
Seminggu sudah berlalu, Darto dan kedua simbahnya harus mengurungkan rencana mereka, karena Kakung tengah terbujur di atas dipan miliknya. Tubuhnya kurang sehat, mungkin terlalu lelah mempersiapkan rencana selama seminggu, hingga akhirnya dia jatuh sakit.
"Maaf ya, Dar. Gara-gara Kakung semuanya jadi batal," ucap Kakung sembari melihat Darto yang tengah duduk dan memijit kaki Kakung di atas dipan.
"Ndak papa, Kung. Kakung istirahat saja dulu, kalau memang rencananya gagal, kita bisa buat rencana baru," ucap Darto tanpa memandang wajah Kakung, dia terus memijit kaki Kakung yang sudah mulai susut dan mengecil karena terus dilahap usia.
Setelah cukup lama Darto singgah di kamar Kakung, Dia bergegas pergi meninggalkan Kakung sendirian di kamarnya, dia pergi menemui Si Mbah Turahmin yang sedari tadi tengah melamun di ruang tengah.
"Mbah, bagaimana kalau aku pulang sendirian?" ucap Darto memecah lamunan Si Mbah.
''Bikin kaget saja kamu, Dar!" ketus Si Mbah sungut-sungut, dia benar-benar kaget setelah Darto tiba-tiba sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Si Mbah si melamun terus, cewek mana Mbah yang lagi di pikirin?" canda Darto yang berhasil membuat Si Mbah di depannya mendengus mengangkat satu sudut bibirnya.
"Kamu ini, ngeledek terus sama orang tua, kualat baru tau rasa, ha ha ha ha!" Mbah turahmin terbahak setelah sedikit mengumpat lalu kembali bertanya tentang ucapan Darto yang semula sudah dia ucapkan. "Tadi kamu ngomong apa?''
"Bagaimana kalau Darto sendiri yang pulang ke kampung, Mbah?" ucap Darto sedikit bimbang, dia sadar betapa sayang kedua Kakek miliknya, dan dia sadar pasti tidak akan mendapat persetujuan dari mereka.
"Boleh saja si, tapi kamu mau jalan?" ucap Mbah Turahmin sembari mengernyitkan dahi di wajah keriputnya.
__ADS_1
"Ajari Darto naik mobil, Mbah!" jawab Darto sembari memasang wajah sumringah, dia benar-benar tidak percaya Si Mbah turahmin memberikan izin untuknya pulang sendiri.
"Ayo, mumpung lagi senggang ini," jawab Mbah Turahmin kemudian bergegas menuju kamar Kakung.
Setelah meninggalkan Darto sendirian di ruang tengah. Si Mbah keluar dari kamar Kakung, dengan membawa kunci garasi dan juga kunci mobil di tangannya, mereka berdua pun kembali berjalan menuju garasi yang terletak tepat di samping rumah Kakung, kemudian pergi ke lapangan yang tidak jauh dari pesantren.
"Setidaknya seminggu, Dar. Kamu baru saya ijinkan bawa mobil sendiri," ucap Si Mbah sembari memberikan kursi kemudi setelah sampai di lapangan.
Mendengar ucapan Si Mbah, Darto mengangguk, kemudian duduk di kursi kemudi dengan Si Mbah yang duduk di sebelahnya. Satu persatu Simbah menjelaskan fungsi benda yang terletak dekat dengan Darto, dilanjut dengan menjelaskan cara menggunakan gigi dan juga tiga pedal di depan kaki Darto.
"Coba sekarang nyalakan, Dar. Kita jalan pelan dulu buat latihan pindah gigi," Ucap Mbah Turahmin singkat sembari melihat cucunya yang tengah fokus menghafal seluruh benda yang terletak di depan wajahnya.
"Nyalainnya gimana, Mbah?" tanya Darto bingung, dia belum pernah menyalakan mobil sama sekali semasa hidupnya.
Setelah cukup menggerutu tentang sifat Si Mbahnya, Darto langsung menyalakan mobilnya, kemudian melatih tangan dan kakinya agar terbiasa dengan cara mengemudi. Tanpa sadar Darto dan Si Mbahnya menjadi tontonan penduduk yang tinggal di dekat lapangan. Wajar si, pada masa itu, orang yang punya mobil masih bisa dihitung dengan jari, jadi menurut mereka itu sebuah tontonan yang langka.
"Memang pinter kamu, Dar. mumpung masih siang kita langsung belajar di jalan saja, cepetan kamu arahkan kemudi ke jalan," ucap Si Mbah sedikit terkejut dengan Darto yang langsung paham dengan cara mengemudi.
Mendengar perintah Si Mbah, Darto langsung mengangguk dengan bibir mengambang, dia merasa senang karena bisa melakukan hal baru di dalam hidupnya hari ini, dan akhirnya dia mengarahkan laju mobil tersebut ke arah jalan.
__ADS_1
Setelah berhasil masuk ke jalan besar, mereka memutuskan untuk pulang ke pesantren. Meskipun masih kagok, Darto berhasil mengendarai mobil milik Kakung hingga sampai di pesantren. Bahkan Darto berhasil memasukkan mobil ke dalam garasi secara sempurna dengan posisi mundur, hingga Si Mbah terkejut dibuatnya.
"Besok kita ke pasar, tapi kamu yang setir ya, Dar," ucap Si Mbah kemudian menutup pintu mobil dari luar.
Menanggapi Si Mbah ,Darto hanya mengangguk kemudian ikut keluar dari kursi kemudian bergegas menutup garasi. Setelah selesai, Darto bergegas menyusul Si Mbah yang sudah meninggalkan dia terlebih dahulu ketika Darto tengah mengunci garasi. Dia sedikit berlari dengan senyum yang terus mengambang di bibirnya.
Singkat cerita seminggu sudah berlalu kembali, Darto sudah mahir mengendarai mobil milik Kakung. Sayangnya meski sudah seminggu Kakung justru semakin melemah, hingga dia di bawa ke rumah sakit. Jadi mau bagaimanapun Darto tetap harus berangkat ke kampung halamannya, tanpa di temani kedua Kakeknya.
"Gus, Aku ikut kalau boleh," ucap Bidin yang tengah makan bersama Darto di dalam warung Pak ndut.
Malam itu Surip dan Bidin menemani Darto berbuka puasa di warung langganannya, mereka makan bersama karena mendengar besok Darto hendak pulang ke kampung halamannya.
"Maaf Din, aku benar-benar tidak bisa mengajak kalian maupun Harti, takut nanti kalian kenapa-kenapa," ucap Darto sembari menunduk.
"Yasudah, Gus. Kami mendoakan keberhasilan kamu nantinya, semoga kamu bisa melakukan tugasmu dengan lancar," ucap Surip sedikit lega, dia sudah memucat mengingat perjalanan panjang yang terus membuatnya mual. Dalam hatinya dia bersyukur karena tidak diajak untuk menemani Darto.
"Saya titip Si Mbah sama Kakung ya Sur, Din. Kalian kan juga sudah di anggap cucu mereka, Kasihan kalau Harti sendirian di rumah sakit buat jaga Kakung," ucap Darto sedikit bersalah, dia merasa sedih mengingat harus tetap pergi meski Kakung sedang sakit.
Setelah kedua temannya menyanggupi, Darto tampak sedikit lega. Kemudian mengajak mereka kembali ke pesantren untuk melakukan shalat jamaah isya di masjid. Setelah shalat selesai di tunaikan mereka kembali berpisah, menuju rumah masing-masing.
__ADS_1
Malam itu Darto benar-benar sibuk di rumahnya. Dia mengemasi barang yang sudah dia siapkan sedari pagi, baik bekal maupun perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan perjalanan besok. Hingga akhirnya semua dirasa cukup, Darto merebahkan tubuhnya di atas dipan kamarnya. Rumah sungguh terasa sepi tanpa kehadiran Kakung, Si Mbah juga tengah menemani Kakung di rumah sakit. Darto benar-benar sendirian di rumah besar malam itu. Dalam sepi dia terus berusaha, hingga akhirnya dia berhasil terlelap, tertidur dengan begitu pulas, meski hatinya tengah dirundung rasa kalut dan gelisah yang tak kunjung mereda.
Bersambung,-