
Tidak berselang lama dari ketika Abirama dan Kanti masuk ke dalam cincin milik Darto, angin yang begitu kencang berhembus memporak porandakan halaman gubuk milik Kanti.
Dedaunan kering maupun segar gugur dalam waktu singkat, kemudian kembali tenang ketika hembusan angin tersebut hilang tanpa permisi.
Darto, Jaka, Maung, Komang, Sastro dan Wajana kala itu sudah memasang posisi siaga dari dalam gubuk. Mereka sungguh siap menghadapi musuh yang akan datang, namun mahluk yang mereka nantikan sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
"Sepertinya dia hanya memastikan keadaan, Dar. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini," usul Maung.
Enam pria yang tengah bersama tersebut langsung mengangguk, mereka melangkah meninggalkan gubuk, kemudian berjalan menuju tempat semula mereka datang.
Ketika mereka selesai ke tempat semula, pintu nomor 19 dan 18 benar-benar sudah membuka. Hanya tersisa 17 pintu lagi yang belum mereka sentuh, di sepanjang lorong yang terlihat panjang di depan mereka.
"Kalian siap, Kan?" tanya Darto tepat setelah keluar dari pintu nomor 19.
"Entah ini keberuntungan atau kesialan, Dar. Yang jelas jika dua mahluk itu teman kita, kita jadi tidak perlu repot menghadapi dua penghuni kamar," ucap Wajana lega.
"Ssstt," Darto berdesis sembari menempatkan jari telunjuk di depan bibirnya, "Jangan sebut-sebut mereka ... kita tidak tahu ada berapa telinga yang sedang mengawasi kita," sambung Darto berbisik, sembari melangkah menuju pintu nomor 17.
Tepat ketika Darto sampai di depan pintu, dia bergegas menggenggam dan memutar batang pintu. Perlahan pintu tersebut Darto dorong, dengan kelima teman yang sudah memasang posisi siaga di belakangnya.
Krieeettt
Kali ini pintu yang Darto dorong berderit. Suasana sepi menjadi begitu menegangkan hanya karena suara derit dari engsel tua.
Setelah cukup lama tertegun sembari waspada, Darto kembali membuka pintu di depan wajahnya secara kasar. Dia langsung membuka sekuat tenaga, hingga pintu langsung terbuka secara sempurna dalam satu dorongan saja.
"Kalau ini memang benar-benar tempat baru. Aku belum pernah mengunjungi tempat seperti ini sebelumnya," ucap Darto sembari mencoba mengawasi keadaan sekeliling.
Di dalam kamar nomor 17, terdapat tempat yang begitu luas, dengan isi bebatuan besar yang terbentang sejauh mata memandang.
Barisan batu yang dipenuhi lumut hijau, berbaris dengan susunan abstrak di atas tanah berlumpur dan sedikit berair.
Setelah selesai memastikan kondisi tempat di depan mereka, Darto dan lima temannya masuk ke dalam pintu secara bergantian.
Tepat setelah selangkah kaki mereka masuk, udara benar-benar terasa mencekik tenggorokan. Bulu kuduk seketika sempurna berdiri, dengan perasaan sesak yang memenuhi dada lima pria.
"Kuat!" ucap Sastro sembari mencoba menenangkan diri.
__ADS_1
"Kita tidak boleh main-main dengan lawan ini, Dar!" sambung Wajana.
"Susah sekali untuk bernafas, Kang!" keluh Jaka.
Tiga lelaki yang berada di urutan paling belakang tersebut benar-benar tertekan dengan hawa kehadiran yang begitu hebat. Kaki mereka bahkan sampai lemas, dan butuh usaha keras hanya untuk bisa berdiri.
Maung dan Komang yang langsung merubah wujud menjadi binatang tidak terlalu susah untuk berdiri, mengingat mereka memiliki empat kaki yang menopang tubuhnya.
Begitu juga Darto, entah kenapa dia tidak merasakan tekanan sebesar lima temannya, Darto bisa berdiri kokoh, dengan nafas yang teratur seperti biasa.
"Kalian bisa lanjut?" Tanya Darto sembari menoleh ke belakang, dia menatap Jaka, Sastro dan Wajana dengan wajah ragu.
"Bi bis bisa ... Kang," jawab Jaka gagap. Tampak sekali jika Jaka tengah berbohong.
"Tidak ... kalian bertiga di sini saja dulu, biar aku Maung dan Komang saja yang maju," sambung Darto setelah memastikan keadaan tiga temannya.
"Nanti kalau kalian sudah terbiasa dengan tekanan ini, kalian bisa menyusul kami," timpal Maung dibarengi anggukan kepala Darto dan Komang.
Jaka, Sastro dan Wajana langsung mengangguk, mereka duduk bersila, sembari terus mengedarkan energi.
Mereka bertiga melesat sembari melompati dari batu ke batu. Hingga cukup jauh dari arah pintu masuk.
Semakin Jauh mereka masuk, semakin kuat pula tekanan yang Maung dan Komang rasakan. Namun hal itu sama sekali tidak berlaku untuk Darto.
Darto benar-benar kebingungan kala itu, dia tidak merasakan hal aneh seperti yang dirasakan lima temannya.
Setelah cukup jauh melangkah, Maung dan Komang benar-benar tidak bisa melangkahkan kaki kembali, saat itu Maung berkata, "Dar ... Disini batasanku, Maaf aku tidak kuat mengangkat kakiku lagi."
Begitu juga Komang, dia berkata dengan nada tersengal, "A Aku juga, Dar ... Aku su sudah tidak bisa bernafas."
"Baiklah ... Aku rasa pintu ini memang hanya bisa diatasi olehku. Terimakasih sudah menghantar sejauh ini. Dari sini aku akan maju sendiri," ucap Darto dengan wajah keheranan.
Mendengar hal tersebut, Maung dan Komang langsung berubah menjadi manusia dan melakukan posisi duduk sila, sama seperti tiga teman yang tadi mereka tinggalkan.
Sedangkan Darto, dia kembali berlari sembari melompat, dari batu ke batu dengan cepat hingga punggung miliknya mulai menghilang dari pandangan Maung dan Komang.
Darto benar-benar sendiri kala itu, dia tidak punya pilihan lain selain maju, meski lima temannya tidak berada di sisinya.
__ADS_1
Semakin jauh Darto masuk, semakin gelap juga suasana yang terpampang
Dari yang semula hanya barisan batu berlumut yang berjajar, kini mulai tampak pohon yang juga berlumut di setiap batangnya.
Dedaunan di atas pohon tersebut begitu lebat, hingga suasana di bawah rerimbunan tampak remang karena begitu minim cahaya.
Saat Darto sudah masuk cukup dalam di tengah hutan, langkahnya seketika terhenti ketika melihat sebuah bangunan yang begitu besar, berbentuk abstrak, dan terbuat dari tumpukan batu berlumut.
Hanya ada satu pintu yang terpampang pada bangunan besar tersebut, pintu yang bahkan akan cukup untuk dimasuki oleh raksasa, karena begitu besar ukurannya.
Darto mendekat, terus mendekat, hingga berdiri tepat di bawah pintu yang terlihat seperti terowongan raksasa jika dilihat dari dekat.
Meski perasaan Darto saat itu ragu, namun langkah kakinya hanya berhenti untuk beberapa detik saja.
Darto hanya menghirup nafas begitu dalam, sebelum menghembuskan sekaligus dari mulutnya.
...Dengan tatapan yang begitu tajam Darto mulai memasuki mulut terowongan. Saat itu Darto melangkahkan kaki kanannya, sebagai langkah pertama dari tindakannya, sembari mengucap kata, "Bismillahirrahmanirrahim."...
Darto melangkah menuju terowongan gelap, benar-benar seorang diri, tanpa satupun teman yang menemani.
Semakin masuk, semakin wangi tempat yang tengah Darto telusuri. Bau mawar tercampur rata dengan bau kemenyan kian menyengat setiap langkah.
Hingga tiba saatnya, setitik cahaya obor mulai tampak dari kejauhan. Darto bergegas melebarkan langkah, dia berlari menuju sumber cahaya, hingga sampai di tempat tujuan hanya dalam hitungan detik saja.
Saat tiba di bawah obor, mulai tampak barisan obor yang tersusun rata di sepanjang lorong, menerangi setiap sisi jalan yang akan Darto tempuhi.
Melihat hal tersebut, Darto mengikuti jalan yang terang tersebut. Tidak Jauh dari tempat di mana Darto menemukan obor pertama kali, dia menemukan satu tempat yang cukup luas.
Tempat berbentuk persegi, dengan obor yang melingkari tempat lapang tersebut.
Tepat di pusat tempat lapang tersebut, tampak jelas satu pria yang tengah duduk bersemedi sembari memejamkan mata.
Pria yang menggunakan blangkon, tanpa baju dengan jarik yang melingkar di bawah pinggulnya.
Tanpa rasa ragu maupun bimbang Darto langsung mendekat ke arah pria tersebut. Terus mendekat dalam tiap langkahnya, hingga akhirnya Darto tepat berdiri di depan pria tersebut sembari mengucap kata, "Assalamu'alaikum...."
Bersambung ....
__ADS_1