
"Kang!" teriak Jaka setelah melihat serangan Ki Gandar mendarat tepat di dada milik sahabatnya.
"Jangan khawatir, Jak. Ini bukan apa-apa," sahut Darto kemudian berpindah.
Setelah berpindah, Darto langsung mengaliri energi pada tempat dia menerima serangan. Bekas luka bakar pada dadanya perlahan mengering, kemudian menghitam bagai luka yang sudah sepenuhnya mengering, hanya dalam hitungan detik saja.
Jaka benar-benar bertarung sengit dengan Ki Gandar, dia menghalau serangan demi serangan sendirian agar bisa memberikan waktu pada Darto untuk memulihkan luka bakar pada dadanya.
"Hei! Kenapa masih ada seseorang yang memiliki energi merah itu selain diriku?! Dari mana kau mendapatkan energi itu?!" ucap Ki Gandar sembari terus menyerang Jaka.
"Kamu ingat orang tua berbaju putih yang menggendong lelaki tua yang telah mendapat serangan darimu? Aku keturunan dari orang yang digendong tersebut," sahut Jaka sembari terus menghalau serangan lawannya.
"Darma? Kamu keturunan teman Darma?" jawab Ki Gandar dengan wajah tidak percaya, "Bukannya dia sudah mati? Bagaimana dia bersembunyi?" sambungnya lagi.
"Iya ... yang di sana itu keturunan Darma, dan aku keturunan Surya," jawab Jaka sembari menatap Darto untuk sejenak, kemudian kembali menghalau serangan yang tengah Ki Gandar lancarkan.
"Sepertinya aku sudah dibodohi oleh mereka berdua," sahut Ki Gandar, "Sekali lagi aku tanya sama kamu. Bagaimana cara kalian bersembunyi? Aku sudah meninggalkan pelacak pada teman Darma, tapi pelacak itu tiba-tiba hilang di tengah hutan. Seharusnya jika pelacak sudah tidak bekerja, maka orang itu sudah mati," sambungnya lagi.
"Kamu tahu? Agar pelacak itu tidak bekerja Darma sampai mengorbankan hidupnya untuk menciptakan pelindung. Dan kamu tahu? Seberapa menderitanya Surya dan juga keturunannya karena hanya bisa hidup jika berada di dalam pelindung yang Kanjeng Darma ciptakan?" sahut Jaka dengan mata berkaca-kaca.
"Itu salah mereka sendiri. Lagian aku tidak pernah meminta untuk bertarung! Tapi mereka main bunuh anak buahku!" jawab Ki Gandar dengan wajah emosi.
"Energi yang ada di dalam tubuhku ini adalah energi milikmu, Gandar. Aku terlahir dengan rantai api yang mengikat di leherku, pasti sang pencipta merencanakan sesuatu padaku, hingga aku bisa menyerap energi milikmu bahkan semenjak aku baru saja dilahirkan," ucap Jaka.
Mendengar penuturan itu Ki Gandar spontan membulatkan mata di wajahnya, dia terkejut karena Jaka mengucap nama miliknya, meski dia sama sekali belum memperkenalkan dirinya. Dalam rasa heran yang begitu kentara, dia bertanya pada pemuda di depannya, "Dari mana kamu tahu nama itu?!"
"Kita tahu semuanya, Mbah Gandar. Bahkan kita tahu apa yang kamu tidak ketahui," sambung Darto sesaat setelah dia berpindah ke samping Jaka. Darto kembali berpindah untuk membantu Jaka, setelah luka di dadanya sudah seutuhnya berhasil dia sembuhkan.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan Mbah?! Jangan lancang memanggilku dengan sebutan itu!" Ki Gandar benar-benar murka, dia menciptakan satu bola api yang begitu besar dan siap dia lempar ke arah Darto dan Jaka.
Darto dan Jaka langsung berpindah ketika melihat bola api di atas kepala lawannya. Mereka langsung menjauh, karena hanya berdiri di sebelahnya saja, sudah cukup untuk membakar tubuh dua manusia itu.
"Makan ini!" ucap Ki Gandar sembari melempar bola api tersebut.
Laju dari bola api benar-benar cepat. Setiap tempat yang dilewati bola tersebut langsung menjadi abu, dan tidak meninggalkan apapun selain abu tersebut.
Darto dan Jaka yang sudah tahu ke mana arah serangan itu tertuju, langsung berpindah dengan kecepatan yang gila dan berhasil menghindari serangan mematikan dari lawannya.
Sesaat setelah Darto dan Jaka berpindah, bola api yang sudah mereka hindari tiba-tiba berbelok. Dia mengejar kemanapun Darto dan Jaka berpindah, dengan kecepatan yang sama sekali tidak kunjung melambat.
Darto dan Jaka tidak menyerah sama sekali, mereka terus menghindar dan sesekali berpindah ke arah musuhnya, sembari menebaskan senjata yang sudah mereka bawa di tangannya.
Mereka berdua bertarung dengan terus menghindar, dan sesekali melancarkan serangan secara bergantian. Untuk cukup lama mereka melakukan itu, hingga Maung dan Komang yang semula pingsan, mulai membuka mata miliknya secara bersamaan, sembari meringis kesakitan.
"Apa yang terjadi?" tanya Maung sedikit bingung.
Tentu saja mereka berdua kebingungan, karena sebelumnya Ki Gandar menyerang mereka tanpa mereka sadari. Dan ketika mereka menerima serangan dari Ki Gandar, mereka berdua langsung pingsan bahkan sebelum mereka menyadarinya.
Setelah cukup lama mengerjap mata dan menelan sejuta kebingungan, Maung dan Komang menoleh ke arah Jaka dan Darto yang tengah terus-menerus menghilang, untuk menghindari bola api yang mengejar mereka.
Untuk sesaat Maung dan Komang hanya bungkam, namun sejurus kemudian mereka berlari menuju Ki Gandar dengan kecepatan maksimal yang mereka bisa.
Garis berwarna hitam dan jingga tiba-tiba terbentuk ketika Maung dan Komang berlari, mereka melesat begitu cepat ke arah Ki Gandar yang masih mengendalikan bola api.
Maung dan Komang langsung mengayun lengan mereka setelah sampai di samping tubuh Ki Gandar. Mereka menyerang menggunakan cakar miliknya hingga Ki Gandar yang terkejut langsung melepaskan konsentrasinya.
__ADS_1
Ki Gandar benar-benar menahan cakaran Maung dan Komang hanya dengan lengannya. Dia sama sekali tidak terluka, namun bola api yang semula ia kendalikan seketika hilang, karena konsentrasinya buyar dalam sekejap mata.
Melihat bola api yang mengejar mereka sudah menghilang, Darto dan Jaka langsung berpindah ke belakang tubuh Ki Gandar. Mereka mengayun tombak dan pedang di tangan mereka, untuk menebas punggung dari lawannya.
Senjata Darto serta Jaka benar-benar mendarat tepat di punggung Ki Gandar. Mereka berhasil menebas lawannya yang tengah menahan serangan Maung dan Komang di depannya, hingga punggungnya benar-benar terbuka dan bisa diserang saat itu juga.
Ki Gandar benar-benar menjerit setelah menerima tebasan dari senjata milik Darto dan Jaka. Dia meraung kesakitan kemudian berubah wujud menjadi manusia yang sepenuhnya terbakar.
Panas yang terpancar dari tubuh Ki Gandar benar-benar gila, membuat Darto, Jaka, Maung dan Komang yang tengah berdiri di sebelahnya langsung melompat menjauh dari tempatnya.
Hanya dengan berdiri dekat dengan Ki Gandar kulit mereka sudah terasa selayaknya terbakar, udara di sektiar Ki Gandar juga langsung memiliki suhu yang gila, hingga mereka tetap bisa merasakan panasnya meski sudah cukup jauh dari lawannya.
"Hati-hati! Ini benar-benar akan sulit," ucap Darto sembari menciptakan busur panah di tangannya.
Mendengar ucapan itu, Jaka, Maung dan Komang langsung mengangguk. Mereka tidak bisa membantah, setelah merasakan hawa panas yang begitu dahsyat meski jarak mereka dan Ki Gandar cukup jauh saat ini.
Melihat tiga temannya mengangguk, Darto langsung menciptakan anak panah yang begitu panjang. Dia membidik Ki Gandar yang masih meraung dengan kobaran yang membakar tubuhnya, kemudian menarik anak panah di tangannya sekuat cakupan tangannya.
Sesaat Darto menarik nafasnya panjang-panjang, dia menahan nafasnya di dalam dada sebelum akhirnya menghembuskan nafas itu bersamaan dengan anak panah yang dia lepaskan.
Anak panah milik Darto melesat begitu cepat, hanya dalam satu kedipan mata anak panahnya sudah hampir sampai ke tubuh Ki Gandar. Namun tepat ketika anak panah Darto hampir menyentuh kulit menyala milik Ki Gandar, anak panah itu terbakar hingga lenyap tanpa sisa, dan hilang bagai dimakan oleh kobaran api pada tubuh lawannya.
Melihat anak panah Darto yang hilang terbakar, semua pasang mata milik Darto dan tiga temannya seketika membulat. Mereka tidak percaya sama sekali dengan apa yang sudah mereka saksikan, meski mereka sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Panas dari Banaspati tidak hanya bisa membakar tubuh manusia, dia bahkan mampu membakar energi yang ada di sekitarnya.
Saat ini, setelah melihat hal gila tersebut, Darto, Jaka, Maung dan Komang benar-benar merasa otak mereka buntu. Bagaimana cara mereka akan mengalahkan lawannya, jika energi saja bisa langsung musnah terbakar setelah mendekat padanya.
__ADS_1
Dalam rasa bimbang, Jaka akhirnya membuka suara. Dia beranjak maju mendekat ke arah Ki Gandar sembari berkata, "Akan aku coba menyerap energi itu, Kang! Kalau sudah redup langsung serang saja. Jangan pedulikan aku yang berada si sampingnya."
Bersambung ....