ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KENYATAAN


__ADS_3

Lima menit sebelum tragedi terjadi.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Kang?" tanya Jaka sesaat setelah sampai di sebuah tanah lapang di belakang pesantren.


"Sekarang duduk saja dulu," jawab Darto singkat, "Maung ... kamu bisa melakukan pada diri sendiri?" Darto menoleh ke arah Maung setelah duduk bersila.


"Bisa, Dar," jawab Maung dengan tatapan lurus, dia menatap lawan bicaranya dengan bola mata yang sama sekali tidak bergetar.


"Aku pernah mengusulkan untuk menyingkirkan semua orang yang kita lihat, kan?" tanya Darto sembari menatap Jaka, Komang, Sastro dan Wajana secara bergantian.


Empat pria itu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Darto. Mereka tidak membuka suara, dan menunggu kelanjutan penjelasan yang akan Darto lontarkan.


"Cara itu sepenuhnya salah ... kalian sadar? semua orang yang kita temui itu benar-benar tidak memiliki perbedaan dengan semua orang yang pernah kita temui," ucap Darto panjang lebar.


Semua orang kembali mengangguk.


"Tapi meski sama, kalian tidak pernah menemui mereka marah, kan?" Darto kini bertanya.


Semua orang sempat mendongak untuk mengingat pertemuan dengan semua orang yang pernah mereka jumpai selama sembilan hari terakhir.


Setelah cukup melamun, hampir serentak mereka menjawab dengan gelengan, bahkan Jaka menjawab dengan kalimat, "Iya, Kang ... padahal biasanya Si Mbok marah-marah kalau Jaka telat shalat, tapi sembilan hari terakhir, bahkan Jaka tidak dibangunkan meski adzan ashar."


"Kamu benar, Jak. Dunia ini terlalu sempurna untuk kita singgahi. Siapapun yang membuat kita masuk ke dalam dunia ini benar-benar mahluk yang luar biasa. Mereka bisa mengintip setiap ingatan dan menebak keinginan hati kita," Darto menjelaskan.


"Benar kata Darto, semuanya memang tidak seharusnya kita temui. Mereka memang tidak nyata, tapi kita tidak perlu membunuh mereka agar bisa keluar dari tempat ini," sambung Maung.


"Benar sekali. Mereka memang hidup di tempat ini, yang tidak seharusnya ada di sini itu kita semua," timpal Darto.


Dari perkataan yang Darto ucapkan, Sastro, Komang dan Wajana langsung membulatkan mata, mereka langsung bisa menangkap apa yang ingin Darto sampaikan.


Tapi tidak untuk Jaka, dia masih tampak bingung. Hingga dia kembali membuka suara, "Maksudnya, Kang?"


"Kita semua hanya perlu meninggalkan dunia ini, Jak," jawab Darto singkat.


"Caranya Kang?" Jaka masih sangat kebingungan.


"Memang kamu bingung sama apanya, Jak? Yang namanya meninggal bukannya meninggalkan dunia?" tanya Maung mencoba menjelaskan.


"Ha! Kalian bilang kita harus mati?!" teriak Jaka terkejut.

__ADS_1


"Aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak, tapi itu satu-satunya jawaban yang paling tepat menurut saya, dan aku juga terkejut saat Maung mengatakan tahu jalan keluarnya," Darto tampak sedikit gusar.


"Aku bertemu Eyang, Dar. Dalam ingatanku Eyang itu sosok yang tidak mempunyai celah, dia sosok yang hebat, bahkan di dunia ini sama persis. Kamu tahu apa yang dia bilang ketika aku datang di dunia ini? Eyang langsung berkata jika ini bukan tempatku," sahut Maung sembari menatap langit-langit.


"Pantas saja, beruntung kamu mempunyai petunjuk, Maung. Sekarang aku tambah yakin lagi," Darto sedikit tersenyum, "Jadi kalian mau tinggal di sini, atau ikut mati bersama saya dan Maung?" sambung Darto bertanya.


"Saya ikut," ucap Komang.


"Sudah jelas kan, Dar?" Sastro terkekeh.


"Kamu suruh saya tinggal sendiri tanpa orang yang saya kenal? Oh tidak bisa ... lebih baik gagal saat mencoba, daripada jadi pengecut dan kesepian setelahnya," sahut Wajana.


Ucapan Wajana benar-benar mencairkan ketegangan, Jaka yang semula bergetar juga tampak mulai tenang, dia menarik nafas panjang kemudian berkata, "Jika diingat, sudah berkali-kali aku mempertaruhkan hidup tanpa bergeming, tapi kenapa aku merasa takut hanya karena tahu jika akan mati sebentar lagi?"


"Tidak ada yang tidak merasakan perasaanmu, Jak. Semuanya juga pasti merasa takut, namun kita tetap harus bertaruh, karena keluarga kita menanti disana," ucap Darto sembari tersenyum, dengan satu lengan mengelus kasar rambut Jaka.


"Sekarang kita duduk berdekatan, pejamkan saja mata kalian," pinta Darto.


Tidak ada yang menjawab permintaan Darto, mereka langsung bergeser dari posisi duduk semula, dan duduk dalam posisi rapat hingga berdesakan.


Setelah semuanya sudah duduk di posisi yang berdekatan dan memejamkan mata, Darto menoleh ke arah Maung dan berkata, "Maung ... Tolong lakukan secepat yang kamu bisa."


"Hah! Kenapa tugas berat ini diberikan padaku!" gerutu Maung dengan tangan bergetar. Dia merasa sangat tertekan karena melihat lima wajah pria yang dekat dengan dirinya, harus tumbang dan jatuh karena serangan dari tangannya.


Belum lagi Maung harus mengakhiri hidupnya sendiri. Lima pria itu terhitung beruntung, karena tidak harus tahu kapan detik-detik rasa sakit akan datang, tapi tidak untuk Maung.


Meski dia memejamkan mata, dia tahu jika kuku miliknya akan menancap pada tubuhnya.


Namun meski begitu, Maung bukanlah penakut. Maung benar-benar menusuk kuku tajam miliknya sendiri ke arah dada. Dia merogoh hati miliknya, kemudian menarik sekuat yang ia bisa.


Saat itu, ke-enam pria yang datang dari dunia lain, benar-benar meninggalkan dunia tersebut bersama-sama.


Mereka memilih untuk mati dan berharap bisa kembali pada dunia yang mengharuskan mereka untuk bertarung, daripada harus hidup dengan sejuta kesempurnaan yang ditawarkan dunia tersebut.


****


Tepat ketika Maung menebas leher lima kawan miliknya, detik itu juga kesadaran mereka kembali pada tubuh yang sebenarnya.


Darto, Jaka, Komang, Sastro dan Wajana datang terlebih dahulu, disusul Maung yang datang sedikit terlambat.

__ADS_1


Mereka benar-benar kembali pada tempat gelap yang memiliki warna hitam mutlak di seluruh penjuru.


Saat mereka kembali, tubuh mereka benar-benar tidak bisa digerakkan. Ada sesuatu yang menahan tubuh mereka di tempat gelap tersebut.


"Dar! Itu jaring, Dar!" ucap Maung tepat setelah kembali ke tempat tersebut.


"Kamu bisa melihat di sini, Maung?" tanya Jaka keheranan.


"Kalian lupa? Aku pemilik kegelapan di hutan tertua," jawab Maung sembari mencoba melepas ikatan pada tubuhnya.


"Jak, coba pakai energimu di sini," pinta Darto.


Jaka langsung melapisi tubuhnya dengan energi merah yang berkobar. Satu demi satu jaring yang membungkus tubuh Jaka mulai terbakar, kemudian perlahan Jaka jatuh dari udara.


"Saya sudah lepas, Kang!" Teriak Jaka dari bawah.


"Serang ke atas dengan energimu, Jak," pinta Maung.


Jaka langsung menurut, dia melempar bola api secara bertubi, ke arah atas kepala miliknya.


Terdengar suara benda jatuh di dalam ruangan tersebut. Satu persatu dari temannya lepas dari ikatan jaring, yang membungkus mereka hingga menjadi seperti kepompong yang menggantung diatas udara.


"Sudah turun semua?" Tanya Jaka.


"Sudah, Jak ... tapi Sastro, Wajana dan Komang pingsan," ucap Maung sembari mencoba mengangkat tiga teman yang tengah terkulai di atas tanah.


"Dar, Jak ... tolong urus mereka, aku bawa tiga teman kita keluar dari tepat ini dulu," pinta Maung.


"Mereka siapa?" tanya Darto sembari menoleh ke segala penjuru, namun matanya tidak bisa menangkap penampakan apa-apa.


Mendengar itu, Maung hanya diam dan bergegas mendekati Darto dan Jaka. Dia berlari sangat cepat sembari mengangkat ketiga temannya, di atas pundak miliknya.


Tanpa aba-aba Maung mengusap mata Darto dan Jaka sembari berkata, "Sekarang kalian pasti bisa melihat semuanya."


Tepat setelah Maung mengusap mata Darto dan Jaka. Dua pria itu langsung bisa melihat semua yang ada di tempat gelap tersebut.


Puluhan--ratusan mahluk berbentuk ulat tengah berjajar di sepanjang mata memandang. Mereka menempel lengket pada dinding dan langit-langit, dengan ukuran tubuh yang hampir sama dengan besar seekor kuda dewasa.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2