
Setelah cukup lama menemui kebuntuan, Darto dan kelima temannya kembali menjelajahi ruang tanpa sudut tersebut.
Jaka yang ingin memastikan sesuatu mulai mendekat pada bayangannya, dia mengulurkan salah satu tangannya, untuk mendapatkan jawaban dari pikirannya yang mengganjal di dalam kepalanya.
Bayangan Jaka tidak menolak sama sekali ketika Jaka mengucap kata, "Pegang tanganku."
Bayangan itu langsung meraih tangan Jaka kemudian sedetik setelahnya dia langsung menarik tangannya.
Bayangan itu terkejut dengan apa yang sedang dia rasakan, dia merasa energi pada tubuhnya tersedot hanya dengan menyentuh tangan Jaka.
Jaka tidak melepas tangan sang bayangan, dia justru mencengkeram semakin keras hingga bayangan terus meronta untuk melepas tangan yang sedang Jaka pegang.
Bayangan Jaka bahkan sampai menciptakan energi, dia melancarkan serangan kepada Jaka, karena dia benar-benar merasa terancam kala itu. Untungnya, energi milik bayangan benar-benar sama dengan energi milik Jaka.
Jaka sama sekali tidak terluka, merasakan sakit pun tidak sama sekali. Dia terus melihat reaksi pada bayangan yang kini mulai menjadi tipis di depan matanya.
"Jadi seperti itu?" gumam Jaka sembari mengangguk, dia merasa paham dengan apa yang terjadi sebelum akhirnya terdengar suara retakan.
Kretek... kretek...
Suara retakan benar-benar terdengar jelas di telinga Jaka, dia langsung menoleh ke segala arah, namun tidak ada yang terjadi selain bayangan dirinya yang semakin menipis di depan matanya.
Tepat setelah bayangan Jaka hampir menghilang, tampak satu buah retakan yang cukup besar terletak di atas kepala Jaka.
Jaka yang melihat satu perubahan besar langsung melompat ke arah retakan, kemudian matanya tidak bisa melihat lagi setelah masuk ke dalamnya.
Semuanya tampak hitam, Jaka benar-benar berpindah ke tempat yang sangat gelap untuk sesaat saja.
Setelah singgah di tempat tersebut, satu cahaya yang begitu menyilaukan datang secara tiba-tiba. Dia muncul begitu saja di depan Jaka, hingga membuat Jaka spontan menutup kedua matanya.
Jaka membuka matanya kembali setelah cukup lama terpejam, dia ingin memastikan kebenaran dari cahaya putih yang begitu menyilaukan tadi, namun yang tampak di depan matanya sungguh diluar dugaannya.
Ada sebuah cermin berukuran sangat besar, berbentuk oval, dengan bingkai kayu berwarna coklat kehitaman yang dipenuhi sebuah ukiran berbentuk manusia.
Jaka melangkah mendekat ke depan cermin, ketika dia sudah cukup dekat, dia bisa melihat bayangan sendiri di dalamnya dan juga bayangan lima teman yang sedang duduk berhadapan dengan bayangan mereka.
"Kang! Kang Darto! Maung! Komang! Sastro! Wajana!" teriak jaka tanpa henti, dia terus memanggil lima temannya secara bergantian tapi mereka sama sekali tidak mendengar teriakkan dari jaka.
__ADS_1
Ketika Jaka masih terus berteriak, satu sosok lelaki tua tiba-tiba menyembul keluar dari dalam cermin. Dia menatap heran kepada Jaka sembari berkata, "Kamu benar-benar bisa keluar dari cermin ini?"
"Jadi kau yang mengurung kelima temanku di dalam?" ucap Jaka dengan nada ketus, sembari menciptakan kobaran api yang mengambang di atas telapak tangannya.
"Bagaimana caramu keluar?" tanya sosok lelaki tua itu kembali, dia tiba-tiba muncul di belakang Jaka dan mengabaikan pertanyaan yang Jaka lontarkan.
"Cari tahu sendiri!" jawab Jaka tanpa menoleh, dia memindahkan energi di atas telapak tangan miliknya, menuju tempat dimana sosok lelaki tua sendang berdiri.
Tepat saat energi Jaka berpindah pada sasarannya, saat itu juga lelaki tua yang menjadi incaran Jaka sudah tidak ada di tempatnya. Dia hilang dari pandangan Jaka namun suaranya masih terdengar jelas di telinga Jaka.
"Ha ha ha! jadi karena ini? tubuhmu benar-benar istimewa... Manusia! Pantas saja cermin milikku tidak bisa menahanmu," ucap sosok itu kembali, kali ini dia berpindah di samping Jaka, dan menyentuh pundak Jaka untuk memastikan tubuh lawannya.
Melihat kesempatan tersebut, Jaka sama sekali tidak membuang peluangnya. Dia langsung meraih tangan lelaki tua di sampingnya, kemudian menahannya dengan erat sama seperti apa yang dia lakukan kepada bayangan beberapa saat yang lalu.
Sosok lelaki itu tidak melawan, dia justru terkekeh, sembari terus menipis. Lawan Jaka benar-benar hampir hilang dari pandangannya, namun sesaat kemudian muncul sosok yang sama, tepat di depan wajah Jaka.
"Kamu kira itu tubuh asliku?" tanya lelaki itu sembari terkekeh.
Baru selesai bicara, sosok lelaki tua kembali mendapat serangan dari Jaka. Dia terkena energi yang Jaka arahkan kepada dirinya, namun disaat yang sama satu lagi sosok tua datang dari arah berbeda.
Sok itu kali ini melakukan serangan, sembari melipat gandakan jumlah bayangan yang memiliki bentuk sama persis dengan dirinya.
Setelah beberapa saat, Jaka benar-benar bagai melihat satu kumpulan prajurit, meski sebenarnya dia hanya melawan satu lawan saja.
Setelah itu, kumpulan sosok tua yang berwujud sama itu mulai memberondong serangan kepada Jaka secara membabi-buta.
Satu persatu mahluk itu mendekat, dia menyerang menggunakan energi di tangannya sembari berkata, "Aku yang asli."
Semua bayangan mengucap kata yang sama, namun mereka terus datang dan terus bertambah banyak setiap detiknya.
Jumlah mereka sama sekali tidak berkurang, meski Jaka sudah memotong, mencabik, bahkan meledakkan mereka secara terus menerus.
Sungguh Jaka berhadapan dengan satu sosok yang merepotkan, dia bahkan sampai kelelahan, ketika setiap usaha yang dia lakukan masih belum juga membuahkan hasil yang memuaskan.
Jaka sempat putus asa, dia merasa buntu, namun ketika dirinya tersudut dia mengingat apa yang terakhir kali Darto ucapkan.
Sebelum meninggalkan kamar nomor enam, Darto pernah berpesan pada Jaka. Kalimat yang Darto ucapkan adalah, "Jaka... Kita memiliki guru yang sama, kita juga punya pengalaman yang tidak jauh berbeda dari semua pertarungan yang sudah kita lewati. Jangan lagi termakan emosi, kamu tidak lebih lemah sedikitpun dariku."
__ADS_1
Kata 'Kamu tidak lebih lemah dariku' benar-benar mulai terngiang-ngiang di telinga Jaka. Dalam rasa kalut dia langsung memejamkan mata dan membayangkan jika dirinya menjadi teman sekaligus keluarga yang selalu bisa dirinya andalkan.
Dia membayangkan apa yang akan Darto lakukan di dalam situasi genting, sebelum akhirnya Jaka membuka mata dengan wajah yang sepenuhnya berbeda.
Raut putus asa tidak tampak lagi di wajah mudanya, dan juga tidak ada lagi ekspresi kebingungan yang terpampang seperti sebelumnya.
Jumlah musuh yang Jaka hadapi memang tidak berkurang sama sekali, namun kali ini pertarungan benar-benar terlihat berat sebelah.
Jaka terlihat sangat tenang, dia sempat menarik nafas secara dalam kemudian melangkah dengan energi yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya.
Semua bayangan yang datang menyerang seketika terbakar, mereka sudah hangus bahkan ketika masih berjarak sekitar dua meter dari Jaka.
Jaka benar-benar tidak tersentuh, dia bisa mendominasi pertarungan yang seharusnya mustahil untuk dia menangkan.
Dengan langkah santai Jaka mulai melangkah mendekat ke arah cermin besar berbentuk oval di depannya.
Dia tidak menghiraukan serangan demi serangan yang terus datang, yang Jaka lakukan hanya menatap lurus menuju tempat yang dia inginkan.
Setelah beberapa langkah, Jaka berhenti tepat di depan cermin raksasa. Dia memegangi kaca yang memantulkan bayangan dirinya, kemudian Jaka benar-benar mendengar suara pekik dari ribuan bayangan yang berteriak secara serentak di sampingnya.
Semua sosok tua yang tengah menyerang Jaka tiba-tiba menjerit, mereka meronta ketika tangan Jaka memegangi kaca tersebut.
Jaka tersenyum melihat kejadian yang ada di depan matanya, dia terkekeh pelan kemudian berkata kepada ribuan bayangan tersebut, "Kalau lawan yang aku hadapi adalah bayangan... sudah pasti tubuh aslinya berada di sisi lain dari cermin ini... Aku benar, Kan?"
"Lepaskan tanganmu!" teriak ribuan bayangan mengucapkan kata yang sama.
Mendengar suara teriakan itu, Jaka tidak menggubris sama sekali. Dia mulai menghisap energi yang terpancar dari cermin, dan memasukkan energi tersebut ke dalam tubuhnya sendiri.
Perlahan suara retakan kembali terdengar. Cermin besar tersebut mulai pecah, dan dari pecahan itu muncul cahaya yang begitu menyilaukan.
Kembali Jaka memejamkan mata miliknya, dan saat dia membuka mata, kelima temannya sudah berdiri tepat di depan wajahnya.
Jaka benar-benar senang kala itu, dia menatap lurus ke arah Darto sembari berkata, "Kang... Saya berhasil!"
Darto dan empat kawannya langsung tersenyum. Mereka tahu jika Jaka sudah melewati satu pertempuran, dan mereka juga tidak meragukan kemampuan lelaki muda di depan mata mereka.
Hari ini, pintu kamar nomor lima yang mungkin bisa mengurung enam pria itu untuk waktu yang lama. Sekarang sudah bisa diatasi karena suatu keberuntungan.
__ADS_1
Satu keberuntungan dimana Darto bertemu dengan seseorang, yang bisa melahap segala energi yang tersentuh oleh tubuhnya.
Bersambung....