ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KAMPUNG KEMOCHENG


__ADS_3

Mobil terus melaju, kini mereka sudah berada tepat di bawah gardu selamat datang di kampung kelahiran Darto. Sesekali Darto meneteskan air dari kantung matanya, tatkala dia melihat dua orang yang menyambutnya dari bawah gardu.


Tampak Dining dan Satya yang berdiri di bawah gardu, tengah melambaikan tangan mereka ke arah mobil yang Darto tumpangi. Wajah dan tubuh mereka masih sama seperti ketika mereka meninggal, masih layaknya gadis dan lelaki yang berusia lima belas tahun.


Semua teman Darto hanya mengejek, melihat Darto yang tiba-tiba tersedu di jok belakang itu. Mereka mengira Darto menangis karena terlalu lama meninggalkan kampungnya, padahal dia menangisi Qorin dari kedua sahabatnya itu. Qorin yang tidak bisa meniru wujud dewasa kedua temannya, karena tubuh yang mereka ikuti sudah tiada.


"Sudah, Dar. Ikhlaskan mereka. Yang kamu lihat sekarang hanya Qorin dari mereka dulu. Mereka sudah bahagia di sana, dosa mereka juga akan ditanggung oleh orang biadab yang mencelakakan mereka. Yang jelas, sudah pasti mereka dapat jaminan Surga," ucap Kakung tanpa melihat ke arah Darto. Ucapannya berhasil membungkam teman Darto yang terus mengejek, mereka kini terdiam menelaah arti dari ucapan Kakung yang sedang menyetir. Dan seketika itu juga mereka tau dari maksud perkataan tersebut.


"Njih Kung. Darto sudah ikhlas, Darto hanya kasihan jika mengingat nasib mereka. Karena bagaimanapun mereka itu dua teman terbaik di masa kecil Darto, Kung," ucap Darto sendu, kemudian buru-buru dia mengusap air mata di pipinya, dan bergegas membalas lambaian tangan dari kedua sahabatnya dengan mengintip dari jendela. Rasa haru, rindu, duka dan bahagia berpadu di dalam dada Darto kala itu. Dalam pilunya, Darto benar-benar berharap bisa bertemu dan berkumpul lagi setelah dirinya mati.


"Yang sabar ya Gus," timpal Surip yang duduk di sampingnya sembari mengusap punggung sahabatnya itu.


Darto menoleh ke arah wajah tiga sahabat di dalam mobil itu, kemudian bersandar di kursi dan tersenyum dengan pikiran menerawang jauh kepada temannya yang hendak menikah.


"Setidaknya aku masih punya kalian sekarang," ucap Darto lirih namun masih bisa di dengar oleh ketiga temannya itu. Dengan senyum merekah di bibir, mereka terus melaju menyibak jalanan bebatuan dan gang sempit di kampung tersebut.


Kini mereka sudah sampai di halaman langgar tempat biasa Darto beribadah dulu. Karena tanahnya lapang, Kakung memutuskan untuk memarkirkan mobilnya disitu. Dan setelah mobil terparkir sempurna, mereka bergegas berjalan kaki membelah jalan persawahan menuju rumah yang sangat Darto rindukan. semuanya membawa tas besar di tangan mereka, bahkan Darto membawa 2 tas besar yang dia pikul. Satu miliknya dan satu lagi milik Harti. Darto tidak tega melihat calon istrinya menenteng dua tas besar di tangannya, dan jiwa sok pahlawannya seketika lahir di dadanya.


"Assalamualaikum!" teriak Darto sembari membuka pintu rumahnya. Teriakan Darto berhasil membuyarkan lamunan Mbah Turahmin diruang depan rumah tersebut.

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" jawab Simbah Turahmin kemudian bergegas berdiri dari duduknya, kemudian menyambut semua orang yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Waduh?! Cucuku sudah ganteng sekali! sekarang sudah tidak kalah lagi gantengnya sama Simbah!" ucap Mbah Turahmin sembari menyahut tangan yang Darto ulurkan. Setelah Darto mencium punggung tangannya, Simbah menarik tangan Darto kencang-kencang, hingga bertemu kedua dada lelaki itu. Kini Darto kembali meneteskan air matanya, tatkala Simbah memeluk dirinya sembari mengelus lembut rambutnya.


"Simbah sehat kan? Darto kangen banget sama Simbah," ucapnya dengan wajah yang dia benamkan di bahu Simbah Turahmin.


"Alhamdulillah, Le. Kamu juga sehat kan? bagaimana belajarmu? Eh nanti saja kita ngobrolnya, itu disuruh masuk dulu tamunya," ucap Simbah kemudian melepas pelukannya dan bergegas mempersilahkan semuanya masuk.


Semua teman Darto bergantian mencium punggung tangan Simbah Turahmin sebelum masuk ke dalam rumah tersebut, diakhiri dengan pelukan Simbah Turahmin dan Kakung yang menutup penyambutan tersebut. Kini mereka susah duduk memutar di ruang tamu kediaman Darto.


"Gimana, Min? semuanya baik-baik saja kan?" tanya Kakung sembari meraih teh yang sudah Darto suguhkan.


"Alhamdulillah aman, Mat. Ini ada apa sampai ramai-ramai kesini?" tanya Simbah kemudian melihat wajah ketiga teman Darto dengan seksama.


"Owalah, si Anto ya Mat. Berarti kalian cuma mau kondangan, sekalian jalan-jalan ini?" tanya Simbah, kemudian meraih gelas di depannya.


"Yo iya dong, kasihan mereka di pesantren terus. Dan aku sekalian mau ngenalin kamu sama calon Darto Min, ini lho Min, cantik kan Min?" ucap Kakung dengan jari telunjuk mengarah kepada Harti.


"Ha ha ha, kamu beneran mau sama cucu saya Ndok?" ucap kakung terkekeh, melihat kehebatan cucunya dalam memilih calon istri.

__ADS_1


Tidak mampu menjawab, Harti hanya menunduk. Dirinya benar-benar malu, pipinya memerah bahkan telinganya sampai terasa terbakar.


"Bukan cuma cantik, Min! dia sudah jadi hafizah dari umur 12 tahun," Kakung memamerkan kelebihan calon Istri Darto di depan Simbahnya.


"Wah benar-benar harta karun ya Mat, ha ha ha!" Kembali simbah turahmin terkekeh, bahkan sempat terbatuk kemudian bergegas meraih gelas di depannya kembali.


"Semoga lancar ya Min, Darto minta nikahnya taun depan, pas dia selesai ikhtiar puasa," Jawab kakung sembari mencomot gorengan yang baru saja Darto sajikan. Sedari tadi Darto tidak masuk dalam obrolan tersebut, karena dia mencari gorengan di dekat langgar.


"Kamu beruntung, Dar! dapat calon kaya gini! namanya siapa, Nduk?" Tanya Simbah Turahmin kepada gadis di sebelahnya.


"Kulo Harti Mbah," (kulo \= saya) Jawab harti singkat, dilanjut menunduk. Warna merah merona di pipinya tidak kunjung hilang, karena rasa malu yang dia rasakan terus saja bertambah.


"Sudah dong, Mbah. Harti nanti pingsan di sini kalau diledek terus," ketus Darto berhasil membuat kedua simbahnya terbahak bersama-sama.


"Mbah.. Darto sudah dapat restu dari Kakung dan orang tua Harti. Sekarang Darto mau minta restu dari Simbah, Darto boleh kan mbah kalau nikah Sama Harti?" suasana kembali hening. Surip dan Bidin memasang raut tegang di wajah mereka, sedangkan Harti masih tetap terus menunduk.


"Karena kamu yang menikah, Simbah cuma punya tugas ngasih restu, Dar. Untuk pilihan dan waktu kamu bisa pilah-pilah sendiri, kamu kan sudah besar Dar. Siapapun pilihan kamu, dia juga yang dapat Restu Simbah," Ucap Simbah sembari meraih kepala cucunya, dan kembali mengelus pelan rambutnya.


Surip dan Bidin merasa iri sekali kepada Darto di depannya, mereka sesekali saling menonjok pelan lengan satu sama lain, mereka benar-benar ikut merasakan rasa malu dan tegang yang di rasakan Harti, padahal mereka hanya menonton saja. Sedang Harti masih terus menunduk dalam rasa bahagia dan malu yang tercampur rata, hingga tanpa sadar dia meneteskan air mata haru dari matanya.

__ADS_1


Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi Harti. Karena dia merasa di terima dengan tangan terbuka di dalam lingkup keluarga calon suaminya. Kini mereka berdua hanya tinggal menunggu hari bahagia yang akan mereka langsungkan di kemudian hari.


Bersambung,-


__ADS_2