ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
RUMAH JURAGAN


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu ibu Harti mengganti baju. Mereka berempat memutuskan untuk berjalan kaki, mengingat rumah juragan Agam yang tidak terlalu jauh, hanya berjarak 10 menit jika di tempuh dengan berjalan kaki.


Tak butuh waktu lama juga, kini mereka sudah berada tepat di depan teras rumah Juragan sayur yang namanya cukup tersohor. Usaha yang dia tekuni menghasilkan pundi-pundi uang yang bahkan cukup jika di pakai untuk membeli sebuah tanah seukuran Desa. Bagai mana tidak? hampir separuh lahan yang di kerjakan petani di desa ini dan desa sebelah adalah miliknya. Ditambah selain tanah yang dia sewakan, hasil panen pun dia semua yang menampung untuk desa-desa di sekitarnya. Pengepul handal dengan modal besar yang mampu mencekik petani, dengan harga sewa mahal. Serta pembelian hasil panen dengan harga terendah sebelum di edarkan di pasaran.


"Assalamu'alaikum!" ucap Kakung seraya menepuk pundak seseorang yang tengah tidur dengan blangkon yang ia gunakan untuk menutup wajahnya. lelaki itu tengah tidur di atas kursi santai yang terbuat dari bambu di teras rumah juragan.


"Wa'alaikumsalam!" jawabnya ketus sembari mencomot blangkon yang sempat terjatuh ketika dirinya tiba-tiba bangun karena terkejut.


"Ada apa?" tanya Juragan kembali setengah sadar sembari memasang blangkon miliknya di kepala.


"Saya mau meluruskan masalahmu sama Bu Sumi, Gam," ucap Kakung membuat juragan itu terkejut, sesekali dia mengucek mata kantuknya itu. Dan ketika sudah sadar kembali dia tersentak, melihat yang berdiri di depannya tidak lain adalah Kiyai Amat Sawaji.


"Astaga" maaf pak Yai, saya tidak tau kalau pak Yai yang membangunkan saya. Saya kira orang mau hutang, hehehe," ucapnya cengengesan dilanjut mempersilahkan kami duduk di dalam rumahnya.


Setelah mempersilahkan kita masuk, kita berlima duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, mengitari meja kaca yang berbentuk kotak di dalam ruang tamu kediamannya.


"Le..! Buatkan teh lima gelas! terus bawa kesini ya Le!" teriak lelaki itu kepada seseorang yang belum terlihat dari ruang tamu.


"Maaf pak Saya puasa" timpal Darto.


"Le! empat Saja! yang satu enggak jadi!" lelaki itu mengulang perintahnya.


"Oke pak" jawab lelaki kecil dari ruangan sebelah tanpa basa-basi.


"Jadi ada apa ini Pak Yai? sampai repot-repot kesini sama Ibu Sumi juga. Oh, ini anaknya Ibu Sumi?" tanya juragan kepada kakung kemudian beralih memandangi Harti dengan tatapan aneh, seraya terus memegang dagu miliknya.


"Langsung saja, Ini cucu saya Darto. Sudah dari jauh-jauh hari saya berencana menikahkan Darto dengan anak Bu Sumi. Jadi saya kesini hendak meluruskan perihal hutang Bu Sumi"

__ADS_1


Selain Kakung, tidak ada satu orang pun di dalam ruangan itu yang tidak terkejut atas apa yang dia lontarkan. Darto, Harti juga bu Sumi selaku Ibu kandung Harti berhasil dibuat melongo dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tapi kan yang utang si Sumi Pak Yai, dan dia sudah setuju jika anaknya mau saya nikahi," jawab juragan sedikit memampangkan raut kesal di wajahnya.


"Ibu Sumi kan berhutang uang Gam, kenapa harus dibayar dengan anak?"


Menanggapi pertanyaan Kakung, juragan Agam tidak bisa berdalih sedikitpun. Hanya bisa menunduk dengan raut geram.


"Jadi berapa totalnya Gam?" kembali Kakung bertanya karena sedari tadi Juragan Agam hanya diam, dan terlihat tengah mencari-cari alasan.


"Ini pak tehnya, Monggo di unjuk," (silahkan di minum) ucap duo bocah kecil, yang mengantarkan 5 gelas teh di atas nampan besi yang seketika mengejutkan Darto. Melihat wajah tercengang dari Darto, Kakung hanya memberi isyarat dengan menginjak Kaki darto yang duduk di sebelahnya, berharap Darto tidak berkomentar tentang dua bocah yang tengah mengantarkan minuman tersebut.


"Makasih, Le, kalian ganteng sekali," timpal Ibu Sumi seraya mengusap pelan rambut kepala mereka.


"Sama-sama Bulik, kami pamit," ucapnya kemudian kembali meninggalkan ruang tamu.


Kakung tak menyentuh gelasnya sama sekali, Darto masih terkejut dengan apa yang dia lihat. Namun tidak untuk Sumi dan Harti, mereka sigap menyahut gelas di depannya dan meminum hingga separuh gelas.


"Sebentar, saya ambil catatan di belakang,"


ucapnya kemudian beranjak pergi ke ruang sebelah, dan kembali membawa buku di tangannya.


"Totalnya Rp.379.000 pak Yai," ucap Juragan tersebut setelah membolak-balik lembar kertas mencari catatan hutang milik bu Sumi.


"Baik, jadi sekarang Bu Sumi sudah tidak punya hutang lagi ya sama kamu Gam, Saya dan cucu Saya yang jadi saksi pelunasan hutangnya," ucap kakung yang tengah menyodorkan 40 lembar uang sepuluh ribu rupiah.


"Huh! yasudah lah kalau begitu, sebentar saya ambil kembaliannya Pak Yai" jawab juragan dengan nada ketus.

__ADS_1


"Enggak usah Gam, buat jajan anak-anakmu saja, saya ikhlas " Kakung segera berucap setelah melihat Juragan hendak berdiri.


"Yasudah, terimakasih Pak Yai!" jawabnya masih dengan wajah kecewa dan kembali duduk.


"Jadi karena urusannya sudah selesai, kita langsung Pamit Gam, saya masih punya urusan penting," ucap Kakung membuat alasan, kemudian berdiri dan menjabat tangan Juragan Agam. Semuanya mengikuti apa yang Kakung lakukan sebelum akhirnya mereka pulang menuju rumah Harti.


"Kung, kenapa anak juragan ada e.." pertanyaan Darto terhenti, setelah mendapat isyarat yang kakung berikan dengan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Bahas nanti di pesantren, dia punya banyak telinga disini!" ucap kakung bisik-bisik. Kemudian mempercepat langkah menuju rumah Harti.


"Terimakasih Pak Kyai, Saya tidak tau lagi, apa yang harus saya lakukan agar bisa membalas budi kepada Pak Kyai," ucap Ibu Sumi sesampainya di rumahnya.


"Sudah Sum?! kan saya sudah bilang, Harti juga cucu saya!" jawab Kakung sekenanya


"Tapi Pak Kyai... Apa benar Pak Kyai hendak menikahkan Harti dengan cucu kandung pak Kyai, kalau memang iya saya sebagai Ibunya akan mendukung apapun yang Pak kiyai mau, Suami saya juga pasti setuju, karena bagaimanapun, Pak kyai yang sudah merawat Harti sedari kecil, Kami tidak pantas di sebut orang tua Harti," jawab sendu Ibu Sumi


"Hahahaha itu alasanku Saja Sum, tapi ya Kalau mereka mau, tinggal kita nikahkan saja. Gimana Dar?" Kakung melirik tepat ke arah Darto dan Harti yang tengah duduk bersebelahan.


Tak bisa menjawab apapun, mereka berdua tenggelam dalam rasa malu. Saking malunya bahkan Harti sampai berpindah posisi duduk mendekati Ibunya. Dengan pipi merona semerah apel yang sudah masak.


"Dasar anak Muda, nanti kalau sudah nikah baru nyesel, nyesel kenapa enggak dari dulu aja nikahnya, Hahahaha!" ledek Kakung melihat Darto dan Harti begitu tegang menanggapi candaan yang dia lontarkan.


"Saya mau Kung" Ucap Darto kemudian menundukkan kepala, menahan pening. Rasa malu seakan membuat kepalanya hendak meledak saat itu juga.


Kakung yang sedari tadi tertawa meledek pun, berhasil dibungkam oleh ungkapan Darto. berlaku juga untuk Harti dan Ibunya yang terkejut setelah mendengarnya.


"Ah... Kakung lupa! Cucu kakung sudah tidak kecil lagi. Jadi mari sekalian kita merundingkan urusan ini," kali ini Kakung memasang wajah serius, yang di tanggapi senyum dari Ibu Sumi, dan pipi merah merona di wajah Harti.

__ADS_1


"Tapi kung! beri Darto waktu dua tahun. Setelah Darto lulus puasa, dan hafal semua ayat Al-Qur'an, Darto siap!" kali ini mata Darto memancarkan keyakinan, rasa malu berhasil dia kalahkan. Seketika ucapan itu melelehkan suasana di ruang menjadi lebih ceria dan juga terasa lebih hangat. Selayaknya suasana ketika tengah berkumpul dengan sanak keluarga.


Bersambung,-


__ADS_2