ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERJALANAN SINGKAT


__ADS_3

Setelah meninggalkan kampung milik Ki Gandar, Darto, Jaka, Maung dan Komang langsung melesat dengan kecepatan yang begitu hebat. Mereka menyibak alas ireng dengan tergesa, mengingat tempat yang akan mereka kunjungi merupakan satu tempat yang sulit untuk ditemukan.


Maung terus memimpin jalan di depan Komang. Mereka berlari beriringan, tanpa istirahat sama sekali sampai mereka berhasil keluar dari alas ireng. Mereka benar-benar tidak sedikitpun membuang waktu, karena mereka terus dipaksa untuk berlari oleh Darto dan Jaka.


"Tunggu di sini sebentar, Dar," pinta Maung setelah sampai di perbatasan antara alas ireng dan hutan biasa.


Mendengar permintaan tersebut, Darto langsung mengangguk dan turun dari pundak sahabatnya itu. Setelah Darto turun, Maung langsung berbicara dengan Komang kemudian Komang juga menurunkan Jaka. Setelah Jaka dan Darto sudah turun, Maung dan Komang langsung berlari meninggalkan dua sahabatnya di bawah pohon besar yang tumbuh di tempat tersebut.


"Mereka mau kemana, Kang?" tanya Jaka sedikit kebingungan.


"Mereka mau cari makan untuk kita, Jak," jawab Darto sembari duduk dan menyandarkan punggung pada pohon di belakangnya.


"Memang ada makanan manusia di dunia ini, Kang? sahut Jaka dengan wajah penasaran.


"Entahlah, Jak. Kita tinggu saja," jawab Darto singkat kemudian dia menghela nafas panjang dan mendongak menatap langit, "Jak ... kamu siap, kan? Mungkin kita bisa benar-benar mati jika melawan iblis ini. Aku tidak masalah jika kamu mau pulang sekarang. Biar aku yang selesaikan itu semua mulai dari sini," sambung Darto lagi. Dia tetap mendongak dan tidak menatap lawan bicaranya.


"Bicara apa kamu, Kang?! Apa karena aku hanya jadi beban selama ini?!" ketus Jaka sungut-sungut.


Mendengar celetuk yang keluar dari bibir Jaka, Darto langsung menoleh ke arah lawan bicaranya, dia menggeleng pelan kemudian memberikan penjelasan, "Tidak, Jak. Aku bahkan tidak mungkin bisa menyingkirkan batu api itu kalau tidak ada kamu. Tapi kali ini yang kita pertaruhkan adalah hidup kita, Jak. Kekuatan miliknya jauh di atas banaspati."


"Kang! Apa kamu lupa? Aku sudah berjanji dengan Eyang Semar. Aku tetap akan memberikan bantuan, meski itu berarti diriku mati," jawab Jaka masih sungut-sungut, dia benar-benar kesal dengan usulan yang Darto berikan.


"Hidup kamu lebih berarti, Jak. Masih ada keluarga kamu yang menunggu, sama juga denganku. Lebih baik hanya ada satu korban, daripada harus kehilangan keduanya," sahut Darto tertunduk. Dia sebenarnya sudah merasa buntu, mengingat lawan yang akan dirinya hadapi bisa menciptakan serangan yang sangat gila, bahkan tanpa menunjukkan wujudnya terlebih dahulu.


"Kang ... kita sudah memulai ini bersama-sama, sudah banyak yang kita lalui berdua. Kita berangkat bersama, Kang. Jadi kita harus pulang bersama-sama juga," ucap Jaka dengan senyum yang mengambang di sudut bibirnya. Dia menatap Darto dengan tatapan sendu, kemudian memamerkan barisan gigi yang dia punya.


"Hah ... memang susah kalau bicara sama batu," sahut Darto sembari menghembuskan nafas secara kasar. Dia beringsut mendekat ke arah Jaka, kemudian mengacak kasar rambut yang ada pada kepala Jaka, "Terimakasih, Jak," sambung Darto sembari membalas senyuman Jaka.

__ADS_1


"Mari kita singkirkan biang kerok itu, Kang," ajak Jaka.


"Sekarang?" tanya Darto meledek.


"Tahun depan, Kang," jawab Jaka lebih meledek.


"Ha ha ha ha! Tapi aku benar-benar tidak menyangka, Jak. Sosok yang selama ini aku lawan sebenarnya berbuat keji bukan atas kemauan sendiri," ucap Darto setelah sejenak terbahak. Dia mulai kembali mendongak menatap langit, tapi pandangannya jauh menerawang menuju setiap kejadian yang sudah dirinya lewati.


"Betul, Kang. Aku justru merasa kasihan dengan mereka," sahut Jaka yang mulai memasang wajah sendu sembari ikut mendongak dan menyandarkan punggung pada batang pohon yang sama, dengan pohon yang tengah dijadikan sandaran oleh Darto.


"Dari Dining, Gending, bahkan Kakek kita Ki Gandar. Mereka benar-benar melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan sama sekali. Mereka hanya satu korban dari kebiadaban satu mahluk yang berdiri di balik layar," sambung Darto masih dengan mendongak.


"Semoga setelah ini, tidak ada lagi korban seperti mereka lagi ya, Kang," sahut Jaka dengan ekspresi wajah penuh pengharapan.


"Amin, Jak. Mari kita ringkus sang dalang, agar pertunjukkan kelam ini bisa diakhiri untuk selamanya," jawab Darto sembari menatap tajam pada Jaka.


Tidak lama setelah percakapan itu, Maung dan Komang datang dengan wujud manusia kembar. Seperti biasa Maung selalu meniru wujud manusia milik Komang, sehingga mereka tampak seperti dua pribadi yang kembar identik, dan sama sekali tidak bisa dibedakan.


Maung tampak membawa buah yang cukup banyak di lengannya, sedangkan Komang membopong seekor rusa muda di atas pundaknya. Mereka berjalan mendekat, dengan senyum yang begitu merekah di wajahnya.


"Aku dapat persediaan makan untuk beberapa hari, Dar. Kita beruntung," ucap Komang sembari menurunkan rusa muda tersebut dari pundaknya, "Padahal jika diperhitungkan, sekarang belum musimnya mahluk ini bermigrasi ke sini, tapi keberuntungan kalian sungguh bagus, aku dapat yang ukurannya pas, dagingnya pasti belum keras," sambung Komang kembali.


Mendengar itu, Darto dan Jaka langsung mengangguk sembari menelan ludah. Mereka sama sekali belum pernah merasakan daging rusa di dalam hidupnya. Saat ini mereka merasa segan dan penasaran dalam waktu yang bersamaan, karena dihadapkan dengan satu hal baru di depan wajahnya. Apa lagi, rusa yang dibawa Komang benar-benar tidak wajar. Tanduknya memiliki warna seputih susu, dan terlihat begitu mengkilat setelah semakin lama di perhatikan.


Untuk pembukaan, Darto dan Jaka memakan buah yang Maung bawa. Kemudian menyembelih rusa bertanduk mengkilap tersebut. Darto yang menyembelih karena Jaka menolak mentah-mentah ketika diminta untuk menyembelih.


Setelah disembelih. Darto, Jaka, Maung dan Komang langsung membakar rusa tersebut secara utuh. Mau bagaimanapun tidak ada satupun sungai yang mengalir di dekat tempat mereka berdiri, jadi mereka hanya bisa membakarnya saja untuk membersihkan bulu yang membungkus sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Setelah cukup matang, Darto hanya memilah bagian yang bisa dirinya ambil saja, seperti paha, dan juga kaki depannya. Dia membiarkan tubuh utamanya dimakan oleh maung dan komang, sedangkan bagiannya disimpan untuk bekal beberapa hari kedepannya.


Sebelum kembali berangkat, Jaka sempat meraih bekas tanduk dari rusa muda tersebut. Dia meraih tanduk yang begitu pendek, kemudian menaruhnya di dalam buntalan kain yang selalu ia bawa ke mana-mana.


Setelah semuanya setuju, akhirnya Darto dan Jaka kembali melanjutkan perjalanan bersama Maung dan Komang. Mereka kembali berlari menyibak rerimbunan hutan, hingga tidak lama setelahnya mereka sampai di tepi jurang yang begitu dalam.


"Dar ... di sini tempatnya," ucap Maung setelah dia berhenti dari laju langkah cepatnya.


"Apa kita harus turun?" tanya Darto sembari menatap jurang yang tampak tidak memiliki dasar. Hanya ada warna hitam yang terpampang di dalam jurang, tanah di bawah jurang benar-benar tidak terlihat karena kedalamannya.


Mendengar pertanyaan Darto Maung hanya mengangguk, kemudian menoleh pada Komang sembari berkata, "Kamu berani kan, Mang? Kalau kau takut biar Jaka ikut di pundakku saja."


"Cih ... itu bukan apa-apa!" ketus Komang mencoba mengelak, meski sebenarnya dia sedikit merasa takut harus melompat ke arah jurang yang tampak tidak berdasar.


"Baiklah kalau begitu ... kalian siap?" Sambung Maung. Kali ini dia menatap Darto dan Jaka secara bergantian.


Mendengar pertanyaan itu, Jaka dan Darto langsung saling bertukar tatapan, kemudian saling mengangguk dan berkata, "Kami siap!"


Setelah Jaka dan Darto mengucap kata itu, giliran Maung dan Komang yang saling menatap, kemudian mengangguk secara bersamaan.


Sejurus setelah Maung dan Komang mengangguk, mereka berdua melompat ke arah jurang uang begitu dalam secara bersamaan. Mereka terjun bebas dari ketinggian yang gila, tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.


Perlahan tubuh Komang serta maung yang tengah menggendong dua pemuda tampak mulai menghilang jika dilihat dari atas. Mereka selayaknya ditelan kegelapan yang terpampang di dalam jurang, ketika tubuh mereka semakin dalam masuk ke dalam jurang tersebut.


Sebenarnya ... setiap mahluk yang tinggal di dekat jurang, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang kebenaran dari dasar jurang tersebut. Kecuali mereka yang sudah pernah melompat, dan tidak pernah bisa kembali lagi ke atas permukaan. Hanya mereka saja yang tahu seberapa dalam lubang ini berdasar, namun mereka tidak pernah bisa kembali, untuk sekedar menceritakan hal tersebut kepada rekan mereka.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2