ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
DUA


__ADS_3

Setelah berhasil membersihkan kamar nomor tiga, Darto kembali meminta kepada lima temannya untuk segera beristirahat.


Mereka akhirnya menginap untuk waktu satu malam, mengingat dua musuh yang akan mereka hadapi merupakan dua musuh yang menjadi kaki tangan sang iblis.


Setelah satu malam terlewati begitu saja, Darto dan yang lainnya kembali menuju pintu kamar nomor tiga. Mereka melesat membelah hutan pinus, hingga akhirnya tiba pada tujuan mereka.


Setelah keluar dari pintu kamar nomor tiga, Darto kembali memegang gagang pintu kamar nomor dua, dia menatap kawannya secara bergantian, kemudian mengangguk untuk mendapatkan kepastian.


Ketika lima teman Darto saling mengangguk, Darto langsung membuka pintu di depannya. Dia membuka lebar-lebar daun pintu tersebut, dengan satu kali dorongan lengannya dan yang terlihat di dalam ruangan tersebut tidak tampak dari tempat mereka berdiri.


Semuanya tampak gelap, bagai sebuah ruang kamar tampa penerangan di malam hari.


Meski belum tahu persis tentang kepastian dari bentuk kamar, Darto dan lima teman yang sudah tidak ingin membuang waktu, bergegas masuk secara bergantian.


Mereka semua masuk ke dalam ruang tersebut, dan hal yang sudah tidak baru pun kembali terjadi untuk beberapa kalinya.


Pintu yang semula mereka gunakan untuk masuk kembali menghilang, menjadikan enam pria itu terperangkap dalam ruang gelap yang sedang mereka tempati.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap suara tanpa bentuk.


Semua pria yang baru masuk benar-benar tidak bisa melihat musuh mereka, meskipun seharusnya kemampuan melihat dalam kegelapan yang Maung berikan masih bisa berfungsi.


"Kamu takut?" Darto membuka suara?


"Manusia yang lucu, ha ha ha! Bagaimana kamu bisa berfikir kami takut?" tanya suara itu kembali.


"Kau bilang kami? Ah... Sepertinya kita sudah dikepung oleh sekumpulan penakut yang sedang bersembunyi," jawab Darto lagi dengan nada ketusnya.


"Ha ha ha ha ha! Menarik... Kamu sangat menarik.. manusia!" ucap suara tersebut. Dia terbahak dengan suara yang begitu berat dan menggema di setiap sudut ruang gelap tersebut, "Keluarlah anak-anakku," sambung suara itu kembali.


Tepat setelah kalimat tersebut terucap, sepasang cahaya merah berbentuk bulat mulai muncul dari tempat yang sangat gelap.


Cahaya itu terus mendekat dari kejauhan, sebelum akhirnya bisa dipastikan jika itu adalah sebuah pantulan cahaya, dari sepasang mata milik musuh yang akan Darto dan Kawan-kawannya lawan.


Setelah sepasang mata itu sudah cukup dekat, ratusan pasang mata mulai muncul dari berbagai arah. Mereka mendekat dengan sangat cepat, hingga berhasil membuat enam pria yang masih kebingungan, seketika terkepung di tengah lautan lawannya.


Tepat ketika ratusan pasang mata itu muncul, suara lolongan panjang terdengar hingga memekakkan telinga. Semua musuh tersebut saling menggonggong, dari segala arah yang berbeda-beda.

__ADS_1


Suasana di dalam kabar benar-benar langsung menjadi gaduh, namun meski begitu Darto dan kelima temannya tidak merasakan kepanikan sama sekali.


Wajana yang mulai merasa waspada seketika menyebarkan energi di sekitar dirinya dan juga semua temannya, sedangkan Sastro bergegas menutup diri dan juga seluruh kawannya menggunakan energi kubah, setelah Wajana selesai menyebar energinya.


Maung dan Komang berubah menjadi harimau di dalam kubah, sedangkan Darto dan Jaka membuat puluhan energi berbentuk bola yang mengambang di atas kepala mereka berdua.


Melihat enam musuhnya sudah siap melakukan serangan, kumpulan anjing berbulu hitam yang sedang memenuhi kamar tersebut semakin gaduh. Mereka semakin meninggikan suara, dan memperbanyak lolongan ketimbang gonggongan.


Setelah suara gaduh sepenuhnya pecah, satu persatu anjing mulai datang sembari memamerkan taring mereka. Mereka berlari sekuat tenaga menuju tempat dimana musuhnya sedang bersiaga.


"Tunggu... Kalian jangan langsung menyerang, biar Sastro dan Wajana dulu yang memberi kejutan pembuka," ucap Darto setelah melihat Jaka, Maung dan Komang ingin melancarkan serangan.


Tiga temannya langsung mengangguk, sedangkan Sastro dan Komang langsung melakukan apa yang mereka sudah kuasai dengan leluasa.


Sastro bergegas duduk bersila kemudian menebalkan kubah pelindung miliknya, sedangkan wajana kembali memecah wujud fisiknya kemudian menyatu dengan energi miliknya.


Darto, Jaka, Maung dan komang hanya terus mengamati, mereka tidak melakukan gerakan sama sekali, karena belum tahu seberapa banyak, dan seberapa kuatnya musuh yang akan mereka hadapi.


Lain dengan semua musuh yang sudah pernah Wajana dan Sastro hadapi. Energi milik Wajana tidak langsung membunuh sekawanan penyerang yang tengah menggila, mereka masih terus maju meski tubuh mereka melemah setiap detiknya, setelah menghirup energi milik Wajana.


Untungnya masih ada pelindung Sastro. Setiap lawan yang berhasil menembus pertahanan Wajana, mereka harus tertahan di satu tempat, dan membuat energi milik Wajana yang butuh waktu sedikit lebih lama dari biasanya, mulai menunjukkan reaksinya.


Namun meski sudah cukup banyak yang mati, mereka masih terus menyerang sembari terus menggonggong di depan kubah milik Sastro, sebelum akhirnya ikut menjadi tumpukan debu yang sudah mulai meninggi.


Melihat anak buahnya mati satu persatu, suara berat itu kembali terdengar begitu lantang, dia melolong sangat panjang kemudian berkata, "Cukup!"


Setelah kata itu terdengar, ratusan lolongan dan gonggongan kembali terhenti. Seluruh kamar seketika menjadi sunyi, ketika sepasang bola mata yang sangat besar mulai muncul dari kejauhan.


Dua bola mata itu mendekat dengan pelan, kemudian mengendus dari jarak yang cukup dekat.


"Racun? sepertinya ada mahluk yang cukup merepotkan," ucapnya setelah mengendus, "Tapi kalau cuma segini saja, tidak akan cukup untuk melumpuhkan ku," sambungnya kemudian berlari.


Kecepatannya tidak kalah dengan kecepatan Maung dan Komang, dia melesat membelah energi Wajana, kemudian memberi satu serangan menggunakan cakarnya pada kubah yang Sastro ciptakan.


Untuk serangan pertama, kubah yang tengah melindungi Darto dan yang lainnya tidak menampakkan goresan sama sekali. Sastro masih bisa menahan serangan tersebut, meski dia sampai mengerutkan dahi ketika merasakan guncangan di dalam tubuhnya.


"Pelindung ini juga kuat! Kalian benar-benar sekumpulan lawan yang layak, ha ha ha!" Sosok anjing besar itu terbahak, dia berjalan mengelilingi kubah, sembari terus memampangkan barisan taring pada bibirnya.

__ADS_1


Setelah satu putaran penuh, dia melolong tepat di samping Darto dan kawannya. Suara lolongan itu terdengar begitu keras, hingga semua pasang telinga langsung mendengung setelah mendengar lolongan tersebut.


Wajana yang sedang memecah fisik di luar kubah seketika terpental, dia dipaksa untuk kembali menarik semua energi miliknya, untuk meminimalisir dampak yang dirasakan dari suara lolongan lawannya.


Melihat Wajana mulai memiliki wujud, Sastro membuat lubang kecil pada kubahnya, dia mempersilahkan Wajana masuk, mengingat jika hanya dia saja yang berada di luar, bisa-bisa menjadi santapan sekumpulan lawannya.


Hanya butuh satu kedipan mata saja Wajana sudah berhasil masuk, dia terlihat sangat lemas, hanya karena menerima dampak dari suara lolongan saja.


Kamu tidak apa-apa, Wajana?" tanya Darto sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa.... suaranya benar-benar kuat, Dar. Dia berteriak menggunakan energi," sahut Wajana kemudian duduk bersila. Dia fokus menyembuhkan diri, karena dia mendapat luka yang cukup serius pada tubuhnya.


Setelah mendapati racun yang mengelilingi kubah milik Sastro sudah musnah, anjing terbesar kembali melolong dan melancarkan cakaran kedua.


Dia memberi contoh kepada sekawanan anak buahnya, bagaimana cara mereka harus menyerang pelindung yang Sastro ciptakan.


Kembali ratusan anjing menyerang kubah tersebut, mereka menyerang dengan sangat ganas, mengingat tidak ada lagi racun yang melemahkan pergerakan mereka.


Cakaran demi cakaran terus mereka lancarkan, hingga tidak butuh waktu lama Sastro menunjukkan sebuah reaksi yang cukup mengejutkan.


Setelah kurang lebih lima menit berlalu, Sastro mulai merasakan dampak dari serangan ratusan musuh yang sedang mengelilingi mereka.


Sastro yang sedang duduk bersila untuk fokus mempertahankan bentuk kubah, mulai memasang wajah pucat dan terlihat jauh dari kata baik-baik saja.


Darto yang pertama melihat kejanggalan tersebut, bergegas mendekat dan menepuk pundak Sastro.


"Terimakasih, Sastro... kamu istirahat saja dulu... Sekarang giliran kami yang melindungi kalian," ucap Darto sembari menatap Sastro dengan tatapan sendu.


Saat itu Sastro benar-benar tampak pucat, dia sudah tidak kuat menahan serangan demi serangan dari ratusan lawan, hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Melihat hal tersebut, Darto langsung menoleh ke arah Komang, Jaka dan Maung. Dia berkata dengan nada yang cukup tinggi, untuk mengucapkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Jangan simpan sedikitpun energi kalian! Kalau kita bersantai, kita pasti berakhir di sini."


Mendengar kalimat tersebut, Jaka, Maung dan Komang langsung memasang ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Mereka tampak marah, namun tidak menunjukkan jika mereka sudah dibutakan oleh amarah tersebut.


Mata mereka semua meruncing, dengan tatapan yang begitu tajam menusuk setiap pasang mata lawan yang sedang mengelilingi mereka.


Saat itu, empat pria yang sudah sedikit mengetahui kemampuan lawannya, dengan penuh keyakinan hendak melakukan satu serangan balasan.

__ADS_1


Mereka tidak lagi menahan diri, dan memutuskan untuk menggunakan segenap kekuatan yang mereka miliki.


Bersambung....


__ADS_2