ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
YANTO


__ADS_3

Mendengar pertanyaan sang Nenek, Darto cukup ragu untuk menjawab. Darto hanya diam untuk sesaat namun rasa penasaran sang nenek begitu memuncak hingga dia kembali bertanya tentang hal yang sama kepada Darto. Namun Darto masih saja bungkam, bukannya menjawab Darto malah mencoba merasakan energi yang terasa tidak enak sedari dia masuk kedalam rumah.


"Nak? Kenapa diam? Apa kamu juga berguru? Siapa yang mengajari kamu?!" ucap nenek untuk ke tiga kalinya, dia sedikit meninggikan nada suaranya.


"Saya cuma bisa, Nek. Saya tidak berguru, tapi saya belajar di pesantren," jawab Darto sembari menatap wajah nenek yang mulai tampak geram, karena tidak mendapat jawaban dari Darto untuk dua pertanyaan sebelumnya.


"Oh jadi begitu, saya kita kamu hebat. Baiklah lebih baik kalian tidur lagi," ucap nenek kemudian kembali meninggalkan semua orang. Dia masuk ke kamar miliknya yang berseberangan dengan kamar Gayatri.


"Ki Karta lebih baik di sini saja, kalau Gayatri bangun nanti panggil saya. Saya mau pergi dulu ke depan, ada sesuatu yang terus memanggil saya," ucap Darto kemudian mendapat anggukan dari Ki Karta dan Si Mbah.


Melihat anggukan kepala mereka berdua, Darto langsung berjalan menuju ruang tamu dan kembali membuka pintu rumah tersebut. Kondisi halaman tersebut masih sama, suasana terpampang sunyi, hanya saja kali ini ada bau busuk menyeruak menyapa indera penciuman Darto setelah pintu terbuka.


Darto benar-benar muntah, dia tidak bisa menahan mual yang berlebih di perut miliknya. Bau tersebut benar-benar bau yang lebih busuk melebihi apapun yang pernah Darto cium selama ini. Namun meski begitu, Darto tidak mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah tersebut, dia terus berjalan sembari menutup hidung, menuju pohon rambutan yang tidak jauh dari rumah tersebut.


"Hey! Apa mau kamu?" ucap Darto setelah sampai di bawah pohon rambutan. Dia berbicara sendiri kala itu.


Darto bisa merasakan jika ada mahluk halus yang menempati pohon tersebut, namun matanya tidak bisa menangkap keberadaan mahluk tersebut. Jelas saja Darto tidak bisa melihat, karena mahluk itu tengah bersembunyi di dalam pohon tersebut.


"Lebih baik kalian pergi dari rumah itu," suara seorang laki-laki tiba-tiba menggema. Suaranya sama seperti suara seseorang yang menggedor pintu sebelumnya.


"Oh kamu yang gedor pintu tadi?" ucap Darto sembari menyalurkan energi di tangannya, kemudian mengarahkan ke pohon tempat asal suara.


"Argh! Ampun!" teriak lelaki itu sembari keluar dari batang pohon di depan Darto. Dia kesakitan setelah menerima energi yang Darto salurkan ke pohon tersebut.


Melihat wujud lelaki yang keluar dari pohon tersebut, Darto kembali muntah saat itu juga. Lelaki yang tengah berdiri... Tidak. Lelaki yang tengah tergeletak itu hanya memiliki setengah badan. Dia tidak punya tubuh bagian bawah, yang ada hanya kepala hingga sebatas perut. Ususnya berceceran di bawah badan terpotong miliknya, bekas darah membekas di setiap tempat yang ia lalui, sosok itu berjalan dengan menyeret tubuhnya menggunakan kedua tangan miliknya.


"Apa mau kamu?! Huek!" Ucap Darto tanpa menoleh, dia muntah sembari memunggungi sosok tersebut.

__ADS_1


"Pemilik rumah itu berbahaya, Den. Saya salah satu korbannya," ucap sosok lelaki itu kemudian menempelkan kepalanya di atas tanah. Dia ketakutan setelah sekali merasakan serangan Darto.


"Hah... Saya kira apa, saya justru kasihan sama si pemilik rumah, jika dia ular dua kakek di dalam merupakan elang. Tidak mungkin mangsa akan memakan pemangsa, ha ha ha ha!" Jawab Darto sembari menyandarkan punggungnya di pohon rambutan. Sekarang Darto tengah melihat sosok itu dengan seksama, meski rasa mual masih belum bisa dia tangani sepenuhnya.


"Kamu pergi saja, jangan ganggu kami lagi," ucap Darto sedikit memaksa. Dia masih tidak tega melihat kondisi sosok di depannya.


"Baik, Den. Saya pamit kalau begitu," ucap sosok tersebut kemudian berjalan pelan menyeret tubuh buntungnya kembali masuk ke dalam pohon.


"Oh iya, siapa nama kamu?" Sambung Darto berbicara sendiri.


"Saya Yanto, Den," sahut sosok itu tanpa menampakkan dirinya. Dia berbicara dari dalam pohon.


"Yanto, Ya? Masih ada pertanyaan lagi untuk kamu. Setelah itu, aku minta kamu jangan ganggu orang lagi, bisa kan?" Ucap Darto sembari membersihkan mulutnya sendiri.


"Apa, Den?" Jawab Yanto sembari menampakkan kepalanya saja, sisa tubuh tidak lengkapnya sengaja ia sembunyikan di dalam pohon, agar Darto tidak muntah lagi.


"Saya mengetuk pintu atas permintaan pemilik rumah ini, tidak ada yang boleh terlewat satupun, saya juga disuruh mengetuk pintu rumah Nek Ijah jika ada tamu, agar tamunya ketakutan," jawab Yanto.


"Jadi? Semua orang di desa ini takut gara-gara ulah kamu?"


"Iya, Den. Saya diperintah agar orang takut, supaya nek Ijah bisa mencari mangsa dengan leluasa. Sudah banyak gadis yang hilang, dan semua lelaki takut untuk keluar malam,"


Mendengar pernyataan Yanto, Darto benar-benar terkejut. Dia baru tahu jika ada manusia yang bahkan lebih biadab dari setan yang pernah menjadi lawannya.


"Berapa banyak?" Tanya Darto penasaran.


"Saya lupa, Den. Tapi yang jelas sudah sangat banyak," jawab Yanto.

__ADS_1


"Berapa kali dia mencari mangsa setiap bulannya?" Tanya Darto kembali setelah tidak mendapat jawaban yang ia inginkan


"Setiap malam jum'at kliwon, Den,"


"Sebenarnya dia melakukan itu untuk apa?"


"Saya tidak tau, Den. Tapi yang saya selalu melihat mahluk kuat yang Datang setiap dia mendapat mangsa,"


"Yasudah, kamu boleh istirahat. Jika besok aku masih dengar kabar kamu mengetuk pintu, aku kirim kamu ke alam baka," ancam Darto dengan wajah disangar-sangarkan.


"Den?! Kamu bisa mengirim saya ke akhirat?"


Darto benar-benar terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka ancamannya akan di balas dengan sebuah pertanyaan yang jauh dari harapannya.


"Kamu pingin mati?" Tanya Darto heran.


"Tolong, Den. Saya berkeliling mengetuk pintu setiap malam hanya untuk mati, Den. Nek Ijah menjanjikan akan mengirim saya jika saya menurut," ucap Yanto dengan tatapan polos.


Darto benar-benar tidak bisa menerima apapun yang diucapkan Yanto. Dia bahkan langsung bingung karena apa yang dijadikan bahan ancaman malah justru merupakan sebuah keinginan terbesar dari orang yang dirinya ancam.


"Kenapa kamu ingin mati?" Tanya Darto kembali.


"Apa Aden pikir saya senang hidup seperti ini? Istri dan anak saya sudah jadi santapan nenek Ijah. Saya tidak bisa bertemu sama mereka jika saya masih diikat disini,"


Mendengar penuturan Yanto, Darto langsung menatap lelaki tersebut dengan tatapan iba, dia mengeluarkan cahaya di tangganya, kemudian meraih kening milik Yanto sembari berkata, "Pulanglah. Kamu bebas. Istri dan anak kamu mungkin sudah tidak sabar ingin bertemu."


Perlahan tubuh yanto memudar, lelaki paruh baya itu menguap bagai kepulan asap. Dia mengucap sebuah kata terimakasih sebelum menghilang sempurna, dan Darto hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2