ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

"Bagaimana ini, Dar? Apa kita cari dulu jalan sembari memutar?" tanya Maung sembari menatap bingung pada Jaka dan Darto yang masih terus berusaha menahan rasa mual di dalam perut mereka.


"Kamu saja yang berputar dulu, Maung... Biar Darto dan Jaka istirahat sebentar di sini," sahut Sastro yang kini tengah duduk di samping Darto.


Mendengar usulan Sastro, Maung dan Komang langsung berubah wujud menjadi harimau kembali, mereka melakukan hal yang sama seperti di kamar nomor tujuh, yaitu mengitari tempat aneh yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.


Butuh waktu cukup lama untuk Maung dan Komang kembali, ketika mereka kembali, Darto dan Jaka sudah sepenuhnya pulih dari rasa mual yang melanda mereka berdua. Wajahnya sudah berangsur menguning, tidak lagi terpampang kulit pucat seperti yang sebelumnya.


"Ada jalan?" tanya Darto penasaran.


Maung dan Komang langsung menggelengkan kepala setelah mendengarkan pertanyaan Darto, mereka sama sekali tidak menemui jalan setapak, karena semak belukar sungguh memenuhi tempat di berbagai sisi dan membungkus rapat kedua pohon besar tersebut.


Setelah melihat Maung dan Komang menggeleng, Darto langsung berkata, "Mari kita paksa saja... Nanti aku sama Jaka merem sampai sana."


Setelah sepakat, Darto dan juga Jaka kembali naik ke punggung Maung dan Komang. Mereka berdua langsung menghirup nafas dengan rakus, kemudian menahan nafas di dalam dada sembari memejamkan kedua mata mereka.


Melihat Darto dan Jaka sudah siap, Maung dan Komang kembali berlari. Mereka melesat sembari terus melompat, agar tidak terlalu banyak menginjak mayat yang menumpuk di bawah mereka.


Tidak hanya sekali saja Komang maupun Maung bergidik, karena tidak hanya satu saja jasad yang langsung remuk maupun dagingnya hancur berserak setelah dijadikan pijakan oleh mereka berdua.


Benar-benar satu pemandangan yang mengerikan, tumpukan mayat kian meninggi semakin mereka mendekati dua pohon yang sangat besar itu.


Untungnya Maung dan Komang berhasil melewati tempat tersebut, ditambah tempat tujuan mereka juga bersih dari tumpukan tubuh busuk seperti yang ada di belakangnya.


Setelah Maung dan Komang sampai di bawah akar dari pohon yang sudah terlihat besar dari jauh, mereka menurunkan semua temannya di tempat yang tidak memiliki mayat sama sekali.


Darto dan Jaka langsung membuang nafas dengan tergesa, kemudian kembali menghirup udara serakus yang mereka bisa.


Setelah Darto dan Jaka siap, mereka menoleh ke arah yang sama dan langsung berjalan ke arah celah yang tercipta diantara dua pohon tersebut.


Akar yang mencuat keluar dari tanah benar-benar memiliki ukuran diluar nalar, setiap lekukan dari akar tersebut benar-benar menyatu hingga berbentuk setengah lingkaran. Dan terlihat bagai sebuah gerbang yang tiap ujungnya tertanam ke dalam tanah.


Enam pria itu masuk tanpa ragu-ragu, mereka kembali membulatkan mata setelah melewati gerbang yang terbuat dari akar pohon raksasa tersebut.


Darto dan lima temannya muncul di atas tebing yang dibawahnya berdiri sebuah pemukiman.

__ADS_1


Puluhan rumah-rumah dengan tembok anyaman bambu berbaris rapi, dan juga terlihat banyak sekali penduduk yang sedang berlalu-lalang.


"Desa manusia?" Maung membuka suara ketika lima temannya sedang tercengang.


"Entahlah... Mari kita cari tahu terlebih dahulu," ucap Darto kemudian memimpin jalan untuk menuruni tebing bebatuan tersebut.


Sempat Darto menoleh ke belakang. Tempat dimana dirinya muncul benar-benar terlihat sama. Di sana ada dua pohon kapuk yang berdiri, hanya saja ukurannya tidak sebesar dua pohon di dalam kamar nomor enam.


Setelah mengingat jalan masuknya, Darto berlari menuju kerumunan manusia yang sudah cukup dekat dengan dirinya. Dia mendekat dengan tergesa, namun kembali terdiam ketika sampai di tempat tujuannya.


"Mereka bukan manusia," gumam Darto pelan setelah memastikan seluruh penduduk di depan matanya.


Mendengar gumaman Darto, lima temannya yang tertinggal di belakang juga langsung memasang ekspresi yang sama. Mereka terheran, dengan ratusan mahluk yang mirip seperti manusia di depan wajah mereka.


Semuanya tampak biasa saja sebelumnya, mereka tampak saling berbincang dan juga melakukan hal yang sewajarnya.


Namun keanehan langsung bisa enam pria itu saksikan, ketika melihat sepasang kaki dari setiap penduduk mengambang.


Semua yang ada di depan mereka tidak memiliki tubuh fisik, melainkan hanya sekumpulan jiwa yang berkumpul di satu tempat yang sama.


"Coba kita panggil saja salah satunya, Dar," timpal Komang yang juga penasaran.


"Sssttt... ssst..." Tanpa persetujuan temannya, Komang langsung mendesis sembari melambaikan tangan kepada salah satu penduduk.


Semua penduduk yang dekat maupun jauh serentak menoleh setelah mendengar suara Komang. Mereka melirik ke arah yang sama, dan juga menghentikan seluruh kegiatan mereka.


Darto dan lima temannya seketika langsung bungkam di tempat, mereka tidak melakukan apa-apa, karena mereka diharuskan untuk waspada setelah melihat reaksi seluruh penduduk.


Semua penduduk terus diam dalam bisu sembari menatap ke arah enam pria tersebut. Mereka tidak mendekat maupun menjauh, dan hanya berdiri menatap ke arah yang sama dengan tatapan kosong yang terpancar pada mata mereka.


Dalam rasa bingung yang melanda, suara tapak sepasang kuda terdengar semakin keras setiap detiknya.


Dua ekor koda mulai tampak mendekat dari kejauhan, menyibak kerumunan yang tengah menatap mereka dengan tatapan anehnya.


Darto dan lima temannya langsung memasang posisi siaga ketika melihat dua pria turun dari kudanya, mereka menciptakan senjata pada tangan mereka, dan siap menyerang dua pemuda bertubuh gagah, yang mulai berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Tunggu... Aku tidak akan menyerang," ucap salah satu pengendara kuda sembari mengangkat kedua tangannya. Dia berjalan dengan percaya diri, mendekat ke arah Darto dan lima temannya.


Darto dan lima temannya tetap tidak mengendurkan kewaspadaannya, mereka tidak menyerang, tapi tidak menghilangkan senjata di tangan mereka.


Selangkah demi selangkah dua pria itu terus mendekat ke arah Darto dan kelima temannya. Dia berdiri sembari memicingkan mata setelah sampai di tempat tujuannya karena dia benar-benar merasa heran dengan apa yang tengah dirinya saksikan.


"Kalian manusia? sungguh kalian manusia?" tanya salah satu pria dengan wajah penuh tanda tanya. Dia tidak percaya jika ada manusia yang bisa menginjakkan kaki di dalam tempat tersebut.


Mendengar pertanyaan itu, Darto dan Jaka tidak menjawab. Mereka berdua justru melakukan hal yang sama seperti dua pria yang mendatangi mereka, yaitu memperhatikan dua orang asing yang baru datang ke arah mereka.


Darto dan Jaka terus mengerutkan dahi sembari mencoba mengingat sesuatu yang samar masih singgah di dalam ingatan mereka. Sebelum akhirnya Darto membuka suara dan menyebutkan dua nama.


"Aryana? Brahma?" ucap Darto keheranan.


Mendengar dua nama itu disebut oleh Darto, Jaka langsung memasang wajah lega, dia serasa terlepas dari ikatan yang melilit kepalanya, setelah mencoba mengingat sesuatu yang sudah dirinya lupakan.


Benar... Dua nama itu adalah kenalan yang pernah Darto dan Jaka temui. Darto dan Jaka bertemu mereka, ketika melakukan ujian yang diberikan oleh Eyang Semar.


"Siapa kalian?" Aryana tampak terkejut setelah mendengar Darto mengucap nama dirinya dan juga temannya.


"Arya... kita bawa mereka ke rumah kita dulu. Di sini tidak aman," ucap Brahma menghentikan percakapan.


"Tolong kalian ikuti saya, di sini banyak mata yang menyaksikan. Akan ada banyak pertanyaan yang harus kalian jawab," sambung Aryana sembari berjalan menuju arah kuda miliknya.


Enam pria itu sedikit ragu untuk melangkah maju, namun ketika Darto dan Jaka mengangguk, semua temannya juga tidak bisa menolak ajakan dua manusia yang sangat mereka percayai.


Maung dan Komang kembali berubah menjadi harimau kala itu, dan membawa empat temannya mengikuti dua pria asing yang sedang memimpin jalan untuk mereka semua.


Delapan pria itu terus melesat, menuju satu tempat yang tampak cukup megah dibanding rumah lainnya.


Di tempat ini, sebuah kenyataan yang belum pernah Darto dan Jaka ketahui akan segera terkuak di dalam pertemuan mereka.


Sebenarnya tempat apa yang tengah enam pria itu datangi?


Ditambah lagi kenapa mereka berdua bisa ada di sini? Bukannya mereka juga mati ketika tragedi Ki Gandar tengah berlangsung?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2