
Setelah Maung dan Sastro selesai mengurusi musuhnya, mereka yang berniat untuk turun dengan terjun bebas seperti empat teman lainnya, harus merubah seluruh rencananya.
Ketika Sastro dan Maung membuka pintu gubuk untuk keluar, pemandangan yang terpampang di balik pintu sungguh berbeda, dengan apa yang pernah mereka semua lihat sebelumnya. Gubuk yang semula terlihat mengambang di udara, entah bagaimana sekarang gubuk tersebut berdiri di atas tanah.
"Jadi? Apa tadi juga ilusi?" tanya Sastro sedikit kebingungan. Dia mencoba bertanya kepada Maung, sembari melangkah keluar dari gubuk.
"Mungkin pemilik kamar cuma ingin memecah kekuatan kita, Sas," jawab Maung sembari berubah menjadi harimau, kemudian kembali berkata, "Naik Sas... Aku bisa mencium bau pertarungan tidak jauh dari sini. Mungkin itu teman kita."
Sastro langsung melompat ke atas punggung Maung, dia dibawa berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi, menuju arah dimana Maung merasa sedang terjadi sebuah bentrokan energi.
Tidak lama setelah Maung dan Sastro berangkat, mereka berdua akhirnya melihat Wajana dan Komang yang sedang memberi serangan kepada lipan yang sangat besar dan kawanannya.
Setelah mendapat kejelasan dari siapa yang sedang bertarung, Maung kembali berlari menuju tempat tersebut.
Dia dan Sastro melesat menuju tempat pertarungan, tapi sebelum mereka memberi bantuan, Jaka dan Darto menghentikan langkah mereka dengan berteriak, "Maung! Sastro! Sini!"
Maung berhenti, dia menoleh ke arah ranting semak, kemudian melompat ke arah dimana Darto dan Jaka sedang duduk dengan santainya.
"Kalian selesai?" Tanya Darto singkat, dan langsung mendapat jawaban sebuah anggukan kepala dari dua temannya tersebut.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Sastro penasaran.
"Komang yang minta, dia ngomong katanya pengen ngalahin musuhnya sendiri," Darto menjawab sembari terkekeh.
"Lalu kenapa Wajana juga ikut?" timpal Maung.
"Iya Maung, kita disuruh istirahat sama Wajana, ha ha ha ha! katanya dia mau urus anak buahnya biar Komang bisa bertarung dengan leluasa," jawab Jaka sembari terbahak.
Setelah mendengar ucapan Jaka dan Darto, Maung dan Komang akhirnya memutuskan untuk duduk bersebelahan di atas ranting yang sama.
Mereka semua bersorak memberi semangat, untuk dua petarung yang sedang saling menyerang dengan lawannya.
Wajana benar-benar tampak sangat lincah kala itu, dia tidak mengayunkan senjata maupun bergerak dengan maksud menyerang sama sekali. Dia hanya terus menerus berlari sembari menghindari serangan lawannya, dan setiap lawan yang berhasil dia lewati tiba-tiba mati begitu saja.
__ADS_1
Jika dilihat dari kejauhan memang hanya tampak begitu, namun kalau diamati dengan seksama, Wajana secara terus menerus menyebarkan energi pada sekeliling tubuhnya.
Wajana bagai terbungkus satu bola energi yang cukup besar, namun energi miliknya benar-benar tidak berwarna.
Karena energi Wajana tidak berwarna, semua musuhnya sama sekali tidak memasang rasa waspada, padahal sebenarnya mereka bisa mati hanya dengan menyentuhnya saja.
Sedangkan Komang masih melakukan hal seperti sebelumnya. Dia menyatu dengan energi miliknya, yang sudah menyebar memenuhi seluruh area pertarungannya.
Meski lawan Komang sangatlah gesit, dia bisa menandingi kecepatan yang dilakukan oleh lipan raksasa di depannya. Dia selalu tiba sedetik lebih awal, di tempat tujuan lipan raksasa itu berpindah.
Hanya saja serangan yang Komang lancarkan tidak cukup tajam, ketika dia menyerangnya menggunakan cakar yang berbalut energi miliknya.
Cangkang dari lawan Komang benar-benar keras, cakarnya terus memantul meski sudah puluhan kali menyerang tempat yang sama. Jangankan robek maupun terbelah, tergores pun tidak sama sekali
Namun meski begitu, Komang tidak menyerah, dia mencoba menciptakan tali yang terbuat dari energi, yang tengah menyebar rata diatas tanah. Komang mengarahkan tali miliknya menyembul ke atas tanah, menuju tempat dimana musuhnya akan berpindah.
Lipan raksasa itu benar-benar terjerat hanya dalam satu kali percobaan. Setelah terjerat, bagaikan seekor ular yang tengah melilit mangsanya, tali milik Komang langsung merambat melingkari tubuh musuhnya.
Setelah lawannya tidak bisa bergerak, Komang berubah menjadi manusia dan mendekat dengan perlahan, sembari mengumpulkan energi yang masih berserakan di atas tanah menuju tangannya.
Ketika Komang sampai di depan wajah musuhnya, dia memegangi kepala lipan itu dengan tangan yang tidak berbalut cahaya.
Komang tersenyum culas setelah melihat lawannya meronta ingin lepas dari ikatannya, dia kemudian mengangkat satu lengannya tinggi-tinggi sembari berkata, "Hoe... Lipan batu... Coba kau tahan seranganku yang satu ini."
Duarrrr...
Dentuman kembali menggelegar disertai angin yang bertiup dengan kencang secara tiba-tiba. Komang benar-benar meninju lipan raksasa itu tepat pada wajahnya, hingga membuat lawannya lenyap hanya dengan satu serangan saja.
Lipan raksasa yang semula tengah meronta di depan Komang, benar-benar hilang dan menjadi debu hanya setelah menerima serangan telak yang Komang lakukan.
Dampak dari ledakan bentrokan energi milik Komang dan musuhnya juga sangat luas, ratusan prajurit lipan yang belum sempat Wajana singkirkan ikut musnah setelah menyentuh ledakan energi tersebut.
Wajana terkekeh melihat apa yang sedang dirinya saksikan di tempat tersebut, dia mendekat ke arah Komang sembari berkata, "Kerja bagus, Komang... sekarang kamu istirahat saja sama yang lain, biar aku yang urus sisanya."
__ADS_1
Komang langsung mengangguk, setelah itu dia menghilang dan muncul tepat di samping Darto juga kawannya.
Komang hanya tersenyum sembari sedikit memasang wajah sombongnya, kemudian duduk dan mengamati Wajana setelah mendapat balasan senyuman dari keempat kawannya.
Kini hanya wajana saja yang masih bertarung di atas tanah, dia berdiri tanpa rasa gentar sama sekali, meski ratusan--ribuan lipan berlumut masih terus keluar dari dalam lubang, hingga membanjiri seluruh tempat tersebut.
Lipan-lipan itu seakan murka setelah pemimpin mereka musnah, mereka semua menjerit dengan suara yang sangat melengking, kemudian berlari sekuat tenaga menuju Wajana secara serentak.
Jika diamati dari atas, kumpulan lipan itu terlihat bagaikan sebuah air berwarna hitam. Mereka mengalir dengan begitu deras, dari tempat yang semula menyebar menuju satu titik dimana Wajana sedang berdiri.
Melihat musuhnya semakin agresif dan berlarian dengan liarnya, Wajana tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi ketakutan pada wajahnya.
Dia malah terkekeh setelah melihat ribuan lipan besar sedang tergesa menuju ke arahnya, karena dia menganggap akan lebih mudah menyingkirkan mereka, jika musuhnya masuk ke dalam jarak serangnya.
Setelah musuhnya cukup dekat, Wajana menghilangkan energi yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dia melompat sekuat yang dia bisa, hingga tubuhnya melambung begitu tinggi ke atas udara.
Lipan yang sedang mengincar dirinya benar-benar menumpuk di bawah kakinya, mereka sampai saling menginjak satu sama lain, agar bisa mencapai Wajana yang masih melayang di udara.
Ketika lompatan Wajana mencapai batasnya, dia mulai terjun ke arah dimana ratusan lipan sedang menunggunya.
Wajana tidak melakukan apa-apa, dia hanya terus fokus melihat satu musuh yang memiliki posisi paling tinggi diantara tumpukan kawanannya. Dia tidak berkedip sama sekali, sebelum akhirnya dia melakukan satu gerakan ketika kakinya menyentuh salah satu antena milik musuhnya .
Wajana benar-benar lenyap kala itu, dia bagaikan menghilang hingga kelima temannya pun ikut terkecoh dengan gerakannya.
Tidak ada bau maupun hawa kehadiran Wajana, setelah dia mendarat pada satu sungut milik musuhnya.
Setelah Wajana hilang dari pandangan semua musuhnya, satu persatu musuh mulai meleleh dari urutan paling atas hingga ke ujung paling bawah.
Wajana benar-benar memecah wujud fisiknya, dia menjadi sebuah kabut yang tidak berwarna, kemudian menyelimuti setiap tempat, lubang dan juga musuhnya dengan merata, tanpa satupun dari mereka yang terlewatkan.
Hanya dalam hitungan detik, saja ribuan lipan yang berada atas tanah maupun yang masih berada di dalam lubang, semuanya benar-benar meleleh dan menjadi bubur.
Setelah Wajana bisa memastikan tidak ada lagi pegerakan di area tersebut, kabut bening yang semula menyebar di segala penjuru mulai kembali menyatu.
__ADS_1
Energi itu bergerak menuju satu titik dimana kelima kawannya sedang mengamati, kemudian Wajana mengucapkan sebuah kalimat ketika tubuhnya mulai berbentuk kembali, "Mari kita selesaikan tiga sisanya."
Bersambung....