ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SALAM PERKENALAN


__ADS_3

Setelah debu dari jasad Ki Gandar melebur dengan udara, angin kencang beserta gemuruh guntur dan kilat petir tiba-tiba hadir di tempat tersebut. Suara riuh dari dentuman demi dentuman yang menggelegar menyapa tanpa aba-aba, hingga suasana saat itu langsung terpampang begitu mengerikan.


"DASAR! MANUSIA BIADAB!" teriakan suara lelaki terdengar begitu lantang dari atas langit. Suaranya begitu menggelegar, hingga mengalahkan setiap gemuruh dan petir yang tengah berkecamuk di atas kepala empat sahabat tersebut.


"Jaka ... kamu masih bisa bertarung?" tanya Darto penuh rasa khawatir. Dia merasa cemas karena Jaka belum cukup lama menerima energi yang melimpah ke dalam tubuhnya, jadi Darto merasa jika Jaka pasti belum bisa menguasai energi tersebut sepenuhnya.


"Insya Allah, Kang. Energi milik Kakek Gandar sebenarnya sama persis, jadi perbedaannya mungkin hanya cara mengendalikannya," sahut Jaka sedikit ragu.


Mendapat jawaban dan menyaksikan wajah Jaka yang memasang ekspresi ragu, Darto langsung menepuk pundak Jaka kemudian berkata, "Tidak usah dipaksa. Sekarang kamu fokus mengedarkan energi itu dulu di tubuhmu. Biar aku yang tahan dia jika dia muncul."


"Maaf, Kang. Lagi-lagi saya jadi beban," sahut Jaka sembari tertunduk. Dia benar-benar merasa bersalah karena terus menjadi penghalang dalam setiap perjalan.


"Tidak! Akan lebih menjadi penghalang jika kamu memaksakan memakai energi itu sebelum kamu kuasai sepenuhnya," elak Darto sekaligus mencoba meyakinkan temannya.


Mendengar ucapan itu, Jaka langsung mengangguk dan meminta izin untuk duduk agak menjauh dari tempat Darto berdiri. Dia melangkah menepi, kemudian duduk bersila sembari memejamkan matanya untuk menstabilkan semua energi baru yang sebelumnya dipaksa masuk ke dalam tubuhnya.


"Maung, Komang ... saya titip Jaka sebentar," ucap darto tanpa menoleh, Darto terus memandang langit yang sudah sempurna tertutup awan gelap, yang terus bergerak berputar hingga menciptakan sebuah pusaran.


Mendengar permintaan itu, Maung dan Komang langsung mengangguk, kemudian mereka berlari dan duduk di sebelah tubuh Jaka yang tengah fokus memurnikan energi di dalam raganya.


"Tunjukkan wajahmu, IBLIS BIADAB!" teriak Darto begitu lantang. Suaranya memecah kebisingan untuk sesaat, sebelum akhirnya muncul satu suara yang begitu keras dan memekakkan telinga.


Iblis itu membalas teriakan Darto dengan sebuah batu besar yang tiba-tiba jatuh dari tengah pusaran awan gelap.


Duar!


Suara ledakan benar-benar menggema, ketika batu raksasa yang tengah terjun bebas dari atas langit berhasil Darto hancurkan menggunakan panahnya. Batu besar itu pecah hingga menjadi ratusan bagian, kemudian jatuh ke atas tanah dalam bentuk kerikil.

__ADS_1


"AKU BILANG TUNJUKKAN WAJAHMU IBLIS BIADAB!" teriak Darto untuk kedua kalinya.


Kali ini tidak ada batu, melainkan petir yang menyambar langsung ke arah Darto berdiri. Sambaran petir itu benar-benar telak mengenai tubuh Darto tanpa halangan apapun, hingga Darto seketika langsung tersungkur karena tubuhnya terasa mati rasa.


Petir itu memang mengenai tubuh Darto secara telak, tapi Darto sudah terlebih dahulu melindungi sekujur tubuhnya menggunakan energi yang dia jadikan perisai saat itu. Darto benar-benar bisa menerima serangan sekelas bencana, meski efeknya masih berimbas pada tubuhnya. Tubuhnya benar-benar terasa kebas dan kesemutan, hingga setiap bagian dari raga miliknya selayaknya mati rasa.


"Cuma itu?" tanya Darto sembari tertatih mencoba berdiri. Dia mencoba menghina meski kondisi tubuhnya berkata lain.


"Satu serangan! Akan aku beri kau tiga serangan cuma-cuma, jika kau bisa menahan ini!" Teriak sosok itu kembali.


Mendengar teriakan tersebut, Darto langsung menyelimuti sekujur tubuhnya dengan energi yang kini mulai memadat pada setiap sudut badannya. Darto bersiap karena tidak ingin menerima serangan seperti sambaran tadi, karena Darto merasa bisa pingsan hanya dengan imbas lonjakan yang tidak mampu di halau oleh perisainya.


Setelah mengucap kata tersebut, awan di langit berputar semakin cepat. Lubang besar seketika langsung menganga di pusat pusaran, kemudian dari dalam lubang tersebut muncul bongkahan batu yang ukurannya benar-benar gila. Batu dengan warna api, dengan kobaran yang begitu membara di setiap sisinya.


Darto benar-benar terus berusaha menelan ludah yang kini tercekat di tenggorokannya. Dia mencoba meyakinkan dirinya jika batu itu pasti bisa dihancurkan, namun kenyataan selalu tampak sangat berbeda.


Dengan penuh harapan Darto menarik busur panahnya kembali. Dia menarik lima anak panah sekencang dan sekuat cakupan yang bisa dilakukan oleh lengannya.


Setelah menghela nafas begitu panjang, Darto melepaskan genggaman tangannya pada lima anak panah tersebut. Lima anak panah Darto melaju begitu cepat, hingga kembali tercipta dentuman yang menggelegar hingga bisa terdengar di seluruh penjuru alam sebelah.


Suaranya begitu nyaring, hingga sanggup membuat telinga siapapun yang mendengar secara langsung, bisa menjadi tuli untuk sesaat.


Sayangnya, meski batu besar itu terpecah menjadi ribuan bagian. Pecahan batu itu terus terjun dengan kobaran yang tidak kunjung padam. Semua penghuni alas ireng benar-benar bisa melihat kejadian maha dahsyat itu dari tempat mereka berdiri, mereka semua menyaksikan satu hal yang sangat mengerikan, yaitu sebuah hujan api dengan kobaran yang begitu menyilaukan.


Darto sempat melihat ke arah Jaka sebelum ribuan kerikil menyala itu menghujam dirinya. Dia sedikit tersenyum karena Jaka, Maung dan Komang sudah tidak ada lagi pada tempat semula. Darto mengira jika Jaka mungkin sudah aman karena Maung dan Komang membawanya pergi untuk berlindung, jadi Darto bisa menahan amukan dari musuhnya sendiri dan tanpa tambahan korban kedepannya.


Dalam rasa lega, Darto tersenyum simpul sembari menunduk untuk sejenak. Dia mengucap basmalah dengan nada bergumam, kemudian mendongak sembari menciptakan sepuluh anak panah sekaligus pada tangannya.

__ADS_1


Sesaat Darto mengernyitkan dahi setelah mendongak, dia merasa bingung dengan apa yang tengah matanya saksikan. Karena sekilas dia melihat satu pria yang tengah melayang di tengah tumpukan batu menyala.


"SEKARANG! KANG!" teriak Jaka ketika tubuhnya melambung begitu tinggi. Hanya dalam hitungan detik saja Jaka sudah berhasil melambung dan menyebarkan energi yang cukup untuk membungkus ribuan kerikil menyala di atas langit itu.


"Jaka?!" gumam Darto masih sembari mengernyitkan dahi.


"CEPAT!" sambung Jaka memaksa.


Tanpa pikir panjang Darto langsung menuruti permintaan Jaka, dia menarik sepuluh anak panah bercahaya miliknya dalam satu kali tarikan, kemudian melepaskan genggamannya tanpa aba-aba.


Melihat Darto sudah setuju untuk melepas anak panahnya, Jaka yang masih melayang langsung menginjak satu kerikil yang berada di bawah kakinya, dia menjadikan kerikil itu untuk pijakan, sebelum akhirnya berpindah tempat hingga tiba-tiba dia berada tepat di samping Darto tengah melepas anak panahnya.


Anak panah Darto melesat bersamaan dengan Jaka yang sudah sampai di samping tubuh miliknya, meski hanya dalam satu detik, sudah terjadi begitu banyak kejadian.


Akhirnya usaha Darto dan Jaka benar-benar membuahkan hasil, mereka berhasil menyingkirkan ribuan batu kerikil yang membara, hanya dengan satu ledakan yang terbentuk dari benturan energi milik Darto dan Jaka.


Saat itu, semua penghuni alas ireng benar-benar melihat satu kejadian yang begitu mengerikan. Mereka semua bergidik tanpa henti-hentinya, setelah melihat hujan api yang tiba-tiba hilang bagai ditelan sebuah api yang yang berbentuk seperti jamur, yang melambung semakin meninggi di atas langit setelah terdengar satu dentuman ledakan.


Tidak ada satupun mahluk yang bisa lepas dari rasa khawatir, tidak terkecuali Darto dan Jaka yang masih berada di tempat kejadian perkara. Mereka terus memasang posisi siaga, meski serangan kelanjutan sudah tidak dilancarkan lagi oleh lawannya.


Sesaat setelah ledakan menggelegar, awan gelap yang berputar di atas kepala Darto dan Jaka, berangsur berhenti bergerak dan perlahan menjadi rintik hujan. Suara petir yang menggelegar seketika sirna, dan juga angin ribut yang sempat menyapa juga musnah tanpa aba-aba.


"WOI! IBLIS JAHANAM! JANGAN LUPA KAMU MASIH PUNYA HUTANG TIGA SERANGAN DARIKU!" teriak Darto kemudian tergelak, dia terbahak sembari merebahkan tubuh di atas tanah.


Jaka yang melihat wajah lega pada Darto juga langsung ikut merebahkan tubuhnya. Mereka berdua tidur telentang dan membiarkan rintik hujan membelai sekujur tubuhnya. Dalam rasa lelahnya, mereka sangat bersyukur, karena masih bisa hidup setelah melihat tiga serangan yang tidak pernah mereka bayangkan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2