ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MALAM PANJANG JAKA


__ADS_3

Malam itu setelah Darto meninggalkan kamar Jaka. Pemuda itu langsung terlelap tanpa aba-aba, dia hanyut dalam mimpinya tanpa sadar ada satu mahluk yang tengah memperhatikan dirinya.


Jaka tidak menutup jendela kamarnya malam itu, karena bagi Jaka kampung ijuk memiliki suhu yang sangat panas. Berbeda dengan suhu di kampungnya, yang terpampang sejuk karena terletak di atas pegunungan. Malam itu Jaka tertidur dengan sepoi angin yang masuk menyeruak melalui jendela, beserta wajah yang terus menyeringai dan memperhatikan dirinya dari balik jendela.


Sosok perempuan berwajah pucat dengan rambut panjangnya yang menyentuh tanah sedang menatap nanar wajah Jaka yang tengah menganga tenggelam dalam mimpinya. Untuk cukup lama sosok itu hanya memperhatikan dari luar jendela, hingga akhirnya dia memiringkan kepala dan meluncur sempurna menembus tembok kamar yang Jaka kenakan.


Kakinya benar-benar mengambang, hanya rambut dan baju terusan yang sudah begitu lusuh yang menyentuh tanah di bawahnya. Sosok itu mendekat hingga berdiri tepat di samping kaki Jaka. Dia menyeringai untuk sesaat kemudian berbisik dengan nada lirih tapi suaranya sangat jelas "Jaka..."


Jaka mulai membolak-balikkan badan dari posisi tidurnya, dia gelisah hingga dirinya terus menerus mengubah posisi tidurnya. Sosok perempuan itu langsung memampangkan barisan gigi keroposnya ketika dia melihat Jaka yang terus berbalik. Dia merasa senang karena Jaka bisa mendengar panggilannya, hingga akhirnya dia kembali memanggil Jaka dengan nada berbisik seperti semula.


Jaka mulai membuka mata pertahan, dia menatap arah suara berasal. Dia mengerjap mata dengan santainya sembari berkata "Mbak Harti? Ada apa?"


"Jaka..." ucap wanita itu masih dengan nada berbisik. Dia meluncur mendekat dan membungkukkan tubuhnya, hingga kepala miliknya sejajar tingginya dengan wajah Jaka yang kini tengah duduk di atas dipan sembari mengucek matanya.


Setelah pandangan buram Jaka mulai terfokus, dia langsung menatap wajah perempuan yang begitu pucat tengah menyeringai tepat di depan wajahnya. Jaka benar-benar terhenyak, dia langsung terperanjat mundur untuk menjauhkan wajah miliknya dengan wajah perempuan yang begitu menyeramkan di depan matanya, sembari berteriak "Siapa kamu!"


"Hi hi hi hi... Kamu memiliki bau yang sangat nikmat Jaka... Ikutlah denganku," sambung sosok itu. Sembari meluncur mendekatkan kembali wajahnya ke arah jaka yang tengah meringkuk di sudut dipan.


"Pergi! Pergi! Jangan mendekat! KANG DARTO!" Teriak Jaka begitu panik setelah melihat sosok itu melayang dan mendekat perlahan ke arahnya.


Darto yang terlelap di kamar sebelahnya sama sekali tidak mendengar teriakan Jaka malam itu, dia dan Harti benar-benar pulas dalam tidurnya, namun beruntungnya Ki Karta mendengar teriakan Jaka dan langsung berlari menuju kamar Jaka.

__ADS_1


"Jaka!" ucap Ki Karta sembari membuka pintu kamar Jaka dengan tergesa, dan ketika berhasil membuka pintu kamar tersebut Ki Karta langsung memasang wajah heran melihat sosok perempuan yang tidak asing baginya tengah mengganggu tamu miliknya.


"Mau apa kamu! Jangan ganggu tamuku! Atau kamu pengen menyusul teman-temanmu?" teriak Ki Karta kepada sosok perempuan di depannya.


Sosok itu menoleh ke arah Ki Karta dia melayang lurus mendekat kepadanya kemudian berbisik di depan telinga Ki Karta "Anak itu memiliki sesuatu yang berbahaya, akan banyak sekali sosok yang mengincarnya. Kamu tidak akan sanggup menyingkirkan mereka satu persatu."


"Kamu mengancam?" ucap Ki Karta tanpa memandang lawan bicaranya, dia hanya menatap lurus dengan wajah angkuh dan tatapan kosong di matanya.


"Tidak... Bukan aku yang perlu kau waspadai, aku hanya ingin memperingati, karena kamu sudah pernah menolongku sekali, bahkan mengizinkan aku tinggal di dekat rumahmu, Karta," ucap wanita itu kembali.


"Sudahlah, lebih baik kau ke kamarku saja, kasihan pemuda itu, dia ketakutan melihat wajah jelekmu!" sergah Ki Karta kemudian melangkah mendekat ke arah Jaka dan kembali berbicara "Jangan khawatir, Jak. Dia tidak bermaksud jahat sama kamu."


Jaka benar-benar memiliki sejuta pertanyaan dalam hatinya malam itu, dia tidak bisa lagi terlelap hingga pagi menyapa. Dan setelah adzan subuh terdengar, dia bergegas keluar dari kamarnya dengan kantung mata yang begitu hitam terpampang.


"Kamu kenapa, Jak? Matanya sudah kaya kuntilanak saja. Ha ha ha ha!" ledek Darto yang sudah siap untuk pergi ke saung bersama Harti.


"Kang... Saya lihat hantu semalam," ucap Jaka dengan wajah yang berangsur pucat.


"Dimana? Di dalam mimpi?" tanya Darto singkat.


"Tidak, Kang, di dalam kamar. Untungnya saya ditolong Ki Karta," jawab Jaka sembari menggeleng kepala.

__ADS_1


"Sekarang kita shalat subuh dulu saja, nanti kamu ceritakan semuanya, ya?" sahut Darto kemudian mengajak Jaka berangkat menuju saung tempat dimana mobilnya terparkir.


Mereka akhirnya pergi menuju saung, dalam perjalanan tampak Darto yang terus mencoba menenangkan Jaka. Tampak sekali jika Jaka masih merasa takut dengan apa yang dirinya saksikan semalam, namun untungnya Jaka bisa mengalihkan rasa takutnya ketika mendengar semua penjelasan yang Darto ucapkan.


Sesampainya di saung, semua orang menyambut Darto dengan begitu suka cita. Jaka bahkan heran melihat sambutan yang warga ijuk berikan untuk Darto di depannya, dia tertegun melihat satu persatu warga yang memeluk Darto dengan senyum mengambang, seperti menyambut kedatangan anak kandung yang sudah terpisah begitu lama.


Pagi itu Darto memimpin shalat subuh di dalam saung, kemudian bergegas pergi kembali ke rumah Ki Karta bersama Ujang dan Asep yang membantu membawa perbekalan Darto dari dalam mobil. Mereka berdua selalu menawarkan bantuan sebelum diminta, sungguh teman berharga yang Darto dapat secara tidak terduga.


"Gayatri di mana, Bah?" ucap Ujang setelah selesai menaruh barang di dalam ruang tamu.


"Iya... Biasanya dia langsung keluar bawa teh panas," timpal Asep.


"Dia tinggal sama suaminya, Jang, Sep," jawab Ki Karta singkat.


Ujang dan Asep langsung memasang raut sedih di wajah mereka, Ki Karta yang melihat itu langsung membuka suara "Kalian si, nggak ada gerakan sama sekali. Kasihan Gayatri sudah berumur tapi belum ada yang melamar dari dulu."


Mendengar ucapan itu Asep dan Ujang langsung cengengesan, mereka merasa malu karena Ki Karta mengetahui perasaan mereka. Darto dan Harti yang melihat itu juga tertawa, hanya Jaka saja yang tidak paham dengan arah perbincangan tersebut.


Setelah itu mereka semua saling berkenalan, Darto mengenalkan Jaka dan istrinya kepada dua temannya itu. Setelah semua saling mengenal, Ki Karta mulai membuka perbincangan, dia mulai menceritakan kejadian yang dirinya alami semalam. Kejadian yang menyangkut tentang Jaka, dan perempuan yang menemuinya


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2