
Pagi ini, Darto langsung pamit kepada Bu Yati dan Pak Riski setelah selesai menunaikan shalat subuh. Dia melanjutkan perjalanan kembali, menyibak hutan belantara selama berjam-jam dengan laju pelan.
Ketika sampai di kota yang dekat dengan kampungnya, Darto kembali beristirahat untuk sejenak menunaikan shalat Dzuhur di sana. Kemudian melanjutkan kembali laju mobil milik Kakungnya. Hingga akhirnya dia sampai di kampung kemoceng yang merupakan kampung halaman tempat dia terlahir.
Seperti terakhir kali, Darto memarkirkan mobil di depan langgar, kemudian melangsir barangnya bawaan secara manual menuju rumahnya. Sekali jalan dia sendiri, namun ketika kembali menuju mobil, dia sudah ditemani Anto yang hendak membantu memungut barang bawaan Darto.
"Taruh di situ saja, Tok, Makasih ya, ini buat beli rokok," ucap Darto sembari menyodorkan uang 5000 rupiah.
"Kamu kira saya semiskin itu, Dar? sampai bantu bawa barang saja mau di kasih upah!" tolak Anto sembari menepis tangan Darto. Dia merasa tidak senang dengan tingkah yang Darto tunjukkan.
"He he, kan bercanda, Tok. Gimana kabar Istrimu?" sambung Darto cengengesan, sembari mengantongi kembali uang di tangannya.
"Baik, Dar. Alhamdulillah Sri langsung hamil. Sebentar lagi kamu dipanggil paman," ucap Anto dengan wajah sumringah, matanya berbinar, senyumnya merekah memampangkan barisan gigi miliknya.
"Alhamdulillah.... Selamat ya, Tok, semoga semuanya di beri kelancaran sampai dia melahirkan," jawab Darto sembari turut memampangkan wajah gembira.
"Kalau kamu bisa, nanti temenin aku buka puasa di warung Pak Sapto ya, Tok," sambung Darto kembali.
"Pak Sapto sudah tutup, Dar. Sudah dua minggu dia tidak jualan," jelas Anto sembari memasang wajah serius.
"Kenapa kamu pasang wajah begitu, Tok? Ada yang aneh sehabis saya pergi?" tanya Darto sembari mengernyitkan dahi, setelah melihat gerak gerik Anto di depannya.
"Ada, Dar. Nanti kamu buka puasa di rumahku saja, kita langsung ke rumah Pak Sapto sehabis buka, biar dia cerita sendiri," jawab Anto kemudian berangsur melepas ekspresi tegang di wajahnya.
__ADS_1
"Oke, Tok, Ya sudah saya mau tidur dulu, itu ada bingkisan but kamu sama Sri, Maaf kalau tidak bisa bawa banyak, soalnya aku pulang juga dadakan," ucap Darto sembari menunjuk kantong plastik di depannya, dia sudah menyiapkan oleh-oleh untuk sahabatnya ketika beristirahat ditengah perjalanan.
"Makasih ya, Dar, ini aku bawa, ya? nanti kamu ke rumah saja habis Maghrib," ucap Anto kemudian meraih bingkisan dan meninggalkan Darto sendirian di rumahnya.
Setelah Anto pergi, Darto bergegas menunaikan shalat ashar dan berleha-leha di kamarnya, dia hanya melamun dan membaringkan badan lelahnya.
Waktu terus berlalu, tidak terasa kumandang adzan maghrib sudah terdengar. Darto bergegas menuju langgar setelah meneguk segelas air putih. Dia sedikit berlari karena takut tertinggal rakaat, hingga akhirnya dia sampai di langgar tepat waktu bersamaan dengan Komat.
"Ayo, Dar kita makan dulu di rumahku, Nanti sekalian kamu bawa nasi sama lauk buat sahur," ucap Anto seusai shalat maghrib, kemudian berjalan menyusuri gang kecil menuju rumahnya.
Setelah selesai makan. Mereka berdua melesat menyibak gang kecil kembali setelah selesai makan, dan akhirnya sampai juga pada tujuan mereka, yaitu rumah Pak Sapto.
"Assalamu'alaikum!" ucap Darto sembari mengetuk pintu kayu rumah pak Sapto.
"Sini Dek, masuk," ajak Pak Sapto kembali.
Menyanggupi ajakan Pak Sapto. Darto dan Anto langsung masuk ke rumah itu, kemudian duduk di ruang tamu dan disusul Pak Sapto yang Datang dengan membawa 3 gelas teh manis di atas nampan.
"Ini di minum dulu, Dar. Si Mbah sudah pulang juga? saya mau minta tolong sama dia," ucap Pak Sapto membuka pembicaraan.
Mendengar ucapan Pak Sapto, Darto dan Anto langsung saling menatap. kemudian Anto mengangguk, memberi isyarat kepada Darto untuk menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Si Mbah masih di pesantren Pak, sebenarnya kami kesini juga ingin memberi bantuan sama Pak Sapto. Bisa Bapak ceritakan detilnya Pak?" tanya Darto sembari memandang Pak sapto dengan tatapan lurus.
__ADS_1
"Aduh, emang kamu bisa, Dar? soalnya ini bukan urusan biasa," tanya Pak Sapto sedikit ragu. Wajar si, karena nama Darto belum kondang seperti nama Si Mbahnya di kampung kemoceng.
"Insya Allah, Pak. Si Mbah juga lagi ngasih tugas ke saya, makanya saya pulang," jawab Darto dengan tatapan yakin.
"Baik, Dar. Awalnya setiap malam ada yang ngetuk pintu rumah saya, tapi pas dibuka enggak ada siapa-siapa. Saya kira cuma orang iseng, tapi kejadian itu sudah terjadi tiap malam, Dar. Dan anehnya bukan cuma rumah Saya yang diketuk pintunya, hampir semua warga mengalami hal sama. Anto saja yang tidak percaya karena katanya dia tidak pernah diketuk rumahnya," ucapan Pak Sapto terhenti, wajahnya mulai menegang, dan untuk mengumpulkan rasa percayanya dia meneguk teh manis di depannya.
Darto sedikit paham dengan situasinya, dia benar-benar maklum jika rumah Anto adalah satu-satunya yang tidak diganggu. Karena ketika dirinya menikah kedua Kakek Darto memberi hadiah pernikahan berupa pagar tak kasat mata yang mengelilingi rumahnya.
"Terus, Pak?" tanya Darto penasaran, karena Pak Sapto berhenti melanjutkan ceritanya terlalu lama.
"Pak Amin, Dar. Dia pernah lihat siapa yang ngetuk pintu rumah warga. Dia bilang ada pocong merah kaya dulu lagi, dia ngetuk pintu pakai kepala yang hampir putus," ucap Pak Sapto sedikit berbisik, dia takut ucapannya membawa sial pada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan Pak Sapto, mata Darto seakan dipaksa Membulat, dia sedikit geram karena mungkin rencana yang Kakung siapkan bisa gagal, mengingat sudah ada tumbal baru yang buto ireng dapatkan.
"Nah, kalau Pak Sato sudah pernah lihat?" timpal Anto yang tidak percaya dengan ucapan Pak Sapto.
"Enggak si, Tok. Cuma dua minggu lalu pas aku jualan di warung, aku dengar suara minta tolong serem banget, persis kaya suara Lastri. Udah gitu, paginya pas aku mau buka, ada darah di kursi sama meja warung, Tok. Makanya aku enggak berani jualan sampai sekarang"
Darto sedikit paham dengan situasi yang Pak Sapto alami. Meski sejenak Darto merenung dan berpikir keras, akhirnya dia bisa mengambil kesimpulan dan menemukan jalan keluar yang ia butuhkan.
"Biar saya bantu Pak Sapto, mungkin malam ini akan tutun hujan angin, jadi saya Harap Bapak di rumah saja, jangan buka pintu kalau ada yang ketuk. Udah itu saja pesan saya, Pak," Ucap Darto sembari tersenyum.
Melihat senyuman dan mendengar ucapan dari Darto, Pak Sapto serta Anto mengernyitkan dahi mereka bersama, mereka sedikit bingung dengan pernyataan ambigu yang Darto berikan, Namun mereka juga tidak bisa membantah karena Darto terlihat sangat yakin dengan apa yang dia ucapakan.
__ADS_1
Bersambung,-