ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KABAR UNTUK SI MBAH


__ADS_3

Malam itu setelah melihat semuanya, Darto benar-benar memiliki keinginan untuk cepat bertemu dengan musuhnya. Rasa tidak sabarnya menjadikan malam terasa panjang, Darto benar-benar tidak bisa memejamkan matanya bahkan hingga kumandang adzan subuh kembali terdengar.


Setelah menunaikan shalat subuh, Darto kembali menuju rumah Anto, kemudian merebahkan badannya kembali. Waktu terus bergulir, hingga tidak terasa kumandang adzan dzuhur sudah kembali menggema. Darto kembali menuju langgar dan pulang ke rumah anto untuk kembali merebahkan tubuhnya. Benar-benar kegiatan itu saja yang Darto lakukan hingga malam kembali menyapa.


Tidak bisa dipungkiri, Darto benar-benar kelelahan malam kemarin. Dia menyalurkan sebagian energi miliknya untuk Sastro yang kelelahan, hingga hari ini Darto benar-benar terus merebahkan badan agar tenaga dan energi di dalam tubuhnya cukup untuk melawan Gending yang akan ia temui besok sore.


Untung saja energi milik Darto bisa berbaur dengar energi milik Sastro, jadi besok ketika pertarungan terjadi, Sastro bisa membantu karena Darto sudah memberinya banyak energi bahkan melebihi kapasitas yang mampu ditampung tubuh Sastro. Mengingat Sastro bisa membantu, malam ini Darto merasa tenang, ia tertidur dengan lelapnya setelah usai menunaikan shalat isya.


Keluarga Anto sempat bingung melihat Darto yang terus mengurung diri di dalam kamar. Namun tidak untuk Anto, dia terus mencegah keluarganya yang ingin singgah sekedar mengetuk pintu kamar Darto. Anto terus berkata bahwa Darto sedang lelah dan ingin beristirahat. Untungnya keluarga Anto percaya sepenuhnya dengan ucapan Anto.


Singkat cerita pagi sudah menyapa, hari yang di nantikan oleh Darto seumur hidupnya akhirnya sampai juga. Saat ini Darto tengah duduk bersila di dalam kamar Anto. Matanya terpejam sembari terus melafalkan dzikir dari mulutnya sedari fajar setelah shalat subuh. Darto tampak fokus dalam doanya, dia tidak bergeming dalam duduknya. Dia terus memohon agar diberi kelancaran, untuk apapun yang akan dia perbuat kedepannya.


Setelah matahari sudah mulai meninggi, Akhirnya Darto membuka matanya. Dia bergegas meninggalkan kamar Anto, dan berjalan menuju rumahnya. Ketika ia sampai di rumahnya, tidak menunggu lama ia menulis sebuah surat menggunakan kertas dan tinta yang ia bawa dari rumah Anto.


...[Mbah, Kung, hari ini Darto mungkin akan menemui titik terang dari apa yang menjadi sebuah momok di dalam keluarga kita. Darto akan berusaha sebisa mungkin untuk mengakhiri tragedi berantai yang terus terjadi pada kita. Titip salam untuk temanku di situ, sampaikan kepada Harti jika besok aku kembali, akan aku ikat dirinya dengan sebuah janji. Dan juga, jika Darto tidak ada kabar lagi selama dua minggu ke depan, maka doakanlah Darto agar tenang di alam sana.]...


Setelah selesai menulis semua itu, Darto bergegas meraih sebuah buntelan di bawah dipannya, kemudian membawanya ke rumah Anto.

__ADS_1


"Tok, Aku titip ini. Tolong kamu kirimkan ke Si Mbah hari ini juga. Bisa, kan?" tanya Darto sembari menyodorkan selembar surat.


"Kebetulan aku mau ke kota nyari jajan buat nanti sore, siapa tau banyak tamu dari kampung-kampung sebelah," jawab Anto sembari meraih kertas yang sudah terlipat di tangan Darto.


"Semoga kamu berhasil, Dar. Jika ada yang bisa aku bantu, kamu boleh minta apapun itu," sambung Anto sembari menunduk, dia merasa khawatir setelah paham tentang apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu


"Aku mohon bantuan doanya saja, Tok, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang ayo aku antar kalian sampai kota, kasihan kalau bawa jajan dari kota cuma pakai sepeda," ucap Darto sembari menepuk pundak Anto. Dia berusaha mengusir kekhawatiran yang bersarang didalam dada sahabat masa kecilnya itu.


"Apa ndak papa, Dar? bukannya kamu mau pergi?" jawab Anto sembari mengernyitkan dahi.


Mendengar ucapan Darto, Anto langsung mengangguk, kemudian mengajak istrinya untuk segera menuju tempat mobil Darto terparkir. Mereka bertiga melesat menuju kota, dan setelah surat dikirim, ditambah semua keperluan Anto sudah didapat. Mereka kembali lagi menuju rumah Anto bersama-sama.


Tidak terasa setelah mereka pulang dari kota, kumandang Dzuhur mulai terdengar, dua sahabat itu berjalan bersama menuju langgar dan kembali bertanya kepada warga untuk kepastian tempat selamatan akan dilakukan.


Saat itu Anto dan Darto tidak langsung pulang menuju rumah setelah shalat dzuhur. Mereka membantu warga untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan acara selamatan desa, atas permintaan sesepuh di langgar tadi. hingga akhirnya waktu berlalu begitu saja, tidak terasa adzan ashar kembali bergema.


Mengingat sebentar lagi selamatan akan dilaksanakan. Darto bergegas menuju rumah Anto kembali, dia membasuh tubuhnya dengan air, sesekali Darto membiarkan kepalanya berada dibawah pancuran air, dia menenangkan pikirannya dengan terus mendengar suara air yang melewati tiap bagian tubuhnya.

__ADS_1


Setelah selesai membasuh tubuh dia kembali masuk ke dalam rumah Anto. Dia berjalan masuk ke kamarnya kemudian membuka sebuah buntelan dari kain hitam yang isinya tidak lain adalah kotak kayu yang ia dapat sebelum melakukan ujian.


Untuk beberapa saat Darto hanya mengamatinya dalam bungkam, hingga akhirnya dia menarik nafas panjang, dan dilanjut membuka ikatan kain yang membungkus kotak tersebut. Setelah kain berhasil ia buka, Darto langsung mengeluarkan semua isi kotak. Tanpa ragu, Darto mengenakan satu persatu pakaian dan juga keris peninggalan Darsa. Seperti saat ujian, Darto sudah selesai melilitkan selembar kain putih yang begitu harum di pinggulnya, kemudian dia mengenakan ikat hitam di kepalanya, dan menyelipkan sebilah keris yang juga tersimpan di dalam kotak tersebut.


Setelah selesai mengenakan itu semua, Darto kembali menuju pancuran di belakang rumah Anto. Dia membasuh dirinya dengan air wudhu kemudian berjalan menuju ruang tamu untuk segera berkumpul dengan keluarga Anto.


Semua mata di dalam ruang tamu seketika tertuju kepada Darto. Mereka sempat terheran dengan kharisma yang terpancar dari pemuda di depan mereka. Bahkan Anto sampai terkejut melihat Darto yang begitu berwibawa di depannya.


Setelah cukup saling memuji, semua orang berjalan beriringan menuju tempat selamatan akan dilakukan. Mereka tampak begitu gembira mengingat akan ada banyak makanan juga arak-arakan yang begitu menarik untuk di lihat. Semuanya terus tertawa sembari bercanda sepanjang jalan, terkecuali Darto dan Anto yang bungkam setelah pergi meninggalkan pintu rumah mereka.


"Maaf, Dar. Aku tidak bisa bantu," ucap Anto sedikit berbisik tanpa memandang sahabat yang tengah berjalan di sampingnya. Dia masih saja merasa bersalah karena tidak bisa membantu sahabatnya.


"Aku minta doa saja, Tok. Itu sudah lebih dari cukup," jawab Darto kembali, sudah dua kali ia mengucap kata ini kepada sahabatnya hari ini.


Mendengar itu, Anto hanya mengangguk, dan Darto juga hanya membalas anggukan Anto dengan senyuman. Tidak lama setelah itu, pintu balai desa yang berbentuk seperti gapura menyambut mereka. Darto sempat berhenti di depannya, dia menunduk untuk sekedar merenung, kemudian mendongak sembari melangkahkan kakinya masuk, dengan bibir yang mengucapkan sebuah kata, "Bismillah."


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2