ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SATU


__ADS_3

"Kalian tunggu saja kami di sini, biar aku dan Jaka yang urus kamar pertama," ucap Darto sembari menatap ke arah Sastro, Wajana, Komang dan Maung secara bergantian.


Empat teman Darto langsung mengangguk, mereka harus mengikuti persyaratan yang diberikan oleh pemilik kamar nomor dua, agar Darto dan Jaka bisa membawa lima buah yang tersisa di kantong mereka.


Darto dan Jaka berdiri, kemudian melangkah meninggalkan rumah tersebut, dan kembali berlari menuju tempat semula mereka masuk.


Lelaki serba hitam mengikuti langkah mereka, dia menunjukkan jalan pintas yang paling pendek, agar mereka bisa sampai pada pintu kamarnya sesegera mungkin.


"Maaf, siapa nama bapak?" Tanya Darto sembari berlari.


"Panggil saja Ki Guntur... Ingat, nak... Jangan sampai berpisah di sana, temanmu bisa jadi kunci kemenangan kalian," ucap Ki Guntur.


"Baik, Ki... Tapi kenapa Ki Guntur membantu kami?" tanya Darto kembali.


"Nanti aku ceritakan semuanya kalau kalian berhasil kembali ke sini," ucapnya kemudian mempercepat langkahnya.


Ki Guntur melompat dari dahan ke dahan, dia melesat begitu gesit, dengan Darto dan Jaka yang mengikuti di belakangnya.


Tidak lama setelah mereka berangkat, Darto dan Jaka sampai pada tujuannya. Ki Guntur tidak ikut keluar, dia justru menutup pintu dari dalam sembari berkata, "Semoga berhasil."


Darto dan Jaka langsung mengangguk, meski mereka belum tahu persis apa yang Ki Guntur inginkan, tapi mereka tidak bisa menolak bantuan luar biasa yang kini ada di dalam saku mereka.


Jika perhitungan Darto tepat, setidaknya Darto dan Jaka bisa menggunakan serangan pamungkas di dalam ruang nomor satu. Mereka tidak perlu takut kehabisan energi karena mereka memiliki buah pemberian Ki Guntur.


Setelah keluar dari kamar nomor dua, Darto tidak membuang waktunya sama sekali. Dia membuka pintu nomor satu tanpa aba-aba, kemudian menarik Jaka agar cepat memasukinya.


Ketika Darto dan jaka sudah masuk, mereka berdua melihat tujuh kursi yang berbaris di depan mereka.


Satu kursi paling besar di tengah, tiga di sebelah kiri, dan tiga sisanya berada di samping kanan.


Masing-masing kursi diduduki oleh seorang pria berbadan kekar, mereka tampak sangat kuat, terutama seorang pria yang duduk di tengah.


Dia menatap Darto dan Jaka dengan tatapan yang sama sekaki tidak terkejut, setelah melihat dua pria asing masuk ke dalam kamarnya.


Dia hanya bertanya sembari menopang dagu, sembari mengucapkan sebuah kalimat, "Kalian sudah siap mati?"

__ADS_1


Darto dan Jaka tidak menjawab, mereka melangkah maju tanpa membuka suara, sebelum akhirnya Darto berhenti di depan pria yang tampak sangat bosan tersebut.


"Itu kata-kataku," ucap Darto kemudian mengarahkan pedang energinya.


Darto menebas pria yang duduk paling tengah, sedangkan Jaka menusuk menggunakan tombaknya.


Darto dan Jaka benar-benar kompak, mereka melakukan serangan secara serentak, meski tanpa aba-aba sekalipun.


Sayangnya serangan yang Darto dan Jaka lancarkan tidak berjalan mulus. Enam pria yang sedang duduk di sampingnya berdiri, mereka serentak menahan dua serangan yang tengah Darto dan Jaka lakukan.


Tiga menahan tombak dan menyerang Jaka, dan tiga sisanya menahan serta memberikan serangan pada Darto.


Darto dan Jaka terpental mundur setelah mendapat serangan dari musuhnya. Mereka terpelanting cukup jauh, namun tidak menampakkan sedikitpun luka pada tubuh mereka.


Setelah berada jauh dari pira tersebut, Darto menatap Jaka kemudian mengangguk untuk memberikan sebuah isyarat.


Kemudian dua pria itu menghilang secara bersamaan, dan menebas satu persatu musuh di hadapannya.


Enam lawan yang Darto dan Jaka lawan benar-benar gesit, gerakan mereka tidak kalah cepat, dan kekuatan mereka bisa dibilang setara.


Merasa sedikit kerepotan karena jumlah musuhnya cukup banyak, Darto kembali teringat dengan usulan yang Ki Guntur berikan.


Darto yang belum pernah mempraktekkan gerakan tersebut sebenarnya sangat penasaran, dan kali ini merupakan saat yang tepat untuk melihat hasil dari saran yang Ki Guntur ajukan.


Darto menyentuh satu pundak lawannya, dia hanya menepuk menggunakan telapak tangannya, namun sedetik kemudian Darto dan lawannya menghilang dari tempatnya.


Dua lawan yang sedang mengeroyok Darto sedikit keheranan, mereka tidak bisa menemukan posisi Darto maupun satu temannya, sehingga mereka memutuskan untuk membantu tiga teman yang sedang melawan Jaka.


"Pengecut sekali... Kalian pikir bisa mengalahkan dia meski satu lawan lima?" ucap Darto sembari muncul secara tiba-tiba.


Darto benar-benar muncul dalam waktu yang cepat, dia timbul di antara dua musuh yang sedang berlari, sembari menenteng tubuh lawan yang sedang terkulai lemas.


Dua lawan yang hendak menyerang Jaka mengurungkan niatnya, mereka kembali menyerang Daro, namun sedetik setelahnya Darto kembali menghilang membawa satu musuh yang sedang menyerangnya.


Satu musuh yang tersisa benar-benar kebingungan, dia tidak tahu kemana satu kawannya dibawa, dan dia juga sedikit merasa takut setelah melihat satu teman yang pertama menghilang, sudah babak belur dan terkulai bagaikan orang mati.

__ADS_1


Hanya butuh beberapa detik saja Darto kembali muncul dengan membawa musuh kedua yang sama seperti musuh pertamanya.


Darto kemudian menepuk pundak musuh yang tersisa, kemudian menghilang dari tempatnya berada.


Musuh yang tersisa benar-benar kebingungan kala itu, dia dibawa ke dalam ruangan yang sepenuhnya berwarna putih, dan terlihat tidak memiliki benda apapun di dalamnya.


Di dalam ruangan tersebut dia berdiri sendiri, dan Darto yang membawanya tidak terlihat sama sekali.


"Hei manusia! Tunjukkan dirimu!" Teriak musuh.


"Aku disini... Aku disini juga... Kamu tidak bisa lihat? Woe aku disini," ucap suara Darto benar-benar menggema.


Banyak sekali suara sama yang terdengar oleh musuhnya, bahkan dia sampai kebingungan sembari terus menyapu pandangannya ke segala arah penjuru.


Saat itu yang musuh dengar bagaikan ada puluhan Darto yang sedang bersembunyi, sembari menunjukkan posisinya hanya dengan suara.


Melihat musuhnya mulai ketakutan, Darto mulai muncul entah dari mana, dia tiba-tiba berdiri di belakang musuhnya, kemudian menaruh pedang energinya di leher musuhnya.


"Selamat tinggal," ucap Darto sembari menggorok leher musuhnya kemudian mengangkat tubuhnya, dan menghilang dari ruang putih tersebut.


Darto benar-benar bisa membuat ruang seperti milik Ki Guntur, dia seakan menciptakan sebuah tempat, dimana semua yang masuk ke dalam ruang tersebut sama saja dengan masuk kedalam genggamannya.


Namun ketika Darto berhasil membunuh lawan yang ketiga. Dia menyaksikan satu kejadian yang cukup mencengangkan.


Semua kursi yang ada di dalam kamar nomor satu sudah sempurna terbakar, dengan tiga lawan yang terkulai di bawah kaki Jaka.


Jaka sepertinya melakukan satu gerakan pamungkas miliknya, sehingga dia berhasil menyingkirkan tiga lawannya, namun Jaka kehabisan tenaga setelahnya.


Sayangnya masih ada musuh yang tersisa, dia kini tengah mencekik Jaka yang sangat lemas, hingga tubuhnya mengangkat ke udara


Darto berpindah ke tempat Jaka tanpa berfikir panjang, dia menghilang dan muncul dalam waktu bersamaan, kemudian menghunus pedang miliknya kepada lelaki yang sedang mencekik Jaka.


Namun, lelaki yang sedang mencekik Jaka tidak menerima dampak sama sekali. Ketika satu lengannya tengah mencekik Jaka, satu lengannya lagi bisa menghentikan serangan Darto.


Pedang energi padat milik Darto benar-benar langsung pecah, ketika tangan pria itu menyentuh pedang yang sedang Darto ayunkan.

__ADS_1


Sungguh satu lawan yang begitu kuat, dia bahkan tidak tergores sedikitpun, meski Darto sudah menyerangnya dengan sekuat tenaganya.


Bersambung ....


__ADS_2