ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TIDAK DIDUGA


__ADS_3

"Jaka ... Maung ... Komang ... terimakasih untuk bantuan kalian semua," ucap Darto terengah-engah, dia mendongak untuk berusaha melihat langit, namun yang tertangkap oleh matanya hanya ada warna gelap, setelah tenaganya benar-benar terkuras habis.


"Mari kita jumpa lagi di kehidupan selanjutnya, Kang," jawab Jaka sembari menghembuskan nafas secara paksa. Dia juga sudah kesusahan bernafas karena begitu kelelahan.


"Maafkan aku, Dar ... aku belum bisa menjadi bantuan yang layak untukmu dan Jaka," sahut Komang sembari tergeletak di atas tanah.


"Setidaknya aku sudah memberikan yang terbaik, semoga kita berkumpul lagi setelah mati," sambung Maung yang juga ikut ambrug di sebelah Komang.


"Jaka ... kamu masih di situ?" tanya Darto sembari mencoba meraba. Dia benar-benar selayaknya orang buta, karena sudah memaksakan membuang tenaga segila itu.


Saat itu pertanyaan Darto benar-benar tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya. Jaka sudah tergeletak tepat di samping Komang, dengan tubuh terkulai lemas dalam posisi tengkurap.


Setelah tangan Darto mendapati tubuh Jaka yang sudah tergeletak di atas tanah. Dia berangsur mendongak dan berusaha memulihkan penglihatannya. Namun semua daya yang ia lakukan benar-benar tidak membuahkan hasil, dan justru kesadarannya berangsur pergi meninggalkan raga miliknya dibarengi bulir bening yang mulai mengucur dari sudut matanya.


Tubuhnya sudah terasa kebas, mulutnya sudah tidak bisa digerakkan lagi, hanya indera pendengaran Darto saja yang masih berfungsi seperti selayaknya.


Merasa dirinya juga sudah tidak memiliki tenaga lagi, Darto berangsur melafal syahadat dengan tenaga yang tersisa, sebelum akhirnya tubuh miliknya juga ambruk tepat di atas Jaka.


Satu persatu dari empat sekawan benar-benar tumbang kala itu. Mereka bahkan sudah tidak memiliki tenaga, meski hanya untuk menggerakkan jemari di tangan mereka.


Hampir dalam waktu bersamaan Darto dan tiga temannya pingsan di tengah sergapan musuh, mereka kehilangan kesadaran tepat di tengah lautan musuh berwarna hitam yang masih terus saling berebut untuk mendekat.


Semua musuh semakin beringas melihat empat lawannya sudah tergeletak di atas tanah. Mereka menyeringai dengan maksud membunuh yang sangat kentara, dengan langkah kaki lebar yang mereka ayun untuk bergegas mendekat secara tergesa ke arah empat musuhnya.


Ketika musuh yang terdekat dengan Darto dan Jaka sudah berada tepat di samping tubuh mereka, suara jeritan demi jeritan yang begitu memekik kembali menggema. Ratusan musuh yang sempat Darto dan ketiga temannya lawan kembali mendapat serangan, dari sekumpulan orang yang tengah mendekat ke arah mereka.


Suara teriakan demi teriakan terus memecah dari arah samping, dentuman demi dentuman juga terdengar terus mendekat ke arah tubuh Darto dan tiga temannya tergeletak.

__ADS_1


Suara bentrok tersebut terus merambat hingga satu ketika satu dentuman yang sangat besar kembali terdengar. Dari benturan energi tersebut tubuh Darto dan tiga temannya benar-benar terhempas ke udara, namun untungnya mereka semua berhasil mendarat tanpa sedikit pun cidera.


"Alhamdulillah ... mereka masih hidup, Sas," ucap Wajana setelah memegang urat nadi Darto dan tiga temannya secara bergantian.


"Kita bawa pergi dulu mereka," sahut Sastro sembari mencoba membopong Darto, "Kalian tolong bawa dua orang yang tengah terbaring itu," sambung Sastro sembari menunjuk Maung dan Komang. Dia berbicara kepada dua lelaki yang datang bersama dirinya dan juga Wajana.


Setelah mendengar permintaan Sastro, mereka semua membopong empat pria yang tergeletak untuk menjauh dari kampung tersebut. Mereka membawa Darto dan tiga temannya sembari berlari sekuat tenaga, dengan musuh yang terus mengejar di belakangnya.


Untuk sesaat kejaran itu berlangsung cukup sengit, namun ketika mereka keluar dari perkampungan tulang di mana Darto dan tiga temannya berkelahi, semua musuh mendadak berhenti. Mereka seperti menabrak sebuah pembatas berupa tembok transparan, ketika mereka mencoba untuk mengejar hingga keluar wilayah mereka.


"Sudah aman, Sastro!" teriak Wajana setelah memastikan tidak ada lagi musuh di belakangnya.


"Kita istirahat saja di sini," sahut Sastro sembari menghentikan langkahnya.


Melihat Sastro dan Wajana berhenti, dua lelaki yang menggendong Maung dan Komang juga ikut menghentikan langkah kaki mereka. Semuanya berhenti di titik yang sama, di bawah pohon yang sangat besar dengan sebuah batang dan daun yang sepenuhnya berwarna merah.


"Terimakasih ... taruh saja mereka di bawah," ucap sastro kepada dua lelaki yang sempat membopong Maung dan Komang.


Sastro dan Wajana mengurus Darto dan tiga temannya dengan begitu sabar. Mereka menunggu setelah cukup memberikan pijatan di kaki Darto dan Jaka, dengan perasaan yang begitu khawatir yang terpampang di wajah mereka.a


"Mereka kenapa sebenarnya?" tanya Wajana sedikit khawatir.


"Sudah pasti mereka kelelahan. Kamu lihat sendiri seberapa banyak musuh yang mereka hadapi tadi, kan?" sahut Sastro sembari menatap wajah Darto dan tiga temannya dengan tatapan iba. Dia merasa kasihan mengingat temannya terus berjuang meski hanya berempat, untuk melawan ribuan atau bahkan ratusan ribu musuh secara bersamaan.


"Kalau mereka bangun, kita bawa mereka pulang atau bagaimana?" sambung Wajana sedikit bimbang.


"Biar Darto yang memutuskan, Jan, kita nurut saja. Lagian kita juga tidak sendiri, mereka mungkin bisa menyusul kita hari ini," jawab Sastro sembari menghembuskan nafas panjang. Dia berangsur bersandar pada pohon di belakangnya, kemudian menatap ke empat pria di depannya lagi.

__ADS_1


Sesaat setelah Sastro menyandarkan pundak miliknya, mata Darto perlahan berkedut. Jari jemari di tangannya mulai bergerak, sebelum akhirnya Darto membuka mata secara perlahan di depan Sastro dan Wajana.


Sastro dan Wajana begitu tergesa ketika melihat Darto bergerak. Mereka buru-buru mendekat, kemudian membantu Darto untuk duduk bersandar pada batang pohon di belakangnya.


"Sastro? Wajana? Itu benar kalian?" tanya Darto setelah cukup lama mengerjap mata. Dia merasa bingung dengan kehadiran dua sahabat yang sangat dirinya harapkan sebelumnya.


"Iya, Dar. Ini kami," sahut Sastro.


"Kumpulkan dulu kesadaran kamu, Dar. Di sini kita aman," timpal Wajana.


Mendengar jawaban itu, Darto langsung memampangkan sebuah senyuman yang mengambang di bibirnya. Dia merasa sangat lega karena dia belum mati, meski tubuhnya sempat tergeletak di tengah lautan musuh yang tengah membanjirinya.


Setelah kesadarannya cukup terkumpul, Darto kembali menarik nafas dalam-dalam dan membenarkan posisi duduknya. Dia tidak bersandar lagi, melainkan duduk bersila.


Untuk sesaat Darto tidak bergeming, dia memejamkan mata sembari merapal doa demi doa yang sudah dirinya hafal. Kemudian fokus untuk memulihkan tenaga yang sudah terbuang, dengan bantuan energi putih yang terus berpendar menyelimuti tubuhnya.


Setelah cukup lama Darto bermeditasi, dia kembali membuka kedua matanya, kemudian bertanya pada dua temannya, "Bagaimana kalian bisa tahu jika aku di sini?"


"Nanti saja aku jelaskan, sekarang kamu makan dulu ini. Ini makanan yang dititipkan oleh Dava dan Harti. Mereka menunggu kepulangan kamu, Dar," jawab Sastro sembari menyodorkan satu buntalan kain sarung.


Darto langsung tersenyum setelah melihat buntalan kain yang Sastro sodorkan, dia merasa senang karena bisa memakan masakan Harti, yang sudah cukup dirinya rindukan selama berhari-hari.


Hari itu, setelah Darto membuka bungkusan yang Sastro berikan, satu persatu temannya bangun secara bergantian. Mereka langsung mengumpulkan energi seperti yang Darto lakukan, sebelum akhirnya menyambar masakan yang Sastro berikan.


Hari ini, petualangan Darto dan Jaka harus berhenti untuk sejenak. Mereka menunggu sesuatu yang sudah Sastro dan Wajana jabarkan, dengan perasaan lega yang bersarang mantap di dalam hati mereka semua.


Bersambung .....

__ADS_1


...maaf ya, Kang dan Mbakyu, tiga hari nggak di rumah, saking sibuknya sampe pulang aja nggak sempat...


...maaf sudah bikin kalian nunggu 🥺...


__ADS_2