
Malam itu berlalu dengan lambat bagi Sastro dan Wajana. Mereka terus berunding untuk mempersiapkan alasan jika Darsa alias Darto terbangun dan menanyakan keberadaan sang gadis. Mereka benar-benar takut dan juga kebingungan, karena sudah dua jam lamanya mereka berunding, namun belum juga menemukan alasan yang tepat.
Di sisi lain, sang gadis masih duduk di dalam air dengan posisi yang sama. Meski sudah berjam-jam lamanya dia duduk, anakan ular seukuran kelingking masih terus saja berdatangan secara bergerombol menuju arahnya. Anakan ular itu terus berebut masuk kedalam tubuh sang gadis, entah dari lubang telinga, hidung, mulut bahkan lubang dub*r serta Kem*luannya. Sesekali gadis itu muntah, gulungan rambut putih atau uban yang bercampur dengan darah segar sudah beberapa kali keluar dari mulutnya. Terus saja proses itu terjadi bahkan hingga fajar hampir menyapa.
"Sas?! dimana gadis itu?" ucap Darto sembari mengerjap mata. Tatapan Darto menyapu sekeliling, namun yang terlihat hanya dua lelaki yang tengah pura-pura tidur di depannya.
Sungguh di dalam hati Sastro dan Wajana merasa sangat takut, karena mereka belum juga menemukan alasan untuk berdalih. Dan apesnya kebiasaan Darto sahur di kehidupan nyatanya membuatnya selalu terbangun ketika fajar hampir menyapa.
"Waduh! dimana ya, Dar!" ucap Sastro panik. wajahnya berkeringat.
"Saya juga tidak lihat, Kang!" timpal Wajana padahal tidak ada yang bertanya. Wajana sama saja dengan Sastro, bulir keringat juga bersarang di wajahnya.
"Apa dia berendam, Ya?" ucap Darto sembari berdiri, hendak melihat keadaan di kali.
"Tidak, Dar!" teriak Sastro sembari menghentikan Darto yang hendak melangkah menuju kali.
Melihat gerak gerik Sastro dan Wajana yang mencurigakan, serta wajah mereka yang panik ketika Darto hendak melangkah ke kali. Darto alias Darsa langsung memiliki perasaan yang tidak enak di dalam hatinya. Dia benar-benar memiliki firasat yang buruk ketika mencoba menatap mata Sastro dan Wajana yang selalu menolak untuk melakukan kontak mata.
"Apa yang kalian sembunyikan?" ucap Darto singkat, dengan mata menatap tajam wajah mereka berdua secara bergantian.
"Maafkan kami, Dar," ucap Sastro menunduk, di barengi anggukan kepala Wajana yang kemudian ikut tertunduk.
"Maaf buat apa?" tanya Darto kembali sembari mengernyitkan dahi, dia benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang sudah mereka lakukan.
"Sekarang lebih baik sahur dulu, Kang. Sebentar lagi subuh, saya janji akan ceritakan semuanya," timpal Wajana.
__ADS_1
Melihat muka memelas mereka berdua, Darto menyanggupi ajakan mereka. Yah mau bagaimanapun Darto atau Darsa belum tahu persis masalah yang tengah kedua mahluk itu sembunyikan. Jadi dia tidak terlalu memikirkannya, dan menganggap masalah yang mereka sembunyikan tidak mungkin seburuk perkiraannya. Bagi Darto di kehidupan nyata maupun Darsa di kehidupan lalu, Sastro dan Wajana sudah seperti keluarganya, dan menganggap mereka bisa dipercaya.
"Jadi? di mana gadis itu?" tanya Darto setelah selesai melahap santapan sahur miliknya.
"Dia sedang berendam, Dar," ucap Sastro kemudian menunduk.
"Maafkan kami, Kang. Sebenarnya kami disuruh sama Kanjeng Romo buat bantuin kamu, tapi kami takut, Kang," timpal wajana.
"Maksud kalian? kenapa kita tidak boleh lihat dia berendam? tugas apa yang Bapakku kasih ke kalian?" tanya Darto masih dengan terus mengernyitkan dahi di wajahnya.
"Sebenarnya di curug ini ada penunggunya, Kang. dia kuat, dan Kanjeng Romo berharap kita bantu Kang Darsa buat mengalahkan dia. Jika dia kalah kita bisa menyuruhnya untuk menyembuhkan gadis itu," ucap Wajana, dibarengi anggukan kepala Sastro.
"Kami takut kalau sampai kehilangan kamu, Dar. pemilik curug tidaklah lemah," ucap Sastro kembali tertunduk.
"Lalu? apa yang terjadi sama gadis itu jika dia bertemu dengan pemilik curug?" tanya Darto mulai gelisah.
"Apa syaratnya?" tanya Darto kembali, kali ini Darto mulai memampangkan raut kecewa dan kesal di wajahnya.
"Jiwa, Kang," ucap Wajana singkat kemudian menunduk dengan tubuh bergetar. Dia benar-benar takut akan mendapatkan amukan dari Darsa di depannya.
"Dasar guoblok! kalian memang bodoh! saya kecewa sama kalian!" ucap Darto sembari berdiri, kemudian sedikit berlari menuju arah dimana gadis buruk rupa melakukan ritual.
"Jangan! Dar! jika ritual di ganggu dia bakal mati!" ucap Sastro sembari memegangi tubuh Darsa yang terus meronta ingin pergi menyusul gadis itu.
"Lebih baik dia mati! daripada bersekutu dengan jin laknat yang meminta jiwa!" teriak Darto sembari terus meronta.
__ADS_1
Menahan Tubuh kecil milik Darsa, Sastro benar-benar kewalahan. Tidak hanya sekali Darto menyerang Sastro dengan cahaya putih yang keluar dari tangannya. Namun apa daya Darto, ketika Wajana juga ikut membantu memegangi kedua tangan mungil di tubuh yang tengah Darto singgahi.
"Cukup! aku tidak akan percaya lagi dengan kalian berdua!" ucap Darto menangis sejadi-jadinya. Dia merasa dunia runtuh di depan matanya, ketika mengetahui kedua sosok kepercayaannya mengkhianatinya hanya karena alasan takut kalah.
"Tolong... lepaskan aku, mungkin jiwa gadis itu masih bisa di selamatkan," ucap Darto memohon, dengan wajah memelas, dan mulai mendapat simpati dari Sastro dan Wajana.
"Maafkan kami, Kang. ini demi kebaikan ki.." ucapan Wajana terhenti. Samar-samar dari arah kali, dia melihat gadis itu sudah kembali dari ritualnya dan tengah mengarah kemari. "Dia sudah selesai, Kang!" ucap Wajana sembari melepas kuncian tangan di tubuh Darsa, kemudian memasang posisi siap ke arah wanita itu.
Melihat Wajana memasang posisi siap dan memegang keris hitam yang selalu Darto kenakan di kehidupan nyata, Sastro dan Darto juga spontan langsung memasang posisi waspada kepada wanita yang kini hampir sampai di hadapan mereka.
"Mas! saya sembuh, Mas!" teriak gadis itu setelah sampai di hadapan Darto. Sungguh penampilannya berbanding terbalik dengan saat dia meninggalkan kampung. Dia menjadi gadis cantik dan berkharisma, kulitnya putih langsat dan begitu mulus, sungguh mata lelaki manapun tidak mungkin bisa lepas dari pesona yang terus dia pancarkan.
"Kalian kenapa seperti takut sama saya?" tanya gadis itu kembali, wajahnya sedikit heran melihat tingkah tiga lelaki di depannya.
"Itu beneran kamu, Nduk?" tanya Darto sedikit heran, setelah melihat tingkah lugu gadis itu yang tidak berubah sama sekali.
Pertanyaan Darto hanya mendapat jawaban anggukan kepala gadis itu. Wajah gadis itu tak henti tersenyum sembari terus memandangi perubahan pada tubuhnya. Sungguh semua lelaki di buat bingung olehnya, karena setahu mereka jika itu perjanjian yang meminta jiwa pastilah raganya akan diambil sepenuhnya.
"Kamu tidak diminta jiwanya?" tanya Sastro penasaran sembari mengendurkan pertahanannya.
"Jiwa? tidak, Ki, Penunggu curug merasa kasihan dengan saya, dan memberikan pengobatan gratis, karena penyakit yang menyerang saya adalah guna-guna, jadi hanya berendam saja sudah cukup untuk mengobatinya," ucap gadis itu dengan wajah polos, hingga berhasil meyakinkan ketiga lelaki di depannya.
"Alhamdulillah!" teriak tiga lelaki di depan gadis itu, mereka sangat lega dengan jawaban yang mereka terima.
"Jadi? sejak dulu kamu tidak mau memberitahu namamu kepada kami, bahkan Kanjeng Romo pun tidak tahu namamu. Sekarang tubuhmu sudah cukup cantik untuk memiliki nama yang cantik juga, jadi mau pakai nama baru atau nama pemberian orang tuamu?" Tanya Sastro yang ternyata sangat penasaran dengan nama gadis di depannya. Dia sudah menyimpan pertanyaan ini bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Akan aku gunakan nama pemberian orang tuaku, biar mereka menyesal jika tau aku bisa sembuh. Perkenalkan, Mas, Ki, Nama saya Gending, maaf jika saya terlambat memperkenalkan"
Bersambung,-