
"Sur, pocong tadi sudah pergi belum ya, Sur," tanya Bidin masih dengan wajah pucat sembari meneguk saliva susah payah.
"Enggak tau, Din. Ini Si Mbah pada kemana ya Din, masak enggak dengar kita teriak dari tadi," jawab Surip kemudian kembali bertanya.
"Mereka sudah pules kali Sur, Gus Darto juga belum kembali Sur, coba cek sekarang jam berapa Sur,"
Mendengar permintaan Bidin, Surip langsung menyalakan senter yang terus dia taruh di dekatnya. Kemudian mengarahkan cahaya ke arah jam bandul yang tergantung di tembok ruang tersebut.
Mereka berdua langsung di rundung rasa khawatir setelah menyaksikan jarum jam yang menunjukkan waktu tepat pukul 02.30 pagi. Mereka saling menatap untuk sesaat sebelum akhirnya menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggung mereka di tembok ruangan tersebut.
"Semoga Gus Darto enggak kenapa-kenapa ya, Din," ucap Surip sedikit memasang wajah gelisah.
"Iya Sur, amin," jawab Bidin singkat kemudian meraih sebatang rokok dari dalam bungkus yang dia keluarkan dari sakunya.
Melihat Bidin merokok, Surip langsung menyalakan lampu sentir didepan mereka, kemudian meraih bungkusan rokok Bidin dan ikut menyalakan sebatang rokok di sela jarinya.
Kedua pemuda itu terus menyandarkan punggungnya di tembok, sembari membawa sebatang rokok yang menyala di sela jari mereka, namun tidak sekalipun mereka hisap. Pandangan mereka tertuju ke atap rumah, namun pikiran mereka menerawang jauh membayangkan kejadian yang baru mereka alami.
"Din, itu suara apa Din," ucap Surip yang terbangun dari lamunan karena mendengar suara langkah kaki di depan rumah. Wajahnya langsung memucat, dia ketakutan karena suara langkah kaki benar-benar terdengar begitu lantang dan terus mendekat.
Bidin tidak menjawab, wajahnya juga ikut memucat. Wajar saja mereka baru mengalami hal buruk dalam hidup mereka.
"Assalamu'alaikum!" ucap Darto setelah membuka pintu dan mempersilahkan Mbah Turahmin serta Kakung yang tengah menggendong Harti masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
Melihat kedua Si Mbah masuk, Surip dan Bidin langsung terlepas dari suasana tegang, mereka kemudian berdiri dan membantu membawakan penerangan menuju tempat Si Mbah menurunkan Harti di atas dipan kamar Darto.
"Kamu dari mana saja Gus, sampai pagi baru pulang," ucap Surip.
"Iya Gus, kok bisa barengan sama Si Mbah dan Harti," timpal Bidin dengan wajah heran.
"Aku sama Harti di ganggu demit Sur, Din," jawab Darto singkat kemudian pergi mengganti baju yang basah di ruangan sebelahnya.
Setelah selesai berganti baju, Darto kembali ke kamarnya dengan sebotol minyak telon di tangannya. Darto terus menciumkan aroma minyak tersebut di depan hidung Harti, di temani kedua Kakek yang juga sudah selesai mengganti baju basahnya.
__ADS_1
Surip dan Bidin hanya terdiam, kembali merokok di ruang Depan, menunggu teman perempuannya bangun.Hingga terdengar sebuah teriakan dari tempat Harti berbaring, mereka berdua bergegas berlari menuju arah sumber suara.
"Huwaaa!"
Harti berteriak tepat setelah dia membuka matanya, bulir keringat mulai muncul dadi bawah pelipisnya, pandangannya terus menyapu seluruh ruangan kamar tersebut.
"Sudah Nduk, mereka sudah pergi," Ucap Kakung pelan, sembari mengelus kepala Harti yang sudah dalam posisi duduk di atas dipan.
Mendengar suara Kakung, wajah Harti berangsur memampangkan taut lega, dia sedikit kebingungan dengan pakaian yang dia kenakan, karena sudah basah kuyup dan sedikit berlumpur.
"Sudah sana, ganti baju dulu," ucap Kakung pelan kemudian mengajak semua lelaki meninggalkan Harti di kamarnya.
Setelah selesai mengganti pakaian, Harti bergegas menuju ruang depan yang sudah di penuhi asap rokok, karena lima lelaki yang dia kenal tengah merokok di ruangan yang sama.
"Uhuk!" Harti batuk karena menghirup asap yang terlalu banyak.
Mendengar suara batuk harti semua lelaki bergegas mematikan rokok mereka, dan membuka pintu serta jendela agar asap di ruang tersebut memudar.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama saya Mbah?" tanya Harti yang sudah duduk tepat di tengah Kakung dan Mbah Turahmin.
"Iya Nduk, memang kamu enggak rasa apa-apa?" timpal Kakung.
"Saya mimpi ketemu pocong banyak sekali, Mbah. Saya di bawa ke dalam rawa yang airnya hitam pekat. Saya takut Mbah," ucap Harti kembali memucat, rautnya mulai tampak gelisah.
"Pocong, Har?" tadi pas semua keluar, Aku sama Bidin juga didatangi pocong Har, hii!" timpal Surip memasuki obrolan.
"Iya bener, tapi untung kita enggak di apa-apain," Bidin membuka suara.
"Kalian juga di datangi?" tanya Darto penasaran.
Mendengar pertanyaan Darto, Bidin dan Surip langsung mengangguk.
"Untung kita berhasil usir pemimpinnya, jadi kalian berdua aman, Le," Ucap Kakung.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan itu, Darto menjelaskan kepada Harti, Bidin dan Surip tentang kejadian yang dia alami. Wajah mereka menegang ketika mendengar kejadian janggal yang Darto utarakan, kemudian berangsur memasang mimik lega ketika cerita Darto berakhir dengan kejadian yang baik untuk mereka semua.
"Sekarang, Buto Ireng mungkin terluka, Dar. Tapi kelak kalau kamu dia sudah pulih, dia pasti cari kamu lagi. Besok Si Mbah akan ajarkan kamu amalan yang sudah turun temurun di ajarkan oleh kakek kita, kamu tidak punya waktu banyak," ucap Mbah Turahmin sembari menatap tajam wajah Darto di depannya.
"Njih, Mbah," Jawab Darto singkat, dengan tatapan mata yakin.
"Besok Si Mbah ikut ke pesantren, lebih aman kamu di sana, maka Si Mbah akan mengajarkan semuanya selama kamu di sana," ucap Mbah Turahmin kembali.
"Kamu Ndak mau sekalian tinggal di sana saja, Min?" timpal Kakung.
"Makasih, Mat. Aku masih betah tinggal di sini," jawab Si Mbah sedikit mencari alasan.
Mendengar jawaban singkat dan wajah Si Mbah, Kakung hanya mengangguk pelan dan tidak memaksa Si Mbah untuk menuruti permintaanya.
Mereka kemudian membahas cerita lain hingga waktu tidak terasa sudah berlalu begitu saja. Sempat Darto pamit meninggalkan obrolan untuk memakan bakso yang masih dia bawa setelah pertarungan itu, dia sahur di temani Harti, Bidin dan Surip yang hanya makan baksonya saja dan tidak berniat berpuasa.
Setelah semua selesai mereka semua bergegas bersama pergi menuju langgar, karena waktu subuh sudah menyapa.
"Dar, kamu aman kan?" tanya Pak Sapto setelah selesai menunaikan salat subuh di teras langgar.
"Alhamdulillah ndak ada masalah Pak," jawab Darto sedikit menutupi, dia merasa lebih baik tidak menceritakan kejadian yang dia alami malam tadi.
"Alhamdulillah kalau begitu, Dar," jawab Pak Sapto singkat kemudian menyalakan rokok di sela jarinya.
"Kalau boleh tau, Pak Sapto lihat apa semalam?" selidik Darto, dalam hati ya dia benar-benar penasaran. Karena Pak Sapto bisa melibat namun dirinya tidak.
"Saya lihat mahluk hitam merangkak Dar, tangannya panjang, kepalanya botak. Tapi pas dia sadar aku lihat, dia langsung hilang begitu saja, mungkin pas kamu noleh dia sudah hilang, Dar, hii pokoknya amit-amit saya lihat begituan lagi, mulai besok saya mau buka warung sampai Maghrib saja," jawab Pak Sapto bergidik ketakutan.
"Owalah?! kalau masalah itu, sudah aman, Pak, sudah di urus Si Mbah semalam, Pak. Sudah aman kalau mau jualan sampai pagi," jawab Darto sembari tersenyum.
Mendengar jawaban Darto Pak sapto mengangguk sembari mengelus dada, menjabarkan isyarat merasa lega.
Setelah percakapan di sudahi, Darto Bidin Harti berjalan meninggalkan kedua Si Mbah di langgar, mereka masih khusuk berdoa. Ketika sampai di rumah, mereka bergegas mengemas semua barang mereka. Pagi ini, meskipun tubuh mereka lelah, perjalanan menuju pesantren tetap akan mereka lakukan.
__ADS_1
Bersambung.