ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
RENCANA GILA


__ADS_3

Selangkah demi selangkah, Darto dan Wajana terus mendekat ke arah pesantren. Mereka terus menelusup masuk ke dalam rimbun pepohonan yang jarang sekali dilewati oleh manusia, hingga akhirnya tampak cahaya kuning dari bohlam lampu yang berkilau dari kejauhan.


"Kita hampir sampai, Dar," ucap Wajana sembari terus melangkah.


Mendengar itu, Darto hanya mengangguk dan langsung melebarkan langkah kaki mungil miliknya. Kali ini Darto yang memimpin jalan, hingga mereka sampai tepat di belakang pesantren milik Kakung.


Perlu sedikit memutar untuk bisa sampai di depan gerbang, dan ketika mereka sampai di gerbang, Darto langsung berlari menuju rumah yang digunakan oleh Kakung.


"Assalamu'alaikum ...," teriak Darto sembari mengetuk pintu rumah Kakung sebanyak tiga kali.


"Wa'alaykumussalam ...," jawab seseorang dari dalam rumah sembari membuka pintu. Ketika pintu tersebut terbuka, dia memperhatikan Darto dengan seksama sebelum akhirnya berkata, "Maaf nak, ada perlu apa?"


Kakung benar-benar pangling dengan cucu yang sudah bertahun tidak dirinya temui, dia bertanya hal tersebut sembari mencoba mengingat siapa bocah yang sedang berdiri di depannya.


Darto sedikit menunduk ketika melihat ekspresi Kakung yang tidak mengenalinya, dia merasa sedikit kecewa namun di sisi lain dia sangat amat bahagia karena bisa mendengar suara serta melihat wajah orang yang sangat dia sayangi selain Si Mbah Turahmin.


"Darto!" teriak Kakung tepat sebelum Darto menjawab, dia bergegas berjongkok dan mendekap cucu kesayangannya itu.


Melihat Kakung yang mengingat dirinya hanya dalam hitungan detik, Darto sangat senang, dia benar-benar amat teramat senang. Meski dia tahu jika semua ini tidak nyata.


"Masuk Dar ... Kakung sudah tau sebagian besar maksud kamu ke sini, di dalam sudah ada yang menunggu kamu dari dua hari yang lalu," sambung Kakung kembali sembari melepas dekapannya.


"Njih, Kung," jawab Darto singkat kemudian melangkah masuk ke dalam kediaman Kakung.


Baru beberapa langkah Darto dan Wajana masuk, seorang lelaki berjalan mendekat dari ruang dalam. Dia berjalan tergesa sembari berkata, "Dar ... Kamu ingat siapa saya?"


"Sastro!" teriak Darto dengan wajah sumringah.


"Dia sudah menunggu kamu dari lusa, Dar. Sepertinya kalian benar-benar sedang menghadapi masalah sulit," ucap Kakung menyela perbincangan reuni antara Darto, Sastro dan Wajana.


"Njih, Kung. Darto mau minta bantuan Kakung kalau memang bisa," sahut Darto sembari mendekat ke arah Kakung.


"Sekarang kalian tidur saja dulu, biar besok kita pikirkan bersama," ucap Kakung setelah melihat Darto dengan seksama. Dia tahu jika cucunya merasa lelah, karena itu memang tergambar jelas dari raut wajah Darto.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit dulu, Kung. Darto mau mandi dan langsung tidur," jawab Darto singkat, kemudian berjalan langsung ke arah toilet rumah Kakung.


Melihat Darto yang berjalan tanpa diberitahu letak toilet, Kakung hanya tersenyum kemudian berkata pada Sastro, "Sepertinya semua cerita yang kamu ucapkan memang benar adanya, cucu saya terlihat paham dengan bangunan ini."


"Untuk apa saya berbohong Kiyai, saya yakin bahkan Darto tahu apa makanan kesukaan Kiyai," sahut Sastro sembari tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu saya juga izin untuk tidur, besok kita lanjut lagi pembahasan ini," ucap Kakung sembari melangkah pergi.


Setelah Kakung pergi, tinggal Sastro dan Wajana yang masih duduk di ruang tamu, mereka saling berbincang untuk sejenak, kemudian menghilang bagai kepulan asap.


Setelah selesai mandi, Darto bergegas masuk ke dalam kamar yang dulu pernah ia singgahi, dia mengganti pakaian dengan baju yang dia bawa di dalam buntalan sarung, kemudian berbaring di atas kasur sembari mengulum senyum.


Tidak lama setelah Darto berbaring, dia langsung terlelap tanpa aba-aba. Dirinya memang sangat lelah, setelah melewati sepuluh jam lebih perjalanan menggunakan kedua kakinya.


****


Pagi menyapa, tepat setelah menjalankan shalat subuh berjamaah, Darto, Kakung, Sastro dan Wajana kembali duduk di ruang tamu milik Kakung. Mereka saling bercerita tentang apa yang sudah mereka alami, dan Kakung hanya bisa mendengarkan dengan detil, semua cerita yang tengah dijabarkan oleh tiga lelaki di depannya.


"Jadi ... menurutmu kita harus bagaimana, Dar?" tanya Sastro di barengi anggukan kepala Wajana.


Darto hanya bisa mengerutkan kening sembari berkata, "Mungkin aku punya pemikiran gila, namun aku takut kalau ini semua nyata."


Sastro dan Wajana langsung memasang wajah serius ketika mendengar ucapan Darto, mereka bungkam, dan menuntut kelanjutan rencana Darto dalam diam.


"Assalamu'alaikum!" Teriak seorang lelaki dan juga ketukan pintu terdengar dari dalam rumah Kakung.


Mendengar itu, Darto yang duduk paling dekat dari pintu langsung berdiri, dia menghentikan obrolan dan langsung pergi menuju pintu.


"Jaka!" teriak Darto tepat setelah membuka pintu rumah Kakung.


Sastro dan Wajana langsung berdiri ketika mendengar nama Jaka diteriakkan oleh Darto, mereka langsung berdiri, dan sedikit berlari menuju arah pintu.


"Sudah empat orang yang berkumpul, sekarang tinggal Maung san Komang," ucap Darto sembari menatap tiga lelaki di sekelilingnya secara bergantian.

__ADS_1


Setelah saling bertatap, mereka kembali masuk ke dalam rumah Kakung untuk melanjutkan rencana.


"Jadi benar kita semua dikirim ke tempat yang sama?" tanya Jaka dengan polosnya.


"Benar, Jak. Dan sepertinya Darto sudah memiliki rencana," sahut Wajana.


"Jadi ... apa rencananya, Dar?" tanya Sastro dan langsung mendapat tanggapan wajah serius dari setiap lelaki yang tengah berada di ruangan itu.


"Sebelumnya ... Maaf sepertinya aku belum bisa cerita di sini," ucap Darto sembari melirik Kakung.


"Tidak apa-apa, Dar ... ceritakan saja, Kakung cuma mau mendengarkan, bahkan Kakung tidak akan protes sedikitpun jika itu merugikan Kakung," ucap Kakung setelah melihat raut segan di wajah cucunya.


"Tapi, Kung ... ," tolak Darto.


Melihat wajah Darto yang semakin tidak enak, Kakung hanya menepuk pundak cucunya kemudian mengangguk. Dia memberi isyarat untuk cucunya agar menjelaskan apapun rencana miliknya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Darto singkat kemudian menelan ludah dan dilanjut menarik nafas panjang sebelum berkata, "Kita bisa terluka di dunia ini, Kita bahkan bisa merasakan apapun di dunia ini, jadi ... menurut kalian apa ini semua mimpi?"


Mendengar pertanyaan itu, Jaka, Sastro dan Wajana hanya diam, kemudian mereka menggeleng kepala secara serentak.


"Rencana ini tidak berlaku jika mereka nyata. Tapi ... Jika mereka tidak nyata, kalian tahu, kan? apa yang harus kita lakukan?" Ucap Darto sembari tertunduk. "Mungkin kita harus menyingkirkan mereka semua," Sambung Darto sembari meneteskan air mata.


Mendengar penjelasan itu, Jaka, Sastro dan Wajana langsung membulatkan mata. Telapak tangan mereka langsung berkeringat, dan dada mereka langsung berdentum begitu hebat.


Saat itu ruang tamu milik Kakung benar-benar menjadi sangat sunyi, hanya ada sekumpulan lelaki yang tengah tercengang, terutama lelaki tua yang memiliki bangunan tersebut.


Kakung benar-benar gemetar, badannya bergetar hebat, ketika mendengar rencana cucunya adalah untuk memusnahkan dunia yang dirinya tinggali.


Dari ekspresi yang Kakung tunjukkan, empat lelaki yang kembali dari masa depan benar-benar merasa bimbang, mereka memang merasa rencana Darto ada benarnya, namun menimbang ekspresi yang tengah mereka saksikan, mereka yakin jika semua yang mereka lihat itu nyata.


Bersambung ....


yang masih belum puas baca novel horor 2 bab, coba baca cerpen horor punyaku yang judulnya SRI SUNDAR AMEKTI. bisa langsung check di profilku ya😁

__ADS_1


__ADS_2