ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BERPENCAR


__ADS_3

"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Dar?" tanya Maung setelah mereka kembali berkumpul di dalam kubah energi milik Sastro.


"Sepertinya kita terkecoh," ucap Darto sembari menatap wajah lima kawannya secara bergantian.


"Maksudnya, Kang?" timpal Jaka dengan wajah penasaran, dibarengi anggukan kepala semua temannya.


"Sedari awal kita masuk, kita terus melihat ke atas karena sarang itu memang berada di sana," Darto masih menatap lima temannya dengan tatapan lurus, "Jadi jika musuh terus mendongak, dimana tempat paling aman untuk bersembunyi?" sambungnya lagi.


"Tanah!" ucap Wajana sembari membulatkan mata.


Semua teman Darto langsung mengangguk kala itu, mereka merasa bahwa masukan Darto bisa dikatakan sangat masuk akal, mengingat ada juga jenis tawon yang bersarang di bawah tanah.


"Sekarang Maung dan wajana ikut aku... Kalian bisa menahan mereka semua?" Darto menunjuk Sastro, Komang dan Jaka.


"Serahkan saja pada kami, Dar," jawab Sastro.


"Bisa, Kang" timpal Jaka.


"Kalian mau kemana?" tanya Komang.


"Biar kita bertiga yang cari sarang pemilik kamar, kalian cukup tahan semua musuh di atas itu, dan jangan lupa untuk membuat kegaduhan yang heboh di sini," jawab Darto sembari tersenyum kecil.


Semua teman langsung mengangguk, mereka kemudian kembali berpencar, dangan Darto dan Wajana yang melesat di atas punggung Maung.


"Maung... kamu bisa merasakan bau musuh meski dia sedang bersembunyi di dalam tanah?" tanya Darto.


"Asal dekat pasti bisa, Dar. Bau di sini benar-benar dipenuhi bau dari kawanan tawon di atas kita," jawab Maung tanpa menoleh, dia terus berlari dengan cepat untuk menjauh dari pertempuran.


"Cium saja di tempat yang aku tunjuk nanti, aku sudah curiga dengan beberapa tempat ketika membasmi sarang bersama Jaka tadi," sahut Darto kembali.


Maung langsung mengangguk, dia kembali menambah kecepatan larinya hingga semua kawanan yang mengejar tidak bisa lagi melihat dirinya.


Kawanan tawon yang kehilangan jejak tiga buruannya memilih untuk kembali, mereka merubah arah tujuan, menuju tempat yang terdengar paling gaduh, yaitu di mana Sastro, Jaka dan Komang sedang bertarung.


Maung tidak membuang kesempatan sama sekali, dia terus berlari menjauh, menuju arah yang Darto tunjukkan menggunakan telunjuk jari.


Darto, Maung dan Wajana benar-benar berhasil kala itu. Mereka lepas dari kepungan ribuan musuhnya, dan bisa bersembunyi di bawah akar pohon pinus yang membentuk sebuah rongga.


"Jadi kita mau kemana sekarang?" tanya Wajana.


"Tempat yang paling tinggi, dimana kita bisa melihat semua pertarungan," sahut Darto dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.


Setelah musuh dapat dipastikan tidak ada lagi di sekitar mereka, Maung kembali berlari sembari membawa Darto dan Wajana di atas punggungnya.

__ADS_1


Dia terus menanjak menuju tempat yang lebih tinggi, hingga akhirnya dia sampai di sebuah puncak bukit, yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat keberangkatan mereka.


"Coba disini, Maung," pinta Darto.


Maung langsung mengendus dengan langkah pelan, dia memastikan tidak melewatkan satu tempat pun, dari pemeriksaan yang tengah dia lakukan.


Setelah beberapa menit Maung berkeliling, dia hanya menggelengkan kepala sembari menatap dua sahabatnya.


Darto langsung meminta untuk membawa dirinya pergi, menuju satu bukit yang terletak cukup jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Maung kembali melesat, dia terus berpindah dari bukit ke bukit hingga akhirnya dia berhasil mencium satu aroma yang begitu menyengat di depan wajahnya.


"Ada sesuatu di sini, Dar," ucap Maung dengan tatapan tajam.


Darto bergegas turun dari punggung Maung, kemudian dia meminta Wajana untuk mengalirkan energi miliknya, menuju lubang yang menganga di bawah kakinya.


Wajana langsung melakukan permintaan tersebut, dia mengedarkan energi tidak berwana, menuju lubang dalam yang tampak begitu gelap di depan wajahnya.


Untuk sesaat tidak ada satupun kejadian janggal yang terjadi. Tidak ada jeritan, dan juga tidak ada suara gaduh meski energi Wajana sudah masuk secara sempurna.


Padahal saat itu Maung sudah berubah menjadi lingkaran energi hitam , untuk berjaga-jaga jika mendapat serangan kejutan.


"Energiku tidak bisa masuk lebih dalam lagi, Dar. Lubang ini sangat dalam," keluh Wajana.


Lubang yang mengarah ke dalam tanah itu tidak begitu besar, ukurannya tidak kecil, namun cukup sempit untuk dimasuki Darto dan dua temannya.


Tiga lelaki itu benar-benar membuat taruhan ketika memutuskan untuk masuk, mengingat mereka masuk dengan cara merangkak.


Darto memimpin jalan palin depan, Wajana setelahnya dan Maung menjadi urutan paling ujung belakang.


Mereka bertiga terus merangkak untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mereka sampai di tempat yang cukup luas, selayaknya sebuah goa di dalam tanah.


Untungnya tidak ada satupun musuh yang menyadari kehadiran mereka bertiga, energi yang Wajana sebarkan juga belum sampai ke tempat tersebut, menjadikan mereka belum terdeteksi sama sekali oleh lawannya.


Bayangkan saja jika musuh tahu tentang kedatangan mereka. Tiga pria yang sedang merangkak di dalam lubang sempit pasti mati tanpa sedikitpun bisa melakukan perlawanan.


Setelah semua pria turun dari lubang yang menganga di tengah dinding, mereka berjalan mengendap-endap, menuju sebuah cahaya dengan langkah yang mereka tekan sesenyap mungkin.


Dari kejauhan tampak satu sosok yang tengah duduk berbaring dengan santainya, dia melihat sebuah pertarungan yang sedang Jaka, Komang dan Sastro lakukan, dari lubang yang menganga di depan wajahnya.


Dia selayaknya tengah menyaksikan sebuah tontonan, yang digelar tepat di bawah lubang sarang, yang terletak di tengah tebing bebatuan.


Sosok itu diam tanpa suara, sembari sesekali mengibaskan sayap dengan kecepatan gila, ketika merasa terbawa oleh suasana pertarungan, yang tengah dirinya saksikan.

__ADS_1


Melihat musuhnya lengah, Darto berbisik kepada Maung dan Wajana, dia berpesan untuk menjaga musuh yang mungkin datang dari belakang, agar dirinya bisa memberi serangan kejutan kepada sosok di depannya.


Setelah Wajana dan Maung mengangguk, Darto langsung menoleh ke arah musuhnya, dia menciptakan dan melepas energi miliknya menuju ke arah musuhnya, hanya dalam waktu sepersekian detik saja.


Dentuman hebat kembali terjadi kala itu. Seluruh dinding goa seketika bergetar, lonjakan udara juga langsung tercipta, ketika Darto berhasil memberi serangan telak kepada tawon besar yang sedang asik mengamati pertarungan.


Sebelumnya serangan serupa bisa mengalahkan induk rayap yang pernah Darto lawan dengan sekali serang saja, namun kali ini mahluk yang tengah Darto lawan bisa bertahan setelah menerima satu serangan.


Tawon itu merintih kesakitan, beberapa tubuhnya tercabik, dan setengah sayap miliknya juga hancur tak tersisa.


Melihat lawannya belum mati, Darto melancarkan satu lagi serangan yang sama, dia memindahkan energi dengan kecepatan yang sangat gila, dan kembali mengenai tubuh musuhnya di tempat yang sama.


Tawon raksasa itu langsung menjerit begitu keras kala itu, kemudian tidak lama setelahnya suara gemuruh datang dari dalam goa.


Ribuan tawon bergaris merah memenuhi setiap sisi goa, dan berbondong Datang menuju arah di mana Darto tengah menyiksa pimpinan mereka.


Mendengar hal tersebut, Wajana dan Maung bergegas melesat menuju kerumunan tawon yang sedang mendekat, mereka menghabisi kawanan tersebut, dengan menciptakan dua lapis penghalang dari energi milik mereka.


Penghalang pertama adalah energi milik Maung yang menyebar memenuhi ruangan, dan Jika ada yang terlepas dari serangan Maung, mereka langsung mati setelah menghirup energi milik Wajana.


Sedangkan di tempat Darto berada, dia berhasil melumpuhkan tawon hingga tidak berkutik. Pemilik kamar tersebut sedang menggeliat di atas tanah, dengan sayap dan kaki yang sudah sepenuhnya terpisah dari tubuhnya.


"Kamu mahluk pertama yang bisa menahan seranganku," Darto tersenyum, "Bahkan bukan hanya sekali... Aku sampai butuh lima kali serangan hanya untuk membuatmu lemas begini," sambung Darto kembali.


"Kamu hebat, Manusia... Tapi jangan harap kamu bisa mengalahkan nomor satu dan dua," sahut Mahluk tersebut sembari merintih.


"Maaf... Sepertinya aku akan mengecewakanmu. Soalnya bukan cuma mereka berdua saja yang akan aku singkirkan," Darto terkekeh.


"Jangan bermimpi," ejek tawon, "Kamu bahkan bagai semut di hadapan belia... Urgh..." Sambungnya lagi, namun kalimatnya terhenti, ketika pedang energi yang begitu padat di tangan Darto, mampu merobek kulit dan berhasil menusuk hati miliknya.


"Aku datang sejauh ini bukan untuk mendengar ucapan darimu... Tunggu saja dua teman dan majikanmu dari sana, sebentar lagi mereka pasti menyusulmu," Darto menimpali ucapan musuhnya sembari mencabut pedang energinya.


Sosok itu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, tubuhnya terbujur kaku, kemudian menjadi debu secara perlahan-lahan.


Setelah pemimpinnya mati, gerakan dari ribuan anak buahnya mulai hilang kendali. Mereka menyerang secara membabi-buta, karena sudah tersulut emosi.


Lima teman Darto yang sudah melewati berbagai pertarungan, langsung bisa mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.


Mereka semua bisa menyingkirkan seluruh prajurit yang tersisa, bahkan hanya dalam waktu setengah jam saja.


Hari ini, kamar nomor tiga akhirnya berhasil dibersihkan oleh Darto dan kelima temannya.


Yang tersisa sudah tidak banyak lagi. Mereka hanya butuh dua langkah yang cukup lebar saja, sebelum akhirnya berjumpa dengan sosok yang menjadi tujuan utamanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2