
Hari itu, tanah lapang yang semula berwarna hijau karena tertutup hamparan rumput, seketika menjadi tanah licin yan berwarna merah kehitaman. Darah segar yang mulai mengental membanjiri sebagian besar lapangan, ketika dua orang hebat itu masih terus melanjutkan aksi pertarungan.
Belum ada titik akhir untuk pertikaian mereka, mereka masih terus saling serang dengan kekuatan penuh dan kecepatan yang melebihi batas logika.
Semua orang masih tertegun, namun kekaguman mereka seketika berubah menjadi ketakutan ketika Raja melompat ke tengah lingkaran pertarungan.
Dia mengayun pedang miliknya secara membabi buta. Tanpa pandang bulu dia menebas sembari berlari, berputar mengelilingi pagar manusia yang tengah menonton.
Dia menyeringai puas saat tangan miliknya bermandikan darah, dia tampak menikmati aksinya yang sudah berhasil memisahkan puluhan kepala dari tubuhnya.
Ketika sudah selesai berlari satu putaran, dia kembali ke tempatnya semula. Dia kembali menatap tajam semua pria di depannya, sembari meneriakkan kalimat, "JIKA TIDAK MAU BERKELAHI! LEBIH BAIK PUTUS SAJA LEHER KALIAN SENDIRI!"
Mendengar teriakan Raja, semua pria sontak berteriak, mereka melompati setiap mayat yang ada di depan mereka, dan kembali menyerbu ke arah dua pria yang tengah bertarung sebelumnya.
Dua pria yang tengah bertarung langsung menghentikan aksinya, mereka merubah ayunan pedan dan parang di tangan mereka, menuju puluhan pria yang kini tengah berlari ke arahnya.
Suasana kembali tertekan gaduh, teriakkan kesakitan, teriakkan semangat, dan teriakkan ketakutan berpadu menjadi satu. Mereka terus mengayun pedang ke segala arah, tanpa rasa ragu maupun perasaan bimbang di dalam hati mereka.
Darto dan Jaka masih tidak bergeming, mereka hanya menyaksikan puluhan pria itu saling mengayun senjata, hingga tiba-tiba terjadi sesuatu pada Jaka.
Sang Raja melompat ke arah Jaka. Dia merasa geram karena melihat Darto dan Jaka yang hanya diam dengan wajah pucat milik mereka. Dan sialnya, Jaka adalah orang yang lebih dekat dengan posisi raja kala itu, dia tertegun tidak bergeming di tempat yang berjarak hanya beberapa langkah saja dari tempat Raja. Maka dari itu, Raja melompat ke arah Jaka sembari mengayun pedang miliknya di udara.
Benar-benar sebuah ayunan yang terarah dan juga bertenaga, membuat Jaka yang terkejut langsung melakukan satu gerakan yang sangat tidak terduga. Dia berhasil menghalau pedang Raja, dengan tangan yang bergerak dengan sangat sigap, Jaka mengangkat perisai di tangan kirinya dalam sekejap.
__ADS_1
Tubuh yang didiami Jaka benar-benar kuat, ditambah gerakan tangannya juga cepat. Benar-benar tubuh yang sangat berbeda, dengan tubuh asli milik Jaka.
Jaka sedikit terkejut dengan kekuatannya, dia sendiri tidak menyangka gerakan kaki miliknya juga sangat lincah. Mengetahui kekuatannya, Jaka benar-benar bersyukur karena dia mampu terus menghindar, meski dia tidak berhasil melawan.
Setelah cukup tahu kemampuan pria yang dirinya hadapi, Raja kembali melompat dan mengarah pada Darto. Dia melakukan gerakan yang sama, yaitu menebas pedang miliknya ke arah Darto yang membuatnya geram.
Raja benar-benar tidak menyukai seseorang yang licik, setelah melihat Darto dan Jaka tidak melakukan apa-apa. Dia berasumsi jika Darto dan Jaka hanya akan menunggu semua pria lelah, dan akan menyerang semua setelah mereka unggul dalam hal tenaga.
Namun perkiraan Raja benar-benar salah. Ketika dia melawan Jaka, dia tidak bisa menggores sedikitpun tubuh yang didiami Jaka. Sedangkan ketika melawan Darto, justru dia yang mendapat goresan di pipi atas serangan balasan yang dilancarkan oleh Darto.
Semua mata yang melihat kelincahan dan kekuatan tubuh yang didiami Darto langsung membulatkan mata mereka. Semua orang benar-benar memasang ekspresi heran dengan hati penuh tanya, mereka tidak bisa mempercayai jika ada pria yang sebanding dengan Raja.
Tidak terkecuali Jaka. Dia juga terus memperhatikan tubuh yang didiami Darto, dengan rasa takut yang mulai bersarang di dalam hatinya. Dia merasa jika Darto akan menjadi lawan yang sulit, yang mungkin tidak bisa dia kalahkan kedepannya.
Raja mengganti peraturannya secara tiba-tiba. Dua lelaki hebat yang tengah memperebutkan ikat kepala pun langsung merasa sedikit kecewa. Namun meski begitu, mereka tetap melanjutkan pengejaran tahta, dan langsung berlari menuju Darto dan Jaka yang menjadi syarat kepemilikan tahta.
Mendengar ucapan Raja, Darto dan Jaka langsung saling bertukar tatap. Setelah salah satunya mengangguk, mereka langsung saling mendekat dengan langkah yang sangat cepat. Mereka saling bahu membahu untuk mengantisipasi setiap serangan yang akan datang, dengan posisi saling memunggungi, Darto dan Jaka siap menghadapi puluhan pria yang sudah mengepung mereka.
Darto terus mengangkat perisai dan pedang di tangannya, begitu juga Jaka, dia menggenggam tombak miliknya dengan cengkraman yang kuat.
"Tolong lindungi punggung saya," ucap tubuh yang didiami Jaka.
"Itu juga berlaku untuk kamu, kita bahas siapa pemenang setelah mengurus mereka," sahut Darto.
__ADS_1
Di tengah percakapan, lelaki yang membawa ikat kepala langsung melompat menuju tengah kerumunan, dia mengayun pedang miliknya mengarah pada leher Darto. Sedangkan Jaka mendapat lawan yang semula menjadi lawan si pemegang ikat kepala.
Pertarungan sengit pun langsung dimulai, bahkan baru beberapa menit saja setelah Raja berteriak.
Semua orang kini terasa tersulut rasa takut, ketika Raja terus menebas peserta yang hanya diam memperhatikan pertarungan.
Sungguh sebuah dilema bagi semua pria yang memiliki nyali ciut, mereka selayaknya berdiri di antara jurang dan hewan liar. Jika maju akan mati terjatuh, dan jika hanya diam mereka akan diterkam.
Namun semua lelaki yang sudah hadir di lapangan, merupakan kandidat terbaik yang ada di seluruh kampung wilayah kerajaan. Mereka semua kuat, hanya nyali dan pengalaman mereka saja yang berbeda.
Mengetahui siapapun yang takut akan tertebas pedang Raja, mereka maju dengan semangat yang masih tersisa. Namun ketika tubuh mereka mendekat ke arah Darto maupun Jaka, mereka tertebas oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
Benturan dari pedang Darto dan tombak Jaka, selalu menciptakan sebuah angin yang bisa menyayat setiap orang yang ada di sekitarnya, ketika senjata mereka bersentuhan dengan pedang lawannya . Raja yang melihat kedahsyatan kekuatan Darto, Jaka dan dua orang lawannya, langsung mengulum senyum dan kembali mengangkat tangannya.
Semua pria yang tersisa sontak bungkam, mereka menghentikan gerakan pertarungan dan kembali menunduk menghadap Raja.
Ketika semua sudah hening, Raja kembali membuka suara, "Siapkan arenanya! Siapapun yang tidak setuju jika empat orang ini layak menjadi raja ... maka katakan sekarang! Akan aku beri satu kesempatan untuk memilih lawan yang menurut kalian lemah!"
Raja mengucap kata itu sembari melihat satu persatu wajah pria yang sudah dipenuhi darah. Dan dari pernyataan itu, tidak ada satu orangpun yang menjawab.
"Maka selain empat pria ini, akan aku beri tugas untuk menyerahkan hidup kalian pada Raja selanjutnya! Tidak boleh ada yang mati lagi! Kalian sudah cukup membuktikan diri!" sambung Raja, dengan nada yang cukup tinggi. Dia mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah yang begitu gembira, menatap puluhan pria yang tersisa, dari jumlah yang semula hampir menyentuh ribuan manusia.
Bersambung ....
__ADS_1