ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PULANG


__ADS_3

Kala itu, perjalanan mereka dari pasar terpampang pilu. Meski terus mendapat bantahan, Darto kekeuh mengajak Kakung untuk kembali, menuju pertunjukan dimana pembunuh ibunya tengah menari.


"Apa yang mau kamu lakukan, Dar? kamu mau main hakim sendiri di sana? kamu bakal kelihatan bodoh, kamu tidak punya bukti untuk sekarang," Ketus kakung yang masih fokus menyetir membawa kendaraan yang sudah sampai di depan pondok pesantren.


Tidak menjawab pertanyaan Kakung. Darto hanya terus tertunduk tersedu dalam tangis ketika berjalan menuju rumah setelah mobil terparkir sempurna. Melihat keadaan Darto, ketiga temannya tidak berani mengikutinya masuk ke dalam rumah. Mereka lebih memilih pamit, memberikan waktu untuk sendiri pada temannya itu.


"Sebenarnya apa salah ibuku? kenapa dia membunuh ibu?" Tanya Darto sesenggukan. Dia bertanya kepada orang tua yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Ibumu tidak salah apa-apa Dar, dan bukan cuma Ibumu, Simbah Rayi (nenek), bahkan Simbah Buyut kamu sudah jadi korban dari dia" ucap Kakung sendu. Pandangannya tertunduk tatkala diharuskan menceritakan sebuah momok yang sudah memberi pukulan besar dalam hidupnya.


"Maksud Kakung?" Pandangan Darto terangkat, dari yang semula tunduk setelah mendengar jawaban tidak masuk akal dari Kakung.


"Kamu harus tau, Dar. Dia sudah hidup jauh sebelum Kakung lahir, dia benar-benar manusia paling biadab yang pernah Kakung temui" Ucap Kakung terhenti. Pandangannya yang semula tunduk kini mendongak, matanya memandang arah langit-langit namun pikirannya menerawang jauh, menembus ingatan masa sulit yang pernah dia alami.


"Kamu lebih baik menanyakan kepada Simbah Turahmin, Dar. Dia yang merasa paling sakit, melebihi rasa sakit yang kamu rasa," Ucap kakung kembali. Pandangannya kini teralih kepada cucu kesayangannya itu.


Tanpa menjawab maupun kembali bertanya, Darto hanya terus bungkam. Karena dia menyaksikan raut muka yang terpampang dari wajah Kakung. Dia mendekatkan posisi duduknya kearah Kakung. Dan kini perasaannya berangsur pulih dari rasa pilu. Dalam hatinya dia sudah bertekad, ketika mengunjungi temannya di kampung, dia akan menanyakan tentang kebenaran yang terjadi kepada keluarganya kepada Simbah Turahmin.


"Kamu yang sabar ya, Dar. Kakung akan bantu apapun yang kamu butuhkan, jika kakung memang mampu melakukannya," ucap Kakung kembali. Kemudian meraih kepala cucunya, dan mengusap pelan rambutnya yang masih berlumur minyak kemiri.

__ADS_1


"Maafkan Darto, Kung. Darto masih terlalu mudah dikuasai emosi, Darto janji akan jadi cucu yang lebih baik, dan Darto tidak mau melihat Kakung bersedih lagi" Ucap Darto yang kini tengah menatap Kakung. Dengan bibir yang mengambang, meski air mata masih menetes sesekali dari dagunya.


Mendengar cucunya berusaha menghibur dirinya meski dalam keadaan sulit. Kakung hanya bisa membalas dengan memberi cucunya sebuah senyuman. Mata Kakung benar-benar berkaca, setelah melihat keteguhan hati cucunya.


...***...


Hari silih berganti, tidak terasa waktu yang dijabarkan dalam tulisan Anto tinggal satu minggu lagi. Pesantren masih tampak sepi, karena baru seminggu berlalu hari besar Idul Fitri, sebagian besar Santri dan Santriwati masih berlibur di rumahnya masing-masing. Sore ini, Darto dan ketiga temannya tengah menyibukkan diri dengan mempersiapkan bekal yang hendak mereka bawa. Karena besok adalah hari yang di putuskan Kakung untuk berangkat menuju Kampung cucunya itu.


Darto dan ketiga temannya sempat membeli oleh-oleh di area pesantren sehabis isya. Dan kini mereka berempat sedang berada di warung Pak Ndut, memakan Nasi goreng pedas kesukaan mereka dengan lahapnya.


"Gus, Aku udah enggak sabar pingin lihat kampung Gus Darto, ada cewek cantik enggak Gus di sana?" Ucap Surip yang tengah memegang rokok di tangannya di dalam warung Pak Ndut.


"Ho.oh Gus, bener banget, Mana ada cewek cantik yang mau sama bujang model Surip," celetuk Bidin yang seketika mengundang gelak tawa.


"Kaya kamu punya Saja Din! kamu juga ngenes, apalagi kemarin baru di tolak mentah-mentah sama si Yati! Duh, Dek Yati, Kang mas akan setia menunggu dirimu sampai kamu ma...," Surip mengucapkan isi surat yang pernah Bidin tuliskan untuk santriwati di pondok tersebut, namun ucapannya di hentikan oleh Bidin dengan cara membungkam mulut Surip dengan telapak tangannya.


"Kurang Ajar kamu Sur!" Ketus Bidin bersungut-sungut. pipinya memerah, tampak sekali dia menahan rasa malu di dadanya.


Melihat kedua temannya seperti itu, Darto dan Harti terus terbahak saat itu, hingga waktu terasa sangat cepat berlalu. Kini mereka pun sudah berada di kamarnya masing-masing.

__ADS_1


Malam itu terasa panjang bagi Darto. Dia terus mencoba memejamkan mata, namun rasa tak sabarnya memaksa dia terus terjaga. Pikirannya terus saja menerawang kampung halamannya, rasa rindunya benar-benar sudah tidak tertahan lagi, membuatnya terus membuka mata hingga pagi menyapa.


"Kamu kenapa Gus? matanya hitam banget?" ucap Surip yang tengah mengangkat jerigen bensin ke atas mobil Kakung.


"Nggak bisa tidur Sur," Jawabnya singkat, sembari mencoba memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi.


"Makanya jangan terlalu dipikir Dar, jadinya susah sendiri kan sekarang, nggak bisa tidur semalam," timpal kakung terkekeh melihat cucunya mengantuk di depannya.


Mendengar ucapan Kakung, Darto hanya bisa senyum-senyum sendiri. Dan ketika Harti selesai memasukan barang bawaan yang sangat banyak ke dalam bagasi, perjalanan pun di mulai.


Kakung dan ketiga muridnya menyempatkan diri singgah ke Pom bensin dan mengisi penuh tanki serta jerigen di atas mobilnya. Dan kembali menginjak dalam pedal gas di bawah kakinya itu.


Jalanan bebatuan yang tertata rapi sudah berhasil di lewati selama empat jam, Kini Kakung dan keempat muridnya tengah singgah disebuah rumah pondok yang menjajakan makanan tradisional. Dengan lahap mereka semua membabat makanan di atas piring anyaman bambu beralas daun pisang. Setelah kenyang dan selesai berjamaah, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan panjang yang katanya akan di tempuh selama sehari penuh, mengharuskan mereka singgah beberapa kali untuk makan dan menunaikan ibadah.


Setelah tanki kedua terisi penuh di pom bensin terakhir, Mereka melanjutkan perjalanan kembali, namun kali ini, jalanan yang akan mereka tempuh tidaklah seramai tadi. Hutan lebat membentang di depan mereka, dan harus menyibaknya untuk mencapai kota terdekat kampung halaman Darto.


Langit sudah mulai menggelap, mobil yang di kendarai Kakung sudah masuk kedalam area tanpa penduduk. Tak ada satupun pemukiman, juga belum berpapasan dengan satupun pengguna jalan tersebut. Jalan yang terpampang didepan hanyalah bebatuan yang sudah berlumut, menjelaskan jarangnya jalan itu dilewati pengendara yang lain. Jalanan yang mengharuskan Kakung lebih berhati-hati lagi. Berhati-hati agar tidak tergelincir, juga berhati-hati agar mobilnya tidak memilih jalan rusak. Meski gelap dan sepi, mereka harus terus lanjutkan perjalanan. Mengabaikan apapun yang tengah menunggu mereka di depan.


Bersambung,-

__ADS_1


...jangan lupa tinggalkan vote dan cemilannya ya 😅...


__ADS_2