ini bukan pohon, Kang," ucap Jaka sembari terus memandangi tempat dia mendarat sebelumnya.
"Benar, Jak... Mungkin ini cuma semak dengan ukuran tidak masuk akal," sahut Komang.
Tempat dimana Darto dan tiga temannya turun bukanlah tempat biasa, mereka seakan turun di bawah semak belukar, yang memiliki ukuran sama besarnya dengan pohon kapuk yang pernah mereka saksikan di dalam kamar nomor enam.
Rimbun dedaunan dari tumbuhan itu benar-benar menutupi setiap cahaya, ketika Darto dan tiga temannya mencapai tanah, mereka benar-benar seperti berpindah dari waktu siang menuju waktu fajar.
Semuanya tampak remang, suasana yang terpampang mirip sekali dengan situasi dimana waktu maghrib di dunia biasa.
Cahaya matahari benar-benar terhalau hampir sepenuhnya, namun keempat lelaki itu masih bisa melihat meski dengan mata telanjangnya.
"Ini mungkin jalan ke sarang milik musuh kita," ucap Darto setelah mendapati satu buah lubang yang menganga tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Di sini juga ada, Dar," sahut Wajana sembari menunjuk ke arah berbeda.
"Di sini juga," Komang juga menemukan lubang yang lainnya.
"Bukan cuma tiga, Kang... Tempat ini dipenuhi lubang," ucap Jaka dari atas, dia berpindah ke salah satu ranting untuk mengamati keadaan di sekitar mereka.
Dari tempat Jaka berdiri, sepanjang mata memandang terdapat ratusan lubang besar yang menganga di atas tanah. Lubang yang benar-benar terlihat dalam, karena mereka sama sekali tidak bisa melihat ujungnya ketika melihatnya dari atas saja.
__ADS_1
Darto mencoba memastikan sesuatu setelah mendengar ucapan Jaka, dia menciptakan panah chandrabha, kemudian melepas satu anak panah menuju lubang yang berada di hadapannya.
Anak panah Darto benar-benar melesat turun dengan kecepatan yang gila, dan sedetik setelahnya terdengar suara dentuman dan juga teriakkan dari dalam lubang tersebut.
Suara gemuruh tiba-tiba tercipta, tanah yang tengah Darto, Jaka, Komang dan Wajana pijaki benar-benar bergetar, setelah satu suara jeritan menggema dari dalam lubang.
"Lompat ke atas pohon!" teriak Darto sembari berpindah. Dia muncul tepat di samping Jaka yang masih berdiri di atas ranting semak.
Wajana dan Komang juga mengikuti pergerakan Darto, mereka berpindah di samping Darto dan mengamati apa yang akan keluar dari dalam lubang yang menganga di bawah kaki mereka.
Tidak lama kemudian, ratusan Lipan dengan ukuran diluar nalar memenuhi seluruh lantai di bawah kaki mereka. Darto dan Jaka bahkan sampai membulatkan mata, ketika melihat ukuran dari lawan yang akan mereka lawan di bawahnya.
"Dua kali... Tidak... ini tiga kali lipat lebih besar dari kelabang yang pernah aku lawan dulu," ucap Darto sembari menelan ludah.
Kerumunan lipan yang sedang menggeliat di atas tanah benar-benar sangat besar, tubuh mereka bahkan sudah berlumut, menandakan seberapa tua mahluk yang sedang dilawan oleh empat pria tersebut.
Melihat musuh yang begitu banyak di bawah mereka, Darto langsung mengusulkan untuk berpencar, dan mencari satu tubuh yang menjadi pemimpin ribuan lipan tersebut.
Jaka, Wajana dan Komang langsung mengangguk. Mereka berpencar ke empat arah mata angin berbeda, dengan cara melompat dari ranting ke ranting semak yang memenuhi seluruh ruang tersebut.
Tidak lama setelah mereka berpisah, satu ledakan yang hebat terdengar dari telinga Darto, Jaka dan Wajana.
Tiga pria itu benar-benar berlari dengan kecepatan gila. Mereka terus berpindah ke dahan yang cukup jauh, hanya dengan satu hentakan kaki saja.
Ketika mereka sampai di tempat suara ledakan berasal, Darto, Jaka dan Wajana menyaksikan Komang sedang melakukan gerakan seperti ketika melawan Ratu rayap.
Komang menyebarkan energi berwarna jingga ke atas tanah, dan membuat dirinya menyatu dengan setiap energi yang sudah menyelimuti tanah di sekitar tubuhnya.
Tepat di atas energi milik Komang, terdapat satu lipan yang ukurannya dua kali lipat lipan raksasa yang lainnya.
Komang benar-benar melawan mahluk itu sendiri, meski serangannya belum bisa mendaratkan satu luka yang dalam pada lawannya.
Darto, Jaka dan Wajana langsung ikut ke medan pertempuran ketika mereka melihat sasarannya. Mereka serentak melancarkan serangan, kepada satu mahluk yang paling besar di depan matanya.
Sedangkan di tempat Sastro dan Maung berada, belum terjadi satupun perlawanan yang mereka berdua lakukan.
Sastro terlihat mulai duduk sembari memejamkan mata, dia harus fokus menjaga bentuk kubah yang sedang melindungi mereka berdua agar tidak pecah karena terjangan dari lawan mereka yang begitu banyak.
__ADS_1
Serbuan dari lipan yang keluar dari dalam lubang benar-benar tidak berhenti. Mereka hampir sempurna mengubur Maung dan Sastro di dalam tumpukan kerumunan, karena jumlah mereka benar-benar tidak bisa dihitung dengan logika.
Satu ruangan yang begitu besar kini menjadi sangat sempit, karena Sastro dan Maung hanya memiliki ruang untuk bergerak di dalam kubah yang Sastro ciptakan.
Keadaan di luar kubah benar-benar sudah tidak bisa digunakan lagi, karena ratusan ribu lipan sudah menumpuk memenuhi setiap sisi ruangan tersebut.
Melihat musuhnya sudah begitu banyak, Maung kembali merubah tubuhnya menjadi bola energi, dia berpesan pada Sastro sebelum menyerang agar Sastro menghitung sampai hitungan ke sepuluh.
Saat itu Sastro dan Maung saling berhitung dengan suara lantang. Mereka bersama-sama menghitung mundur dari angka sepuluh, kemudian melakukan gerakan bersamaan untuk melawan ratusan ribu musuh yang berada di hadapan mereka berdua.
Tepat ketika hitungan ke satu sudah terucap, Sastro langsung menghilangkan energi miliknya. Dia melepas semua perlindungan dan mempercayakan serangan kepada sahabatnya.
Sedangkan Maung langsung meledak setelah hitungan ke satu. Ruangan yang semula dipenuhi lipan, berubah menjadi ruangan yang dipenuhi kabut hitam.
Sastro sengaja menghilangkan energi miliknya, karena energi miliknya bisa menghalangi dampak ledakan yang Maung lancarkan.
Kalau tidak dihilangkan, mungkin bukan ribuan lipan yang terkena serangan Maung, melainkan dirinya yang masih berada di dalam kubah miliknya sendiri.
Setelah Maung meledak, Sastro benar-benar serasa berdiri di dalam ruang gelap. Ruang tanpa suara maupun cahaya, yang ada hanya warna hitam sejauh matanya memandang.
Dia tidak melihat Maung maupun ribuan lipan yang semula tengah mengarah pada mereka, yang ada hanya satu pasang mata bulat berwarna merah, tengah mendekat dengan kecepatan yang sangat gila ke arahnya.
Sastro yang merasa waspada langsung kembali menciptakan kubah, dan melindungi dirinya dari mahluk yang tengah mendekat pada dirinya.
Tepat ketika Sastro berhasil membuat kubah kembali, sepasang mata itu juga sampai di depan wajahnya. Dia menyeringai memamerkan barisan taring sembari berkata, "Kamu takut Sastro?"
"Kurang ajar! ha ha ha ha!" Sastro terbahak setelah mendapati sepasang mata itu ternyata adalah Maung yang tengah menggunakan wujud harimau.
"Selamat datang di dunia milikku, Sas. Sekarang kamu duduk manis saja, di sini tidak ada satupun mahluk yang bisa lepas dari genggamanku, selain dua manusia yang jadi rekan kita," sahut Maung masih dengan senyum mengerikan di wajahnya.
"Sudah... Jangan senyum gitu, wajahmu mengerikan, Maung. ha ha ha ha!" Sastro kembali terbahak, kemudian duduk seperti yang Maung pinta dan membiarkan Maung menyelesaikan tugasnya.
Setelah Maung pergi, dari dalam kegelapan terdengar ratusan jerit setiap detiknya, Maung benar-benar tidak melepas satupun lawannya, yang kini sedang terkurung di dalam energi miliknya.
Tidak lama setelahnya, ruangan gelap milik Maung mulai berkumpul menuju satu titik yang sama. Mereka merambat bagai kepulan asap, dan kembali menjadi bola hitam seukuran bola sepak di depan wajah kawannya.
Tepat ketika bola hitam milik Maung kembali menjadi wujud manusianya, ribuan lipan yang semula memenuhi seluruh ruangan, benar-benar sudah habis tanpa sisa.
__ADS_1
Sastro dan Maung benar-benar bisa mengatasi jumlah yang begitu banyak hanya dengan berdua, mereka berhasil menyingkirkan anakan lipan yang merepotkan, kemudian turun menuju tempat dimana empat kawannya berada.
Bersambung....