ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HARUS TERBIASA


__ADS_3

Lima menit sebelum jaka berteriak.


"Gelap sekali, apa tidak ada yang tinggal di sini?" Gumam Jaka sembari terus melihat sekeliling. Dia terus memperhatikan setiap tempat yang tengah dia lewati, namun hanya kegelapan yang terpampang selama Jaka mengintip dari jendela mobil tersebut.


"Hah?! Apa barusan ada orang?" Gumam jaka kembali, dia menurunkan kaca jendela dan menyembulkan kepala miliknya keluar, dia memandang arah belakang, tempat dimana dia melihat seseorang berdiri sekian detik yang lalu.


Anehnya tidak apa-apa di sana, Jaka tetap tidak melihat sesuatu meski sudah lama menatap arah tersebut. Dengan penuh rasa heran, Jaka kembali menutup jendela mobilnya. Ketika kaca jendela sudah naik dan menutup sempurna, sekilas Jaka kembali melihat seseorang berdiri diam dan hanya di lewati saja oleh mobilnya. Kali ini cukup jelas, orang itu berdiri tepat di tepi jalan yang tengah dirinya lewati.


Bergegas Jaka kembali menurunkan jendela dilanjut mengeluarkan kepala miliknya, dia menatap tempat yang sudah dilewatinya tadi. Namun dia tetap tidak bisa melihat jelas bagian belakang mobil yang sudah ditelan oleh kegelapan. Penerangan satu-satunya hanya dua lampu utama mobil tersebut, hingga sisi belakang mobil benar-benar gelap, seakan kegelapan itu terus melahap semua tempat yang baru saja mereka lewati.


Jaka hanya mengernyitkan dahi, dalam pikirnya dia merasa heran kenapa bisa ada orang yang berdiri di tengah hutan malam-malam begini. Dia kembali menutup jendela kaca tersebut namun sesuatu tersangkut ketika kaca sudah hampir menutup sempurna.


Jaka memperhatikan benda itu cukup lama, dia sedikit bingung karena ada sejumput kain yang terjepit di atas kaca jendela. Tanpa pikir panjang Jaka menurunkan kembali kaca jendela itu, dan menarik sejumput kain tersebut tanpa mengunggu aba-aba.


Sedetik setelah Jaka menarik kain tersebut. Sebuah kepala yang terbungkus ikut tertarik dari atas mobil. Dia menyeringai menatap jaka dengan tatapan kosong, karena matanya memang tidak ada, hanya rongga mata saja yang tersisa di wajahnya. Yang Jaka tarik tidak lain adalah kafan yang membungkus kepala pocong yang tengah rebahan di atas mobil tersebut, jaka yang terkejut karena wajahnya sangat dekat dengan wajah busuk sosok itu spontan berteriak begitu lantang.


Darto yang mendengar teriakan Jaka langsung menginjak pedal rem dalam-dalam. Ketika mobil terhenti, Jaka melompat melewati cela kursi yang Daro dan Harti kenakan, dan langsung mendarat sempurna dengan posisi meringkuk di atas tubuh Darto yang tengah duduk di atas kursi kemudi.

__ADS_1


"Nyebut, Jak!" Teriak Darto mencoba menenangkan Jaka.


Jaka tersentak setelah mendengar Darto berteriak. Dia berangsur menghela nafas panjang, kemudian berkata "Astagfirullah... Kang... Ada yang ikut di atas mobil kita."


"Hah....!" Darto menghembuskan nafas panjang. Kemudian membuka pintu mobilnya dan menyuruh Jaka untuk mengikutinya.


Jaka tidak berani sama sekali untuk keluar dari dalam mobil itu, namun sejurus kemudian Darto berkata "Bisa saja hantunya ada di dalam mobil, Jak"


Mendengar ucapan Darto, Jaka langsung keluar dari pintu depan menyusul Darto secara tergesa, dia benar-benar tampak pucat karena melihat sosok pocong untuk pertama kalinya.


"Itu yang kamu takutkan, Jak?" Tanya Darto sembari mengacungkan jari ke wajah busuk sosok pocong yang tengah berdiri tegak di samping pohon. Pocong itu berpindah setelah Darto menghentikan laju mobilnya, dia melompat dan muncul di samping jalan, tepat di bawah pohon mahoni yang cukup besar.


"Kamu takut sama apanya? Lihat tuh, tangannya aja di tali. Memang dia bisa apa? Gigit?" Tanya Darto sembari sedikit tertawa. Dia sengaja tidak langsung mengusir pocong tersebut agar Jaka sedikit terbiasa, untuk bisa menerima suatu hal baru di dalam hidupnya.


"Kang!" Teriak Jaka ketika pocong itu memiringkan kepalanya. Dia terkejut hanya dengan sedikit gerakan yang dilakukan pocong tersebut. Jaka bahkan sampai melompat hingga posisinya menggantung seperti digendong di punggung Darto.


"Ha ha ha ha!" Darto benar-benar ikut terkejut setelah Jaka berteriak dan melompat ke badannya. Dia langsung terbahak karena Jaka berhasil mengagetkan dirinya hingga jantungnya hampir copot. Setelah cukup lama tertawa, Darto kembali berkata "Saya malah lebih kaget sama tingkah kamu, dibanding pocong itu,"

__ADS_1


Jaka tidak menggubris omongan Darto, dia terus menggantung di punggung Darto dengan tubuh gemetar. Melihat Jaka yang ketakutan, Darto bergegas menciptakan satu energi putih di tangannya, kemudian menjentikkan energi tersebut ke arah pocong yang masih setia berdiri di bawah pohon mahoni. Dan sedetik kemudian pocong itu langsung menggeliat di atas tanah, dengan tubuh yang hampir seutuhnya terbakar.


Mata Jaka langsung terbelalak, dia tidak melihat bagaimana Darto melakukannya. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang dirinya lihat, sampai dia terus mengucek mata untuk memastikan keaslian kejadian di depan matanya. Namun berapa kali pun Jaka mengerjap, dia masih melihat pocong itu menggeliat di atas tanah, dan akhirnya dia mencoba bertanya pada Darto "Kang.. Kenapa bisa pocong itu langsung terbakar?"


"Bukan cuma pocong, Jak. Nih.. Lihat," Darto berbicara sambil menciptakan 5 kelereng bercahaya di atas telapak tangannya. Sedetik kemudian lima kelereng itu hilang dari tempatnya, dan bertepatan dengan itu kobaran api langsung muncul dari lima tempat yang berbeda. Suara lima teriakan juga langsung terdengar. Suara mereka begitu memekakkan telinga, mengingat mereka berteriak di tempat yang sangat sepi.


"Apa itu, Kang?" Tanya Jaka sembari terus mengedarkan pandangannya menuju lima titik tempat di mana api berkobar.


"Bukan cuma pocong yang mengikuti kita dari tadi, Jak. Tapi sepertinya sudah habis," Jawab Darto sembari menyapu pandangannya. Dia menelisik setiap sudut gelap yang terpampang sejauh mata memandang.


"Apa Jaka juga bisa melakukan itu, Kang?" Ucap Jaka tiba-tiba dengan wajah terkagum-kagum. Dia benar-benar terkesima dengan apa yang baru saja Darto lakukan.


"Nanti ada waktunya, Jak. Sekarang kita lanjutkan perjalanan dulu," jawab Darto sembari menurunkan Jaka daro punggungnya. Kemudian merangkul leher Jaka, dan berjalan kembali menuju mobilnya.


Dua jam berlalu dari kejadian itu, akhirnya Darto berhasil menyibak hutan gelap yang begitu panjang. Kini dia tengah memarkirkan mobil di samping jalan, dan mencoba untuk sedikit mengistirahatkan matanya, karena dua kelopak mata miliknya sudah benar-benar terasa berat.


Jaka sudah terlelap terlebih dahulu. Harti juga sama, dia bahkan sudah kembali tertidur ketika tadi Jaka dan Darto tengah mengusir pocong. Darto yang melihat Harti dan Jaka yang tertidur pulas, dia hanya bisa tersenyum, sembari terus memperhatikan wajah mereka berdua secara bergantian.

__ADS_1


Dalam hati Darto, dia merasa senang bisa mendapat seorang Istri yang begitu cantik dan baik, ditambah lagi dia bertemu dengan Jaka. Darto tidak bisa memungkiri, saat ini dirinya merasa punya tanggung jawab baru pada Jaka. Sebuah tanggung jawab yang biasa dimiliki oleh seseorang yang lebih tua, yang biasa dipanggil dengan julukan Kakak.


Bersambung,-


__ADS_2