ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KANJENG DARMA


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa pandang bulu, hari ini genap sudah tiga bulan Darto tinggal bersama Kanti dan Abirama. Setiap hari yang Darto lakukan hanyalah mengasah kemampuan fisik miliknya, tanpa perduli jika dia tengah berpuasa.


"Coba ikuti ini, Dar," ucap Abirama sembari berpindah tempat terus menerus.


Seperti permintaan Abirama, Darto benar-benar sudah bisa berpindah tempat, ke tempat di mana Abirama berdiri. Mereka berdua terus berpindah dengan kecepatan yang tidak masuk akal, hingga jika ada orang lewat di sebelahnya pun, pasti orang itu tidak akan melihat setiap gerakan yang mereka lakukan.


Setelah melihat Darto yang sudah bisa mengikuti gerakannya, Abirama terus tersenyum kagum dengan kecakapan yang Darto miliki. Dia masih tidak menyangka bahwa Darto akan menguasai itu hanya dalam tiga bulan.


"Kamu hebat, Dar! Aku harus belajar gerakan ini selama dua tahun baru bisa melakukannya dengan benar," ucap Abirama sembari terus kejar mengejar dengan Darto dengan kecepatan tak kasat mata.


Mendengar pernyataan yang Abirama lontarkan, Darto benar-benar merasa senang, dia bahkan terus tersenyum, meski matanya tak lepas terus memperhatikan kemana Abirama pergi.


"Cukup! Sekarang lebih baik kamu duduk di sana," kembali Abirama membuka suara, dia berhenti tiba-tiba, kemudian menunjuk sebuah tempat luas yang lapang di depannya.


"Apa yang akan saya lakukan?" tanya Darto penasaran sembari berjalan pelan menuju tempat yang ditunjuk oleh Abirama.


"Sudah! Duduk saja, pejamkan matamu," sambung Abirama sedikit memaksa.


Setelah mendengar itu, Darto langsung duduk dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Abirama ikut duduk di depan Darto, mereka duduk bersila saling berhadapan di tempat itu.


"Pegang tasbih peninggalan kanjeng Darma, Dar," sambung Abirama, sembari menatap Darto yang kini tengah mengangguk.


Darto langsung melepas tasbih peninggalan Leluhurnya itu dari leher miliknya. Selama ini Darto menggunakan tasbih kayu itu sebagai kalungnya, karena pakaian yang ia kenakan tidak memiliki saku sama sekali. Setelah tasbih tersebut berhasil Darto lepas, kedua lelaki itu saling memegang tasbih tersebut dengan tangan mereka, kemudian memejamkan mata dengan posisi duduk bersila dan saling berhadapan.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, tasbih yang tengah mereka pegang bersinar memancarkan cahaya putih yang begitu mengkilap. Kemudian dua orang yang tengah duduk bersila hilang begitu saja, mereka sirna bagai ditelan cahaya kemilau tersebut dalam sekejap.


"Buka mata kamu, Dar. Kita sudah masuk," ucap Abirama kembali.


Setelah Darto membuka mata, dia sedikit terkejut, mendapati dirinya dan Abirama tengah duduk bersila saling berhadap-hadapan di sebuah tempat yang berwarna putih seutuhnya. Kemanapun Darto melihat, yang tampak hanyalah warna putih, tanpa warna lain maupun benda lain seluas mata memandang.


"Kita di mana ini?" tanya Darto sembari menyapu pandangannya ke segala penjuru arah, dengan wajah penuh keheranan.


"Semua yang kamu lihat adalah energi yang Kanjeng Darma tinggalkan untuk Darsa. Dia berkata bahwa dirinya sudah punya firasat jika hidupnya tidak lama lagi, jadi setiap hari dia habiskan waktu untuk membuat tasbih ini. Dia berkata ingin meninggalkan semua yang ia miliki untuk keturunannya, hingga dia meminta sesuatu kepada raja penguasa bangsa kami dulu kala," ucap Abirama dengan wajah mendongak.


"Meminta apa?" tanya Darto sedikit mengernyitkan dahi, dia tidak bisa menerima apapun yang Abirama katakan begitu saja, namun dia benar-benar penasaran dengan kisan ayah Darsa yang pernah ia lihat dalam ujian.


"Tasbih yang kamu pegang itu terbuat dari kayu yang diambil dari ranting pohon tertua di pulau ini, pohon yang pertama tumbuh di dunia kami, Dar. Kayu tersebut bahkan bisa menyimpan sebanyak apapun energi di dalamnya, dan meski sudah tidak memiliki akar, dia tetap hidup dan tidak akan pernah membusuk, selama pohon yang Raja kami tempati masih hidup. Aneh kan? Meski sudah dipotong rantingnya, tapi hidupnya masih ditentukan oleh batang utamanya," Jawab Abirama sembari terkekeh, merasa lucu dengan kebenaran yang baru saja ia ucapkan.


"Kenal? Kamu benar tidak tau Kanjeng Darma?" tanya Abirama heran, dengan pertanyaan yang Darto lemparkan.


"Saya tidak tau," ucap Darto tertunduk malu.


"Kasihan sekali Kanjeng Darma. Di alam kami namanya begitu menggema, tapi di alam kalian bahkan keturunannya saja tidak tau tentangnya," ucapnya sendu, sedikit merasa iba dengan seseorang yang dulu pernah hidup bersamanya.


"Aku hanya diberi tahu jika leluhurku orang yang hebat, dan aku sedikit tau jika Romo dulu juga salah satu tokoh yang berperan dalam penyebaran agama islam," jawab Darto sedikit mendongak, mengingat semua kejadian yang ia alami ketika tengah melakukan ujian.


"Benar, Dar, dia satu-satunya orang yang mampu mengalahkan Raja kami, dia juga yang mengenalkan agama islam kepada raja kami. Sampai sekarang setiap bangsa kami yang sudah menjadi muslim pasti tau namanya, karena kita terus menceritakan dirinya bahkan hingga anak cucu kami pun bisa tau tentang kehebatannya," sambung Abirama sembari menatap Darto dengan pandangan kosong, karena pikiran miliknya tengah menerawang jauh mengingat kejadian yang dulu pernah ia saksikan.

__ADS_1


"Apa raja kalian hanya ada satu?" tanya Darto benar-benar penasaran.


"Tidak, Dar. Sama seperti manusia, kita memiliki banyak kerajaan, bahkan lebih banyak, karena kita hidup lebih panjang dari kalian. Setiap kerajaan utama memiliki kerajaan kecil di sekelilingnya. Sama seperti milik salah satu teman Darsa, kerajaan miliknya hanyalah kerajaan anakan dari kerjaan yang raja kami miliki," ucap Abirama kembali, kali ini dia bercerita sambil menopang dagu.


"Maksud Bapak, punya Wajana?" tanya Darto dengan wajah geram.


"Kamu sudah ketemu sama dia?" tanya Abirama heran.


"Bukan cuma ketemu, aku bahkan pernah dibodohi sama dia. Aku nyaris mati pas lawan Gending, karena minta bantuan Wajana dan Sastro. Aku nggak nyangka mereka begitu patuh sama Gending," ucap Darto sungut-sungut dengan tangan mengepal.


"Kamu yakin?!" ucap Abirama dengan mata membulat, sembari memegang pundak Darto dengan kedua tangannya.


"Iya, mereka janji mau bantu, tapi pas aku dikepung anakan ular mereka berdua malah justru bersimpuh sama gending. Mereka cuma nonton meski aku sudah mulai kehabisan tenaga setelah mengurus anakan ular itu sendirian. Kalau aku ketemu sama mereka lagi, aku bakal kirim mereka buat ketemu sama sang pencipta," ucap Darto sungut-sungut.


"Tapi kenapa Kanti bilang kalau tidak mendapat pertolongan dari mereka, mungkin kamu sudah mati?" sambung Abirama sembari menatap heran.


"Maksudmu?" timpal Darto dengan wajah lebih keheranan.


"Mereka berdua yang menolong setelah tangan Gending menembus perut kamu. Bahkan Kanti berkata jika mereka berdua sampai tidak bisa berdiri, karena menghabiskan energi mereka buat meringankan luka di perutmu."


Mendengar itu Darto langsung membulatkan matanya, dia tidak bisa percaya sama sekali dengan apapun yang Abirama ucapkan, namum Darto juga tidak punya alasan untuk tidak mempercayai pernyataan tersebut. Sungguh Darto seketika dirundung rasa bingung dan juga tak percaya kala itu.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2