
Hari kembali berganti, Pagi ini Darto benar-benar sibuk mempersiapkan perjalanan yang hendak dia lalui. Dengan bantuan Surip dan Bidin dia melangsir pakaian serta barang miliknya ke dalam jok belakang mobil.
Kali ini Darto membawa tiga jerigen kosong di bagasi mobilnya, dia sempat membeli dua jerigen tambahan atas anjuran Si Mbah ketika latihan menyetir ke pasar. Mau bagaimanapun pengalaman mereka kehabisan bensin di tengah hutan sungguh membuat satu ingatan yang kurang enak untuk dikenang.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Darto bergegas menyalakan mesin kendaraan tersebut. Dilanjut berpamitan kepada Surip dan Bidin, dan bergegas menginjak pedal gas dalam-dalam menuju rumah sakit.
"Mbah, Saya pamit," ucap Darto sembari mencium tangan Mbah turahmin, dilanjut mencium punggung tangan Kakung yang tengah terbaring di atas kasur rumah sakit.
Kedua Kakek Darto hanya bisa berdoa untuk keselamatan cucunya, mereka meminta maaf karena tidak bisa mengantar keberangkatan Darto, kemudian memberi sedikit saran untuk rencananya.
"Sudah kamu bawa, kan?" tanya Kakung sebelum Darto berbalik.
"Sudah, Kung. Semuanya saya taruh di dalam tas," ucap Darto kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan bangsal tempat Kakung di rawat.
Ketika berjalan menuju parkiran, Darto berpapasan dengan Harti dan orang tuanya yang baru selesai mencari sarapan. Mereka juga menjaga Kakung setiap hari, bahkan hingga tidur dan menginap di dalam rumah sakit.
Setelah mendapat restu juga doa dari semua orang yang dia kenal, Darto bergegas menuju mobilnya. Setelah masuk kedalam kursi kemudi, Darto menarik nafas dalam-dalam, hatinya benar-benar bimbang, namun kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Bismillah," ucap Darto kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia melaju cukup kencang meski jalanan yang yang dia tempuh adalah barisan batu yang tertata rapi.
Akhirnya, Darto memulai perjalanan panjangnya sendirian. Dia hanya beristirahat ketika shalat, mengisi bensin maupun sekedar berhenti dan bertanya arah menuju kampungnya. Dia benar-benar buta arah ketika di hadapkan dengan persimpangan, mengingat dia tertidur ketika berangkat menuju kampungnya terakhir kali.
Roda mobil terus berputar di atas jalanan bebatuan, berjam jam sudah berlalu, dan berpuluh-puluh kilo meter jarak sudah terlewat. Langit mulai menguning, tapi tempat terakhir yang Darto ingat belum juga tampak. Hatinya sedikit ragu dengan jalan yang tengah ia tempuh, namun Darto tidak punya pilihan selain terus melaju.
Ketika rasa ragu sudah menguasai penuh seluruh ruang di dalam dada Darto. Suara kumandang Adzan maghrib berhasil memecahkan kegelisahannya. Ketika dia menoleh ke arah sumber suara, rasa lega berangsur mengendap saat melihat masjid megah yang pernah dia singgahi.
__ADS_1
"Alhamdulillah...," ucap Darto sembari memarkir mobil yang dia kendarai. Dia memarkir mobil di depan warung kelontong yang pernah dia tumpangi.
"Assalamualaikum Pak Riski!" teriak Darto setelah melihat orang pertama yang dia lihat setelah keluar dari mobilnya.
"Wa'alaykumussalam! wah! nak Darto!" jawab Pak Riski sembari berdiri dari posisi duduknya. Dia tampak lelah meladeni banyak pelanggan yang tengah duduk di warungnya.
"Wah rame sekali, Pak! Ibu dimana?" tanya Darto singkat, dia berharap bisa bersama berangkat ke masjid seperti yang sudah-sudah.
"Di dalam, Dar. Masuk saja," ucap Pak Riski mempersilahkan Darto masuk.
"Saya tunggu di sini saja, Pak, saya beli ini ya, Pak," jawab Darto sembari meraih satu gelas teh manis di depannya. Sudah wajar bagi pemilik kelontong mengisi penuh nampan dengan teh manis, agar orang yang menunggu pesanan bisa meminum teh tersebut sebagai selingan.
Setelah Darto meneguk habis teh di gelasnya, Bu Yati keluar dengan setelan mukena. Melihat itu Darto cuma menyapa tanpa bersalaman, kemudian berjalan bersama menuju masjid megah dekat rumah mereka.
Singkat cerita mereka sudah selesai menunaikan shalat magrib, Darto dan Bu Yati kini tengah kembali kerumahnya. Sesampainya di sana, Darto memesan porsi jumbo makanan dengan semua lauk yang tersaji, dia benar-benar lapar dan lelah sore itu, karena harus menempuh perjalanan ketika berpuasa.
"Njih Buk, alhamdulillah masih bisa puasa," jawab Darto sembari meraih piring di tangan Bu Yati.
"Yang lain mana?" tanya bu Yati kembali, sembari menyapu pandangan ke arah mobil yang terparkir.
"Saya sendiri, Bu," jawab Darto singkat kemudian melanjut acara penghajaran makanan di piringnya.
Seperti biasa, suap demi suap, nasi dan lauk masuk dengan cepat, Darto makan dengan Lahapnya, sungguh rasa dari makanan yang dia pesan lebih enak dibanding terakhir kali dia makan di sini. Setelah selesai makan, Darto menoleh ke arah warung kelontong di seberangnya. Sungguh perbandingan terbalik, disini meja hampir penuh oleh pembeli sedang di sana kursinya saja yang penuh, tidak ada pengunjung sama sekali.
Melihat keadaan warung seberang, Darto hanya terdiam, kemudian melambai pada sosok kecil yang sedang bermain di warung seberang. Melihat lambaian Darto sosok itu terburu-buru berlari menemui Darto, dia sedikit ketakutan jika membuat Darto menunggu.
__ADS_1
"Ada apa, Den?" ucap sosok itu sembari menunduk, dia masih merasa takut dengan ancaman Darto.
"Temui saya di sebelah," bisik Darto agar orang di sekelilingnya tidak mendengar, Darto tidak mau di anggap gila karena berbicara sendiri.
Setelah itu, Darto berjalan menuju samping rumah Pak Riski, dengan sosok kecil yang terus mengikuti langkah Darto di belakangnya.
"Kamu sebelumnya tinggal di mana?" tanya Darto setelah sampai di pekarangan samping rumah Pak Riski.
"Saya tinggal di hutan, Den," jawab sosok kecil sembari menunduk.
"Hutan mana?"
"Jauh, Den. Saya dibawa kesini sama Ki Jumar," ucap sosok itu kembali kali ini dia mendekatkan bibirnya ke telinga Darto, takut Ki Jumar mendengar ucapannya.
"Sekarang kamu pulang saja," ucap Darto sembari mendorong sosok itu, Darto mencoba menjauhkan wajah sosok itu dari wajahnya,
"Beneran, Den? Tapi tugas saya..." ucap sosok terhenti, dia menunduk dan memegang tali yang tiba-tiba muncul di lehernya.
"Sudah pulang saja! sekarang Ki Jumar, Ki Jamet atau siapalah itu, dia tidak akan bisa mencari kamu lagi," ucap Darto sembari memutus tali tambang tak kasat mata yang mengikat leher sosok itu, dengan tangan yang menyala.
Setelah mendengar ucapan dan melihat aksi Darto, Sosok itu terus mengucap terimakasih, bahkan sampai bersujud sebelum pergi, dengan riangnya dia berlari hingga hilang dari pandangan mata Darto.
Setelah sosok itu pergi, Darto kembali menuju rumah Pak Riski, dia meminta izin untuk menginap lagi, karena perjalanan malam di hutan sungguh sudah menjadi momok baginya.
Beruntung, Darto langsung dipersilahkan. Bahkan disediakan kamar untuk dirinya beristirahat malam ini. Setelah Isya, Darto langsung terlelap di kamarnya, rasa lelah benar-benar sudah mendominasi, perjalanan Darto hari ini pun berakhir disini.
__ADS_1
Bersambung