ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KUBANGAN


__ADS_3

Setelah tabib meninggalkan ruang perawatan, Raja menghampiri Darto dan Jaka ketika mereka tengah mengobrol. Tanpa sepatah kata pun dia melambaikan tangan kanan miliknya dari depan pintu, kemudian kembali berbalik dan melangkah menjauh.


Darto dan Jaka langsung berdiri dari posisi duduk mereka. Mereka langsung melangkah tergesa untuk mengikuti arah langkah sang Raja.


Raja terus berjalan tanpa memberikan arahan, Darto dan Jaka hanya bisa mengikuti langkahnya tanpa bertanya. Mereka terus maju, menuju halaman belakang kerajaan yang masih dipenuhi rimbunan pohon yang luar biasa besarnya.


Mereka terus masuk ke dalam hutan tanpa berbicara, hingga akhirnya Raja menghentikan langkah kakinya sembari menunjuk sebuah kubangan air yang terletak dibawah tebing.


Ada tetesan air yang terus menetes diantara akar besar yang menembus tebing, dari tetesan itu terbentuklah kubangan yang berbentuk abstrak namun menjurus ke bentuk yang sedikit oval.


"Sekarang masing-masing dari kalian harus minum air itu terlebih dahulu," ucap Raja sembari menoleh ke arah Darto dan Jaka, dia meminta dengan nada yang terkesan sedikit memaksa.


Darto dan Jaka langsung berkeringat, mereka masih ingat dengan air yang diberikan oleh pemilik gubuk sebelum melakukan ujian. Mereka berdua takut, jika setelah minum mereka akan kembali merasakan sakit yang begitu dahsyat, sama dengan kali terakhir mereka rasakan.


"Kenapa? Apa kalian tahu itu air apa?" tanya Raja ketika melihat dua pria di depannya memasang wajah pucat.


Darto dan Jaka langsung menggeleng, mereka berpura-pura meski tampak sangat jelas jika mereka tengah menutupi sesuatu. Raja bahkan sampai mengernyitkan dahi miliknya, setelah melihat tingkah kedua pria di depannya, yang tampak begitu aneh di matanya.


"Sepertinya memang ada yang aneh sama kalian, sebenarnya kalian takut dengan apa?" sambung Raja setelah tidak mendapat jawaban dari bibir dua pria di depannya.


"Saya hanya takut karena air itu terlihat sangat hitam," ucap Darto mencoba menciptakan alasan. Sedangkan Jaka hanya bisa mengangguk untuk memperkuat alasan yang Darto utarakan.


"Kalian melihat orang tertebas di depan mata saja tidak takut, tapi melihat air berwarna hitam langsung menciut, ha ha ha ha! Lihat ini, saya juga meminum air ini waktu dulu, dan sekarang memang sudah waktunya saya minum lagi," ucap Raja kemudian meraup air di genangan, dia langsung menyesap air yang terjebak di telapak tangannya, kemudian menoleh kepada Darto dan Jaka sembari berkata, "Tidak terjadi apa-apa, kan?"

__ADS_1


Setelah melihat tidak ada reaksi pada Raja, Darto dan Jaka berangsur mendekat pada air tersebut kemudian meraup semampu tangan mereka kemudian menyesap air yang ada di atas telapak tangan mereka secara ragu-ragu.


Tidak terjadi apa-apa setelah tegukan pertama masuk melalui tenggorokan Darto dan Jaka, namun sesuatu tiba-tiba mengejutkan mereka berdua ketika sudah memasuki tegukan ke dua.


Sebuah ingatan dari raja-raja sebelumnya mengalir memasuki otak mereka, dan seketika mereka langsung merasakan pening yang luar biasa, hingga serasa kepala mereka mau pecah saat itu juga.


Darto dan Jaka berguling di atas tanah, mereka mengerang kesakitan untuk waktu yang cukup lama. Hampir setengah jam waktu yang dibutuhkan, agar pening di kepala mereka mereda.


Setelah pening itu sirna, mereka berdua langsung berjongkok dengan air mata yang bercucuran, setelah melihat satu kepingan ingatan baru yang sangat jelas di pikiran mereka. Mereka melihat bagaimana kerajaan terbentuk, dari yang semula hanya dua orang hingga menjadi ribuan anggota.


Proses yang benar-benar tidak layak disaksikan, namun harus dilihat oleh orang yang layak menjadi Raja selanjutnya. Air itu merupakan air yang bisa menyalurkan ingatan, setelah pendiri kerajaan melakukan perjanjian dengan mahluk sebelah. Raja pendahulu meminta agar ingatan miliknya terus di bagikan pada penerusnya, dengan imbalan akan ada pertumpahan darah yang Raja berikan.


Dari ingatan itu, Darto dan Jaka langsung tahu. Kebenaran tentang sayembara pemilihan Raja, sebenarnya hanya lah ajang pembantaian, yang bertujuan untuk pembayaran imbalan, dari sebuah perjanjian yang dilakukan oleh Raja pendahulunya.


"Kalian berdua lulus, untuk sekarang biar aku pilah lagi siapa yang akan jadi raja selanjutnya," sahut Raja sembari melihat Darto dan Jaka secara bergantian, "Kamu tidak masalah, kan?" sambungnya lagi, kali ini dia bertanya pada Darto.


"Tidak masalah, asal kami tidak diminta untuk saling membunuh lagi," sahut Darto sembari mengusap air di pipinya.


"Kalian tidak akan bertarung lagi, kali ini aku akan memilih setelah salah satu dari kalian bisa menuntaskan apa yang belum sempat aku lakukan," jawabnya sembari menatap tajam ke arah mata Darto.


"Melakukan apa?" tanya Darto singkat.


"Berjalan saja ke arah utara, bawa semua petarung yang tersisa, dan kembalilah dengan membawa kepala orang tua yang belum lama ini membuat kerajaan. Dia menantang secara terang-terangan, dengan menciptakan kerajaan baru, bahkan tepat di sebelah wilayah milikku," ucap Raja dengan wajah geram.

__ADS_1


Darto dan Jaka hanya bisa menelan ludah, setelah mengetahui tugas dari Raja adalah untuk membunuh manusia. Mengingat bahkan di tengah sayembara, mereka berdua sama sekali tidak membunuh satupun pria dengan sengaja, padahal ada banyak sekali pria kuat yang berniat membunuh mereka.


Melihat Darto dan Jaka kebingungan, Raja kembali berkata, "Kali ini aku akan ikut, aku tidak mau melewatkan momentum berharga ketika sayap Sendang Langit melebar."


Darto dan Jaka justru semakin tertekan ketika mendengar penuturan Raja. Mau tidak mau mereka harus menurut untuk melakukan titahnya, agar mereka bisa menuntaskan ujian yang entah untuk apa.


Untuk sesaat Darto menatap Jaka yang masih menunduk, dan ketika Jaka menoleh ke arah Darto, dia langsung mendapat anggukan dari lawan tatapnya. Akhirnya mereka mengangguk bersamaan ke arah Raja, sehingga Raja langsung mengajak mereka untuk kembali ke istana. Saat kembali, Raja memimpin jalan pulang dengan senyum beringas yang terpampang di wajahnya.


Ekspresi buas seketika hadir di wajah sang Raja, dia menyeringai dengan mata sadis yang sangat kentara. Sedangkan Darto dan Jaka, mereka terus mencoba membuang perasaan bimbang di hati mereka, mengingat ini semua sudah bukan pada masanya.


Setelah kembali ke istana, raja memberikan satu kamar yang berisi dua dipan. Dia memberikan ruang khusus untuk Darto dan Jaka. Sebelum dirinya pergi meninggalkan Darto dan Jaka, dia sempat berpesan dengan berkata, "Kalian lebih baik tidur awal, besok pagi kita akan berangkat."


Darto dan Jaka hanya bisa mengangguk, kemudian membiarkan Raja menjauh dari pintu kamar mereka. Setelah Raja sudah tidak terlihat lagi, Darto bergegas menutup pintu kamarnya.


"Jaka ... memang benar ini cuma ujian, tanpa kita bunuh pun semua orang yang hidup di masa ini pasti sudah mati. Tapi ... apa kamu siap menanggung ingatan yang begitu kejam? Mungkin ingatan itu akan kamu bawa sampai di dunia kita nantinya," tanya Darto sembari membaringkan badan miliknya. Dia bertanya sembari menatap langit-langit kamar tanpa menoleh ke arah Jaka.


"Jaka tidak mau, Kang," jawab Jaka singkat kemudian menunduk.


"Di sini aku yang tua, Jak. Jika memang salah satu harus membunuh agar kita berdua kembali, biar aku tanggung perasaan bersalah seumur hidupku nantinya," sahut Darto sembari berdiri dari tidurnya, dia beranjak duduk dan melempar senyuman getir ke arah Jaka.


Jaka yang mendengar itu benar-benar terharu. Dia tidak bisa menjawab dengan kata-kata, hanya bulir bening yang mengalir di sudut matanya saja, yang sanggup menjelaskan betapa besar rasa bersalah dan terimakasihnya untuk pria di depannya.


Darto yang melihat air mata Jaka mulai jatuh dari dagu, seketika merasa sedikit lega. Setelah melihat tragedi pertarungan berdarah dengan mata kepala sendiri, tidak banyak orang yang masih sanggup mempertahankan kewarasan miliknya. Untungnya Jaka terlihat baik-baik saja, bukan hanya kewarasannya, bahkan hati nuraninya juga masih utuh seperti sedia kala.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2