ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HASIL


__ADS_3

Setelah mendapat paksaan Dari surip. Bidin memberanikan diri masuk kedalam air yang kini sudah menenggelamkan kaki bagian bawahnya. Dia menjulurkan tangan masuk ke dalam air yang menjadi keruh karena benda yang Surip tarik terus meronta.


Senyum Bidin merekah seketika sembari berkata. "Alhamdulillah ikan beneran Sur!"


Bergegas Bidin mengangkat ikan tersebut dan melemparnya ke arah darat. Namun hal ganjil kembali terjadi ketika Bidin hendak pergi melangkah ke daratan.


Sesuatu dari dalam air serasa menggenggam kaki bagian bawah yang masih tenggelam, hingga terdiam tubuh Bidin dibuatnya.


"Sur.. Tarik Aku Sur.!" Ucap Bidin yang masih terbujur kaku, ditepi danau tersebut.


Melihat muka pucat Bidin, tanpa berfikir panjang Surip langsung meraih tangan yang Bidin sodorkan, dan menarik sekencang mungkin. Hingga akhirnya Bidin berhasil terpental ke daratan.


"Kamu kenapa Din!" Tanya Surip terheran.


"Enggak tau Sur, kakiku kaya ada yang pegang!"


Mendengar jawaban Surip, kedua lelaki itu saling bertatap, kemudian menoleh serentak ke arah air, dan bergidik ketakutan.


Setelah sedikit tenang. Kedua lelaki itu bergegas pergi menuju tempat dimana Harti tengah menyiapkan hasil tangkapan mereka.


Surip bertugas mencari kayu bakar, Bidin membersihkan ikan, sedang Harti menyiapkan bumbu untuk pelengkapnya.


Sesekali mereka menoleh ke arah Darto, namun sama saja, Darto tidak bergeming sama sekali dari posisi semula. Dia masih terus membaca doa sembari memainkan bulir tasbih di tangannya seraya memejamkan mata.


"Itu Gus Darto serius banget ya Din?" tanya Surip.


"Iyo Sur, sebenarnya apa yang sedang Gus lakukan ya Sur," jawab Bidin kembali bertanya.


"Yo ndak tau aku Sur, tapi paling sebentar lagi juga melek, kalau udah nyium bau ikan mateng hehehe,"


"Sudah, nanti mas Darto keganggu kalau kalian ribut terus!" ketus Harti membungkam pembicaraan dua pemuda di depannya.


Kembali mereka melihat ke arah Darto. Kini terlihat keringat mulai mengalir dari pelipisnya, dahinya sesekali mengernyit, meski masih dalam posisi memejamkan mata.


Terus terpana, ketiga temannya kini hanya bisa meneguk saliva. Tatkala angin kencang tiba-tiba datang dari arah hutan, membuat ranting pohon bergoyang serta daun kering beterbangan. Wajah mereka bertiga seketika menegang, ketika melihat gelembung besar yang terus muncul dari dalam danau, tepat di depan Darto duduk bersila. Gelembung itu terus muncul hingga menciptakan riak di atas permukaan, dan yang lebih aneh, air danau yang semula tenang, kini menjadi sedikit bergelombang. Menyaksikan itu, ketiga temannya hanya bisa tertegun dengan kejadian tersebut. Tanpa mereka pahami, Darto tengah bertarung dengan penghuni danau yang sempat mereka temui setahun lalu.

__ADS_1


...***...


Angin, gelembung, serta gelombang di danau sudah berangsur reda. Harti tampak panik karena terlalu fokus melihat kejadian aneh di sekitar calon suaminya itu, hingga dia lupa ikan yang tengah dia bentang di atas bara sudah hampir gosong dibuatnya.


"Din Bantu balik ikannya!" Ucap Harti tergesa meminta Udin yang tengah melamun di sampingnya.


"Wah.. Hampir gosong ini Har!" ucapnya sembari membalik ikan sebesar bayi di atas bara itu.


"Iya Din, untung sempet ya," wajah Harti berangsur lega, karena ikan yang mereka bakar tidak begitu gosong.


setelah berhasil membalik ikan itu, mereka kembali menyusul Surip yang masih menonton Darto. Tampak Darto yang sudah berdiri, tengah mengibas tanah yang menempel di celana bagian belakang dengan telapak tangannya.


"Sudah mateng belum?" Teriak Darto yang tengah berjalan menuju tempat tiga temannya menonton aksinya.


"Sebentar lagi Mas!" jawab Harti sedikit berteriak agar di dengar.


Stelah Darto sampai di tempat membakar ikan, tak henti teman-temannya bertanya bergantian.


"Bagaimana Gus? Berhasil?"


"Alhamdulillah, lancar Sur!"


Jawab Darto tersenyum.


"Nah kepalanya mana?"


tanya Surip kembali dengan wajah sedikit takut.


"Di sini Sur," Darto menjulurkan sebuah kain berwarna hitam di tangannya.


"Itu isi kepala?" Bidin bertanya sembari bergidik ketakutan


"Isi jin Din, kamu itu ada-ada saja, masak muat kepala beneran ditaruh di kain sekecil ini?" ucap Darto sembari membuka bungkusan kain tersebut, tanpa diduga benda yang terbalut kain tersebut adalah keris kecil berwarna emas, seukuran jari kelingking, lengkap dengan sarungnya.


"Sambil nunggu mateng, cerita dong Gus, gimana prosesnya?" desak Bidin yang masih penasaran dengan kejadian yang tidak dapat mereka saksikan.

__ADS_1


"Jadi gini, aku tau kalau penunggu danau sini ndak suka kalau ada orang yang mancing Din, kemarin pas aku beli nasi goreng di warung pak Ndut aku sempet cerita kalau kita pernah mancing di danau ini. Kalian tau apa yang Pak Ndut bilang?" tanya Darto hanya mendapat gelengan kepala dari ketiga temannya itu.


"Dia bilang kalau kita kelewat berani, katanya dari dulu enggak pernah ada yang mau mancing disini, gara-gara bukan cuma satu orang saja yang pernah dapet kepala, jadi setelah kabarnya menyebar, ndak ada lagi yang berani mancing," cerita Darto terhenti ketika darto mencoba menyalakan rokok di sela jarinya.


"Nah, karena aku sudah tau. Aku suruh aja kalian mancing lagi, biar dia cepat keluar hehehe," sambung darto di sambut gelengan kepala Bidin dan Surip.


"Tega kamu Gus, bikin kita jadi umpan!" Gerutu Bidin yang memancing gelak tawa Harti dan Darto.


"Tapi gimana cara Gus ngalahin dia?" Surip memasang wajah serius.


"Cuma aku tabok Sur pakai Hadis, dia langsung nangis hahahaha!" mendengar jawaban tersebut, ketiga temannya tidak bisa lagi menahan tawa.


Ikan di depan mereka kini sudah masak sempurna. Seperti biasa, tanpa aba-aba mereka langsung beradu kesigapan dalam hal mencomot daging ikan yang tergeletak di atas daun pisang tersebut. Hanya dalam hitungan menit, suara sendawa sudah saling bersautan antara Bidin dan Surip yang membuat Harti tertawa meski sebenarnya sedikit jijik.


"Apa ndak masalah Gus itu di bawa ke pesantren?" tanya Surip yang tengah merokok dengan perut kenyang di samping Darto.


"Enggak lah Sur, dia juga bakalan jadi murid Kakung nantinya," mendengar jawaban Darto, tampak raut wajah bidin yang berada di samping Surip ingin memuntahkan sejuta pertanyaan.


"Emang Pak Kyai ngajar mahluk halus juga Dar?" pertanyaan Bidin tak bisa lagi ditahan.


"Ada. Banyak malah Din, mereka juga sembahyang dan mengaji kaya kita,"


"Pantas Gus, Aku sering dengar suara kaya orang tahlilan di belakang pondok, padahal gelap!" Bidin kembali membuka suara.


"Nah itu Din, bener kalau kamu dengar di belakang pondok, di sana emang tempatnya mereka belajar," ucapan Darto berhasil merubah wajah ketiga temannya yang semula menyimak menjadi terheran.


Setelah di rasa makanan sudah cukup tercerna, mereka berempat bergegas pulang menuju pesantren, beriringan menyibak hutan kembali, dengan sebuah hasil dari tugas yang Kakung beri.


Dalam hati Darto merasa cukup senang, ini kali pertama dia bertarung dengan mahluk lain selain murid Kakung di pesantren. Dia terus mengucap syukur karena tugas pertamanya tidak sesulit apa yang dia duga.


Dalam perjalanan pulang, senyum Darto terus mengambang. Tanpa seorangpun sadari, Darto 15 tahun yang dulu sangat penakut, kini berangsur mengukir wibawanya. Entah bagi sesama manusia, maupun sisi penghuni alam sebelahnya.


Bersambung,-


...terimakasih sudah membaca 😁...

__ADS_1


...jangan lupa dukungannya ya 😃...


__ADS_2